Percayalah, bahwa bahagia akan datang pada akhirnya. Kamu hanya perlu bersabar dan selalu bersyukur untuk setiap napas yang kamu hirup setiap harinya.
Ini kisah kehidupan seorang Queenesya, gadis yang tidak pernah di anggap ada oleh keluarga Petter dan tak hayal mendapat bullying dari Aurel, putri tunggal keluarga Petter.
Siapa yang akan menyangkan bahwa ia adalah putri tunggal dari pengusaha yang tidak bisa dianggap remeh dan merupakan cucu dari ke-empat keluarga besar yang sangat berpengaruh di dunia yang diculik oleh pesaing bisnis Vondrienty ketika baru seminggu ia lahir ke dunia.
karya ini hanya Fantasi Author saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angelica Maria Vianney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Lensa Biru
Gadis-gadis itu berjalan menelusuri koridor sekolah dengan senyum yang menghiasi wajah mereka, lebih tepatnya hanya kedua gadis itu yang menebar senyum sedangkan kedua gadis yang lain lagi hanya memasang wajah datar dan menundukkan kepalanya.Mereka adalah Ginta,Esya,Eve,dan Zee.
Setelah perkenalan mereka tadi Ginta dan Eve memaksa mereka untuk pergi ke kantin dikarenakan jam terakhir ini guru mereka sedang berhalangan untuk hadir. Esya hanya diam dan melanjutkan bacaannya, berbeda dengan Zee yang hanya memasang wajah dinginnya.
Ketika mereka telah tiba di kantin, seluruh mata memandang mereka dengan takjub terutama pada ketiga gadis yang sudah sedikit tidak asing bagi mereka karena nama keluarga yang tercantum pada nama mereka.
Mata gadis itu terfokus pada meja pojok dimana terdapat tiga pangeran sekolah itu berada dan sedang menatap ke arah mereka juga, lebih tepatnya hanya kedua pangeran sekolah itu yang menatap mereka sedangkan yang satu hanya sibuk dengan makanannya.
"Hai kak, lama tidak bertemu" sapa Zee dengan senyum yang merekah
"Ah iya,Sharon kan?" Jawab Ken serayah bertanya
"Wah ternyata kak Ken masih ingat aku" ucap Zee sambil sesekali mencuri pandang pada Gion yang sedang menikmati santapannya dan sepeeri mengabaikan keberadaannya.
"Apa!!!" Tanya Gion yang mulai agak terganggu dengan tatapan gadis yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya.
"Santai saja kepala batu, aku kesini mau makan bersama temanku. Bukan mau cari masalah denganmu" ucapnya sembari memandang ketiga temannya itu yang hanya menatap mereka sedari tadi
"Kenalin ini ginta,Eve,dan Esya" ucap Zee lagi sambil menunjuk ketiga temannya secara bergantian
'Esya...' pikir Gion, mengulang beberapa kali nama tersebut dalam pikirannya.
Pandangannya terus saja tertuju pada gadis yang hanya diam sedari tadi dengan sebuah buku novel di genggamannya itu. Terlalu lama memandang gadis itu membuat dirinya mulai semakin penasaran akan gadis itu, terlebih pada gelang terdapat pada pergelangan tangannya, benar-benar mirip dengan milik Princess.
"Ekhem, sya mau makan atau minum?" Tanya Ginta
"Minum aja"
"Apa?"
"Jus Tomat" ucap esya sembari mulai tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipi miliknya
"Heii!!! Apa kau tidak mau memesankan kami juga" tanya Eve
"Kalian pesan sendiri" ucap Ginta sembari ia mulai berjalan
"Dasar" ucap keduanya sambil mulai berjalan mengikuti kemana arah perginya ginta, meninggalkan Esya sendiri bersama dengan ketiga pangeran sekolah itu
"Ekhem, Sya"
"I-ya" gugupnya
"Kamu pasti belum kenal cowok inikan?" Tanya Ken sambil menunjuk Gion
"Kak Dion" Jawab Esya dengan sedikit ragu, karena dihadapannya kini terdapat dua wajah yang begitu identik.
"Hahaha... bukan, dia adalah Gion kembaran dari Dion"
"Eeh, Ma-af kak a-ku g-ak tau kal-au ka-kak pun-ya kem-bar-an" ucap Esya debgan terbata-bata sambil dirinya menundukkan kepalanya
Setelah beberapa lama ketiga gadis itupun kembali dengan membawa nampan yang berisi makanan mereka.
"Ini jus kamu sya" ucap ginta sambil menyodorkan jus pesanannya tadi
"Makasih,Gin" ucap Esya sembari tersenyum
Lagi-lagi mata Gion terbelalak melihat gadis di hadapannya itu tersenyum, sangat manis bahkan sampai membuat relung hatinya sedikit menghangat.
"Esya" panggil Eve
"Hm,iya"
"Aku agak penasaran dengan warna asli dari lensa mata kamu" Ucap Eve lagi
"Iya sya, apa kami bisa melihatnya?" tanya Ginta
"Aku juga jadi sedikit penasaran" ucap Zee
Ketiga cowok yang ada di hadapan mereka hanya terfokus pada arah pembicaraan para gadis itu, ada rasa penasaran yang juga timbul dalam diri mereka karena gadis yang ada di hadapan mereka ini tidak lain adalah gadis yang telah mereka curigai sebagai Queenesya, adik kandung mereka yang hilang 15 tahun lalu.
Esya hanya menatap mereka dengan tatapan tidak yakin, tapi dirinya juga telah bertekat tidak akan menyembunyikan apapun dari teman-temannya itu, di kelas tadi Esya sudah mengatakan jika ia menggunakan Softlens untuk menutupi warna asli lensa matanya, tapi ia belum mengatakan jika warna lensa miliknya berwarna biru terang.
"Hm, baiklah tapi jangan katakan hal ini pada orang lain"
"Baiklah" ucap ketiga gadis itu
Esya mulai menundukkan kepala, dengan perlahan ia mulai melepaskan Soflens yang ia gunakan untuk menutupi lensa asli miliknya itu. Dengan menutup matanya, perlahan ia mulai mengangkat kepalanya lalu membuka matanya dengan perlahan, memperlihatkan lensa mata berwarna biru terang yang begitu indah.
"Wah, matamu sangat indah"
"Selain itu, kamu memiliki kedua lesung pipi yang menambah cantik dirimu"
"Kenapa kamu menutupi warna asli lensa matamu dengan Softlens?"
Dion,Gion, dan Kenned ketiga remaja itu hanya menatap lekat pada mata gadis itu, mata indah dan begitu menenangkan, mata biru yang mirip dengan milik opa mereka, hanya saja dengan warna yang agak lebih terang sedikit.
"Aku punya alasan sendiri tentang hal itu" jawab Esya sambil menatap ketiga temannya yang sudah menganggap dirinya sebagai seorang sahabat.
"Oh,baiklah. Kami mengerti" Ucap Zee mewakili yang lain
Mereka tidak banyak membicarakan atau bertanya lagi mengenai kehidupan Esya yang memiliki banyak misteri, hanya saja semua bukti serta hipotesis yang telah mereka kumpulkan hanya tertuju pada dia seorang, yang menambah keyakinan mereka secara perlahan jika memang benar dia adalah apa yang telah mereka rindukan selama ini.
sukses...semangatthor
mksh