Hanya cerita fiksi
Tidak terkait dengan agama manapun
maaf jika ada yang kurang berkenan 🙏
Bella Amanda awalnya adalah gadis cantik yang begitu periang. Tapi sikapnya lambat laun berubah ketika orang-orang membandingkan dirinya dengan adiknya sendiri yang katanya lebih cantik, lebih pintar dan lebih segala-galanya.
Bukan hanya itu Bella juga harus menelan pil pahit saat suaminya dengan tega bermain belakang dengan Belinda, adiknya sendiri dan diharuskan menikah.
Sanggupkah Bella tetap bertahan dengan pernikahannya atau memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil Mom
Sepulang dari rumah sakit Bella memikirkan tentang ucapan Finn untuk berpisah dari Erlan. Rasanya dia juga tidak bisa tinggal di atap yang sama.
“Ya.. aku tidak ingin Elea melihat kesedihanku. Aku akan bilang pada Papa dan Mama” ucap Bella dalam hati. Dia kini sangat yakin untuk berpisah dengan Erlan. Menurutnya sampai kapanpun dia tidak akan bisa memaafkan pengkhianatan suami dan adiknya.
Apalagi Belinda dengan terang-terangan menunjukkan taringnya . Seolah dia adalah istri yang paling pantas untuk Erlan. Harusnya dia masih punya malu sedikit.
“Hah…” Bella kemudian menghela nafas berat.
Kini Bella sedang duduk di balkon kamarnya. Dari atas terlihat Belinda sedang bermain dengan Elea. Melihat itu Bella tersenyum muak.
“Kakak tidak menyangka kamu seperti ini Belinda” ucap Bella dalam hati. Tak lama Erlan pun bergabung bersama Belinda.
Bella kembali tersenyum muak.
“Mereka memang pasangan yang sangat serasi” ucap Bella lalu berdiri dari duduknya. Dia tidak mau melihat pemandangan romantis itu. Bukannya dia iri, yang ada dia malah sangat benci. Rasanya nama Erlan harus segera dia kubur dalam-dalam.
Dengan segera dia menemui Papa dan Mamanya yang saat ini ada di kamar mereka.
Tok Tok Tok.
Bella mengetuk pintu kamar Daniel.
Ceklek.
Terdengar suara pintu terbuka.
Terlihat Rahel yang membuka pintu.
“Boleh aku masuk ma?” mohon Bella sudah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Rahel pun sama, setiap melihat Bella dia akan menangis. Dia merangkul pundak putri sulungnya untuk masuk ke dalam kamar.
Saat sudah di dalam Bella langsung bersimpuh di lantai.
“Jangan begini, ayo bangun sayang” ucap Rahel yang kini sudah menangis. Daniel yang awalnya duduk bersandar di tempat tidur pun langsung bangkit dan membantu putrinya berdiri. Dia kemudian menggiring Bella untuk duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
"Pa.. Ma.. Aku tidak bisa tinggal disini lagi, aku tidak bisa masih satu atap dengan mereka.. Aku mohon biarkan aku tinggal berdua dengan Elea" ucap Bella mengungkapkan isi hatinya.
Bella akan memikirkan lagi tentang perceraian walau untuk kembali seperti dulu pun rasanya tidak mungkin.
Deg. Rahel dan Daniel sama-sama merasakan sesak di dadanya.
Ini pertama kalinya Bella memohon kepada mereka, tapi permohonan itu sangat sulit mereka kabulkan.
Kini Daniel menyadari kesalahannya. Harusnya setelah Bella menikah, dia dan suaminya tinggal di rumah terpisah agar selain mandiri juga terhindar dari hal seperti ini. Kebersamaan Belinda dan Erlan malah menimbulkan benih-benih cinta di antara keduanya.
"Aku mohon " mohon Bella.
"Tapi mama tidak bisa tinggal tanpa Elea" jawab Rahel.
"Tapi aku juga tidak bisa tinggal disini ma, tolong mengerti keadaanku" ucap Bella sudah dengan tangis yang tak berkesudahan.
Rahel dan Daniel sangat sedih melihat putrinya seperti ini. Bella sangat jarang mengungkapkan perasaannya dan sudah bisa dipastikan sekarang Bella merasakan sakit hati yang begitu dalam hingga dia tidak bisa menahan perasaannya lagi.
"Akan papa pikirkan. Untuk sekarang bersabar lah dulu ya nak" ucap Daniel akhirnya.
Walau belum puas dengan jawaban Papanya, Bella pun menganggukkan kepalanya.
...
Di Taman, Belinda berusaha keras untuk membuat Elea memanggilnya Mommy.
"El..jangan panggil Auntie lagi ya..panggil Mommy. Nanti mom belikan apapun yang El mau." ucap Belinda merayu Elea.
Erlan yang juga ada disana hanya mendengarkan saja. Di hatinya entah apa yang dia rasakan. Hanya dia dan Tuhan yang tau.
"Dad, Elea mau ke tempat Mommy" ucap El tanpa menghiraukan ucapan Belinda.
"Ini kan Mom El juga. Kita beli es cream ya" ucap Belinda kembali merayu Elea.
Mendengar kata es cream seketika saja mata Elea berbinar. Padahal cuaca sedang sangat dingin dan Elea gampang flu.
"Ayo Auntie kita beli es cream" ucap Elea dengan gaya bahasa cadel nya.
Senyum Belinda langsung terkembang karena Elea mau di ajak membeli es cream.
"Tapi panggil Mom dulu" tuntut Belinda dengan tersenyum.
"Ayo Mom" ucap Elea kemudian.
Senang bukan main rasanya bagi Belinda mendengar Elea memanggilnya Mommy. Dia kemudian meminta Erlan mengantar mereka ke minimarket untuk membeli es cream.
Layaknya keluarga bahagia mereka pergi bertiga menuju minimarket. Bella yang baru saja keluar dari kamar Papanya hanya bisa menahan sesak melihat pemandangan itu.
Tapi dia sama sekali tidak menanyakan kemana mereka bertiga akan pergi, yang Bella lakukan hanya naik ke dalam kamarnya. Dia kemudian kembali duduk di Balkon.
"Apa aku akan bisa melihat hal seperti ini setiap hari? Aku tidak sekuat itu" ucap Bella lirih sekali.
...
Selain membeli es cream Belinda juga mengajak anak tiri sekaligus keponakannya untuk berjalan-jalan. Membeli boneka dan semua yang dia suka.
Saat kembali ke rumah, tangan Elea penuh dengan mainan. Elea dengan riang menghampiri Bella dan menceritakan semuanya.
Melihat senyum tulus anaknya membuat Bella malah bersedih, dia sangat takut dengan segala rayuan mautnya Belinda akan merebut Elea darinya. Tapi Bella berusaha menekan rasa takutnya itu. Dia tidak mau jadi wanita egois dan serakah.
"Ayo kita mandi dulu ya, habis itu makan malam" ajak Bella pada anaknya.
"Iya Mom" jawab Elea patuh.
Selesai mandi mereka turun ke meja makan. Sebenarnya Bella ingin menunda makan, tapi dia tidak ingin mengorbankan anaknya. Elea tidak boleh menjadi korban ke egoisannya.
Di meja makan mereka mulai makan dalam keheningan. Hanya ada suara Elea saja yang berceloteh ini dan itu dan hanya pada anaknya Bella bisa tersenyum. Dari tempat duduknya Erlan diam-diam memperhatikan istri pertamanya. Wanita yang dia cintai tapi dia khianati di saat yang bersamaan. Tidak ada lagi senyum tulus yang Erlan terima dari Bella.
Semenjak pernikahan itu, dia dan Bella tidak pernah bertegur sapa.
Hah...Erlan menghela nafas berat.
Tapi sisi egois Erlan kini mulai timbul, pernikahan ini juga terjadi atas se ijin Bella. Jadi dia tidak seratus persen salah.
Saat makan malam itu berlangsung, tiba-tiba saja ada tamu yang datang. Dia adalah Fraya, tante dari Bella dan Belinda yang juga adik kandung Rahel
Wanita sosialita yang masih sangat cantik walau usianya sudah menginjak 42 tahun.
"Halo semuanya" sapa Fraya semangat seperti biasa. Berita pernikahan Belinda dengan Erlan belum dia dengar. Dan saat sampai di ruang makan dia cukup heran karena Belinda yang melayani Erlan, sedangkan Bella dan Elea duduk agak menjauh.
"Tante" ucap Bella yang begitu bahagia karena teman curhat nya selama ini datang berkunjung. Dia sedikit berlari dan menghampiri tantenya itu.
"Bella kangen tante" ucap Bella sambil memeluk erat tubuh Fraya.
Deg.
Seketika Fraya merasa sesuatu yang buruk dengan keponakan tersayang, karena saat Bella memeluknya dia bisa melihat Bella sedang menahan tangisnya.
Bersambung...