"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10 -Batas Kesabaran
Di sisi lain, mobil Adrian akhirnya berhenti di pelataran rumah Tania. Bisa dihitung dengan jari berapa kali ia berkunjung ke rumah ibu mertuanya itu selama empat tahun pernikahan mereka. Sebelum turun dari kemudi, Adrian mengembuskan napasnya perlahan, mencoba mengusir rasa gugup yang tiba-tiba menyergap hatinya.
Begitu Adrian turun dan hendak mengetuk pintu, daun pintu kayu itu sudah lebih dulu terbuka menampilkan sosok ibu mertuanya. Tania berdiri di sana, menatap menantunya itu dengan pandangan yang teramat datar.
"Masuk," titah Tania singkat.
Adrian melangkah masuk ke ruang tamu yang sederhana itu sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan sang istri.
"Kamu mencari Alyssa? Dia sedang keluar sebentar ke depan, membeli camilan," kata Tania seolah tahu isi kepala Adrian. Adrian hanya bisa mengangguk kaku sebagai jawaban.
Suasana sempat hening beberapa saat sebelum Tania kembali bersuara dengan nada yang teramat serius.
"Adrian... jika kamu memang sudah merasa bosan dengan anak Ibu, maka kembalikan lah dia dengan baik-baik. Pulangkan dia ke rumah ini, Adrian. Jangan sampai kamu terus-menerus menyakiti anakku," ujar Tania tiba-tiba.
Kalimat itu bak petir di siang bolong bagi Adrian. Pria itu terkejut setengah mati hingga lidahnya mendadak kelu untuk menjawab.
"Aku..."
"Kalau kamu tidak mau, Ibu bahkan rela berlutut di hadapanmu sekarang agar kamu melepaskannya." Tania sudah bersiap mengikis jarak.
"Jangan, Bu! Jangan lakukan itu," potong Adrian cepat dengan wajah pias. "Baik... aku janji akan mengembalikan Alyssa sama Ibu. Tapi tidak sekarang," balas Adrian pada akhirnya.
Di balik pintu utama yang sedikit terbuka, Alyssa berdiri mematung dengan tubuh bergetar. Jemarinya meremas kantong plastik di tangannya hingga koyak. Dadanya terasa seperti dihantam godam besar. "Berarti... Mas Adrian memang berniat untuk menceraikan ku suatu saat nanti?"
Di tengah rasa sesak yang mendera, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Alyssa. Dari Hanum. Satu nama yang menjadi dalang utama mengapa rumah tangganya tidak pernah berjalan harmonis. Entah dari mana perempuan itu mendapatkan nomornya, dan bodohnya, Alyssa malah menyimpan nomor tersebut selama ini.
“Kamu tahu? Cukup satu kata dariku, aku bisa membuat Adrian pergi meninggalkanmu saat ini juga, Alyssa. Mau coba?” tanya Hanum dalam pesan itu.
“Gak mungkin,” balas Alyssa cepat, mencoba memasang benteng pertahanan terakhirnya.
Alyssa yakin, Hanum pasti sedang tersenyum sinis di seberang sana saat membaca balasannya. Dengan sisa-sisa ketegaran yang ada, Alyssa merapikan ekspresi wajahnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mas... kamu di sini?" Alyssa mencoba tersenyum sealami mungkin.
"Iya, aku menjemputmu untuk pulang," balas Adrian, suaranya terdengar agak canggung.
Tania yang menyadari situasi itu akhirnya menatap sang putri. "Pulanglah, Nak. Ibu nggak apa-apa di sini sendiri. Kamu harus ikut suamimu."
"Iya, Bu. Aku ambil tas dulu ke kamar," balas Alyssa patuh. Karena hanya membawa tas kecil dan sedikit barang pribadi, dalam waktu lima menit ia sudah siap dan berpamitan pada Tania.
Kini, di sinilah Alyssa berada. Duduk membisu di dalam mobil Adrian yang melaju membelah malam. Wangi parfum maskulin milik suaminya tercium pekat oleh indra penciumannya. Namun, fokus Alyssa justru terdistraksi oleh sebuah foto lama yang tergantung di dekat dashboard.
Foto Adrian dan Hanum yang sedang tersenyum lebar mengenakan seragam putih-abu-abu. Alyssa hanya bisa tersenyum masam menatapnya. Bahkan di dalam mobil ini pun, tidak ada ruang sedikit pun untuk dirinya sebagai istri sah.
Tiba-tiba, ponsel Adrian yang diletakkan di tengah bergetar hebat. Namun, Adrian tampak sengaja mengabaikannya dan terus menatap lurus ke depan.
"Angkat saja, siapa tahu ada urusan penting," ucap Alyssa lirih, matanya sempat melirik nama Hanum yang berkedip di layar.
Adrian akhirnya meraih ponsel tersebut dan menekan tombol hijau. "Halo?"
Namun, belum sempat menyapa lebih jauh, suara panik dari seberang telepon membuat rahang Adrian mengeras.
"Apa?! Kecelakaan? Bagaimana bisa?!" seru Adrian panik hingga spontan menginjak rem dengan paksa, membuat ban mobil berdecit nyaring di aspal. "Baik, baik! Saya akan segera ke sana!"
Adrian langsung mematikan sambungan telepon dengan napas memburu. Ia memalingkan wajahnya ke kiri, menatap Alyssa dengan pandangan menuntut.
"Turun," titah Adrian dingin.
Alyssa tersentak, menatap luar jendela yang tampak sepi dan gelap. "Tapi, Mas... ini masih jauh dari rumah kita ataupun rumah Ibu."
"Alyssa, aku bilang turun, ya turun! Hanum kecelakaan!" bentak Adrian berang, kehilangan seluruh kesabarannya.
"Mas, di sini sepi dan nggak ada kendaraan umum yang lewat jam segini. Aku ikut saja sama kamu ke rumah sakit, ya? Mas, aku mohon..." pinta Alyssa dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memegang lengan jas Adrian.
Namun, Adrian seolah sudah dibutakan oleh rasa panik. Pria itu justru keluar dari pintu kemudi, memutari mobil, lalu membuka pintu di sisi Alyssa secara paksa. Ia menarik lengan Alyssa hingga wanita itu terhuyung turun dan hampir terjatuh ke aspal.
"Mas!" pekik Alyssa shock.
Tanpa memedulikan jeritan istrinya, Adrian dengan cepat kembali masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan kasar, dan langsung menancap gas meninggalkan Alyssa seorang diri di pinggir jalan yang sepi.
"Mas, tunggu! Mas Adrian!" teriak Alyssa sia-sia.
Air matanya luruh menatap lampu belakang mobil Adrian yang perlahan menghilang di kegelapan malam. Dengan dada yang terasa remuk, ia terpaksa melangkah dengan kaki gemetar menuju jalan raya besar di depan, berharap masih ada angkutan umum yang lewat.
Lima menit kemudian, ponsel di genggamannya kembali bergetar. Sebuah pesan multimedia masuk dari Hanum, menampilkan sebuah foto Hanum yang sedang menggenggam erat tangan Adrian di ruang perawatan.
Di bawah foto itu, sebuah kalimat tersemat: “Kan sudah kubilang, Adrian akan selalu memprioritaskan aku, Alyssa. Lebih baik kamu menyerah saja sekarang.”
Alyssa menatap layar ponselnya lekat-lekat. Air mata yang tadinya mengalir deras perlahan berhenti. Jemarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusir paksa sisa-sisa kesedihan di matanya. Sorot matanya kini berubah menjadi tajam dan dingin.
Nggak. Alyssa membatin dengan tekad yang mendadak membaja di dadanya. Aku tidak akan pernah sudi menyerah dan kalah oleh seorang pelakor sepertimu, Hanum. Lihat saja nanti.
Alyssa berjalan perlahan menyusuri pinggiran jalan yang gelap, matanya terus mengedar berharap ada kendaraan umum yang kebetulan lewat. Namun, harapannya seketika sirna. Tidak ada satu pun taksi, angkutan kota, ataupun ojek yang tampak mangkal di sekitar daerah sepi itu.
"Astaga... kalau aku kasih tahu Ibu kejadian yang sebenarnya, Ibu pasti akan sangat sedih," lirih Alyssa dengan suara bergetar menahan tangis. Ia melipat kedua tangannya di dada, mencoba mengusap lengannya sendiri demi menghalau hembusan angin malam yang terasa begitu dingin menusuk kulit.
Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba suara deru mesin sebuah motor besar terdengar mendekat dan langsung berhenti tepat di samping tubuhnya. Hal itu sontak membuat Alyssa sedikit terkejut dan reflek melangkah mundur karena waspada.
"Hai, Kakak ipar!"
Pria di atas motor itu membuka kaca helm full face-nya, menampilkan wajah tampan yang langsung mengulas sebuah senyuman manis nan hangat.
Alyssa tertegun, matanya membelalak tak percaya. "Arden...?"
Bersambung ....
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣