Sejak kami kedatangan tetangga baru, kampung yang begitu tenang kini berubah menjadi mengerikan. Semua orang takut keluar rumah ketika malam. Makhluk tak kasat mata tidak pernah berhenti datang siang maupun malam. Bahkan mereka mengambil nyawa orang-orang satu per satu.
Kami bahkan tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba sakit dan langsung di kabarkan sudah meninggal. Bahkan di tubuh mayat mempunyai bekas telapat tangan yang berwarna keunguan.
Pertanda apa semua ini, aku yang mempunyai kemampuan mengobati, tidak bisa berbuat apapun. Meski aku sering melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku begitu takut. Karena energi mereka begitu besar.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus dilakukan warga di kampungku?
Kami merasa takut ketika setiap bulan, berjatuhan korban yang meninggal. Kepanikanku bertambah ketika adikku sakit, aku khawatir adikku akan seperti korban lain yang hanya mengalami sakit demam dan langsung meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UNI NANNI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpetualang di kuburan
Keesokan harinya, aku, ana, rahmat, dan dion, sepakat untuk datang ke tempat kuburan umum di kampung. Aku datang lebih dulu dari mereka.
Di saat sendiri, dan ini masih sangat pagi, aku membersihkan kuburan. Mencabut rumput yang tumbuh. Tanpa aku sadari, bayangan seseorang sedang memegang cangkul terlihat.
Aku tidak ingin terburu-buru, masih santai agar tidak terbawa emosi. Berpura-pura untuk tidak melihatnya.
"Neng, kau sedang apa di sini?" tanyanya yang lebih dulu menyapa.
Aku menoleh, setelah mendengar sapaannya. Kuputar badanku agar melihatnya secara utuh. Ya, seorang kakek-kakek yang memegang cangkul. Dari wajahnya saja, sudah aku duga dia bukan manusia. Pucat pasi, sama persis seperti wajah fani.
"Kakek penjaga kuburan sini ya?," tanyaku yang berpura-pura tidak tau.
"Oh iya neng, panggil saja aku, kakek canggkul," katanya sambil menunduk.
"Bisa tolong bantu aku nggak kek," tanyaku yang membuat dia mengeritkan alisnya.
"Dengan senang hati neng, apa yang perlu kakek bantu?" katanya dengan suara sederhana.
Aku melihat sekeliling, sepertinya, teman-temanku belum datang.
"Begini kek, aku sudah janjian dengan temanku di sini. Tetapi mereka belum datang," kataku melihat sskeliling.
Sang kakek hanya mengangguk, sepertinya dia mengerti apa maksudku.
Tidak lama, sekelilingku gelap. Aku tidak bisa bergerak, kaki seolah berpacu pada tanah dengan erat.
Suara aneh muncul dimana-mana, aku tidak bisa melihat dan mengetahui dari mana asal suaranya.
Langit yang tadi cerah, kini berubah menjadi hitam, seperti malam hari.
Tidak lama, keadaan kembali normal. Tetapi aku bukan di tempat kuburan lagi. Melainkan di sebuah keramaian yang tidak satupun aku kenal mereka semua.
Aku berjalan terus mencari, mungkin aku bisa menemukan fani di sini.
"Neng, tolong berbalik sebentar," kata sang kakek yang membuat aku berhenti melangkah. Saat aku berbalik, aku bergitu terkejut dan sangat takut.
Kakek yang membawa canggul, kini terlihat menyeramkan.
"Jangan takut neng, begini asli diri kakek." katanya dengan tersenyum, berusaha menunjukkan wajah manisnya, malah yang aku lihat, dia semakin menyeramkan.
"Aku tahu, kakek sangat baik. Tidak perlu menyambutku dengan senyuman, aku malah ketakutan melihatnya." kataku berusaha lembut, agar tidak menyakiti hati sang kakek.
Ekspresi kakek berubah drastis, tadinya menyeramkan, berubah menjadi lebih sangat menyeramkan lagi. Aku hanya bisa menelan ludah melihatnya.
"Jangan marah kakek, di duniaku, aku sering bercanda kok," kataku membujuk.
"Neng, apa yang ingin kau cari di sini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Begini kek, aku sedang mencari temanku, entah di mana rohnya terlempar."
"Tapi neng, orang-orang di sini, sudah meninggal semua."
"Aku tahu kek, aku yakin, jika roh temanku terlempar di sini."
Tidak lama, suara tangisan yang persis suara fani terdengar. Aku terus mencari, dari mana asal suaranya.
"Neng, kau sebaiknya pulang saja. Kau tidak akan menemukan apa yang kau cari di sini," teriak sang kakek meninggikan suaranya.
Aku hiraukan, dan terus mencari suara fani. Aku melangkah dan berjalan, semakin mendekat dengan suara tangisannya.
"Neng, aku bilang pergi sekarang!" perintah sang kakek sambil mengengam tanganku. Dia sepertinya ingin menghentikan diriku.
"Maaf kek, jangan buat aku marah." kataku berusaha menahan emosiku.
Aku terus melangkah dan menghiraukan sang kakek yang marah padaku. Aku tidak peduli, aku harus membawa fani keluar dari sini. Itulah tujuan awalku ke sini.
Suara menangis fani, berasal dari tumpukan tanah yang berada di depanku. Pantes, aku hanya bisa mendengar suara tangisnya. Tidak pernah sama sekali melihat wujudnya, ternyata rohnya di himpun di tanah.
"Kek, aku tahu, kau yang melakukan semua ini. Sebelum aku marah, biarkan temanku keluar dari sini," kataku tanpa menoleh ke belakang. Aku sangat tahu, kakek canggul masih berdiri di belakangku.
"Jangan harap neng, kau bisa bawa mangsaku kabur dari sini. Kau juga yang akan aku buat seperti dia," katanya dengan mengancam.
"Sepertinya kakek tidak tahu, siapa aku sebenarnya. Jika tidak menuruti perintahku, aku sendiri yang akan memaksa kakek," kataku tidak kalah kerasnya, yang membuat hantu berdatangan mengerumuniku.
"Tidak punya nyali, memanggil teman kakek untuk melawanku bersama." kataku yang masih berdiri mematung di depan himpunan tanah.
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk pulang tadi, tetapi kamu menolaknya. Kalau begitu, kau sendiri yang memilih menjadi seperti temanmu," kata sang kakek dengan menjatuhkan cangkulnya yang sedari tadi di gengamnya dengan erat.
Aku tau ini akan berat, perasaanku menjadi tidak tenang. Aku tidak mudah melawan semua hantu di sini sendirian. Tetapi apa salahnya jika mencoba, sebentar lagi juga, teman-temanku pasti datang menolongku.
"Baik, kita mulai saja," kataku dengan siap dan membalikkan tubuhku ke belakang.