Kisah ini menceritakan tentang Adela Putri Wijaya (19) yang sebelum pendakian bersama teman-temannya ke salah satu Gunung, merasa hidupnya baik-baik saja dan tentram. Namun, setelah itu banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi hingga membuat penyakit jantung bawaan dari lahirnya sering kambuh.
Adel sering disapa seperti itu, bertekad untuk mengungkap semuanya sebenarnya siapa dibalik kejadian janggal yang terjadi dalam hidupnya.
Bersamaa dengan hal itu, Adel juga bertemu dengan Tomi Bagus Alamsyah dokter baru yang memiliki wajah tampan yang membuatnya merasakan cinta pada pandang pertama. Tapi siapa sangka umurnya terpaut jauh dari Adel.
***
"Dokter, nikah yuk!"
"Saya nggak suka bocil."
"Tapi aku suka sama dokter, gimana dong?"
"Yaudah nikahin aja dokter yang lain. Masih banyak kok, dokter yang jomblo di rumah sakit ini."
"Ih, maksud aku dokter Tomi. Aku maunya nikah sama Dokter Tomi."
"Maaf bocil, saya nggak denger ucapan kamu. Tiba-tiba kuping saya budeg."
"Yah, dokter Tomi jangan pergi!"
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asazya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Koma
Kabar yang belum diketahui jelas kepastiannya itu sudah menyebar luas, membuat berbagai media berbondong-bondong untuk meminta tanggapan Pak Alfa Wijaya selaku Pejabat Daerah sekaligus ayah dari Adel. Banyak yang mencaci dan menghujat kelakuan Adel yang benar-benar tidak bermoral, ditambah Alfa di tuduh menyembunyikan berita ini selama berminggu-minggu.
Sebagaian netizen dan masyarakat ada yang berempati pada keluarga Bima dan mereka menuntut pelaku agar diadili secepatnya. Lalu ada pula sebagian lagi, membela karena merasa tidak ada bukti fisik yang menguatkan bahwa berita yang sudah tersebar itu sudah di tangani oleh polisi. Buktinya sampai sekarang belum ada pernyataan langsung dari polisi yang sempat menangani kasus ini.
Tetapi tetap saja, hal itu menjadi beban pikiran bagi keluarga Wijaya. Alfi yang sedang berada di sekolah harus diungsikan ke rumah, tidak boleh keluar terlebih dahulu. Ditambah pengamanan di Keluarga Wijaya semakin ketat, wartawan yang ingin meminta penjelasan tidak diizinkan untuk masuk halaman rumah, mereka hanya bisa menunggu di luar gerbang.
Sementara Alfa yang sedang melakukan survei atas kinerjanya selama dua tahun belakangan ini, terpaksa pulang ke rumah. Dia harus mengurus hal ini secepatnya, agar citra dirinya di mata masyarakat menjadi baik kembali.
Di sisi lain, Alfa juga mendapat kabar dari Friska menantunya yang sekarang sedang berada di rumah sakit, katanya Adel anak kesayangannya penyakitnya kembali kambuh.
Pikiran Alfa terbagi-bagi, hingga ketika sampai rumah yang pertama dilakukannya adalah memarahi Albar. Anak sulungnya yang bertugas menghandle masalah ini.
"Anak tidak becus! Lihat tugas yang Papah berikan padamu menjadi kacau balau! Mana otak yang kamu bangga-banggakan itu!" bentak Alfa di ruang kerjanya, sangking emosinya dia menendang Albar beberapa kali pada bagian kakinya.
Albar yang merasa lalai menjalankan tugas hanya mengepalkan tangannya mencoba kuat dan menerima amarah dari papahnya. Albar sadar semua adalah salah dirinya, meski tanpa papah ketahui Albar sudah berjuang mati-matian menjaga nama baik papahnya serta Adel, adik perempuan satu-satunya.
"Papah sudah duga ini akan naik ke media! Tapi seharusnya kamu mengontrol itu semua supaya keadaanya tidak segenting ini! Kamu tau adikmu kembali terbaring di rumah sakit dan karier Papah bisa aja turun! Dasar anak bodoh, tidak berguna!"
Alfa semakin beringas dia bahkan menendang perut Albar yang tubuhnya sudah terduduk di lantai. Albar meringis kesakitan, ia memegangi perutnya.
"Ini tidak sebanding dengan apa yang Adel rasakan!" Mata Alfa melotot, giginya mengantuk geram. Napasnya ngos-ngosan. "Adikmu lebih kesakitan, dia hampir mati! Apa kamu tidak merasa kasian? Kenapa, kenapa kamu membiarkan hal ini terjadi Albar! Semua yang kamu inginkan sudah Papah berikan! Jabatan! Istri pilihanmu! Kekayaan! Tapi mengurusi begini saja kamu tidak mampu!"
Buk!
"Argh!!"
Buk!
"Argh!"
Buk!
"Argh!"
Buk!
"Argh!"
"Papah!"
Alfa menghentikan tendangannya, nafasnya masih menggebu-gebu pipinya dan matanya terlihat merah. Alfi, sibungsu menatap padanya dengan pandangan kecewa.
Tanpa kata yang terucap, anak remaja itu jongkok, membantu sang kakak untuk berdiri. Hatinya sakit melihat kakaknya terluka lagi-lagi karena papah. Dia tidak boleh diam saja, apapun kesalahan yang diperbuat oleh Kak Albar, tidak sepantasnya papah melakukan semua ini.
Alfi tahu kejadian seperti ini terjadi tidak hanya sekali dua kali, karena semua masalah dan kesalahan selalu dilimpahkan pada kakaknya, saat hasilnya tidak sesuai dengan keinginan papah. Kak Albar tidak akan selamat dari amukan, papah terlalu mengerikan.
"Alfi makin benci sama papah!" bentaknya dengan tatapan benci, dengan tubuhnya yang mulai berkembang bahkan tidak jauh berbeda dari Albar. Alfi tidak merasa kesusahan saat kakaknya meletakan tangannya di bahu Alfi dan membantunya keluar dari ruang kerja papah.
Sedangkan Alfa hanya bisa menggeram, menatap kepergian kedua anaknya. Tidak ada rasa penyesalan terhadap dirinya karena menurutnya Albar pantas mendapatkan hal itu.
***
"Del," panggil Friska pada adik iparnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan berbagai peralatan medis yang menempel ditubuhnya. Setelah mendapat perawatan di ICU, Adel dinyatakan koma oleh Dokter Tomi karena kembali mengalami serangan jantung yang membuat kesadarannya hilang.
Sudah hampir lima jam setelah penanganan, belum ada tanda-tanda membaik. Dokter Tomi tidak bisa memprediksi kapan Adel akan bangun dari komanya, sebab dari pengalamnnya semakin lama koma berlangsung, peluang penderita untuk sadar umumnya kecil. Hanya doa dan usaha pengobatan yang bisa membantu Adel cepat sadar.
Friska memegang tangan mungil Adel, dia tidak berhenti menangis air matanya terus mengucur melihat kondisi Adel. "Del kamu tahu nggak? Kak Albar sering cerita sama kakak. Walaupun dia sering jail atau marah-marah sama kamu, ternyata dia sayang banget sama adik-adiknya, apalagi sama kamu yang mirip sekali dengan almarhumah mama...."
"...katanya melihat kamu seperti melihat mama, sedikit demi sedikit kerinduan yang selama ini dipendam terobati. Kamu yang ceria, cerewet, manja, sama persis seperti mama. Kak Albar bahkan sering nangis saat kamu ada diposisi ini, dia sering nyalahin dirinya sendiri. Cepat sadar ya sayang, semua orang nunggu kamu. Setelah ini kakak janji buat ngebujuk papah supaya kamu bisa kembali kuliah seperti dulu dan bisa ngejar impian kamu...."
Friska mencium tangan Adel, entahlah mendengar cerita tentang Adel dari Albar membuatnya berempati dan merasa di posisi Adel.
Frska memang tidak pernah merasakan, bagaimana rasanya sakit parah. Tapi, setidaknya dia mencoba untuk memberi semangat pada Adel, sebab dukungan dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan.
Apalagi dengan muncul berita yang simpang siur ini, pasti membuat pikiran Adel bergejolak dan membuatnya mengalami serangan jantung.
Selain doa, hanya ini yang bisa Friska lakukan mengajak Adel berbicara tentang banyak hal, semoga ada keajaiban untuk adik iparnya ini.
Sementara seseorang di luar sana, terlihat sedang mengamati mereka dari kaca jendela, dia hanya bisa menatap sedih.
Dia adalah Dea, sosok sahabat yang terkejut bukan main saat mengetahui bahwa Adel koma. Dirinya sudah berjanji pada Papah Adel untuk menjaga dan melindungi, namun baru awal menjalankan janjinya Adel malah kembali masuk rumah sakit.
Ketika sedang menatap sendu ke arah kamar rawat Adel seseorang menepuk bahunya, Dea menoleh matanya terlihat sembab.
"Dokter, Adel baik-baik aja kan?" tanyanya dengan nada lirih.
Dea berharap Dokter Tomi menghampirinya untuk mengatakan kabar baik tentang kondisi Adel. Namun, bukannya menjawab Dokter itu menatapnya tak kalah sedih, apalagi helaan nafas yang berat keluar dari mulutnya menandakan hal yang berbalik dari harapan Dea.
"Kamu berdoa saja, semoga Adel cepat sadar karena untuk koma Dokter tidak bisa memprediksi..."
"Tapi Dok, walaupun begitu Adel pasti sadar kan? Adel akan buka mata dan bilang sama saya kalau dia udah sehat?" tanya Dea mencoba meyakinkan hatinya, air matanya terus mengalir. Adel pasti sadar!
"Maaf, saya tidak bisa menjajikan apa-apa. Tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin dalam pengobatan Adel selama koma," balas Tomi mengalihkan tatapannya, ke arah Adel.
Jangan sampai, dia gagal dalam misi menyembuhkan pasiennya karena hal itu sangat menyakitkan bagi seorang dokter, walaupun tidak bisa dipungkiri namanya hidup dan mati seseorang sudah memiliki takdir tersendiri.
"Harapan kamu sama seperti saya. Saya ingin melihat Adel kembali membuka mata," kata Tomi, kemudian membatin dalam hati. Bangun, Del. Di sini banyak orang yang menunggu dan sayang sama kamu.
***
Sebelumnya maaf kalau banyak narasi dan kurang ngefeel.
Makasih yang sudah mampir:)
mbok satu2 konflik di beresin moso digantung trus dan nambah konflik trus
hadeh lama2 jenuh jg ,kpn endingnya🤔🤔🤔