Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Pernikahan sejatinya adalah menyatukan dua insan yang saling mencintai untuk membangun biduk rumah tangga dan juga menjaga keutuhan rumah tangga. Namun, bagaimana jika pernikahan yang kita jaga ternyata ternodai dengan hadirnya orang ketiga.
Seperti yang dialami dengan Kinanti. Suami yang begitu ia cintai ternyata sudah menciderai ikatan suci pernikahan. Siapa yang tak akan menyangka, kalau suami yang seharusnya menjadi sandaran hatinya begitu dalam melukai hatinya.
Kinanti duduk termenung, ia tengah memikirkan soal pembicaraannya dengan sang ayah beberapa menit yang lalu. Ia masih dilema antara melanjutkan pernikahannya atau berpisah dengannya.
Flashback.
Kinanti yang baru tiba di rumah orang tuanya, langsung memohon maaf kepada kedua orang tuanya yang sudah ia sakiti. Walau sebenarnya, Kinanti tidak punya muka untuk bertemu dengan orang tuanya.
"Maafin Kinan, Pak, Bu," ucap Kinanti penuh penyesalan. Air matanya sudah berdesakan keluar dari pelupuk matanya.
Sang ibu mengangkat tubuh Kinanti dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Ibu sama bapak sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu meminta maaf. Ibu sama bapak tidak ada sedikitpun rasa marah terhadap kamu dan Yoga. Kami sebagai orang tua hanya menginginkan yang terbaik buat kamu. Maafkan juga atas sikap ibu dan bapak yang sudah merendahkan suami mu."
Kinanti menggelengkan kepalanya. Kenyataanya Yoga memang bukan lelaki yang baik. Buktinya dengan teganya Yoga mengkhianatinya dan tidak pernah memperdulikannya.
Raka yang sejak tadi diam, kini ikut menimpalinya. Masih segar dalam ingatan, bagaimana Yoga begitu liar berciuman dengan wanita lain.
"Ibu sama bapak tidak perlu minta maaf sama suaminya kak Kinan. Kenyataanya mas Yoga memperlakukan kak Kinan tidak baik. Satu lagi mas Yoga sudah berselingkuh di belakang kak Kinan," ucap Raka berapi-api.
Seketika Kinanti syok mendengar penuturan Raka. Ternyata benar, Raka juga mengetahui kalau suaminya berselingkuh. Ibu Mala dan Pak Suryadarma tak kalah terkejutnya mendengar perkataan Raka. Lalu, Pak Suryadarma menatap Kinanti.
"Kinan, apa benar yang di katakan Raka?"
Mulut Kinanti terkatup rapat. Apa ia harus mengatakan yang sejujurnya.
"Kinanti !" Kali ini suara Pak Suryadarma meninggi.
Kinanti mengangguk pelan.
"Jadi benar kalau Yoga memperlakukan kamu tidak baik."
Kinanti mengangguk lagi.
"Dan menyelingkuhi kamu?" Lagi, Kinanti menganggukkan kepalanya.
Pak Suryadarma menghela napasnya. Penilaiannya tentang Yoga tidak pernah salah. Dari awal ia memang tidak suka dengan sifat Yoga.
"Apa kamu masih ingin mempertahankan pernikahan mu?" Kali ini sang ibu ikut bersuara.
Kinanti membuang napasnya terlebih dahulu, lalu ia menatap orang tuanya bergantian.
"Sepertinya iya ...," jawabnya pelan.
"Bagus, Kak. Keputusan kakak sangat tepat. Lelaki brengsek seperti dia tidak perlu dipertahankan. Toh, masih banyak lelaki yang jauh lebih baik dari mas Yoga." Raka menimpalinya.
"Jika itu yang terbaik buat kamu, bapak hanya bisa mendukungnya. Semoga dikemudian hari kamu tidak menyesalinya," imbuh Pak Suryadarma.
Flashback off.
***
Yoga tiba di rumah mertuanya menjelang malam. Ia dan kedua anaknya bergandengan tangan memasuki teras rumah.
Sasa dan Amar sangat senang. Setelah sekian lama, akhirnya bisa berkunjung ke rumah kakek dan neneknya. Kakak beradik itu tersenyum senang, karena sebentar lagi akan bertemu Kakek dan nenek.
Setelah mengetuk pintu, dan dibukakan oleh sang nenek, Sasa dan Amar langsung memeluknya.
"Cucu Nin sudah besar," seru Ibu Mala.
"Nin, sehat?" tanya Amar.
Ibu Mala mengangguk seraya mengelus kepala Amar.
"Mama mana?" tanya Sasa.
"Ada di kamar," jawab Ibu Mala.
Amar dan Sasa langsung berlari masuk menghampiri Kinanti. Sementara itu, Yoga masih berdiri di ambang pintu.
"Bu," sapa Yoga.
"Hmm ...," sahutnya datar. Kemudian Yoga mencium punggung tangan Ibu Mala.
Sasa dan Amar tersenyum lebar ketika melihat sang mama merentangkan kedua tangannya. keduanya berhamburan ke pelukan Kinanti. Melupakan rasa rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.
"Yeeey ...! Kita bisa kumpul lagi," seru Sasa senang.
Tidak lama Yoga masuk ke dalam kamar.
Seketika senyum Kinanti lenyap dan berganti dengan tatapan dingin. Andai tidak dan Sasa, maka ia akan mengusir Yoga dari kamarnya.
Yoga mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan tersenyum manis kepada Kinanti.
"Mama ... Mama, nanti kita berempat tidur dikasur ini ya." Pinta Sasa.
'Bagus, Sayang. Desak mama mu agar mau tidur bersama.' Batin Yoga.
"Iya, ma. Kita sudah lama bangeeeet tidak tidur bersama papa," timpal Amar.
Yoga semakin senang, karena kini Amar juga berada di pihaknya.
"No ... Kasurnya kecil. Mana muat ditempatin berempat," jawab Kinanti.
Sasa menatap kasurnya, dan ternyata kasurnya mema.kecil.
"Iya juga ya ... Nanti adek cari ide, deh," tukas Sasa.
Di ambang pintu, Pak Suryadarma sudah berdiri untuk menyapa cucu-cucu tersayangnya.
"Amar ... Sasa ...."
Keduanya menoleh, lalu keduanya mendekati sang kakek.
"Cucu Aki sudah besar nih."
Amar dan Sasa tersenyum senang melihat kakeknya.
"Kalian pasti lapar. Nin sudah masakin makanan yang enak," sambung Pak Suryadarma.
"Ayo, Bang, kita makan," ujar Sasa sambil berlalu dari sana.
Kemudian Pak Suryadarma menatap Yoga, sambil menghela napas.
"Selesai makan malam, bisa kita bicara?"