Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013: Giliranmu
Meilin membuka mata.
Kevin belum sempat menarik tangannya.
Untuk satu detik yang terlalu panjang, mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Jari Kevin masih berada di dekat pipi Meilin. Napasnya tertahan, sementara Meilin belum sepenuhnya sadar apakah dia sedang bermimpi atau benar-benar melihat Kevin berjongkok di depannya.
"Ko?"
Kevin langsung menurunkan tangan.
"Ada coretan pensil."
Meilin berkedip. "Di wajahku?"
"Sudah hilang."
"Oh."
Kata itu jatuh di antara mereka, kecil tapi membuat ruangan terasa panas. Meilin menyentuh pipinya sendiri. Kulit di sana seperti masih menyimpan bekas sentuhan Kevin.
Kevin berdiri lebih cepat dari yang seharusnya untuk orang yang baru pulih dari demam. "Tidur di kasur."
"Aku masih harus selesaikan..."
"Besok."
"Tapi deadline..."
"Kamu yang bilang tubuh ada batas."
Meilin terdiam.
Kalimatnya sendiri kembali padanya seperti boomerang.
Akhirnya dia menurut. Kevin menyuruhnya mencuci muka, minum air, lalu pindah ke kasur. Dia sendiri kembali ke tikar di lantai meski Meilin menolak. Perdebatan mereka berakhir ketika Kevin mematikan lampu tanpa memberi kesempatan.
Malam itu Meilin tidur dengan pipi yang masih terasa hangat.
Keesokan harinya, dia bangun lebih lambat dari biasanya.
Kepalanya berat. Perutnya terasa perih, seperti ada tangan yang memeras dari dalam. Dia mengira itu hanya karena tidur terlalu larut dan telat makan. Maka dia memaksa diri duduk, membuka buku sketsa, dan membalas pesan pembeli.
Kevin bekerja dari kos setengah hari sebelum akhirnya bersiap ke kantor untuk mengambil dokumen.
"Kamu pucat," katanya sambil memasukkan laptop ke tas.
"Kurang tidur."
"Makan?"
"Nanti."
Kevin berhenti. "Meilin."
"Aku makan setelah kirim sketsa awal. Sungguh."
Dia tersenyum agar terdengar meyakinkan. Kevin tidak tampak percaya, tapi ponselnya terus berbunyi dari kantor. Akhirnya dia hanya meletakkan satu piring nasi dan telur di meja.
"Habiskan."
"Iya, Ko."
Kevin pergi.
Meilin menatap makanan itu. Dia ingin makan. Benar-benar ingin. Tapi begitu mencium aroma telur, perutnya berontak. Dia menutup mulut, menunggu mualnya turun, lalu memaksa diri menggambar satu garis lagi.
Satu garis menjadi sepuluh.
Sepuluh menjadi satu jam.
Ketika Kevin kembali menjelang sore, nasi di piring masih hampir utuh.
Meilin duduk di lantai, satu tangan menekan perut, wajahnya basah oleh keringat dingin.
Tas Kevin jatuh ke lantai.
"Meilin."
"Aku cuma masuk angin."
Kevin berlutut di depannya dan menyentuh dahinya.
Tidak sepanas demam Kevin kemarin, tapi kulitnya dingin dan lembap. Bibirnya pucat.
"Perutmu sakit?"
Meilin mengangguk kecil.
"Sejak kapan?"
"Pagi."
"Kamu makan?"
Meilin tidak menjawab.
Wajah Kevin mengeras.
"Kita ke IGD."
"Tidak perlu. Aku minum obat maag saja."
"Kamu bahkan tidak tahu ini maag atau bukan."
"Biayanya..."
"Jangan mulai."
Nada Kevin rendah, tapi kali ini tidak bisa dibantah. Dia mengambil ponsel, memesan mobil, lalu memasukkan dompet, kartu identitas, dan ponsel Meilin ke dalam tas kecil. Gerakannya cepat dan rapi, seperti dia sudah memutuskan semua hal sebelum Meilin sempat menyusun alasan.
"Ko, aku bisa jalan."
"Aku tidak tanya."
Kevin membantu Meilin berdiri. Begitu tubuhnya tegak, pandangan Meilin langsung gelap sesaat. Kevin menahan pinggangnya dengan satu tangan.
"Lihat? Bisa jalan?"
Meilin tidak punya tenaga untuk menjawab.
Di mobil menuju IGD rumah sakit swasta terdekat di Tangerang, Kevin duduk sangat tegak di sampingnya. Satu tangannya memegang botol air, tangan lain menahan bahu Meilin setiap kali mobil melewati lubang.
"Aku merepotkan," gumam Meilin.
"Diam."
"Ko..."
"Kalau kamu mau minta maaf, simpan untuk nanti."
Meilin menoleh pelan. Wajah Kevin tegang. Bukan marah biasa. Ada takut di sana, tertutup rapat oleh perintah pendek dan gerakan cepat.
Di IGD, perawat memeriksa tekanan darah, suhu, dan menanyakan keluhan. Dokter jaga menekan beberapa titik di perut Meilin dengan hati-hati. Rasa nyeri membuat Meilin mencengkeram tepi ranjang.
Kevin langsung maju setengah langkah.
"Sakit sekali?"
Dokter mengangkat tangan pelan. "Kami cek dulu, Pak. Kemungkinan gastritis akut dengan dehidrasi ringan karena telat makan dan kurang istirahat, tapi kami observasi beberapa jam. Kalau nyerinya berpindah atau makin tajam, perlu pemeriksaan lanjutan."
Meilin ingin berkata tidak perlu observasi.
Kevin sudah menjawab lebih dulu. "Observasi."
Dokter mengangguk. Perawat memasang infus. Saat jarum masuk, Meilin memalingkan wajah.
Kevin berdiri di sisi ranjang.
"Jangan lihat jarumnya," katanya.
"Aku tidak takut."
"Tanganmu gemetar."
"Itu karena dingin."
Kevin tidak membongkar kebohongannya. Dia hanya menarik selimut rumah sakit sampai menutup kaki Meilin.
Setelah dipindahkan ke ruang observasi, Meilin berbaring dengan infus di tangan. Lampu putih rumah sakit membuat semuanya terlihat terlalu jelas: wajah cemas Kevin, kantong infus, gelang pasien di pergelangan tangannya, dan struk deposit yang Kevin masukkan ke saku tanpa memperlihatkan jumlahnya.
"Berapa biayanya?" tanya Meilin pelan.
"Tidak penting."
"Kevin."
"Kamu sakit. Itu yang penting."
Meilin terdiam.
Kalimat itu terdengar sangat mirip dengan jawabannya semalam. Karena kamu sakit. Itu saja sudah cukup.
Kevin mengambil ponsel Meilin dari tas kecil. "Password?"
"Untuk apa?"
"Kirim pesan ke klienmu. Bilang sketsa terlambat karena kamu masuk IGD. Jangan biarkan mereka menunggu tanpa kabar."
Meilin menatapnya, antara malu dan tersentuh. Dia menyebutkan password dengan suara pelan. Kevin tidak membuka apa pun selain Instagram dan folder pesanan. Dia mengetik pesan singkat, formal, jelas, lalu menunjukkannya dulu sebelum mengirim.
Halo, Kak. Maaf, saya sedang di IGD dan perlu observasi beberapa jam. Sketsa akan saya kirim besok siang. Kalau Kakak keberatan, DP bisa saya refund penuh.
"Jangan refund kalau mereka tidak minta," gumam Meilin.
"Makanya aku tulis kalau keberatan."
Bahkan saat panik, Kevin masih memikirkan cara agar pekerjaannya tidak rusak.
Kevin duduk di kursi samping ranjang. Kemejanya masih belum diganti sejak pulang kerja, rambutnya agak berantakan, dan wajahnya sendiri belum sepenuhnya sehat. Tapi ketika perawat datang membawa obat lambung dan instruksi puasa sementara sampai mualnya turun, Kevin mendengarkan lebih serius daripada pasiennya.
"Kalau mau muntah, panggil aku," katanya setelah perawat pergi.
"Aku tidak selemah itu."
"Kamu hampir pingsan di kos."
"Aku sedang dramatis."
"Kamu sedang bodoh."
Meilin menatapnya.
Kevin juga menatapnya.
Lalu, entah karena infus membuat tubuhnya lemas atau karena rasa takut sudah mulai turun, Meilin tertawa kecil. Perutnya langsung nyeri, membuat tawanya berubah menjadi ringisan.
Kevin berdiri. "Jangan tertawa."
"Kamu yang lucu."
"Aku tidak lucu."
"Kamu panik."
Kevin membeku.
Meilin menyadari dia mungkin sudah berkata terlalu jujur. Tapi Kevin tidak menyangkal. Dia hanya duduk kembali, mengambil gelas air, lalu menatap lantai beberapa detik sebelum berkata pelan.
"Giliranmu sakit, aku baru tahu menunggu itu menyebalkan."
Meilin menatap profilnya.
Di antara bau antiseptik dan suara monitor dari ranjang lain, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih pelan, tapi lebih dalam.
Untuk pertama kalinya, dia merasa bukan hanya dia yang takut kehilangan akhir cerita ini.