gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 22
“Gak boleh kangen sama aku. Ingat ada Julian.” ucapnya sambil mengusap puncak kepala Nafisa.
Tiba-tiba saja dada Nafisa sesak. Air mata seakan berlomba untuk keluar. “Seandainya kamu tau Al. Gak ada ruang untuk siapa pun di dalam hati ku selain kamu.” Batin Nafisa.
Nafisa hanya diam saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Aldi. Sakit sudah pasti sakit, pedih sudah pasti pedih. Rasa sakit yang ia rasakan sungguh tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Ia hanya mampu mengatakan pada yang sang pencipta yang maha tahu. Namun inilah takdirnya.
“Al.”
“Iya Sa.”
“Makasih ya. Kamu sudah datang.” ucapnya yang berusaha tersenyum.
Aldi menganggukkan kepalanya dengan sakit yang ada di dadanya. Gadis yang dicintainya, diperlukan seperti ini. Aldi memejamkan matanya menahan amarah.
“Kenapa kamu ngambil ruang kelas 3 gini Sa? Kamu tahukan Sa, Julian itu kaya banget. Terus kamu ambil ruang rawat kelas 3 gini. Apa Julian gak tersinggung atau marah atau terhina.” tanya nya dengan nada menyindir.
“Iya Al, biar aku gak sendirian.” ucapnya.
Aldy memandang mata Nafisa. Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya. “Kenapa kamu gak pintar dikit, untuk menghabiskan uang Julian? Bayar biaya kamu di ruang vip bahkan vvip sekalipun. Gak akan ngurangin harta Julian.” ucapnya yang terlihat geram.
Nafisa diam.
“Udah pulang ya nak?” Tanya nenek Rose.
Aldi memandang nenek Rose.
“Sudah nek.” jawabnya
“Untung aja si masnya cepat pulang. Kasihan istrinya sendirian. Kalau hamil muda gini harus sering di temani,” titah nenek rose.
Aldi senyum. “Ia nek. Ini mau ditemani terus kok.” ucapnya.
Nafisa diam saat mendengar ucapan Aldi tersebut. Sedikitpun pria itu tidak mengatakan bahwa ia hanya teman dan pegawainya saja. Ia mengusap air matanya yang meluncur tanpa bisa di tahannya.
Tidak lama 2 orang perawat masuk ke dalam ruangan dengan membawa kursi roda. Wajah pucat Nafisa kini sudah tampak lebih memerah. “Gimana mbak Nafisa sudah mulai enakan?” Tanya perawat cantik tersebut.
“Sudah sus.” jawabnya
“Ayo mbak.” ucap perawat tersebut yang membantunya untuk pindah ke atas kursi roda.
“Mau ke mana?” tanya Nafisa yang terlihat begitu.
“Kita pindah ruangan.” ucap perawat tersebut.
“Di sini kenapa?” Tanya Nafisa heran.
“Mbak di pindah ke kamar vip.” ucap perawat tersebut.
Nafisa tampak panik. Bagaimana bisa dia pindah kamar. Biayanya berapa, Namun Nafisa tetap menuruti perintah perawat tersebut.
"Saya saja saya yang bantu Nafisa," ucap Aldi yang memegangnya.
perawat tersebut menganggukan kepalanya.
Ia begitu sangat berhati-hati saat memindahkan tubuh kurus Nafisa untuk dudu di kursi roda. Setelah Nafisa duduk di kursi roda. Perawat meletakkan kantong infus di pangkuan Nafisa.
“Mau ke mana sus,” tanya nenek Rose.
“Mau pindah kamar vip nek," jawab perawat tersebut.
“Barang-barang kamu mana?” Tanya Aldi.
“Itu di dalam laci.” jawab nya.
Aldi mengambil tas dan baju Nafisa yang dipakainya saat ke rumah sakit. “Ini aja?” tanya nya.
“Iya Al.” jawabnya.
Perawat tersebut mendorong Nafisa untuk masuk ke dalam lift. Aldi berdiri di sampingnya. Lif berhenti di lantai 4. Perawat mendorong kursi roda Nafisa samai ke dalam kamar. Aldi memindahkan Nafisa ke atas tempat tidur. Ia tampak sangat berhati-hati saat memindahkan tubuh rapuh tersebut. Perawat pergi setelah memindahkan Nafisa dan pamitan sebelumnya.
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?” tanyanya.
“Aku baik Al, di sini aku makan per dua jam.” Nafisa sambil senyum.
“Maafin aku ya Sa.” ucapnya yang duduk di pinggir tempat tidur.
“Gak Al. Kamu gak salah aku yang harusnya minta maaf sama kamu.” ucapnya.
“Apa kamu bahagia menikah dengan Julian?” tanyanya.
Seketika hati Nafisa begitu sakit mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Aldi. "Kalau aku boleh memilih, aku lebih baik mati Al. Aku sungguh tidak kuat, Namun aku juga gak mau menentang takdir," ucapnya dalam hati. Ia merasa sangat sulit menahan bendungan air yang akun tumpah ruah dari celah matanya.
“Sa.” ucap Aldi yang sejak tadi melihat yang menundukkan kepalanya.
“I..i.. Iya Al.” ucapnya.
“Kenapa kamu diam. Kenapa gak jawab.”
“Aku bahagia Al.“ ucapnya dengan rasa sesak.
“Dia baik sama kamu? Apa dia sayang sama kamu Sa?”tanya Aldi.
“Iya Al. Dia baik dan sangat sayang sama aku.” ucapnya.
“Al, aku mau ke kamar mandi.” ucap Nafisa.
Dengan cepat Aldi membantu Nafisa untuk turun dari tempat tidur dan mengambilkan sendal kamar yang di sediakan rumah sakit, kemudian memakaikan sendal tersebut ke kaki Nafisa.
Ia mendorong besi infus Nafisa dan sebelah tangannya memegang pinggang Nafisa. Setelah sampai di depan pintu kamar mandi ia berdiri di depan pintu kamar mandi tersebut. Nafisa masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Ia berdiri di depan wastafel di putarnya keren air tersebut dengan sangat deras. Dipegangnya dadanya yang terasa sakit dan teramat sesak.
Ia mulai menangis, ia tak sanggup meredam suaranya. Ia menagis sejadi-jadinya dan berharap tangis itu bisa menyembuhkan sakit yang ia derita saat ini. Cukup lama ia menagis saat ia sudah merasa jauh lebih baik dan isak tangisnya hilang. Ia membasuh muka dan menyiram air ke rambutnya yang melewati bahu, agar terlihat segar. Saat ia membuka pintu, Nafisa terkejut melihat Aldi yang masih berdiri di depan pintu.
“Al, kok masih berdiri di sini?”
“Iya aku nungguin kamu, aku kirain kamu sebentar. Makanya aku tungguin.” Sambil membantu Nafisa berjalan.
“Al, sebenarnya aku bisa jalan sendiri.” ucapnya.
“Iya aku tahu. Aku cuman takut kamu jatuh.” ucap Aldi.
Aldi sangat berhati-hati saat membantu Nafisa jalan dan meletakkan di atas tempat tidur. Ia mengambil handuk yang di sediakan rumah sakit dan kemudian melapkan anduk tersebut ke wajah Nafisa dan mulai mengeringkan rambut Nafisa yang masih meneteskan air.
“Gerah ya?” Tanya Aldi.
“Iya, kamu kok tahu Al?"
“Dari beberapa artikel yang aku baca, wanita hamil itu gampang gerah dan panas.” ucapnya.
“Kamu nikah aja belum, menghamili istri juga belum. Tapi udah baca artikel hamil?” Protes Nafisa.
Aldi senyum. “Kamukan lagi hamil sekarang. Jadi aku harus tahu sedikit banyaknya tentang kehamilan. Biar bisa ngingetin kamu. Biar jangan ceroboh.” ucapnya.
Nafisa senyum.
“Semalam mandi gak?” Tanya Aldi
“Gak, cuman di lap badan aja sama perawat.” ucapnya.
“Iya tangan kamu masih diinfus. Masih gerah? Kalau masih getah, aku akan minta perawat lap badan kamu.” ucap Aldi.
“Gak usah, nanti aja.” Jawab Nafisa.
“Al,” sapa Nafisa.
“Iya ada apa?”
“Selama aku di sini, aku gak ada sholat. Aku gak bawa mukena.” ucap Nafisa.
“Nanti aku belikan.” jawab Aldi.
“Makasih ya Al.” ucapnya.
Al," ucapnya lagi.
ada apa katanya Aldi.
Dia sangat malu untuk menyampaikan apa yang ini beritahu nya.
apa Bilang aja nanti aku beliin ucapnya.
aku apa boleh titip pakaian dalam sekalian ucapnya yang tertunduk malu.
ukurannya tanya Adik.
kalau celana dalam biasanya aku pakai M tapi sekarang mungkin udah enggak muat lagi bila pakai M. Aku minta kurang lebih besar L. Untuk Bra aku 34," ucapnya yang sedikit mengecilkan suaranya. Ia begitu malu saat menyampaikan hal tersebut. Namun sudah 2 hari di rumah sakit Ia belum ada mengganti pakaian dalamnya.
“Iya Sa nanti aku belikan. Sa, aku sudah ngomong sama dokter tentang kondisi kamu. Dokter nyaranin. Agar kamu berhenti kerja. Kamu gak usah aja kerja ya. Fokus kuliah dan jaga kandungan kamu aja.” ucap Aldi.
Nafisa terdiam, bagaimana mungkin ia harus berhenti kerja. Saat ini ia membutuhkan uang lebih banyak. Untuk membayar rumah sewanya, cek kehamilan tiap bulan minimal ke bidan dan menabung uang persalinan. “Al, aku masih mau kerja. Aku gak akan malas walaupun sedang hamil dan aku bisa stres kalau di rumah aja.”
“Kamu yakin Sa?” tanya ragu.
“Yakin Al.” Jawab Nafisa dengan cepat.
Aldi memandang Nafisa sambil mengerutkan keningnya. “Kamu terkesan seperti orang yang kekurangan duit Sa. Padahal suami kamu kaya.” ucapnya.
Nafisa hanya diam tak mampu untuk menjawab.
“Aku temani kamu di sini. Kalau Julian datang, aku baru pulang. Aku keluar bentar ya, cariin kamu mukena, dan yang tadi terakhir 34” ucap Aldi.
Wajah Nafisa memerah mendengar ucapan aldi. Ia menganggukkan kepalanya.
“Warna biru suka gak Sa?” tanya nya saat ia akan pergi.
“Suka,” jawab Nafisa.
“Ya udah aku pergi dulu ya. Kamu beneran gak apa, aku tinggalin?” ucap Aldi sedikit ragu.
“Iya gak apa Al.” Jawabnya yang tersenyum.
****
Jangan lupa like, komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏
dan dia pura2 tidak mengenali
dan dia pura2 tidak mengenali