Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
_
_
Drama percintaan beda usia ✅
Novel yang nggak ada konfliknya ✅ (Tapi Bohong)
Hidup Marsha dan Jeremy berubah seratus delapan puluh derajat. Gara-gara sebuah pakaian berbentuk mirip kacamata alias kutang, mereka terjebak dalam sebuah pernikahan konyol yang sejatinya sudah direncanakan oleh nenek-nenek mereka.
Bagaimana bisa Jeremy seorang CEO tampan nan tajir harus menikahi gadis berumur sembilan belas tahun yang lebih pantas menjadi keponakannya?
"Nahasnya aku harus mengambil alih beban keluarga Tyaga" ~ Jeremy
cover by Tiadesign_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Bukan Anak Ingusan
“Sibuk sekali sampai menjemput calon istrinya saja tidak bisa,” cemooh Marsha di saat kakinya baru menapak satu langkah dari bibir pintu. Ia menatap tajam ke arah Jeremy yang nampak mengenakan kacamata dan fokus dengan berkas di meja.
“Aku banyak pekerjaan, lagi pula sudah aku isikan e-money juga,” jawab Jeremy tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran kertas yang harus dia periksa.
Peter yang merasa tugasnya sudah selesai pun memilih untuk menutup pintu tanpa banyak bicara, dia jelas tahu bagaimana hubungan sang atasan dan remaja berumur delapan belas tahun itu. Sebagai bawahan yang setia, Peter benar-benar bisa menjaga rahasia.
Marsha berdiri tepat di depan meja kerja Jeremy, dia amati wajah pria itu sebelum mengangsurkan pandangan ke kertas yang bisa membuat Jeremy tidak mau menatapnya. Ternyata tabel-tabel dan kurva. Ia juga tidak paham, pelajaran ekonomi dan matematika adalah pelajaran yang paling dia benci, Marsha lebih menyukai pelajaran biologi, maka dari itu wajar dia bisa menggambar penampang alat reproduksi laki-laki dengan sakit detail.
“Bicara saja, apa yang mau kamu bicarakan sampai harus bertemu,” ucap Jeremy masih dengan kepala menunduk.
“Om tidak punya sopan santun ‘kah? tidak boleh bicara tanpa menatap wajah lawan bicara. Itu pelajaranku saat TK, masa manusia sebesar Om tidak paham dengan hal semendasar itu,” cibir Marsha. Seharusnya sebelum ke sana dia membeli maklor dengan bubuk kebon cabe level tiga puluh agar semakin pedas ucapannya.
Mendengar sindirian yang setajam mulut tetangga itu, Jeremy pada akhirnya melepas kacamata dan meletakkan pulpen di tangannya. Ia melakukan apa yang menjadi keinginan Marsha, memandang wajah gadis itu saat berbicara.
“Sudah? sekarang bicaralah!” titah Jeremy.
“Akhir minggu ini ada peresmian gedung baru di rumah sakit Mami, Om diminta datang,” kata Marsha.
“Lalu apa ada masalah? tenang saja aku akan datang dan menjemputmu, jika sudah selesai bicara kamu bisa pulang, masih cukup ‘kan ongkosnya?”
Jeremy membuat gerakan mengusir dan hampir kembali memakai kacamatanya. Namun, tak dia duga Marsha mengejutkan dengan fakta yang sebenarnya sudah dia tahu dan sembunyikan.
Ya, gadis itu jauh-jauh datang dengan maksud yang lebih besar, kalau hanya mengajak Jeremy ke peresmian gedung baru rumah sakit sang mami, Marsha bisa melakukannya via pesan.
“Aku tahu kekasih Om bekerja di rumah sakit mami, apa dia tahu kalau pemilik rumah sakit tempatnya bekerja adalah calon mertua Om?” Marsha tersenyum iblis, Jeremy pun sampai menjatuhkan kacamata yang baru saja dia angkat.
“Dari mana bocah ini tahu? apa dia memata-matai atau mencari informasi tentangku dan Mia. Bahkan aku tidak memberitahu Mia bahwa gadis yang akan menikah denganku adalah putri pemilik rumah sakit di mana dia bekerja,” gumam Jeremy di dalam hati
“Dari mana kamu tahu?” tanyanya dengan sorot mata tajam, Marsha bahkan langsung kehilangan senyuman.
“Menyelidikinya lah, Om pikir aku anak ingusan bodoh?” Marsha menyeringai, gentar juga Jeremy melihat perubahan ekspresi wajah gadis itu.
“Setidaknya aku harus tahu siapa pacar Om karena Om Jerami juga tahu siapa pacarku, itu baru namanya adil. Bagaimana jika Om setelah kita menikah memberinya jatah money lebih banyak dari aku? Oh … tentu aku tidak akan terima.”
Jeremy kehabisan kata, dia tidak bisa menjawab ucapan bocah yang belasan tahun lebih muda darinya itu. Marsha dengan cerdiknya meminta Andro menyelidiki Jeremy beberapa hari ini. Ia membayar pacarnya untuk memata-matai calon suaminya. Sungguh pintar, apa lagi Andro sejatinya memang mata duitan, Marsha bahkan memberikan biaya operasional selama penyelidikan itu.
“Katakan padanya kalau calon istri Om adalah putri pemilik rumah sakit tempat dia bekerja, karena jika tidak aku takut pacar Om itu akan pingsan saat bertemu kita di acara itu. Karena jika sampai itu terjadi, aku jelas tidak akan membiarkan Om menggotongnya,” cerocos Marsha.
“Ya kali membongkar sandiwara sebelum lakon dimulai."
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
nanti tak pinjemin ke Orang tua ku....