Alana Wijaya sosok gadis cantik yang hidupnya berubah dalam waktu semalam dan kenyataan ini membuatnya hampir bunuh diri, dalam keadaan frustasi Alana pergi ke sebuah club malam berakhir di ranjang bersama seseorang yang tidak dikenalnya. Bagaimana nasib Alana selanjutnya mari kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukhayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Alana
Alana duduk di kursi yang ada di ruang perpustakaan itu dan Agnes pun menghampiri Alana.
"Bagus ya jam segini baru datang!" ucap Agnes.
"Maaf aku bangun kesiangan, ayo kita sarapan dulu!" ajak Alana dan mengeluarkan bekal yang dia bawa bekal dari Tante Hellen.
Agnes pun melotot melihat bekal yang di bawa Alana nasi goreng dengan irisan daging dan sayuran terlihat sangat menggiurkan.
Alana membagi makanan itu menjadi dua dan memakannya bersama Agnes.
Sambil memakan sarapan yang diberikan Alana Agnes berpikir tadi Alana berkata kesiangan tapi mengapa masih bisa menyiapkan bekal.
Ingin rasanya Agnes segera menanyakan itu apalagi di tambah tanda merah di leher Alana yang seperti bekas cumbuan itu membuat Agnes berpikir macam-macam pada Alana.
Tapi mengingat saat ini mereka sedang berada di perpustakaan dan tidak di perbolehkan makan di sini sedangkan Alana dan Agnes saat ini melakukan itu pun dengan segera Agnes menghabiskan jatah sarapannya.
Setelah menghabiskan sarapannya dan Alana pun membereskan tempat bekal yang di bawanya pun Agnes segera menanyakan apa yang sejak tadi sudah menghantui pikirannya.
"Alana bukannya tadi kamu berkata kalau kamu kesiangan terus kenapa kamu masih sempat membuat bekal dan bekal itu aku yakin kamu tidak akan memiliki uang untuk membuat sarapan semewah itu mengingat keadaanmu saat ini, apakah kamu tidak ingin bercerita denganku?" ucap Agnes sambil menatap Alana penuh selidik.
Alana yang tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Agnes pun menunduk mencari alasan apa yang akan di katakan pada Agnes dan itu membuat Agnes semakin yakin kalau Alana saat ini sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Kalau kamu tidak ingin cerita ya sudah lupakan," ucap Agnes kesal.
"A ... a ... aku sudah menikah," ucap Alana lirih namun masih bisa mendengar oleh Agnes.
"Apa menikah?" tanpa sadar suara Agnes terdengar sangat keras dan itu membuat Alana spontan menutup mulut Agnes dengan tangannya.
Agnes yang hampir kehabisan nafas pun segera menginjak kaki Alana.
Dan Alana pun segera melepas tangannya dari mulut Agnes.
"Apa kamu ingin membunuhku!" ucap Agnes kesal.
"Maaf kamu sih suka berteriak teriak kita itu sedang berada di perpustakaan," ucap Alana.
"Cepat katakan semuanya padaku kalau tidak aku akan berteriak dan membuat pengumuman bahwa kamu sudah menikah biar gempar satu kampus," ucap Agnes mengancam Alana.
"Baiklah aku akan menceritakan semuanya padamu tapi tidak di sini ayo kita ke kantin saja aku akan menceritakan padamu," ucap Alana.
Agnes pun mengangguk sebagai tanda dia menyetujui ajakan Alana.
Alana dan Agnes pun berjalan beriringan menuju kantin, Agnes membawa beberapa buku yang tadi dia dapatkan untuk membantu mereka menyelesaikan tugas.
Alana memilih tempat duduk di sudut kantin dan tempat itu di rasa aman oleh Alana, mereka duduk di kursi itu dan Agnes sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari mulut Alana.
"Cepat cerita Alana!" ucap Agnes tidak sabar lagi.
"Aku sudah menikah hampir satu bulan Nes," ucap Alana.
"Apa sudah selama itu dan kamu baru bercerita denganku!" kata Agnes penuh emosi.
"Maafkan aku Nes," ucap Alana sambil menunduk.
"Cukup Alana aku muak mendengar kamu terus meminta maaf cepat cerita atau aku akan melempar mu ke planet Mars," ucap Agnes.
Alana pun bercerita mulai dari awal hingga hari ini, mulai dari dia yang kehilangan keperawanan karena merasa sakit hati pada Yolanda dan Aldi yang tega mengkhianatinya.
Hingga pernikahannya dengan Max.
Agnes pun merasa dia bukan sahabat yang baik karena selama ini dia tidak pernah tahu apa yang terjadi pada sahabatnya.
"Maafkan aku Alana maaf karena selama ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu," ucap Agnes sambil memeluk Alana.
"Sudahlah Agnes aku sudah melewati semuanya dan kini aku tidak hanya memiliki kamu yang peduli padaku tapi aku juga memiliki Max yang selalu melindungiku," ucap Alana.
"Semoga kalian selalu bahagia dan langgeng sampai tua," doa Agnes untuk Alana.
"Terima kasih Nes ... terima kasih semoga kamu selalu menjadi sahabat terbaikku," ucap Alana dan memeluk Agnes.
Setelah berbagi semua hal pada Agnes Alana merasa lega mereka pun berjalan menuju ruang kelas dan bersenda gurau tapi tiba-tiba datang seorang mahasiswi menghampiri mereka.
"Alana kamu di panggil ke ruang BK sekarang," ucap Mahasiswi itu.
Alana dan Agnes pun saling pandang mereka menebak kalau saat ini Yolanda telah kembali dan meneruskan laporan yang di buatnya kemarin.
"Yolanda telah kembali Alana kamu harus bersiap-siap untuk menjalani sidang di ruang BK," ucap Agnes.
"Ya aku tahu," jawab Alana datar.
"Baiklah aku akan menemanimu ke ruang BK," ucap Agnes.
"Tidak usah Nes sebaiknya kamu selesaikan tugas kita saja jadi nanti kalau ada Dosen yang meminta tugas itu kita sudah mengerjakan," ucap Alana.
Mau tidak mau Agnes pun menuruti apa kata Alana dia pun membiarkan Alana berjalan menuju ruang BK sendiri.
Sesampainya di depan pintu ruang BK Alana pun mengetuk pintu dan tidak beberapa lama terdengar sahutan dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.
Alana pun segera masuk ke dalam ruangan itu dan di sana sudah ada Yolanda dan guru BK juga antek antek Yolanda.
Alana pun segera duduk di sebuah kursi yang masih kosong di ruang itu.
"Alana melanjutkan laporan beberapa waktu yang lalu sekarang video bukti dan semuanya memberatkan mu maka kamu harus keluar dari kampus ini beasiswa yang kamu miliki pun harus di cabut," ucap guru BK itu.
"Mengapa Anda memutuskan sesuatu hanya secara sepihak apakah Anda sudah yakin semua yang terjadi itu seperti yang Anda lihat," ucap Alana.
"Apa maksudmu Alana apakah secara tidak langsung kamu menuduh kalau aku terpengaruh oleh uang," ucap Guru BK itu emosi.
"Bukan aku yang mengatakan itu, Anda sendiri yang mengatakan itu dan itu sudah cukup membuktikan kalau Anda memang memakan uang suap," ujar Alana.
Ucapan Alana membuat guru BK itu meradang dia berdiri menghampiri Alana yang sudah berdiri di depan pintu tertutup dalam ruang itu.
Guru BK itu ingin menampar Alana tapi tiba-tiba terhenti karena suara seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa yang akan kamu lakukan Bu!" teriak Ketua yayasan di kampus itu.
Guru BK yang hampir saja menampar Alana itu menurunkan tangannya dan melihat ke arah sang kepala Yayasan yang datang dengan seorang pria tampan berwajah dingin namun kharismanya bisa membuat kaum hawa tidak berdaya.
Alana yang juga melihat siapa yang datang pun ikut terkejut, Kepala yayasan datang bersama Max, di benak Alana banyak pertanyaan berkecamuk mengapa Max bisa ada di sana bersama sang Kepala yayasan.
apakah Tante helen
Alana diratukan Max..