Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Bian memejamkan matanya menahan rasa sakit ketika Nathan benar-benar merenggut mahkotanya secara paksa. Angan-angan mendapatkan perlakuan lembut saat pertama kali nyatanya tak ia dapatkan. Justru kekerasan yang ia terima dan lebih di sebut pemerkosaan meski dia istrinya. Bukan seperti ini yang ia harapkan.
Tangisan Bian tertahan, dadanya terasa sesak, dan seluruh tubuhnya gemetar. Kedua tangannya menahan beban tubuh Nathan yang masih berada di atasnya.
Sedangkan Nathan, sudah tidak dapat berkata-kata. Masih dalam keadaan tidak percaya, pria itu menatap dalam-dalam wanita yang berada di bawahnya. Pasang netranya seketika meneteskan air mata menyesali, menyadari segalanya.
Bian Almeta, wanita yang ia sangka murahan nyatanya masih suci dan ialah yang pertama. Bian Almeta, wanita yang menyembunyikan kecantikannya ternyata hanya untuk melindunginya. Bian Almeta, wanita yang berstatus istrinya seperti mutiara di balik lumpur.
Mengingat darimana Bian berasal membuat Nathan menilai jika Bian bukanlah wanita baik-baik. Tapi nyatanya, dia masih suci, masih murni.
"To-tolong lepaskan aku!" pinta Bian menangis tersedu.
"Ka-kau?" Nathan seolah di tampar kenyataan tak bisa lagi berkata apapun. "Maaf, aku tidak tahu kau masih..." sungguh, hanya mengucapkan perawan saja ia tidak mampu.
Nathan perlahan menggeser tubuhnya ke samping melepaskan senjatanya yang loyo terbenam. Bian berbalik menyampingkan tubuhnya membelakangi Nathan terisak sakit. Bukan hanya sakit luar tapi juga sakit hati, sakit bagian inti dan sekujur tubuhnya terasa remuk.
"Bi, maafkan a-aku, aku khilaf, aku menyesal, aku tidak tahu kau...." Nathan merengkuh erat tubuh istrinya mengecup lembut bahu polos itu.
Di sisa tenaga dan isak tangis tersendat-sendat, Bian berkata, "Hanya kau pikir aku wanita murahan, kau sampai pemperlakukan aku seperti ini." Bian teramat sakit dan kecewa.
Wanita yang sudah tak gadis lagi itupun menggeser tubuhnya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Isakan tangisnya begitu pilu terdengar menggema di ruangan itu.
"Bian.." Nathan ingin memeluk lagi tapi segera di bentak oleh istrinya.
"Jangan sentuh aku! Hiks hiks hiks." Bian perlahan turun dari ranjang seraya menahan sakit di bagian inti dan kakinya. satu tangannya mencengkram erat selimut dan juga yang satunya berpegangan ke tepi ranjang.
Di kala Bian menapakkan kaki, dia meringis kesakitan. Mungkin akibat dari luka yang menganga akibat menginjak pecahan beling. Perlahan Bian berdiri namun ia malah jatuh karena merasakan sakit yang luar biasa. Kedua tangannya memeluk erat lutut lalu wajahnya ia benamkan di sela lututnya dan Isak tangisnya semakin kencang dengan suara tersendat-sendat.
"Bian..." Nathan bangkit mendekati Bian, dan pas merangkak ingin turun, matanya terbelalak melihat banyak darah berceceran. Ia juga melihat darah bercampur spe*r*ma miliknya yang banyak. Dengan segara Nathan turun berjongkok di depan Bian tanpa mengenakan apapun.
( Kak Sean. ) panggil Bian dalam hati gemetar ketakutan. Hanya nama itu yang ia ingat sekarang.
"Sayang, kau terluka. Kau menginjak sesuatu? maafkan aku Bian." Hati pria itu sungguh hancur dan juga merasa bersalah. Dia merengkuh tubuh istrinya dan terus meminta maaf. Nathan bisa merasakan tubuh Bian gemetaran.
Ting tong
Nathan mendengar bel berbunyi, dia melepaskan pelukannya menatap Bian yang masih menunduk menyembunyikan wajahnya.
***************
Kamar sebelah, "Kenapa hatiku risau dan terus kepikiran Bian?" gumam Sean tak bisa memejamkan mata memikirkan adiknya.
Sean segera bangkit berdiri dari rebahannya ingin mengetahui dulu jika adiknya baik-baik saja, baru ia akan merasa tenang.
Sean menekan bel sampai berkali-kali, pria itu merasakan sesuatu yang entah apa itu tapi hatinya tidak tenang.
Ceklek....
Nampaklah Nathan dalam penampilan acak-acakan hanya mengenakan jubah mandi.
"Sean..! Ngapain kau kemari?" nadanya sudah meninggi marah karena pria inilah dirinya sampai melakukan hal itu.
"Dimana Bian?" Sean semakin yakin telah terjadi sesuatu pada adiknya. Matanya menerobos masuk ingin melihat keadaan di dalam.
"Ngapain kau mencari istriku, hah? aku tidak akan membiarkan kau mendekati Bian!" sergahnya penuh permusuhan.
Sean tak menggubris, pria itu justru mendorong Nathan kesamping kala mendengar Isak tangis pilu dari seseorang. "Minggir!"
"Hei.. keluar kau! Ini kamarku! Jangan masuk seenaknya!" Nathan menghalangi Sean dengan mencekal tangan pria itu namun, di tepis secara kasar oleh Sean dan sedikit berlari masuk ke dalam kamar mengedarkan pandangannya.
( Berantakan sekali. )
Telinganya semakin jelas mendengar orang menangis. Matanya mencari dari mana Bian, dan ia menemukannya.
"Bian!" Sean berjongkok melihat keadaan sang adik sangat kacau dan juga terlihat gigitan di sekujur leher, pundaknya.
Bian mendongak mengenali suara itu. "Ka-Kak.." tangisnya kembali pecah, Bian tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan pria yang sudah ia anggap sebagai Kakak.
"Jangan sentuh istriku!" sentak Nathan tak terima Istrinya di peluk Sean.
Sean mengepalkan tangannya, amarahnya tak terbendung lagi. Dia berdiri dan...
Bug...
"Brengsekk.. Kurang ajar..!" Sean memukul Nathan sampai tersungkur dan ketika Nathan ingin bangun, dia kembali mendaratkan pukulannya.
Bug..
"Kenapa? kau marah wanitamu aku sentuh? dia istriku, aku berhak melakukannya." Pekik Nathan menatap tajam rivalnya dalam menaklukan wanita.
"Kak..." lirih Bian menangis ketakutan. Kedua pria itu menoleh. "A-aku mau pulang!" Pintanya merasa pusing di kepala dengan tatapan sayu, matanya sudah sembab, hidungnya memerah, tubuhnya pun gemetar.
"Iya, kita akan pulang, Baby." Sean berjongkok memeluk Bian. Kepala Bian terasa semakin pusing dan pening, ia tak sadarkan diri di dekapan Sean.
"Apa yang kau lakukan, hah? minggir!" Nathan berusaha melepaskan Nathan dari Bian. Sean tak melepaskannya. Dia membopong tubuh adiknya yang terkapar lemah. Amarahnya semakin menjadi kala melihat bercak darah bercampur spe*r*ma.
"Lepaskan istriku!"
Bug...
Sean menerjang perut Nathan.
"Bajingann kau.. kau telah menyakiti adikku, kau telah memperkosanya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada adikku, aku tidak akan mengampunimu Nathan!" bentak Sean menyorot tajam penuh amarah lalu pergi meninggalkan Nathan yang mematung melihat kemarahan Sean yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
**********
"Baby, bangunlah! Jangan buat Kakak khawatir, Dek." Sean menggenggam tangan Bian. Matanya berkaca-kaca penuh khawatiran. Dia mengingat lagi percakapannya dengan dokter wanita. Namun, sebelumnya Sean menyuruh pelayan wanita mengelap tubuh adiknya.
Rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat ketika mendengar penjelasan pelayan tersebut jika di beberapa bagian tubuh Bian terdapat luka lebam. Sean segera membawa Bian ke rumah sakit terdekat untuk memeriksa fisiknya. Dokter yang memeriksanya menyarankan Bian di visum untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi.
Emosinya semakin memuncak kala mengingat dokter wanita berkata, "Hasil pemeriksaan Visum menunjukan jika Nona Bian Almeta mengalami kekerasan seksual. Kejahatan seksual didefinisikan sebagai bentuk tindakan atau upaya yang dilakukan untuk memperoleh **** dengan cara memaksa dan dapat dilakukan oleh siapapun tanpa memerdulikan hubungannya dengan korban."
"Bajingaaan kau Nathan...!" Mata pria itu menyala memancarkan kemarahan teramat dalam. Tangan yang ia genggam bergerak dan dia menoleh. "Baby, kau sudah sadar."
Bersambung....