Judul sebelumnya “Bekas Istri Yang Kaya” !
Sebuah cerita perjuangan hidup Ayu, seorang gadis yang rela mempertaruhkan mimpinya demi membiayai pengobatan Ayahnya.
Ayu harus rela dinikahi oleh Raka yang saat itu tengah membutuhkan seorang istri. Pernikahan mereka terjadi karena saling membutuhkan, Ayu membutuhkan uang untuk biaya operasi Ayahnya, sedangkan Raka membutuhkan Istri yang penurut.
Apakah Ayu akan menemukan kebahagiaannya di atas pernikahan tanpa cinta?Dan bagaimana Raka yang mulai menunjukan rasa cintanya pada Ayu.
Instagram : nurmalitasugiartii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N Lita S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Raka dan Alice
Leo sudah memberanikan diri bertanya pada Raka. Meskipun sudah tau alasan Alice meninggalkan Raka, Leo masih tidak menyukai Alice. Bagaimanapun Alice sudah pernah membuat kekacauan di hidup Raka.
“Bos?Apa kau akan kembali pada nona Alice?” Leo mengulang pertanyaannya.
“Entahlah.” Jawab Raka datar.
‘Entahlah?Bos, seharusnya kau katakan tidak!Jika kau kembali pada nona Alice, bagaimana dengan nyonya Ayu?’ Leo semakin cemas dengan jawaban Raka.
“Bos untuk nyonya-.” Baru saja Leo akan membahas Ayu tapi sudah di hentikan Raka. “Jangan biarkan Ayu tau tentang Alice!” Sahut Raka dengan cepat.
‘Aku juga berharap nyonya tidak akan pernah tau tentang nona Alice, bos.’
“Baik.”
“Siapkan mobil, aku akan menemui Alice!”
Leo keluar dari ruangan Raka dengan lesu. Sekarang Raka bahkan berniat untuk menemui Alice. Leo takut perasaan Raka pada Alice masih ada, ditambah keadaan Alice yang sakit kanker, Raka pasti akan lebih memperhatikan Alice dan melupakan kesalahan Alice di masa lalu mereka.
Raka sudah duduk tenang di bagian belakang kursi penumpang. Sementara Leo fokus mengemudikan mobil. Mereka akan menuju apartemen Alice.
Setelah menempuh perjalanan 40 menit, mereka sampai di apartemen Alice. Leo memarkirkan mobil di basement, dan mengikuti Raka menuju lantai 8 dimana apartemen Alice berada.
Leo menekan bel apartemen Alice untuk beberapa saat.
Ceklek.. “Siapa ya?” Sapa Alice dari balik pintu.
“Ra-Raka?” Alice terbelalak begitu melihat sosok di balik pintu adalah Raka.
“Apa kau tidak akan membiarkan ku masuk?” Tanya Raka.
Alice yang semula bengong akhirnya tersadar. “Silahkan masuk.” Alice mempersilahkan Raka dan Leo untuk masuk ke dalam apartemennya. Namun hanya Raka saja yang masuk, Leo memilih menunggu Raka di mobil.
“Silahkan duduk.” Ucap Alice.
“Hem.”
Raka memandangi setiap sudut apartemen Alice, banyak sekali lukisan di dinding. Raka duduk di sofa ruang tamu, apartemen Alice tidaklah besar tapi cukup mewah. Setelah Raka duduk, Alice pergi ke dapur untuk membuatkan minum Raka.
“Silahkan diminum, maaf hanya ada jus.” Alice meletakan segelas orange jus di meja kaca yang berada di tengah-tengah sofa ruang tamunya.
“Apa kau tinggal sendiri?”
Alice mengangguk. “Iyaa.. Dari mana kamu tau aku tinggal disini?”
“Alice, apa kau lupa siapa diriku?Mencari tau alamatmu tidaklah sulit.” Kata Raka datar.
Alice hanya diam. Sejujurnya kedatangan Raka yang tiba-tiba membuat Alice bingung. Setelah kepulangan Alice ke Jakarta, ia memang tau cepat atau lambat Raka akan menemuinya. Tapi Alice tidak mengira Raka akan datang lebih cepat dari perkiraannya. Alice bahkan belum memikirkan jawaban jika Raka membahas tentang masa lalu mereka.
“Em..Bagaimana kabarmu?”
“Baik.” Jawab Raka singkat.
“Kalau nenek, bagaimana kabarnya?”
“Baik.”
Alice menanyakan hal-hal yang tidak terlalu penting dan Raka hanya menjawab singkat.
“Raka sebenarnya apa tujuanmu kemari?” Tanya Alice yang sudah mulai kesal. Sudah 1 jam Raka di apartemen Alice, tidak ada pembicaraan yang bermutu. Alice selalu menjadi pihak yang bertanya dan Raka selalu menjawab dengan singkat.
“Kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya?” Raka menatap tajam Alice.
“Apa maksudmu?”
“Kenapa tidak mengatakan padaku kau sedang sakit?Kenapa meninggalkanku di saat kau paling membutuhkanku?”
Jederr.. Alice tidak menyangka Raka akan tau tentang kondisi Alice.
“Raka aku-.”
“Kenapa?Apa kau pikir aku akan meninggalkanmu jika tau kau sakit?Jadi kau lebih dulu meninggalkanku?” Rahang Raka mulai mengeras, entah apa yang membuat Raka marah.
Alice menggelengkan kepalanya, sementara air matanya mulai bercucuran di pipi. “Bukan..Bukan begitu Raka, aku yakin kau tidak akan pernah meninggalkanku jika saat itu kau tau. Tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri, aku tidak yakin bisa sembuh.”
“Kau bahkan belum berusaha bagaimana bisa kau berkata seperti itu?” Tukas Raka sebelum Alice menyelesaikan kalimatnya.
Alice menggeser tempat duduknya hingga berdekatan dengan Raka. “Raka, kau tidak tau saat itu aku masih labil. Aku tidak bisa berfikir dengan jernih ketika dokter mendiagnosa penyakitku. Saat itu dokter mengatakan kanker yang aku derita sudah stadium akhir, dan kemungkinan aku hanya bisa bertahan 6 bulan. Aku bingung harus berbuat apa, aku tidak mau kau menangisi kematianku. Itulah sebabnya aku memilih pergi darimu, setidaknya saat ajal menjemputku kau tidak tau, aku tidak mau kau menangisiku.” Raka diam mendengarkan penjelasan Alice. Raka bisa tau Alice tidak berbohong dari sorot matanya.
“3 bulan setelah aku pergi ke luar negeri penyakitku bertambah parah.Aku berfikir waktu ku sudah dekat, tapi saat aku berada di Shanghai aku bertemu dokter pengobatan tradisional. Beliau mengatakan penyakitku bisa sembuh, awalnya aku tidak percaya. Tapi aku mengingat mu, akhirnya aku melakukan berbagai macam pengobatan tradisional. Aku berusaha berjuang dengan segala pengobatan, aku berperang dengan penyakitku dan bisa bertahan sampai sekarang.” Ucap Ayu. Air mata Ayu mengalir semakin deras.
Raka tidak tega melihat Ayu yang seperti itu. Ia menarik Ayu dalam pelukannya. Menenangkan Ayu, mengelus rambut Ayu dengan lembut.
“Maaf aku tidak ada saat kau membutuhkanku.”
“Tidak.. Ini bukan salahmu, ini salahku. Aku yang meninggalkanmu.”
Raka melepaskan pelukannya.
“Apa sekarang kau sudah sembuh?” Tanya Raka dengan lembut.
“Belum sepenuhnya sembuh, tapi aku baik-baik saja.”
Raka berada di apartemen Alice sampai malam. Mereka mengobrol sangat banyak. Alice bahkan menceritakan tentang keluarganya yang mengusir Alice karena sudah meninggalkan Raka
Alice sudah tidak memiliki orang tua, ia tinggal bersama paman dan bibinya. Paman dan bibi Alice begitu menyayangi Alice saat dirinya masih berpacaran dengan Raka. Raka selalu memberi banyak uang untuk kebutuhan hidup Alice dan keluarganya.
Tapi paman dan bibinya mengusir Alice begitu tau Alice menderita kanker dan memutuskan untuk meninggalkan Raka.
Mereka mengusir Alice karena sudah tidak bisa mendapatkan uang lagi dari Alice. Setelah di usir oleh paman dan bibinya, Alice terpaksa hidup sendiri dengan penyakit yang ia derita.
Alice hidup bermodalkan kartu yang pernah Raka berikan. Sebelum Alice pergi, ia menarik semua isi kartu Atm yang diberikan Raka. Alice melakukan itu agar bisa bertahan hidup tanpa terdeteksi oleh Raka. Ia selalu membayar dengan uang cash.
Uang dari Raka ternyata tidak cukup untuk biaya hidup Alice dan untuk membayar pengobatannya. Alice pun melukis dan menjual lukisannya untuk menopang hidupnya. Dari kecil Alice memang punya bakat yang bagus dalam melukis. Dan sekarang Alice sudah memiliki galeri sendiri. Jadi ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
***
Keesokan paginya Ayu bangun kesiangan.Semalam Raka meminta jatahnya sampai pagi, membuat Ayu begitu kelelahan.
Saat terbangun Ayu sudah tidak melihat Raka di sebelahnya. Ayu melirik nakas di sebelah tempat tidur, tidak ada dompet maupun ponsel Raka disana. Berarti Raka sudah pergi lagi.
‘Sudah pergi lagi. Baru kemarin pulang sudah pergi lagi.’
.
.
.
Bersambung..
Sah yaa untuk hari ini 2 bab..
kmn thor??
saya syuka... saya syuka...
tp kok msh blum tuntas 😔😔😔😔😔