Kalistha, seorang gadis malang yang dibuang oleh keluarganya. Dia terpaksa menghidupi adiknya seorang diri sambil kuliah. ketika sedang bermain piano di kampus, ia bertemu dengan seorang laki-laki.
Barsh, anak dari pengusaha kaya raya. ia merasa tertarik kepada seorang gadis yang begitu lihai ketika bermain piano.
Sejak saat itu, Barsh mulai mendekati Kalistha, dengan menjadikan gadis itu sebagai guru les privat pianonya
Namun kisah cinta mereka tidak mulus. Barsh ternyata memiliki seseorang dari masa lalunya yang kini berada di Seoul. Gadis yang begitu buta dengan cintanya terhadsl Barsh. Siapa yang berani mendekati Barsh pasti akan celaka.
Dia yang mengetahui hubungan Kalistha dan Barsh, mencoba untuk memberikan ancaman kepada Kalistha, jika dia tidak meninggalkan Barsh.
Siapa yang akan dipilih oleh Barsh? Masa depan, atau masa lalu yang masih berharap kepada dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Sayang Kembalilah
Lorong-lorong rumah sakit itu cukup sepi malam ini. Hanya ada beberapa perawat yang berlalu lalang. Terlihat dua orang pemuda sedang duduk di sebuah sofa yang terletak salah satu kamar rawat.
Mereka adalah Andrew dan Michael sahabat dekat Barsh. Perlu kalian ketahui bahwa Barsh adalah seorang pemimpin. Seorang CEO dari usaha besar yang cabangnya berada di Seoul, Korea Selatan.
Andrew dan Michael adalah Sahabat dekat yang Barsh jumpai sewaktu menuntut ilmu di Seoul. Kemampuan bisnis mereka tidak bisa dianggap remeh, oleh karenanya ketika dirinya ditunjuk memimpin perusahaan.
Andrew dan Michael direkrutnya untuk menjadi bagian perusahaannya sejak saat itulah mereka dekat sekali.
Barsh memang menuntut ilmu lebih jauh di Tokyo. Tapi dibalik seorang Barsh yang berkedok pelajar ini. Dia adalah seorang sultan yang sangat kaya.
Tapi dia diam tidak mengumbar itu ke sana kemari. Isu dari mulut ke mulut yang bergerak memperbincangkan perihal latar belakang keluarganya.
Hingga beragam pertanyaan muncul mulai menanyakan perihal hal itu benar atau tidak. Dan Barsh hanya diam. Dia memilih membiarkan mereka semua mencari tahu sendiri.
Kembali pada kedua sahabatnya ini. Mereka datang dari Seoul kemari sebab mendapat sebuah panggilan telepon. Dan telpon itu adalah dari Arteta.
Catatan panggilan ponsel Barsh. Dia lebih sering berkomunikasi dengan Andrew dan Michael. Itulah mengapa Arteta menelponnya.
Sebagai sahabat rasa saudara sungguh mereka ikut terpukul rasanya. Kondisi Barsh parah lebih parah daripada Kalistha.
Mendengar kabar pilu itu. Baik Andrew dan Michael beberapa hari sebelumnya mereka sempat mengabari orang tua Barsh yang sibuk di Negara Orang. Dan ya, sepertinya hari ini pesawat mereka akan tiba di Tokyo.
Suara pintu terbuka membuat Andrew dan Michael terbangun dari lamunan mereka. Mereka menatap ke arah pintu. Mereka berdiri ketika melihat rombongan manusia masuk ke dalam.
Gadis ini adalah Kalistha belahan hatinya Barsh. Dia masuk ke dalam kamar Barsh bersama dengan Arteta. Andrew dan Michael mengenali Kalistha sebab Arteta menceritakan semuanya.
"Kau sudah siuman? Syukurlah!" tanya Andrew sambil menatap tak percaya pada Kalistha di sana.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kalistha setelah mengangguk. Dia menatap Barsh yang masih terbaring lemah di sana.
Sakit rasanya tiap kali melihat mata itu masih terpejam di sana.
"Seperti yang kau lihat dia masih koma. Luka di kepalanya cukup parah!" jelas Michael.
Bayangan tragedi beberapa hari sebelum hari ini kembali terngiang dan berputar. Kalista mencoba mendekati Barsh dengan cara memutar dia roda besar kursi rodanya.
Baik Arteta, Michael dan Andrew hanya diam menyaksikan itu. Mereka membiarkan Kalistha menghampiri Barsh. Membiarkan gadis itu menemui kekasihnya.
Ketiga manusia itu menatap sendu ke arah Kalistha. Ketika Kalistha berada tepat di samping Barsh. Kalistha mengulurkan tangannya membelai lembut paras tampan pemudanya itu. Mulai dari rambutnya hingga pipinya.
Ingin sekali rasanya saat ini dia memeluk pemuda ini sambil berucap bahwa hatinya sangat mencintainya. Kalistha takut kehilangan pemudanya.
Matanya kembali berair saat ini. Arteta paham situasi ini dia pun memberitahu kedua teman Barsh untuk ikut meninggalkan ruangan itu. Kalistha membutuhkan privasi saat ini.
Kali ini hanya tinggal mereka berdua di sana. Kalistha meraih tangan kekar itu menempatkannya pada pipinya.
Tangan itu yang selalu memanjakan dirinya mengusap kepalanya penuh cinta. Kalistha memejamkan matanya sejenak.
Sayang, Kau tidak ingin bangun? Aku ada di hadapanmu saat ini. Bukankah kau ingin aku baik-baik saja? Aku sudah siuman, aku ingin melihat matamu kembali. Mematri indahnya tatapan matamu dengan baik dalam ingatanku. Aku ingin kembali tersenyum bersamamu. Bukankah kau marah jika aku menumpahkan air mata ini? Bangunlah, bukankah kau akan selalu mengusapnya agar tidak terbuang sia-sia? Bangunlah, Aku mencintaimu. Maaf, karenaku kau pun ikut terluka. Aku mohon bangunlah!. Batinnya dalan hati, seraya menggenggam kuat tangan kekar itu.
Kalistha membuka kedua matanya kembali pemuda itu masih setia dengan mimpinya. Kalistha tersenyum miris ke arahnya. Dia lantas mendekat ke arah telinga Barsh.
Ketika lisannya menghadap tepat dekat dengan daun telinga Barsh. Dengan hati yang tulus Kalistha mengatakan,
"Tuhan, jika pemudaku jiwanya sedang bermain di sampingmu. Tolong katakan padanya ada hati yang ingin menemuinya di sini. Jika kau mendengarkan permintaanku, tolong buat Barsh milikku membuka matanya hari ini. Kumohon, aku merindukannya. Biarkan dia hidup bahagia setelah ini aku mohon!" bisik Kalistha.
Bisikan itu di akhiri dengan kecupan lembut pada wajah tampan pemudanya. Kecupan itu cukup lama. Kalistha menumpahkan seluruh perasaannya pada ciuman itu.
Sampai ketika Kalistha menjauhkan dirinya dari Barsh. Dia melihat mata pemudanya mengerjap lemah dia terkejut melihat itu.
Segera Kalistha berteriak memanggil Arteta dan kedua teman Barsh di luar. Teriakan itu segera membawa mereka masuk kembali ke dalam kamar Barsh.
Bahagia rasanya melihat Barsh membuka kedua matanya kembali. Andrew salah satu dari mereka berlari keluar memanggil dokter. Dia bahagia, mereka semua bahagia melihat apa yang terjadi ini.