NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:71.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21

...Gorilla di Ujung Gang...

"Tumben jam segini kamu udah di rumah?" seorang wanita masuk tanpa suara, hingga Getta nggak sadar kalau dia ketahuan melongo sambil memandangi dinding yang dari kemarin-kemarin nggak pernah berubah.

"Kamu nggak jalan sama pacar?"

Getta bangkit sambil merengut malu. "Pacar?" gerutunya. "Aku nggak punya pacar, Ma. . ."

Wanita itu tertawa kecil. "Masa secakep ini nggak punya pacar?" godanya sambil duduk di samping Getta -di ranjangnya yang berantakan sama tas dan buku-buku pelajaran.

"Aku memang nggak punya pacar kok. Aku nggak suka pacaran," dia menegaskan dengan raut jengkel.

"Iya deh, iya. . .," kata Mama masih saja tertawa.

"Mama habis dari mana?" tanya Getta padanya.

"Mama habis jemput Cindy ke sekolah," jawab Mama.

Getta Cuma ngangguk-ngangguk. Emang sih Mama-nya sayang banget sama Cindy -adik tirinya Getta. Bahkan Getta sempat iri-irian gitu sama anak umur tujuh tahun itu. Tapi, itu waktu dia masih tinggal sama Papa- nya dan Getta jadi nggak dekat sama sang Mama karena omongan Papa-nya.

"Gimana? Kamu senang nggak sekolah di tempat yang sekarang?"

"Yah, sebenarnya sama aja sih. Tapi, kelakuan anak-anak di sini jauh lebih aneh dan norak. . .," jawabnya.

"Maaf ya, Mama nggak bisa sekolahin kamu di tempat yang bagus. . .," kata Mama tiba-tiba jadi sedih.

"Udah, Ma. . .," ujar Getta tiba-tiba jadi ikut sedih. "Aku senang sekolah di sana kok"

"Terus gimana dengan sekolah pilotnya? Kamu udah putusin buat daftar?" tanya Mama, masih dengan raut sedih.

Pertanyaan itu bikin Getta jadi sedih. Ternyata Mama masih ingat kalau cita-citanya adalah menjadi pilot dan melalangbuana di langit dengan burung besi. Awalnya, dulu Getta nggak pernah memikirkannya. Toh, semua sudah ada dalam rencana Papa-nya yang kaya. Nggak perlu mikirin soal uang dan biaya sekolah -apa yang dia mau selalu ada. Kecuali, sebuah keluarga yang utuh dan kasih sayang -sejak umur delapan tahun semua itu hilang entah ke mana.

Ada banyak hal yang nggak ingin Getta ingat soal kehidupannya sebelum pindah ke sini -rumah Mama-nya yang sederhana dan letaknya di kampung pula; banyak preman dan tukang palaknya juga perempuan- perempuan dari lokalisasi yang nggak jauh dari sini. Pokoknya tempat yang serba terbalik deh dengan rumahnya yang dulu -yang ada di perumahan elit lengkap dengan mobil mewahnya.

"Nanti deh, pasti ada jalannya," ujar Mama lalu berdiri sambil tersenyum.

"Yang penting kamu belajarnya nggak malas dan bisa dapat beasiswa"

Getta mengangguk lagi, meski nggak yakin. Dulu semuanya terasa mudah, tapi sekarang, dia bahkan nggak tahu harus ke mana setelah ini. Seolah masa depan di mana impiannya menunggu -sekarang sudah nggak ada apa-apa lagi di sana.

Selain dirinya sendiri tanpa pijakan yang kokoh. Tersesat di suatu tempat yang tinggi sekali -jika nekat turun, pasti mati.

Mama menghilang di balik pintu yang sekarang tertutup. Getta kembali berbaring, menatap langit-langit kosong yang warna putihnya memudar oleh rembesan air hujan yang kadang menetes dan meninggalkan bekas kecoklatan. Tapi, seberapa pun jeleknya rumah ini, di tempat mana pun selain di sini, ia nggak akan pernah menemukan tempat yang benar- benar bisa disebut rumah.

Sekalipun, setiap pagi mau berangkat sekolah dengan jalan kaki, ia harus ketemu sama tukang palak yang merampas uang jajannya. Tapi, begitu ketemu Mama yang selalu tersenyum dan menunggu dengan makan siang yang sederhana, ia merelakan apa yang diambil oleh preman- preman itu.

Tapi, kali ini, pagi ini, preman itu membuatnya habis kesabaran.

"Nggak ada duit lagi, Bang," Getta berkata pada seorang pria dengan luka gores di bawah mata kanannya.

Orang itu terlihat menakutkan. Kulitnya hitam. Kedua tangannya yang besar berbulu mirip siamang. Wajahnya punya banyak bekas jerawat yang bikin tampangnya jadi lebih menyeramkan lagi. Dengan jaket kulit lusuh yang sobek, ia belagak seperti penguasa kampung.

"Masa sih lo nggak ada duit?" tatapannya sinis.

Getta berusaha untuk nggak merinding. Ini bukan pertama kalinya dia dihadang di tengah jalan sama preman yang biasa mangkal di ujung jalan, di tambah dengan beberapa centeng pasar yang ikut-ikutan malak.

"Beneran nggak ada, Bang," kata dia, mendengus.

Preman bermuka garang itu masih menatapnya tajam. Dengan senringai nyeremin, ia melirik kedua centengnya yang kurus dan sama joroknya itu. "Kalian habisin tuh bocah," kata dia, mundur beberapa langkah sementara pengikutnya dengan langkah cepat menyergap Getta yang nggak punya kesempatan untuk melarikan diri.

****

"Kemarin bolos, sekarang beneran nggak masuk. . .," Yuna terdengar menghela nafas dari kursinya, saat istirahat siang.

"Nggak tahu nih. . .," Jonas juga mengeluh, sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja lalu melirik Lara yang lagi melamun di belakangnya.

Cewek itu selalu berwajah dingin. Dia jarang kelihatan senyum apalagi ketawa -kalaupun senyum pasti kelihatan sinis dan nyebelin. Bicara juga jarang selain dari cacian ditambah dengan jari tengahnya. Setiap hari, saat menunggu guru mereka masuk ke kelas dia cuma memandang keluar jendela dengan tangan di dagu, memeluk dirinya sendiri seolah kedinginan. Dia nggak tertarik sama hal-hal di sekitarnya selain dari pemandangan membosankan di luar. Barangkali cuma badannya saja yang berada di kelas ini, tapi jiwanya entah terbang ke mana. Mungkin ke suatu tempat yang lain yang nggak sesak seperti di sini. . .

"Lara," tegur Jonas.

"Apa sih?" sahut Lara dengan muka jutek itu lagi.

"Lo kenapa sih, judes mulu?, tanya Jonas.

"Suka-suka gue dong," cetusnya.

"Lho kok gitu sih?" Jonas menghela nafas.

"Kalau misalnya gue suruh lo berhenti bikin gue gerah, lo bisa nggak?" balasnya.

"Iih, Lara, nggak boleh gitu. . .," kata Yuna padanya sambil mengibas- ngibaskan ujung jarinya. "Nggak boleh terus-terusan galak. . . kasian. . ."

"Udah deh lo, diam!" celetuk Lara sekarang beneran tambah gusar.

Yuna cemberut. Bibirnya mengecil seperti burung Tweety. "Kalau lo begitu terus nanti nggak bakal ada yang suka," katanya, pelan. "Yang ada malah nggak bakal ada lagi yang mau ngomong sama lo."

Lara membalas tatapannya tajam, seakan ia ingin membungkam mulut Yuna sama tangannya. Tapi, cewek ini cuma cerewet nggak ketulungan, sok manis dan perhatian.

"Sok tau!" celetuk Lara lagi, sebelum semuanya hanya bisa memandangi dia prihatin.

Termasuk Molly.

Tapi, dia masih kepikiran akan sesuatu yang lain di otaknya. Dari tadi memandangi kursi Getta yang kosong, ke mana dia?

****

"Brengsek!!" Getta menendang dinding yang seolah bisa ia runtuhkan, padahal itu hanya memantulkan rasa sakit dari tubuhnya yang lelah. Ia berusaha menepis bayangan saat preman-preman itu memukulinya, tapi kejadian itu muncul berulang-ulang di kepalanya.

Mengesalkan memang, ia sama sekali nggak bisa melawan. Selain karena preman itu tubuhnya lebih besar darinya, ia jauh kalah kuat. Seandainya ia sedikit bisa berkelahi, tentunya ia nggak akan berakhir seperti pengecut begini.

Itu membuatnya marah pada diri sendiri. Kebingungan dan sakit hati cuma bisa melampiaskannya pada dinding tangga darurat.

Tentu saja, dengan keadaan begini ia nggak bisa masuk kelas. Apa yang bakal dikatakan teman-temannya dan yang lebih parah, guru-guru pasti menuduhnya berkelahi.

"Getta, kamu ngapain?" suara kecil itu pelan, tapi tetap mengagetkan Getta yang sekarang kelihatan begok -mengamuk ke dinding.

Wajahnya yang tadi kesal sekarang berubah kaget.

Seorang cewek, berambut lurus sebahu dan lurus. Rok abu-abunya selutut dan bajunya agak sedikit kebesaran dari tubuhnya yang kurus - dia kelihatan beda anak-anak cewek di sini yang seragamnya mengepas badan. Dari SMP juga sudah begitu, Molly.

Dari mana Molly tahu kalau dia di sini?

"Kamu kenapa?" tanya Molly yang menghampirinya ragu-ragu, karena melihat seragam putih Getta kotor sekali. Seketika ekspresinya menjadi cemas, matanya membelalak memandangi Getta yang berusaha menyembunyikan wajahnya yang berantakan.

Getta terluka. Sudut bibirnya berdarah. Pelipisnya membiru dan memar. Seragamnya dikotori oleh tanah basah.

"Kamu berantem sama siapa. . .," tanya dia, bibirnnya kelihatan gemetaran.

Getta menjauh beberapa langkah darinya, masih berusaha menyembunyikan bahwa sebagai seorang cowok ia kelihatan lemah. Di depan Molly lagi. . . tapi, cewek itu sudah terlanjur melihatnya dan entah bagaimana dia bisa tahu kalau Getta ada di sini.

***

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
🐤
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!