Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di ruang kelas 11 IPS 2, suasana menjelang jam istirahat kedua terasa agak lengang namun berubah bising dalam sekejap ketika geng Devan berkumpul di meja pojok belakang. Bima, yang sedari tadi sibuk membolak-balik lini masa media sosialnya sambil bertopang dagu, mendadak menegakkan punggung. Matanya membelalak menatap layar ponsel, lalu sedetik kemudian tawanya pecah hingga memukul meja.
"Woi! Gila, gila! Sini lo pada, liat ini!" seru Bima setengah berbisik namun penuh penekanan, memanggil Raka dan Reno yang sedang asyik bermain gim daring di ponsel masing-masing.
Raka menoleh dengan dahi berkerut. "Apaan sih? Berisik amat lo, Bim. Ini dikit lagi gua menang."
"Udah, lepasin dulu gim lo! Ini darurat militer menyangkut masa depan bos kita!" Bima menarik paksa lengan seragam Raka dan menyodorkan layar ponselnya. Di sana, terampang unggahan foto kue dari akun bernama "Dapur Saras" yang baru saja dibagikan ulang oleh Adel di cerita media sosialnya.
Reno yang ikut mengintip langsung menutup mulutnya, menahan tawa yang siap meledak. "Lah? Ini kan kue lumpur sama bolu gulung yang tadi pagi diomongin anak-anak IPA satu? Berarti... ini akun jualan miliknya Alya?"
"Tepat sekali, 100 poin buat Reno!" Bima terbahak pelan. Ia segera berdiri dan berjalan menghampiri Devan yang sedang duduk santai di dekat jendela, mendengarkan musik menggunakan satu *earphone* terpasang di telinga kirinya.
Tanpa permisi, Bima langsung menyodorkan ponselnya tepat di depan wajah Devan. "Nih, Bos. Target operasi lo ternyata punya bakat terpendam jadi juragan kue. Fotonya estetik bener, gak kalah sama kue yang sering dibeli nyokap lo di mal."
Devan menarik satu alisnya ke atas, melepas *earphone*-nya perlahan. Matanya langsung terkunci pada foto kue lumpur kentang dengan taburan kismis di atasnya yang tampak begitu menggoda. Sudut bibir Devan bergerak tipis, mengukir senyuman yang sangat samar, namun kilatan di matanya tidak bisa berbohong. Ia mengenali estetika kesederhanaan itu; itu pasti buatan tangan Alya sendiri di dapur rumah papan yang dilihatnya kemarin.
Melihat reaksi Devan, Raka langsung merangkul pundak ketuanya itu sambil menahan tawa mengejek. "Ciyee... Devan Narendra ketahuan! Matanya langsung berbinar-binar kayak lampu neon baru diganti. Gimana, Dev? Mau borong semua kuenya biar dia bisa langsung lunasin biaya *study tour* esok hari?"
"Iya nih," timpal Reno jahil, ikut bersandar di meja Devan. "Seorang pewaris tunggal Narendra Corp yang biasanya kalau makan kudu di restoran bintang lima, sekarang malah kesengsem sama kue lumpur pasar. Selera lo mendadak merakyat ya, Dev, semenjak kenal pawang es batu dari IPA satu."
"Gua rasa Devan sengaja gak mau borong langsung," celetuk Bima sambil menaik-naikkan alisnya menggoda. "Soalnya kalau diborong langsung, ntar masa pendekatan lewat beli kue harian jadi hangus. Bener kan, Bos? Strategi lo boleh juga."
Devan mendengus pelan, menepis tangan Raka dari pundaknya dengan gerakan santai yang biasa ia lakukan untuk menutupi rasa canggung. "Bacot lo pada. Gua cuma kagum dia kreatif, gak gengsian kayak cewek-cewek lain di sekolah ini. Daripada lo semua sibuk ngurusin gua, mending bantuin gua mikir gimana cara beli kuenya tanpa bikin dia curiga."
"Halah, ngelesnya pinter banget kayak anak olimpiade!" seru Raka disambut tawa riuh dari ketiganya, sementara Devan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil meraih ponselnya sendiri yang tergeletak di atas meja.
Sementara itu, di kelas 11 IPA 1, bel istirahat kedua baru saja berbunyi. Suasana kelas berangsur sepi karena sebagian besar murid berhamburan menuju kantin. Alya memilih untuk tetap tinggal di dalam kelas bersama Adel dan Jesica. Di atas mejanya, lembar kertas kecil catatan pesanan kue untuk besok pagi sudah terisi hampir penuh oleh nama teman-teman sekelas dan beberapa guru yang ikut memesan setelah melihat promosi mulut ke mulut dari Adel.
Alya menyandarkan punggungnya di kursi, menghembuskan napas lega yang amat dalam. Kepalanya yang sejak kemarin terasa berat kini terasa jauh lebih ringan. Hasil penjualan contoh kue yang ia bawa pagi tadi ditambah dengan uang muka dari beberapa pesanan yang masuk sudah terkumpul rapi di dalam dompetnya.
"Al, sumpah, gue gak sabar nunggu pesanan kue lumpur gue besok pagi," ujar Jesica sambil mengunyah keripik kentangnya. "Tadi pas gue coba bolu gulung lo yang tersisa sedikit, rasanya beneran lembut banget. Selai stroberinya juga pas, gak kemanisan."
"Iya, Al. Selamat ya, ide lo buat posting di medsos bener-bener jenius. Target biaya *study tour* lo kayaknya bakal tercapai sebelum hari Jumat," timpal Adel bangga, menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
Alya tersenyum tulus, matanya memancarkan rasa syukur yang mendalam. "Ini juga berkat bantuan kalian berdua yang udah heboh promosi in dari pagi. Kalau gak ada kalian, mungkin gak bakal seramai ini."
*Denting!*
Suara notifikasi bernada pendek dari ponsel jadul milik Alya yang tergeletak di atas meja memotong percakapan mereka. Alya mengulurkan tangan, meraih ponsel berlayar sedikit retak itu lalu menyalakan kuncinya. Ia mengira itu adalah pesan dari pelanggan baru atau warung kelontong Nyak Ani yang ingin menambah pesanan kue untuk sore nanti.
Namun, begitu aplikasi media sosialnya terbuka dan memuat halaman pemberitahuan terbaru, jemari Alya mendadak membeku di atas layar. Matanya terpaku pada satu baris kalimat notifikasi yang berada di barisan paling atas, ditandai dengan ikon lonceng berwarna merah.
Notifikasi itu berbunyi: "Devan Narendra (@devan.narendra) Mulai Mengikuti Anda."
Alya berkedip beberapa kali, mengira indra penglihatannya salah karena kelelahan kurang tidur. Ia menyipitkan mata, membaca ulang nama akun tersebut berulang kali. Profilnya menampilkan foto hitam putih seorang laki-laki berpostur tinggi yang sedang bersandar di atas motor besar dengan tatapan tajam—tidak salah lagi, itu adalah akun asli milik Devan Narendra, cowok paling populer sekaligus pewaris tunggal kaya raya seantero sekolah yang kemarin membela dirinya di koridor.
"Eh, Al, lo kenapa? Kok bengong melulu liatin hp?" tanya Adel curiga, langsung mendekatkan wajahnya untuk ikut mengintip ke layar ponsel Alya.
Sebelum Alya sempat menyembunyikan layarnya, Adel sudah lebih dulu membaca nama yang tertera di sana. Seketika, mata Adel membelalak sempurna dan ia memekik histeris, membuat Jesica hampir tersedak keripiknya.
"DEMI APA, ALYA?! DEVAN NARENDRA FOLLOW AKUN LO?!" teriak Adel heboh, langsung merebut ponsel Alya tanpa permisi untuk memastikan kebenaran yang dilihatnya. "Jes! Sini liat! Ini beneran akun aslinya si Devan yang centang biru tersembunyi itu! Ya ampun, dia *follow* lo, Al!"
Jesica langsung merebut ponsel itu dari tangan Adel dengan wajah penuh keterkejutan yang sama besarnya. "Gila, gila! Devan itu cuma *follow* anak-anak gengnya sama beberapa akun organisasi resmi sekolah tahu, Al! Dia gak pernah *follow* cewek sembarangan di sekolah ini, bahkan Clara aja kagak di-*follback* sama dia sampai sekarang!"
Alya menarik napas panjang, merebut kembali ponselnya dari tangan Jesica dengan gerakan tenang yang berusaha ia paksakan. Jantungnya entah mengapa berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya—bukan karena ia merasa salah tingkah seperti cewek-cewek lain, melainkan karena rasa heran yang teramat sangat.
Kenapa cowok seperti Devan Narendra mendadak tertarik mengikuti akun media sosial miliknya yang sangat polos dan baru saja diubah menjadi akun jualan kue? Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian di lapangan atau perkelahian dengan Clara kemarin? Atau jangan-jangan, Devan sedang merencanakan sesuatu untuk mengusik ketenangannya lagi?
"Biasa aja kali, mungkin dia cuma kepencet atau nyasar ke akun jualan aku," jawab Alya datar, mencoba bersikap acuh tak acuh walau jemarinya perlahan menekan tombol kembali untuk menutup aplikasi tersebut.
"Kepencet mbahmu! Mana ada seorang Devan Narendra kepencet sampai nyasar ke akun lo kalau bukan sengaja nyari nama lo, Alya!" omel Adel gemas dengan kepolosan sahabatnya yang kelewat batas. "Ini sinyal kuat, Al! Dia pasti tertarik sama lo sejak kejadian lo cuekin dia di lapangan kemarin!"
Alya tidak membalas lagi, ia memilih memasukkan ponselnya ke dalam saku rok seragamnya dan kembali fokus merapikan kertas catatan pesanannya. Namun, di dalam hati kecilnya, benteng pertahanan es yang selalu ia jaga rapat kini mulai terusik oleh kehadiran nama Devan Narendra yang perlahan tapi pasti mulai masuk ke dalam lingkaran kehidupannya.