Kehidupan ala Barat ++
Bagaimana jadinya jika kau jatuh cinta pada seorang gadis yang bisa melihat masa depan?
Bertemu dengannya pertama kali langsung merubah hidup Ryuga. Ia begitu tertarik dengan penampilan Yumi, gadis yang sering membawa payung berwarna hitam kemanapun ia pergi meski hari terlihat begitu cerah.
Amanda Yumi, seorang gadis yang bisa melihat masa depan. Namun, ia sendiri tak bisa melihat masa depan akan berapa kali ia jatuh cinta. Termasuk dengan hadirnya cinta yang diberikan Ryuga Oliver kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Henry Sakit
Henry kembali ke ruang guru dan beranjak menuju mejanya dan tiba-tiba dia merasa sakit kepala dan sedikit pusing
Dia masih tidak menghiraukan rasa sakitnya dan percaya dengan tidur saat tiba di rumah nanti akan membuat sakit itu menghilang.
Itulah yang dipikirkan oleh Henry, tapi saat dia bangun keesokan harinya semuanya menjadi lebih buruk. Henry menelpon pihak sekolah untuk meminta cuti hari ini dan Kepala Sekolah mendengar hal itu. Dia pun mengatakan bahwa Henry bisa mengambil satu minggu penuh cuti untuk tidak ke sekolah karena Henry sendiri tidak pernah menggunakan waktu cutinya di satu tahun terakhir.
Sekarang Henry pun bisa dengan mudah dan bersantai di rumah. Dia begitu senang berbaring dan kembali tidur di kamarnya dengan berharap demamnya akan segera menghilang.
Saat Henry bangun lagi, itu sudah jam 09.00 malam dan demam di tubuhnya akhirnya hilang. Henry berdiri dan langsung menuju dapur untuk memasak karena dia belum makan apapun sejak siang kemarin.
Setelah selesai makan bubur yang dibuat dan saat Henry tengah mencuci piring di wastafel, ponselnya menerima sebuah pesan. Henry pun berhenti mencuci piring sebentar dan melihat kearah ponselnya, pesan itu berasal dari Sherly.
'Semoga cepat sembuh. Aku dengar bahwa kau demam, dan semua orang disini mulai panik dan khawatir termasuk para siswa mu. Kami harap kau akan segera sembuh, jadi beristirahat lah dan nikmati waktu libur seminggu ini. Serahkan semuanya kepadaku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mensupport siswa di kelas mu.'
Henry mulai menulis pesan balasan untuk Sherly, tapi sayangnya sebuah insiden terjadi. Ponsel Henry terjatuh dari tangannya dan masuk kedalam wastafel dan terendam di dalam air. Henry dengan cepat mengangkatnya keluar dari dalam air tapi ponsel nya sudah terendam dan mati total.
Henry berpikir bahwa dia akan membeli yang baru nanti di hari terakhir liburannya, tapi untuk sekarang dia bisa mengambil kesempatan ini untuk memiliki waktunya sendiri tanpa mendapat panggilan apapun yang bisa mengganggu nya. Henry pun menyelesaikan pekerjaannya dengan mencuci piring dan meninggalkan ponselnya yang sudah mati di atas meja.
Sudah dua hari berjalan ketika seseorang terdengar mengetuk pintu rumah Henry di siang hari saat dia tengah makan siang dan menonton televisi.
"Henry.... Henry.... Apakah kau ada di dalam?" Henry buka pintunya."
Yumi berada di depan pintu Henry memanggilnya untuk keluar dengan memencet bel secara nonstop.
Henry membuka pintu dengan perlahan dan mengintip.
"Apa yang membuatmu datang kemari Yumi?"
Sangat jarang bagi Yumi untuk mengunjungi Henry ke rumahnya. Bahkan di waktu yang khusus sekalipun. Jadi Henry sedikit bingung melihat Yumi berada di rumahnya.
"Bodoh! Apa kau tahu, kau sudah membuat semua orang begitu panik." Ucap Yumi seraya meninju dada Henry karena sangat kesal.
"Tunggu dulu. Ada apa sebenarnya? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
Henry benar-benar tidak mengerti karena dia terlalu sibuk untuk menikmati waktunya sendirian di rumah dan Henry yakin dia tidak melakukan suatu masalah untuk siapapun.
"Hmmmmm. Apa kau tahu kau sudah membuat kedua orang tuamu khawatir tentang dirimu."
"Hah? Kenapa? Aku tidak melakukan apapun. Aku bersumpah."
"Mereka tidak bisa menghubungi mu dan mereka terus meminta aku untuk melihat keadaanmu di tempat kau bekerja. Jadi aku pergi ke sekolah mu pagi tadi, tapi mereka bilang kepadaku bahwa kau tengah sakit dan mengambil cuti. Dan semua itu semakin membuat kami semua khawatir saat menyadari bahwa tidak ada orang yang menghubungi mu selama beberapa hari ini. Jadi aku langsung datang kemari dan berpikir apakah kau sudah pingsan di lantai." Ujar Yumi menjelaskan semuanya tanpa mengambil napas untuk berbicara.
"Ooh, aku minta maaf sebenarnya ponsel ku jatuh ke air. Jadi aku tidak punya sesuatu untuk digunakan menghubungi kalian dan laptopku juga sedang diperbaiki. Jadi yaaaa, aku benar-benar tidak punya akses untuk menggunakan internet."
"Tapi kenapa kau tidak segera membeli ponsel baru, jika kau punya begitu banyak waktu di rumah daripada hanya bermalas-malasan dan membuat semua orang khawatir?"
"Aku minta maaf. Maaf, aku hanya begitu bersenang-senang dengan bermalas-malasan di rumah sambil menonton acara yang berbeda di televisi."
"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang. Aku akan membantumu untuk memilih ponsel baru yang akan kau beli."
Yumi menarik tangan Henry keluar dari pintunya dan langsung mendorong Henry masuk kedalam mobilnya.
"Tunggu dulu, setidaknya biarkan aku mengganti pakaian ku dulu dan mengambil dompetku."
"Jangan khawatirkan tentang itu, aku akan meminjamkan mu uangku untuk membeli ponsel. Jadi keluargamu bisa menelpon mu dengan segera dan berhenti memborbardir aku dengan pesan tentang dirimu setiap menit."
Mereka berdua akhirnya pergi menuju sebuah mall terdekat dan Henry merasa aneh berjalan dengan rambutnya yang acak-acakan dan menggunakan piyama juga sandal jepit. Sementara Yumi menggunakan pakaian semi formal yang dia gunakan untuk bekerja saat mereka berjalan bersama.
"Henry, aku minta maaf. Aku tidak menyadari bagaimana penampilan mu yang saat ini sangat tidak cocok untuk seseorang yang pergi ke mall. Ayo biarkan aku membelikan mu beberapa pakaian lebih dulu. Jadi kau bisa mengganti pakaian yang kau gunakan sekarang."
Untungnya Yumi menyadari bagaimana penampilan Henry. Mereka berdua berjalan menuju sebuah toko pakaian dan Yumi membiarkan Henry memilih apapun yang dia suka. Henry menemukan sebuah pakaian bagus, sebuah celana jeans dan sepasang sepatu. Henry lalu ingin bertanya pendapat Yumi. Tapi saat dia berbalik menemui Yumi, Yumi juga terlihat begitu sibuk memilih pakaian.
"Hei bagaimana menurutmu, yang mana yang terlihat bagus?"
Yumi berbalik ke arah Henry dengan memperlihatkan sebuah kemeja lengan panjang dan sepasang dasi berwarna merah dan berwarna biru gelap.
Yumi memang sering menggunakan pakaian pria, seperti kaos oblong atau kemeja. Tapi Henry bingung saat Yumi memilih dasi.
'Apa dia akan membelikannya untukku?' pikir Henry.
"Aku lebih suka yang berwarna merah tapi aku rasa kemeja lengan panjang itu tidak akan cocok dengan mu. Kau seharusnya memilih yang lebih kecil."
"Sebenarnya ini bukan untukku. Ini untuk Ryu."
'Oh aku lupa bahwa mereka sebenarnya sudah berkencan, padahal aku disini begitu bahagia berpikir bahwa aku keluar kemari bersamanya terasa seperti tengah berkencan.'
Henry merasa begitu menyedihkan saat memikirkan betapa bahagianya dia beberapa saat yang lalu bersama Yumi tanpa mengetahui bahwa Yumi malah memikirkan orang lain.
"Hei apa ada masalah? Jangan khawatir, aku akan tetap membayar pakaian yang kau mau. Jadi tenang saja, ambillah yang mana yang kau suka."
Yumi terlihat menyadari bahwa Henry terdiam saat mendengarkan nama Ryu disebut.
"Tidak ada masalah apapun, sebenarnya aku sudah mendapatkan pakaian mana yang aku inginkan. Jadi bisakah kau membayarnya sekarang, agar aku bisa mengganti pakaian ku sekarang. Semua orang disini mulai melihat ke arahku." Ucap Henry merasa tidak nyaman.
"Baiklah, baiklah. Ayo kita pergi ke kasir untuk membayar ini. Jadi kau bisa menggunakannya dengan segera."
Yumi langsung memberikan pakaian itu setelah dibayar dan membiarkan Henry pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Sementara Yumi masih berdiam di tempat kasir untuk meminta mereka membungkus kan pakaian yang dia belikan untuk Ryu.
Setelah selesai berganti pakaian dan merasa lebih baik, mereka berdua lalu berjalan menuju toko elektronik untuk membeli ponsel baru. Henry merupakan tipe orang yang tidak terlalu perduli tentang tipe ponsel apa yang harus dia beli. Selama dia bisa menulis pesan, email, atau menerima panggilan itu sudah cukup. Tapi Yumi itu berbeda. Dia tipe orang yang ingin sesuatu yang lebih detail dari sebuah produk sebelum dia membelinya. Jadi butuh waktu lebih lama untuk mereka menemukan ponsel yang akan dimiliki Henry.
"Aku memilih ponsel ini karena kapasitas baterainya sangat besar. Jadi ponsel mu tidak akan mati bahkan jika kau lupa untuk mengisi daya nya untuk seharian karena kau yang begitu malas."
"Hahaha kau memang tahu aku dengan baik."
Henry tertawa saat Yumi memberikan ponsel baru kepadanya.
"Tentu saja kita tahu satu sama lain sudah sejak lama. Aku sudah menyimpan kontak keluargamu dan kontak ku juga di ponsel mu ini. Jadi kau bisa mulai menelpon mereka saat aku mengantar mu kembali ke rumahmu nanti."
"Terimakasih, tapi apakah kita akan...."
'Segera pulang....'
Itulah yang hendak ditanyakan Henry namun Yumi lebih dulu berbicara lagi.
"Sudah hampir waktu makan siang, jadi ayo kita makan lebih dulu. Dan aku bisa melanjutkan pekerjaan ku segera saat aku kembali ke klinik nanti."
Mereka berdua makan di restoran dan mulai mengobrol. Yumi mulai membahas tentang topik sensitif yang selalu ingin dihindari oleh Henry.
"Aku masih belum meminta maaf secara pribadi kepadamu sejak insiden yang terjadi di klinik ku waktu itu. Jadi aku ingin mengambil kesempatan ini untuk meminta maaf dengan benar kepadamu. Sebenarnya aku masih khawatir tentang hal itu, tapi menghabiskan waktu bersama denganmu sekarang membuat aku merasa lebih mudah menjelaskannya. Tolong maafkan aku, karena kembali menyimpan rahasia lain dari mu dan membuat kau merasa canggung melihat kami mengobrol seperti itu."
"Tidak apa-apa, aku mengerti bahwa kau tengah mengalami waktu yang begitu sulit untuk menghadapi situasi yang kau rasakan selama ini."
"Henry, aku sangat bersyukur memiliki dirimu sebagai seorang sahabat. Kau adalah sahabat terbaik di dunia ini."
'Iya, seorang SAHABAT. Hanya itu saja dan akan selalu seperti itu.'
Sejak hari dimana Henry menyadari perasaannya, bahwa dia mencintai Yumi. Kata 'sahabat' itu seolah berubah menjadi benda tajam yang langsung dapat menusuk diri Henry kapanpun mereka tengah bersama.
"Yumi, katakan saja kepadaku jika berandalan itu sampai membuatmu menangis. Maka aku akan meninjunya tepat di wajahnya."
"Tidak, kau tidak perlu melakukan hal itu. Ryuga adalah pria baik dan disamping itu, aku pikir akan menyenangkan jika kalian berdua akan berteman suatu hari nanti."
"Tidak, itu tidak akan mungkin terjadi. Kau tahu bahwa aku tidak suka bergaul dengan bocah yang usianya dibawah kita sejak kita masih remaja dulu."
"Tapi pada akhirnya kau menjadi guru sekolah menengah atas dan kau malah selalu berurusan dengan siswa mu juga masih bocah itu."
"Well, sebenarnya itu hal yang berbeda. Karena pekerjaanku memang untuk menjaga dan mendidik para siswa ku."
"Hahaha oke, kau menang kali ini. Tapi aku akan memasukkannya ke daftar jurnal ku untuk melihat kau dan Ryu akhirnya akan mengobrol di sebuah kafe bersama suatu saat nanti."
"Itu sangat tidak mungkin terjadi."
"Kau ingin bertaruh denganku!" Ucap Yumi dengan tersenyum kearah Henry.
"Hah tentu saja. Apa yang harus kita taruh kan..... Hei tunggu dulu, jangan bilang padaku bahwa kau sudah melihat kemungkinan dari semua ini sehingga kau berani untuk bertaruh."
'Aku hampir saja tertipu dengan permainan konyol nya ini.'
"Wow, ini adalah pertama kalinya kau bisa berpikir sebelum memutuskan sesuatu. Aku sangat bangga padamu." Ucap Yumi seraya mengusap air mata palsu nya seolah mengejek Henry.
"Jadi, kau serius tentang kemungkinan yang kau lihat itu?"
Henry menjadi sedikit penasaran tentang hal itu, karena dia merasa begitu percaya diri bahwa dia tidak akan pernah berbicara apalagi berteman dengan Ryu selamanya.
"Iya, aku sudah melihatnya dan itu 73%. Persentase yang sangat tinggi bukan?"
Bersambung.....