Follow IG @Sensen_se
Tak kunjung hamil, Sofia harus menerima hinaan, cacian, gunjingan dari suami beserta keluarganya. Sofia tidak tahan, ia kabur setelah tepat dua tahun pernikahannya.
Reza Reynaldi—suami Sofia menganggap, wanita itu tidak akan pernah bisa bertahan dengan kerasnya hidup di luar sana. Karena selama ini, Sofia hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Siapa sangka, mereka dipertemukan lagi 8 tahun kemudian, dalam kondisi yang berbeda. Sofia menjadi wanita karir yang hebat didampingi seorang anak kecil berusia 7 tahun yang memiliki talenta luar biasa.
Penyesalan besar pun seketika merajai hati Reza, ketika tahu bahwa itu darah dagingnya. Ia bertekad untuk mengejar cinta Sofia lagi.
Akankah mereka bisa bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Permintaan Reza
Sofia melotot tajam, wajahnya yang biasa putih, bersih seketika memerah. Bahkan urat di dahinya pun bermunculan saking geramnya. Napasnya berembus dengan kasar.
Reza berdegup hebat, buru-buru beranjak dan mencekal kedua lengan Sofia. Wanita itu segera menepisnya dengan kasar.
“Kita keluar sebentar, ada Nino. Please, minta waktumu sebentar, Sofia,” bisik Reza karena tak ingin mereka bertengkar di hadapan Nino. Memegang kedua tangan Sofia yang mengepal.
Sofia segera melenggang keluar, melipat kedua lengannya di dada. Sorot kemarahan masih memancar dari manik indahnya. Hingga Reza turut keluar sembari menutup pintu, setelah berpamitan sebentar dengan Nino.
“Apa mau kamu, hah? Apa tujuanmu melakukan test DNA?” geram Sofia memukul dada Reza dengan satu tangannya. “Oke, terima kasih atas darahmu yang mengalir di tubuh Nino. Hitung! Berapa yang harus saya bayar. Kalau tabungan saya nggak cukup ambil sekalian rumah dan mobilku untuk membayarnya! Tapi jangan sekalipun sentuh anak saya!”
Sofia menekankan setiap kalimatnya. Ia merasakan firasat buruk setelah mendengar percakapan Reza dengan ibunya.
Reza menangkup kedua bahu wanita itu, menatapnya sendu, hatinya sakit melihat netra Sofia yang mulai memerah, “Dengarkan aku, Sofia. Aku percaya 100% Nino anakku. Aku percaya sama kamu. Tapi, aku harus melakukan ini untuk membungkam mama. Aku nggak mau mama terus menghina kamu dan juga Nino. Maaf karena melakukannya tanpa izin.”
“Lalu setelah tahu Nino darah dagingmu kamu mau apa? Mamamu mau apa? Mau merebutnya dariku? Mau mengambilnya, iya?” teriak Sofia mendorong dada Reza dengan kedua tangannya.
Kemarahannya membuncah, ia tersinggung sekaligus takut. Tangis yang sedari tadi ditahan pun mulai pecah. Sofia menekan dadanya yang terasa sesak.
Reza ikut sesak melihatnya, tak peduli apa pun lagi, langsung menarik Sofia ke dalam dekapannya. Tidak peduli wanita itu memberontak, bahkan kedua lengan kecil Sofia terus memukul-mukul dada Reza.
“Jangan pernah ambil Nino, Mas! Aku cuma punya dia. Satu-satunya yang bisa membuat aku kuat sampai sekarang cuma Nino!” jerit Sofia menangis meraung.
Tenggorokan Reza tercekat, hatinya teriris melihat Sofia menangis histeris seperti itu. Ia semakin mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepala Sofia di dada bidangnya.
“Tidak akan ada yang mengambil Nino darimu, Sayang. Percayalah. Aku yang akan pasang badan untukmu dan Nino. Tenang ya,” bisik Reza mengusap punggung Sofia yang bergetar hebat.
Tangis Sofia tak kunjung reda, ia takut kehilangan Nino. Satu-satunya harta yang paling berharga dan bisa membuatnya hidup sampai sekarang. Pukulannya masih sesekali mendarat di dada Reza, tetapi pria itu diam saja. Membiarkan tubuhnya digunakan untuk pelampiasan.
“Maafin aku, Sofia. Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Sejak kepergianmu, aku baru sadar bahwa aku kehilangan separuh napasku.”
Reza menjulurkan kedua lengannya, merapikan hijab pasmina yang dikenakan Sofia. Senyum terurai dari bibirnya, menaikkan dagu Sofia hingga mereka saling bertatapan lekat.
“Bisakah kita perbaiki semuanya?” tanya Reza dengan suara lembut.
Cukup lama netra mereka saling bertautan, hingga Sofia memalingkan muka terlebih dahulu dan membelakangi Reza.
“Maaf, keputusanku sudah bulat, Mas,” ucap Sofia menyeka kedua pipinya yang basah.
Sofia bergegas kembali masuk, saat menyentuh gagang pintu, Reza menahannya. Menggenggam lengan Sofia dan menariknya hingga wanita cantik itu kembali berada dalam dekapannya.
“Kamu mau kembali hanya karena aku sudah berubah ‘kan? Kalau saja aku masih seperti dulu, jangankan mendekat, bertemu saja pasti tidak sudi!” lirih Sofia.
“Sama sekali tidak, Sofia. Aku sungguh-sungguh ingin bersamamu kembali. Bukan karena penampilanmu, bukan juga karena kesuksesanmu sekarang. Tapi karena aku mencintaimu. Aku baru sadar sejak kamu meninggalkanku, Sofia. Hidupku hancur dan tak terarah,” tutur Reza memelas.
“Mulut bisa saja berdusta. Tapi hati manusia siapa yang tahu?!” ketus wanita itu melepaskan diri dari dekapan Reza.
“Aku akan buktikan, jika aku memang benar-benar berubah.”
“Terserah!” Lelah, akhirnya Sofia kembali masuk dan ingin menemui Nino.
Reza mengembuskan napas berat mengurai kesabarannya. Menatap nanar punggung Sofia yang menghilang di balik pintu. Ia sadar, ini masih belum seberapa dibandingkan sakitnya Sofia selama ini.
"Kalau tidak mau jangan dipaksa!" ucap Tama yang tiba-tiba muncul di belakang Reza. Hingga membuat pria itu berbalik melemparkan tatapan permusuhan.
Bersambung~
buah jatuh gakjauh dati pohon ny
itu orng stress yggaknerima kenyataan 😃😃😃
mirissssss
jijik melihat istri yg menutuo aurat ny.
maalah bangga dengan yg memperronton kan tubuh ny pada orang lain.