Adhisti merupakan komplotan copet yang melakukan hal itu karena suatu alasan. Sedangkan Alsaki merupakan seorang yang terkenal. Pria ini benar-benar jenuh dengan keriuhan kehidupan yang selalu ramai akan fans yang memburunya. Hingga suatu saat, Al yang menyelinap ke ruang housekeeping tak sengaja bertemu dengan Adhisti, seorang housekeeping wanita di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
Al meminta tolong kepada Adhisti untuk diam dan tak memberitahu kepada orang-orang jika ia bersembunyi disana. Pria itu bahkan membuntuti Adhisti hingga kerumahnya yang reot.
Siapa sangka, benih-benih cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, saat keduanya sering di pertemukan dalam keadaan Adhisti yang tengah beroperasi mencopet.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Mulai terpikat
...🌻🌻🌻...
Waktu yang berjalan dalam ketidaknyamanan rupanya bertahan hingga kepulangan Dhisti dari bekerja. Ia merasa teman-temannya seprofesi juga menjauhi dirinya.
Membuatnya memberanikan diri untuk bertanya langsung pada salah satu karyawan yang masih ada di dekat loker bersamanya.
" San, gue mau nanya, sebenarnya...ada apa sih? Kalian kok kayaknya hari ini..."
Santi yang di tanya juga terlihat tak tenang. Rekan seprofesinya itu tampak terburu-buru kala menjejalkan barang kedalam ransel miliknya.
" Ada apa apanya Dhis, cuma perasaan lu aja kali. Dah ya,aku duluan!" Menjawab nyengir dengan sikap terburu-buru.Semakin mengundang hati untuk mencari jawaban lain yang memuaskan.
Namun alih-alih mendapat jawaban wajar dari mulut-mulut rekan setimnya, gadis itu malah dibuat syok saat melihat Ramdan yang mencegatnya kala ia hendak menaiki angkot di jam semalam itu.
" Pak Ramdan?" Ucap Dhisti dengan wajah syok demi segurat wajah yang begitu murung.
" Dhis saya mau bicara sebentar, saya nungguin kamu dari tadi. Tolong kamu bicara lagi sama Pak Al Dhis buat kasih saya kesempatan bekerja lagi. Pak Fery memecat saya karena laporan Pak Al soal kamu. Saya janji gak akan ganggu kamu setelah ini. Lagian... saya kemarin cuma berniat gertak kamu aja, saya mohon ampun Dhis!"
DEG
" Apa? Di pecat?" Menjerit dalam hati seraya menatap wajah murung itu dengan isi kepala yang semakin bertanya-tanya.
" Cuma kamu yang bisa nolongin saya Dhis. Saya mohon sama kamu!"
Meski hati Ramdan masih bertanya-tanya kenapa gadis yang jabatannya ada di bawahnya itu bisa mengenal Al, namun pria itu tidak mau ambil pusing sebab ia sangat membutuhkan pekerjaan ini demi kelangsungan hidupnya.
Pria itu tampak menepikan remuknya harga diri dihadapan Dhisti, demi masa depannya yang berubah menjadi abu-abu dalam waktu sekejap.
" Kau tau kan, aku hanya tinggal dengan ibuku, jika aku di pecat, maka ibuku pasti akan mati secara perlahan-lahan karena memikirkan putranya yang menganggur!"
Dan dari serentetan pernyataan yang di beberkan oleh Ramdan, kata ibuku pasti akan mati membuat Dhisti seketika terserang rasa kesal terhadap Al. Walau jauh dalam hatinya, ia juga kesal terhadap Ramdan, namun perbuatannya Al ini sungguh diluar nalar dan sangat berlebihannya.
Ia saja yang bersangkutan tak berpikir hingga jauh kesitu, tapi kenapa orang lain malah bertindak lebay seperti ini? Begitu pikir Dhisti tak habis.
Ini kan urusannya, kenapa pria itu ikut campur terlalu dalam?
"Aku tidur sebentar. Gara-gara kamu, aku jadi tidak tidur semalam. Sekarang masaklah sebagai bagian penebusan dosamu, semua bahan ada di dapur. Setelah itu, kau bisa bersih-bersih dan pergilah!"
Tunggu dulu, sekeping ingatan mendadak menyelinap ke dalam otaknya. Membuat wanita itu terperangah tak menduga.
" Jadi yang di maksud pria itu tadi siang karena aku itu memecat pak Ramdan? Astaga, sudah gila apa ya?"
.
.
Merasa tindakan Al begitu berlebihan, Dhisti berniat mengunjungi apartemen Al dengan maksud melayangkan protes meski ia tahu ini sudah malam. Sebab menunda pekerjaan sama saja menumpuk persolan baru yang bakal membuat urusannya makin runyam di esok hari.
Dalam perjalanan menuju apartemen, hatinya bergumam tiada henti. Pantas saja semua rekan kerjanya membisu dengan wajah terintimidasi kala dia datang. Rupanya Alsaki biang keroknya. Pria itu pasti tak hanya memecat Ramdan, tapi pasti juga mengancam semua rekannya untuk diam.
"Pak Fery memecat saya karena laporan Pak Al soal kamu"
Membuatnya mendecah sebab tak mengira jika kejadian semalam akan berbuntut panjang seperti ini.
" Apa orang itu juga mengenal Pak Fery? Tentu saja dia mengenal, dia itu orang terkenal!"
Dhisti merasa iba kepada Ramdan. Ia yang mendengar permohonan langsung dari pria cabul itu sedikit memahami posisi pria itu sebagai tulang punggung. Ia menarik sudut pandang lain andai hal itu terjadi kepada dirinya, ia pasti juga akan bingung.
Lagipula, mungkin dia juga salah, bertindak semaunya memberi izin kepada Nita. Tapi mau bagiamana lagi, sikap tidak tegaan yang ia miliki justru tak berbanding lurus dengan birokrasi peraturan yang ada.
Ia menekan tombol itu berkali-kali namun yang di tekan tak juga menunjukkan pergerakan.
Lagi, ia mencoba sekali lagi dan berharap sosok itu muncul agar ia bisa segera menyampaikan rasa keberatannya, atas keputusan Al yang dinilai berlebihan dalam memecat Ramdan.
" CK, apa dia sudah tidur? Apartemen ini kan 24 jam?" Bergumam seraya berkacak pinggang pasrah.
Hingga, ia yang merasa lelah kini memilih untuk pergi saja dari tempat itu. Berniat esok akan mendatangi tempat itu lagi. Mau gimana lagi, ia sudah kadung berjanji kepada Ramdan tadi. Soalnya dia tak punya nomor laki-laki itu.
Dan siapa sangka, ia yang berjalan sempoyongan seketika terkejut kala melihat wanita cantik dengan tampilan modis yang berdiri tepat di depannya. Nyaris saja Dhisti menabrak wanita itu karena melamun.
" Astaga, maaf!" Ucapnya spontan saat menyadari kesalahan yang ia buat.
" Eh, siapa dia? Apa di juga mau ke apartemen pria empat ratus ribu ini?"
Ia menarik senyum menyapa sekilas dan nampak di balas oleh wanita itu.
" Apa orangnya ada?" Tanya wanita cantik itu dengan suaranya yang terdengar lembut dan gaya yang berkelas.
Dhisti yang hendak melangkah pergi akhirnya menunda langkahnya saat wanita itu bertanya kepada dirinya.
" Benarkan dia mencari pria empat ratus ribu itu. Malam-malam begini? Apa dia pacarnya?"
" Sepertinya tidak nona. Mungkin sudah tidur!Jawab Dhisti asal. Ia takut wanita yang ia duga pacarnya Al itu salah paham.
" Kau..mau menemui Al juga?"
GLEK!
Mendadak membeku demi pertanyaan yang kini membuatnya belingsatan itu.
" Emmm..saya cleaning service panggilan. Kebetulan mau minta upah. Tadi...Pak Saki lupa bayar saya, he...iya!" Berbicara dengan sikap keranjingan.
" Kalau begitu, syaa pergi dulu nona. Selamat malam!"
Luna mengangguk sekilas lalu membiarkan Dhisti pergi usai gadis itu berpamitan secara sopan.
" Aku tidak yakin jika aku bersaing dengan wanita itu. Apa kau sudah gila Al?" Gumam Luna bersedekap menatap Dhisti yang berjalan lurus menuju ke arah lift dengan tatapan merendahkan.
Namun yang di perbincangkan rupanya sedang sibuk bersama dengan Dante di ruang kerja rumahnya. Laki-laki tadi sengaja ingin bertemu dengan Dhisti namun tak ingin membuat gaduh keluarganya. Membuatnya memilih apartemen untuk melancarkan niatnya.
Entahlah, gadis bar-bar yang dengan tanpa jijik mengambil potongan kepala lele di piringnya, gadis yang suka memberi meski berada di dalam garis kekurangan, dan gadis bodoh yang mau di manfaatkan kekasihnya itu benar-benar membuat Al bersemangat untuk mengerjai. Al seperti menemukan permainan baru.
" Jadi bagaimana progresnya Dan? Apa semua berjalan sesuai deadline?" Tanya Al yang menanyakan perkembangan yayasan miliknya yang selama ini mampu menolong anak-anak kurang beruntung.
Dante mengangguk, " Benar Tuan, Ibu Sriwedari selalu melaporkannya perkembangan itu dengan baik!"
" Baguslah. Setelah ini tolong kam..."
Namun belum juga ia menuntaskan kalimatnya, panggilan dari salah seorang yang bekerja di apartemen membuatnya mengerutkan kening.
" Ya Ve, ada apa?"
" Tuan, orang yang anda infokan tadi datang kembali!" Jawab Ve yang diam-diam Al tugaskan untuk menginformasikan yang berkaitan dengan pengunjung di unit miliknya.
" Oh ya?"
Entah mengapa Al senang dengan berita itu. Dhisti datang mencarinya?
" Tapi nona Luna juga datang selang beberapa saat. Mungkin...mereka bertemu di..."
TUT
See? Sopan sekali Al. Ia seketika memutuskan sambungan telepon itu dengan wajah tegang saat mendengar jika Luna mendatangi apartemennya.
.
.
.
novel ini yg sengaja belakangan dibaca.
Paragraf akhir yg bikin mata ku basah. Cm sm km aku pernah ngomong ttg sesuatu yg gak sanggup aku tulis sndr.
Gpp, ini sudah mewakili. Terima kasih ya mom.