"Aku cinta kamu. Meskipun kamu duda, aku enggak peduli. Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Berliana.
"Satu tahun. Jika kamu mampu bertahan dan membuatku jatuh cinta padamu, maka pernikahan kita berlanjut. Tetapi jika tidak, kita bercerai. Deal?" tanya Dion memulai kesepakatan.
"Oke, aku setuju. Aku yakin Mas Dion akan jatuh cinta padaku sebelum jangka waktu satu tahun pernikahan kita," jawab Berliana penuh keyakinan.
Berkat kekerasan yang selalu ia dapatkan, kematian kedua orang tua dan adik-adiknya serta dendam tak kunjung padam akibat ulah pihak ketiga, membuat dirinya tumbuh menjadi sosok Sadisme. Tidak ada wanita yang sanggup seranjang dengannya. Tanpa Berliana tahu bahwa suaminya itu tengah menyembunyikan identitas dan karakter aslinya.
Sanggupkah Berliana Cahaya Mahendra menjadi dermaga cinta terakhir suaminya, walau tubuhnya akan hancur dan terkoyak?
Simak kisahnya💋
Update Chapter : Setiap Hari.
🍁Merupakan bagian dari Novel : Bening🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Perubahan Berliana
"A_ku...aku belum ingin punya anak sama kamu," jawab singkat Dion sedikit terbata-bata.
"Hahaa... kenapa sebelum menikah denganku, Mas gak memberikan syarat yang jelas di perjanjian kita selama setahun bahwa ENGGAK ADA ANAK ! Kenapa baru ngomong sekarang !!" pekik Berliana meradang seraya tertawa sumbang.
"Turunkan nada suaramu! Apa begini kelakuan seorang istri yang baik? Berbicara dengan nada yang lebih tinggi pada suaminya sendiri !" bentak Dion tak kalah sengit. Sebab ia tak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya dalam rumah tangganya bersama ketiga mantan istrinya terdahulu.
Arumi, Indah dan Puspa selalu menurut tanpa banyak membantah dan tak pernah meninggikan suara mereka padanya. Sangat berbeda dengan Berliana yang di luar terkenal lembut dan terlihat sedikit manja. Namun Berliana yang ia lihat sekarang sangat keras kepala dan pembangkang.
"Beginilah aku, Mas. Keras kepala dan bukan wanita yang lemah lembut yang mudah menurut di ketiak suami. Kalau aku gak keras kepala, Papa juga enggak bakal merestui pernikahan kita. Apa kamu baru sadar?" sindir Berliana dengan sengaja.
"Aku beneran kayak enggak kenal sama kamu, Ber. Mana Berliana yang bilang sangat cinta sama aku dan akan jadi istri yang baik untukku. Mana !!" teriak Dion dengan nafas memburu.
"Berliana yang itu sudah mati. Setelah kamu membuat tubuhku seperti ini. Siapa yang buat luka ini, ini dan ini. Bahkan luka itu masih menganga begitu dalam di sini." Berliana berbisik di telinga Dion sambil menunjuk semua luka di tubuhnya. Dan paling terakhir, jarinya menunjuk hatinya yang terluka atas sikap suaminya. "Aku berlari ke sana kemari mencari dokter dan obat di luar sana seperti orang gila, tapi tak menemukannya. Aku_ aku harus bagaimana, Mas? Hiks...hiks... hiks..." tangis Berliana tiba-tiba mencuat seketika. Kedua tangan lentiknya menutupi wajahnya yang tengah basah oleh air mata.
Deg...
Dion menatap istrinya yang tengah duduk di sebelahnya menangis sedu sedan. Hatinya seketika dilanda rasa perih menyayat hati. Tiba-tiba ia teringat kenangan yang lalu saat ibunya datang ke Jakarta bersamanya dan juga sang adik, Dimas.
Ibunya berteriak dan menangis saat memergoki sang Ayah yang ternyata selama ini di Jakarta berselingkuh dengan wanita lain. Bahkan wanita selingkuhan Ayahnya itu tengah mengandung dan meminta tanggung jawab pada sang Ayah.
Di saat hari yang sama pula ibunya dan juga dirinya kembali menangis tatkala menyaksikan Dimas, adiknya yang sangat spesial di hati keluarganya walaupun menyandang status sebagai ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) harus meregang nyawa di hadapan mereka. Terlindas mobil dan bersimbah darah yang pada akhirnya nyawa Dimas tak tertolong.
Parahnya lagi sang pemilik mobil adalah wanita selingkuhan Ayahnya yang berbeda dengan wanita pertama yang tengah hamil. Sungguh ironi.
Kesetiaan ibunya di desa harus dibayar mahal dengan darah dan air mata atas pengkhianatan sang Ayah yang sangat ia banggakan.
Tangisan Berliana sangat menyerupai tangisan ibunya. Walaupun dalam konteks yang berbeda. Tetapi satu hal yang sama. Yakni dirinya tak jauh beda dengan sang Ayah. Sama-sama menyakiti pasangannya.
Seketika membuat hatinya seakan dihantam sebuah batu besar tak kasat mata. Puzzle-puzzle masa lalunya terus menghantuinya.
Tanpa sadar tangannya terulur ke depan ingin menyentuh surai hitam istrinya. Bermaksud ingin menenangkan namun seketika urung. Dirinya terlonjak saat Berliana berdiri dan berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa. Otomatis ia pun dengan refleks mengejar istrinya.
Berliana berjalan dengan cepat menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Mata lentiknya langsung tertuju pada pisau dapur yang berjejer rapi pada tempatnya. Tangannya pun langsung dengan sigap mengambil sebilah pisau dapur tersebut dan mengarahkan pada lehernya.
"BER !!" teriak Dion yang terkejut melihat aksi nekat istrinya.
"STOP !! Diam di situ, Mas. Selangkah Mas maju, maka besok Mas bisa dengan lega menguburkan mayatku." Berliana mengancam Dion dan menyuruh suaminya berhenti agar tidak mendekatinya.
"Apa-apaan kamu, Ber. Turunkan pisau itu !!" titah Dion.
"ENGGAK !! Sebelum Mas berjanji dua hal padaku," ucap Berliana tak kalah sengit berteriak lantang di depan suaminya.
"Apa?" tanya Dion to the point dengan tatapan yang juga tak kalah tajam pada Berliana walaupun dalam hatinya juga menyimpan rasa was-was pada pisau yang ada di leher istrinya itu. Sebab saat ini mata elangnya mendapati leher istrinya itu sudah ada sedikit darah yang diduga akibat tekanan tangan sang istri pada genggaman pisau ke arah leher.
Bersambung...
🍁🍁🍁