10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEULIS, PETIR, AWAN
"Ckckckk... Dikira gw bakal takut. Nih, anak anak gw aja gak takut." Bejo dan nining berkeciap penuh semangat. Aku terkekeh.
Aku berjongkok, "Ok anak anak. Turun dulu. Ibu mau berantem dulu. Kalian jangan ke mana mana." Keduanya meloncat turun dari bahuku. "Anak pinter. Perhatiin ya. Kalian belajar cara berantem yang bener mulai sekarang."
Aku bangkit, memakai sarung tangan, memperkuat diri dengan skill pertarungan dan kecepatan. Menyeringai sambil menatap si harimau. "Lets start the game, baby."
Aku berlari menembus batas wilayahku, lurus menuju bang harimau. Dia pun melakukan hal yang sama. Saat dia mulai melompat dan menerkam, aku bergeser ke samping, dan menonjok dengan keras sisi dada dan pinggangnya. Harimau mengaum kesakitan. Krek! Suara tulang retak. Dia terjatuh, lalu bangkit lagi. Aku berdiri, masih berjarak darinya.
Menunggu dia siap lagi.
Setelah bang harimau berdiri, aku mengejeknya dengan menggerakkan jariku, memanggilnya, "sini maju lo. Gw tunggu disini."
Bang harimau tersinggung, langsung tancap gas ke arahku. Saat dia dalam posisi melompat, aku masuk ke bawah badannya dan menghajarnya lagi, tepat di dada dan perutnya. Lalu berguling ke samping sebelum bang harimau ambruk.
Aku bangkit, berdiri 10 meter darinya. Menatap harimau yang terkapar. Dia hendak bangkit lagi, namun gagal. Aku masih menunggu, bahkan sempat mengambil air minum di inventory, meneguknya hingga habis. "Aah.. Sueger!!" Seruku.
Terlalu lama menunggu harimau itu bangkit. Aku menghampirinya. Menjaga jarak 5 meter, lalu berjongkok dan bertatapan dengannya.
"Jadi apa pilihanmu. Patuh atau jadi karpet?" Aku mengeluarkan crossbow, "pake ini gak bakal sakit kok. Aku tau titik mana yang harus kutembak biar lo langsung mampus. Mau dicoba?" Aku membidik tepat ke dahinya.
Harimau itu mengaum pelan, seperti memohon ampun. Lalu dia mengubah posisi tubuhnya, berhadapan dengan ku, kepalanya menunduk. Tanda menyerah.
Aku memasukkan kembali senjata ku ke inventory.
Mengulurkan telapak tangan ke arah harimau. Dia mendekat, dan menempelkan dahinya di tanganku. Tanda penyerahan dan kepatuhan.
...----------------...
Di bumi.
Jagat maya negara pusaka heboh dengan pertarungan naya dan seekor harimau.
-X : sumpah! Pasti AI itu ya. Gak mungkin asli. Ato harimau sewaan gitu kali ya. Cepet bener nyerahnya. Tangan kosong loh ituuu...
-Y : woi bangun woi, ngimpi aja lo. Jelas jelas asli kok dibilang AI.
-Z : gak terima gw. Ada cewe seperkasa itu. Dia semacam hulk ato apa?
-A : ya kali hulk warna ijo. Lah dia jelas jelas bening gitu. Wah.. Bener bener tu cewe. Gak bisa berword word gw.
-B : gila gerakannya, hampir gak keliatan. Gw sampe muter balik rekaman, dipelanin 50%, baru keliatan. Itu juga masih ngblur.
-Z : ah! Depresi pokoknya gwee...
Sementara kolonel hamdi, kembali mengurut kepalanya yang pening, jumlah penyintas negara pusaka berkurang lagi. 1 orang dari kota jaya gagal bertahan. Layarnya langsung padam.
Di rumah keluarga naya.
Yangkung dan yangti menangis.
Amelia speechless. Pak budi dan bu imah terpana.
"Cucuku jadi penakluk harimau." Ujar yangti lirih.
Sementara yangkung mulai tertawa pelan. Diikuti amelia.
Di rumah keluarga ben.
Semua terdiam. Terpaku. Melihat naya mengelus kepala harimau.
Berbeda dengan ben, yang baru selesai membantai dua ekor serigala.
"Pasti kucing itu. Gak mungkin harimau." Dami akhirnya berkomentar.
Alex mengangguk, "bener, kucing raksasa."
...----------------...
Back to naya.
Harimau menggeram kesakitan. Matanya setengah terpejam.
Aku menatapnya, " Gw periksa ya, gw obatin. Udah jangan nangis." Lalu aku berpindah ke sisi tubuhnya. Duduk bersila. Memegangnya, menggunakan energi penyembuhanku padanya.
Harimau mengaum lirih, menutup mata dan meletakkan kepalanya diatas kedua kaki depannya yang bertumpu. Menikmati sensasi penyembuhanku.
Kami berdiam entah berapa lama. Energiku terus mengalir perlahan lahan menyembuhkan tubuhnya yang cedera akibat seranganku tadi.
Bejo dan nining terdengar berkeciap, tapi mereka tak mendekat, masih di dalam wilayahku. Mereka sangat penurut. Anak baik.
Semilir angin berhembus, menenangkan pikiranku.
...----------------...
Aku masih duduk bersila, harimau duduk di hadapanku.
"Kamu bener sendirian?" Tanyaku. Harimau itu menggerakkan kepalanya ke arah hutan. Aku menoleh, dahiku berkerut. "Ada siapa selain kamu?"
Harimau itu mengaum pelan, seperti memanggil, lalu dua ekor bocil harimau keluar dari semak semak. Menghampiri kami.
Aku terpana. "Oh, astoge... Kamu bukan laki ya ternyata. Kamu emak emak!", harimau itu mengangguk, mengiyakan.
Aku menutup mulut dan tertawa. Yaelah... Bukan bang harimau ternyata tapi mba harimau.
Kedua bocil harimau mengeong di sebelah induknya. Aiih.. Lucu syekaleeeh..
Sang induk mendorong kedua bocilnya ke arahku. Mereka mendekat malu malu. Aku langsung mengulur kan tangan, dan memegang kepala keduanya. Mereka menurut. Energiku membuat mereka patuh. Mba harimau mendengkur.
"Kamu sama anak anak mu mau gw kasi nama gitu?" Tanyaku ke mba harimau. Dia mengangguk.
"Hhmm.. Ok. Mulai sekarang namamu geulis. Artinya cantik. Anakmu yang ini namanya petir", aku menunjuk bocil harimau ditangan kananku, dia memiliki corak unik di dahinya kayak harry potter, "dan yang ini namanya awan", bocil harimau di tangan kiriku memiliki tekstur bulu unik di telinganya seperti gumpalan kapas.
Geulis mengaum pelan, setuju dengan nama yang kuberikan.
" Ok, mulai sekarang kalian bebas masuk wilayahku. Tapi ingat, gak boleh ngacak ngacak. Liat itu dua piyik, mereka anak anakku, jangan digigit. Ok." Aku memberi jempol.
"Sekarang aku mau ngambil box di hutan. Kalian ayo ikut."
Aku menghampiri bejo dan nining, "ayo ikut." Aku meraih keduanya dan kutaruh dikedua bahuku. Lalu kami konvoi masuk hutan.
...----------------...
Beralih ke ben di pulau batu20.
Dua serigala selesai kubantai. Mereka benar benar pintar bekerja sama. Aku hampir kewalahan. Untung skill teleportasi ku berguna.
Setelah keduanya berubah menjadi asap, aku bergerak mengambil 2 box bantuan.
Aku juga menemukan vegetasi yang sama dengan di bumi, baru kutemukan sekarang. Dan batu granit. Aku menambang nya. Setelah cukup banyak, bergerak lagi mengelilingi pulau. Menemukan bongkahan batu bara. Dan menambangnya.
Hingga akhirnya aku menemukan satu tanaman aneh, mirip kaktus golden barrel namun berwarna kuning.
"Kalo ini kaktus mutan, aku kasi nama kaning, alias kaktus kuning."
"Selamat ben, kamu berhasil memberi nama jenis kaktus mutan." System ku berbicara.
Aku tersenyum lebar.
"Sayangku lagi apa ya?" Aku mengangkat tangan kiri, mengecek kondisi naya. Tenryata kondisinya sangat stabil. Aku heran, kenapa dia selalu dalam kondisi prima? Seperti tak pernah kelelahan.
Notif dari naya.
(Naya mengirimkan 2 kelapa muda)
-Naya : jangan dehidrasi masku.
Dia tau aku sedang kehausan. Bukannya aku tak punya air, apalagi aku punya skill air. Kupikir nanti saja aku minum setelah beres berkeliling.
-Aku : sayang mas gercep banget ya. Makasih loh ya nayku.
-Naya : cama cama. Aku lagi muter muter ini sama bejo, nining, geulis, petir, awan.
-Aku : mas tau yang dua bocil ayam. Trus yang tiga siapa?
-Naya : temen baru. Dia punya anak dua.
-Aku : mas curiga bukan orang deh. Ayo ngaku apaan itu?
-Naya : harimau.
Aku tertegun.
Serius?! Naya sama harimau?! Bukannya dibunuh malah jalan bareng?! Udah diluar prediksi BMKG emang ceweku ini.
-Naya : mas.. Mas.. Kok diem?
-Aku : mas kehabisan kata kata sayang
-Naya : hahaha.. Santai ah. Btw aku udah beres muter muternya. Mau pulang dulu. Tadi abis nangkep ikan banyak sama geulis. Kita mau mukbang. Nanti aku kirim ke mas ya. Ditunggu. Cupcup!!
...----------------...