Note : Alur lambat dan episode panjang. Karena begitu banyak tokoh di dalamnya. Semua punya cerita, dan tidak asal lewat.
Hidup terlihat begitu sempurna bagi seorang Darren Mahendra. Memiliki istri yang cantik, dan juga anak-anak yang hebat.
Tapi siapa sangka, semakin bertambah usia pernikahannya, semakin banyak kejadian-kejadian yang menguji kebahagiaan keluarganya.
Keluarga, sejatinya adalah tempat ternyaman untuk pulang dan berbagi kehangatan setelah penat mendera.
Sebuah ikatan kuat saling mengasihi satu sama lain, selalu dikedepankan untuk menyelesaikan setiap ujian bersama.
Tidak ada yang mutlak sempurna, masing-masing memiliki peran dalam mengatasi dan menghadirkan masalah. Namun tentu saja kendali tetap berada di tangan seorang Darren Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan Zain dan Airin
Suasana kediaman keluarga Darren kembali seperti semula. Tenang, damai dan ceria seperti sebelumnya. Keluarga besar Senja sudah kembali ke negara S.
Airin masih menyisakan waktu dua hari lagi untuk tinggal di sana. Meski tidak akrab, setidaknya sekarang Darren tidak terlalu menekannya. Calon ayah mertuanya itu lebih bersikap masa bodoh.
Siang ini, Airin hanya sendirian di rumah bersama beberapa asisten rumah tangga saja. Karena Senja sedari pagi pergi ke perusahaannya untuk kunjungan rutin sebulan sekali. Sekedar memastikan pekerjaan orang kepercayaannya--Rosa, sesuai dan benar.
Saat Airin mengambil air minum di dapur, dia melihat Dasen datang bersama dua orang teman lelakinya. Mereka naik ke lantai dua dan langsung masuk ke kamar.
Tidak lama dari itu, Derya dan Beyza yang memasuki rumah.
"Kak, mama belum pulang ya?" tanya Derya saat melewati Airin di ruang keluarga.
"Belum, Der. Katanya sih agak sorean. Kalian mau dibuatkan minuman segar"
"Mau jus melon, kak. Tidak usah diantar ke atas. Derya, akan turun setelah berganti baju." Derya lalu naik ke lantai dua.
"Beyza juga. Bey, tidak suka Mama pergi begini. Bey, akan meminta daddy menyuruh mama pulang," keluh Beyza dengan wajah kesal.
Bagi anak-anak dan Darren, saat Senja keluar rumah adalah saat yang paling menjengkelkan. Tapi tidak bagi Senja, untuk sesaat dia bisa menghirup udara bebas dan berinteraksi dengan manusia lain selain anggota keluarganya.
Airin membuatkan jus untuk adik iparnya di dapur. Tiba-tiba Zain datang memeluknya dari belakang.
"Sibuk amat, Ai," bisik Zain, tepat di daun telinga Airin. Sukses membuat perempuan yang dicintainya itu merinding keenakan.
"Aa, jangan begini! sebentar lagi Beyza dan Derya akan turun," ucap Airin dengan suara kesal yang tertahan.
"Biarin saja, paling nanti dibilangin ke mama dan daddy. Kalau di sidang, langsung bilang saja kalau sudah tidak tahan. Biar cepet dikawinin." Zain melepas pelukannya, mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga kandas.
Beyza dan Derya kompak menghampiri Airin dengan wajah lesu.
"Mama itu bukan pergi jalan-jalan, bukan seneng-seneng, kenapa kalian jadi kayak daddy semua sih," ucap Zain, sedikit kesal dengan sikap adik-adiknya.
"Kakak mau kemana? anterin ke kantor mama, yuk!" ajak Beyza.
"Kakak baru pulang, Bey. Masih mau makan. Kakak juga butuh waktu berdua dengan kak Airin sebentar. Jam lima kakak sudah harus pergi lagi, kakak ada janji dengan dosen kakak." Zain menolak dengan halus.
"Ayolah, kak. Sekalian keluar sama kak Airin. Ayolah, mama sendirian. Nanti kalau ada om-om yang godain mama bagaimana?" rajuk Beyza.
Sungguh sifat overprotektif dan pencemburu Darren sudah mendarah daging pda Beyza. Biasanya Dasen pun sama, hanya saja saat ini, anak itu masih teralihkan perhatiannya karena ada teman-teman dan kesenangan sendiri.
"Sama driver kan bisa, Bey? kakak capek, pengen istirahat sebentar."
Beyza menghentakkan kakinya, lalu megambil jus melon yang sudah jadi. Meneguknya kasar hingga habis.
"Kita sama driver saja, Bey. Tapi janji tidak berbelok arah. Kita ke tempat mama, bukan daddy. Jangan pengaruhi daddy dengan pikiran-pikiranmu." Derya mengingakan kebiasaan Beyza yang suka mengompori sang daddy. Tidak jarang daddynya jadi lebih heboh dan panik saat menyusul mama mereka.
"Tidak makan dulu?" tanya Airin dengan lembut.
"Tidak, Kak. Nanti saja minta ditraktir mama di jalan," sahut Derya.
Airin dan Zain kompak mengantar dua bocah kembar tidak identik itu sampai di depan pintu utama.
"Hati-hati, jangan ribetin kerjaan mama," pesan Zain.
Keduanya pun berangkat bersama Pak Amin--salah satu driver mereka.
Zain dan Airin masuk kembali ke dalam rumah.
"Aa, mau makan?"
Zain menggeleng. "Sudah makan tadi, Ai sudah makan?"
"Sudah, A'. Tadi Airin sudah makan. Sudah minum obat juga."
"Pinter. Bagaimana selama di sini? betah?" Zain mengajak Airin duduk di taman belakang.
"Betah, A'. Meski kadang suka tidak betah juga. Daddy tidak pernah tersenyum pada, Ai. Padahal sama yang lain bisa lucu dan konyol. Apa mungkin daddy tidak akan pernah menerima Ai, A'?"
Zain tersenyum sangat manis. "Tidak, Ai. daddy memang begitu. Tapi baik kan? daddy akan ramah pada saatnya."
"Apa Aa yakin sama hubungan kita? Keluarga Aa begitu terpandang. Menjadi menantu di sini pasti impian setiap gadia di luar sana. Apa, Aa yakin sama Airin?" tanya perempuan itu, wajahnya terlihat sedih.
"Tentu saja Aa yakin, Ai. Kita lalui semua bersama."
"Tapi, Ai merasa apa yang diucapkan oma Bae kemarin benar." Airin tampak sangat hati-hati saat mengucapkannya.
"Soal apa, Ai?" tanya Zain penasaran.
"Soal keturunan. Oma benar, perempuan seperti Airin pasti akan sulit mendapatkan keturunan. Lagi pula bukankah kita sama-sama terlibat dengan kanker darah. Kalau kita mempunyai keturunan. Apa tidak kasihan dengan anak kita, A'? baru lahir, kita sudah mewarisi penyakit." pandangan Airin berkaca-kaca dan menerawang.
Zain terdiam, jujur apa yang baru saja Airin bicarakan tentang mewariskan penyakit pada anak, tidak pernah terlintas dipikirannya. Dia pun tidak tahu harus berkata apa.
Salah satu tujuan pernikahan, tentunya memang untuk menperoleh keturunan. Tapi jika memperoleh anak, hanya untuk melihat anaknya sakit. Tentu dia tidak akan sanggup. Sudah cukup dulu Rafli melihat wajah sedih mendiang papanya saat mengantarnya kemoterapi. Dia tidak ingin mengalami sendiri. Karena pasti akan sangat tidak enak.
"Kita serahkan dulu semua pada Tuhan, Ai." Zain memilih jawaban teraman agar tidak menyinggung perasaan Airin.
"Mungkin kita memang tidak perlu menikah, Ai kasihan sama anak kita kalau harus mewarisi penyakit kita. Lebih kita sakit sekaran. Ketimbang kita lebih tersiksa melihat anak kita menderita. Kita sama-sama tahu, sakit yang kita derita ini bukan penyakit yang bisa diremehkan." Airin menatap wajah Zain dengan lembut.
Zain tidak tahu harus berbicara apa lagi. Egois menetang restu masih sanggup dia lakukan. Karena masih bisa diperjuangkan. Tapi egois untuk keturunan, sangatlah salah.
Zain merengkuh pundak Airin, mebenggelamkan kepala perempuan yang di cintainya itu ke dalam dadanya yang bidang.
Keduanya terdiam tanpa kata. Tangan saling menggenggam erat. Cinta yang besar dan menggebu-gebu, yang selama ini membulatkan tekat mereka untuk menikah, seolah lenyap. Kini menyisakan keraguan dan kekhawatiran.
"Salahkah kalau, Ai egois? Salahkah kalau, Ai hanya ingin menikah dengan Aa? Ai, tidak mau mempunyai keturunan. Seumur hidup kita hanya akan hidup berdua. Salahkah kalau,Ai maunya begitu?" Airin mendongakkan kepalanya, menatap sendu mata Zain yang juga tak kalah sendunya sekarang. Tidak menyangka dan mengira sebelumnya kalau ucapan Bae, akan membawa Airin berpikir sejauh sekarang.
Sementara di bawah suasana hening dan sedih sedang menyelimuti perasaan Airin dan Zain. Di lantai dua, tepatnya di kamar Dasen. Tiga anak remaja berjenis kelamin laki-laki, sedang menatap layar laptop dengan posisi duduk rapat dengan bantal masing-masing berada di pangkuan. Ketiganya beberapa kali menelan ludah mereka sendiri dengan kasar. Wajah mereka nampak sangat tegang.
"Anjirrr! Sudah gede, keras pula." Michel mengeluarkan suara yang sedikit parau, sembari memeluk rapat bantal dipangkuannya seperti sedang menahan ngilu.
di lanjut nyook bisa nyoook 🤗🤗🤗🤗
percuma kuliah jauh2 keluar negeri 😅😅😅😅
kira2 senja merestui hubungan dasen Denok g ya😅😅😅😅