Saat Gita begitu frustasi karena tak ada Lelaki yang mau menikahinya, akankah ia menerima tawaran menjadi istri seorang pangeran Gonoruwo yang berjanji akan menyembuhkan kutukan pada dirinya. Perkawinan yang awalnya hanya untuk membalaskan dendam kepada laki-laki yang membuatnya menjadi perawan tua bahkan kehilangan suaminya. Namun siapa sangka benih-benih cinta mulai bersemi dalam diri Gita hingga membuat wanita itu enggan berpisah dengan suami gaibnya. Seorang ustadz kemudian mencoba untuk mendekatinya dan mengajaknya ta'aruf lalu apakah Gita akan tetap setia kepada Barra yang selama ini selalu melindunginya atau ia akan menerima lamaran sang Ustadz??.
Yuk ikuti kisahnya di sini???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Gita mencoba melepaskan diri saat Arya membawanya masuk kedalam mobil Ruminah. Namun sekuat apapun ia berusaha melepaskan diri darinya ia tak mampu melepaskan diri dari cengkraman lelaki itu.
Rasa kesal membuatnya mendengus kesal apalagi saat melihat wajah tak berdosa lelaki itu.
"Apa-apa sih kamu, memangnya apa urusanmu hingga berani memaksaku pergi!" seru Gita meronta mencoba melepaskan diri darinya
"Anggap saja kali ini kamu berbuat baik demi suami mu, aku yakin jika kamu melakukannya dengan tulus makan hukuman suamimu akan berkurang," jawab lelaki itu menatapnya lekat
Sejenak Gita tak percaya mendengar jawaban lelaki itu.
"Apa maksudmu mengatakan aku bisa mengurangi hukuman suamiku, memangnya siapa yang sedang dihukum??. Apa maksudnya Mas Gagah sedang di hukum di Neraka??" tanya Gita tak percaya
"Memangnya suamimu yang sekarang siapa?" jawab Arya balik bertanya
Barra, tidak mungkin dia tahu tentangnya. Selama ini tidak ada seorangpun yang tahu tentang masalah ini, kecuali Kyai Sodiq. Jangan bilang jika ia yang memberitahunya. Tapi apa urusannya??
*Citt!!
Arya segera turun saat mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup megah untuk ukuran warga desa.
Terdengar suara teriakan dari dalam rumah membuat Ruminah segera berlari masuk kedalam rumah.
Arya segera mengikuti wanita itu diikuti oleh Gita yang langsung mendekat kearahnya.
"Tolong aku, tolong!!" seru Erwin sembari memegangi kepalanya
"Gita, tolong aku," ucap Erwin saat melihat kedatangan Gita
"Apa yang terjadi dengannya, Bu?" tanya Gita
Ruminah kemudian menceritakan kejadian setelah anaknya kembali dari rumah Gita.
Ia mengatakan bahwa Erwin langsung tidak keluar kamar sampai larut malam. Ia kemudian terkejut saat pagi harinya menemukan Erwin dengan luka di sekujur tubuhnya.
Ketika ia membawanya ke rumah sakit, tiba-tiba seluruh lukanya menghilang. Dan sebaliknya saat ia membawanya ke paranormal maka Erwin justru berubah menakutkan menjadi sosok yang brutal hingga menyerang sang dukun yang berusaha mengobatinya.
"Dia suka berteriak-teriak seperti ini dan memanggil-manggil nama Gita, dan terus meminta maaf padanya," tutur Ruminah
"Jadi aku menyimpulkan bahwa dia seperti ini karena sudah berbuat jahat kepada Gita. Mungkin Tuhan sedang menghukumnya, jadi Ibu mohon kepada Gita untuk memaafkan kesalahan Erwin, aku harap dengan keikhlasan Gita bisa menyembuhkan penyakit Erwin atau setidaknya mempermudah dia menemui ajalnya," imbuh Rum
Melihat Kondisi Erwin yang begitu mengenaskan membuat Gita akhirnya memaafkan kesalahan pemuda itu.
"Sebenarnya malam itu aku sudah memaafkannya, namun melihat Erwin kembali menyerang ku lagi membuat aku kesal dan tidak sangat membencimu. Tapi saat melihat kondisi mu seperti ini aku jadi merasa kasian, jadi aku pasti akan memaafkan kamu jika itu memang bisa menyembuhkan penyakitnya," ucap Gita
Ia kemudian menyalami Erwin. Namun pemuda itu kembali berteriak histeris saat melihat Gita.
"Pergi kamu dari sini, pergi!" hardik Erwin
Tentu saja Gita yang ketakutan langsung berlindung dibelakang Arya.
Siang itu Erwin yang biasanya hanya berbaring tanpa bisa bangun langsung berdiri dan mengejar Gita.
"Kemari kamu jal*ng, aku pastikan akan membunuh mu dan membawamu ke Neraka!" serunya
"Tolong aku," ucap Gita memegangi lengan Arya
Saat Erwin mulai menyerangnya, Arya langsung memegang kepalanya hingga membuatnya langsung pingsan.
Pemuda itu kemudian memindahkannya kembali ke ranjangnya.
"Bisa ambilkan aku secangkir kopi hitam," ucapnya kepada Rum
"Baik Mas, mau pakai gula apa gak Mas?" jawab Rum
"Pakai aja, kalau ada susu kental manis tambahin dikit juga boleh, sekalian kalau ada kudapan boleh bawa sini juga," jawab Arya
"Baik Mas,"
Tak lama kemudian Rum membawa secangkir kopi susu dalam baki dengan sepiring pisang goreng hangat,
"Apa ini cukup Mas?" tanya Rum
"Sementara cukup," ucap Arya kemudian menyeruput kopi buatan Rum
"Apa kamu mau?" tanya Arya menatap Gita
Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah kalau gitu,"
Tanpa banyak bicara Arya kemudian melepaskan ikatan di tangannya untuk dan memasangnya di lengan Erwin.
Dalam sekejap pemuda itu langsung bangun dengan mata membelalak dan berusaha menyerangnya.
Namun dengan sigap Arya menyemburnya dengan air kopi hingga membuat lelaki itu berteriak kesakitan.
"Dasar brengsek, beraninya kau menyakiti ku anak haram!" seru Erwin
Kembali Arya menyemburkan air kopi kepadanya membuat pemuda itu langsung melompat menyerangnya.
Dengan tenang Arya berhasil menangkap pemuda itu dan mencekiknya.
"Keluarlah dari tubuhnya atau aku akan membunuhmu!" ancam Arya
Terdengar suara tawa keras dari Erwin membuat Gita dan Ruminah berlari ketakutan meninggalkan ruangan itu.
"Kau pikir anak haram seperti mu bisa membunuh ku, yang benar saja!" Erwin kemudian menepis lengan Arya hingga pemuda itu terhempas menabrak ranjang dibelakangnya
"Ternyata rumor tentang kesaktian mu itu hanya omong kosong, kau ternyata tidak sesakti ayahmu,"
Arya tak menjawab pertanyaan Erwin, ia justru kembali duduk di mejanya dan menghabiskan kopinya.
Setelah kopinya habis ia mengambil sepotong pisang goreng dan menaruhnya diatas meja.
Lelaki itu kemudian mencabut sebuah jarum yang tertancap di telapak tangannya dan menusukkannya kedalam pisang goreng itu.
"Ups, sorry gue santet," ucap Arya membuat Erwin seketika tumbang ke lantai.
"Kau...apa yang kau lakukan padaku??" ucap Erwin sambil memegangi perutnya yang dipenuhi jarum santet
"Sorry aku terpaksa menyantet mu supaya makhluk yang merasuk dalam tubuhmu juga mati,"
"Aaaarrgh!!!" Erwin mengerang keras dan mengejang hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya
Arya segera membersihkan bekas luka di tubuh Erwin dan menutupinya dengan kain.
Tidak lupa ia melepaskan ikatan di tangan Erwin dan memasangnya kembali di lengannya.
Ia kemudian menemui Ruminah dan memberitahunya tentang kematian Erwin.
"Terima kasih Mas, sudah membantu meringankan penderitaan anak saya, setidaknya dia sudah tenang sekarang,"
"Ibu mohon Gita juga memaafkan Erwin ya, agar ia bisa tenang di alam sana," imbuh Rum
"Tentu saja, aku sudah memaafkannya Bu, sebaliknya aku juga minta maaf sama dia kalau aku dulu pernah menyakitinya," jawab Gita
Keduanya kemudian berpamitan pulang.
Arya bergegas meninggalkan rumah itu dan meninggalkan Gita, namun wanita itu langsung berlari mengikutinya.
Arya yang merasa di buntuti langsung menoleh kearah wanita itu. Gita segera menunduk saat pria itu menatapnya.
"Kenapa kau mengikuti ku?" tanyanya penasaran
"Aku takut pulang sendirian?" jawab Gita
"Kenapa takut, kau tidak perlu takut mulai sekarang. Sebagai istri Pangeran Gondoruwo, tidak akan ada makhluk gaib yang berani menyentuh mu," jawab Arya
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Gita
"Tanda di tanganmu sudah membuktikan kalau kamu adalah permaisuri Pangeran kegelapan,"
"Tapi bagaimana Erwin bisa menyerang ku, dan semalam juga ada makhluk halus yang menyerang ku, berarti tidak semua lelembut takut dengan Barra," jawab Gita
"Itu karena yang menyerang mu bukan makhluk gaib, tapi manusia," jawab Arya membuat Gita semakin ketakutan dan menggandeng lengan pemuda itu erat
Shiba apa Luna
masa typo mulu
Tmabhain ektra part dunk yak ,please biar bersa bca drakor 😁
Btw thanks kryanya selalu q suka
Semngt smga sehat & bahgia 🙏😉😘
Jadi pingn pny suami ust tamvan 😁,ngarep kan boleh kalik2 malaikat lwt trz dijabah Allah, kan q gk nolak 😉