Gita adalah cewek gendut dan tomboy, dia sangat sangat pede dengan penampilannya bahkan dia tidak peduli jika ada orang yang menghinannya.
Suatu hari, Gilang cowok paling populer, ganteng, baik hati, cool datang ke kelas Gita dan mengajak ngedate.
Apakah Gita akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gilang cemburu
Gilang mengikat tali sepatunya sambil mengedarkan pandangan kedua matanya ke segala arah tempat duduk penonton.
“Cari siapa lo?” Tanya Bayu sambil ikut mengikat tali sepatunya. Gilang hanya diam
tidak merespon omongan Bayu. Dia berdiri setelah selesai merapikan tali sepatunya. Dia melakukan peregangan dengan matanya yang masih mengedar ke semua penjuru.
“Ditanya diem aja lo.” Bayu kesel merasa
diabaikan.
“Apa sih lo, brisik banget.”
“Oh.. lo cariin Gita kan. Ngapain juga di cariin kalau dia datang tuh nggak bakalan
juga kasih semangat lo. Dia bakalan kasih semangat Raka.” Kata Bayu.
“Bisa diem nggak lo, bawel banget kayak emak-emak.” Gilang pergi meninggalkan Bayu.
“Di kasih tahu ngeyel.” Seru Bayu kesal,
semakin hari Gilang semakin tidak mendengarkan dirinya.
Raka selesai melakukan peregangan datang nyamperin Gilang yang masih mancari Gita.
“Gita bakalan datang kok, tapi ya lo jangan kecewa kalau dia datangnya nggak sendiri
dan yang pasti tuh dia nggak bakalan suport lo tapi gue.” Raka tersenyum lalu
menggerakan kedua alisnya.
“Bukan urusan gue dia mau datang apa nggak, bahkan gue nggak peduli juga dia mau dukung siapa. Nggak penting.” Gilang sewot. Belum juga main udah di bikin
gerah body.
“Baguslah, gue mau lo tetap main yang bagus. Dalam kondisi apapun lo harus tetap fokus.” Raka memegang pundak Gilang. Dia sengaja membuat kesal Gilang lebih awal. Dia ingin tahu seberapa pintar ngontrol emosinya saat dia melihat sesuatu yang dia
tidak suka. Dia ingin melihat profesional dan tanggung jawab Gilang menjadi ketua team basket sekolah ini.
Dan benar yang dikatakan Raka selain dengan Fara, Anita dan Arvian, Gita datang
bersama Devan. Dia duduk dekat dengan Devan, seperti layaknya kekasih. Senyuman
Gilang langsung memudar, dia langsung bete. Rasanya sudah nggak mood main
basket.
“Kenapa dia bisa sebahagia itu, sedangkan sama gue manyun mulu, marah mulu.” Omel
Gilang dalam hati.
Sepanjang permainan Gilang terus melakukan kesalahan karena nggak fokus sama permainan. Dia terus melihat ke arah Gita yang bersendau gurau dengan Devan. Meskipun banyak yang suport dia namun semua itu terasa hampa. Dia maunya Gita yang menyemangatinya itu akan mengembalikan moodnya daripada sorakan cewek-cewek yang lain. Tapi Gita terus saja berteriak memanggil nama Raka.
“Bikin makin kesel aja sih lo!” gumam Gilang pelan.
“Lang, lo kenapa sih nggak fokus. Jelek banget mainnya. Lihat tuh kita ketinggalan
banyak.” Omel salah satu anggotanya.
Raka datang memegang pundak Gilang sambil tersenyum, “Lang, lo itu ketua team kalau baru melihat hal seperti itu saja sudah goyah permainan lo gimana kalau lihat yang lebih. Kita itu team kalau satu dari kita sembrono yang ada yang lain akan
jatuh kalau pun mereka berusaha mereka akan sangat kesusahan karena menambah satu pekerjaan yang seharusnya di kerjakan yang lain. Lo mau semua anggota menderita karena urusan pribadi lo.” Raka memberikan nasehat.
Melihat ada perdebatan Gita langsung turun untuk bicara dengan Raka, dia melambaikan
tangan ke arah Raka. Raka mengangguk lalu berjalan kearahnya.
“Ada apa?” tanya Gita. Raka melambaikan tangannya meminta Gita lebih mendekat
kepada dirinya. Setelah itu dia membisiki sesuatu ke pada Gita.
“Lo paham kan?” tanya Raka.
“Iya Paham.” Jawab Gita sambil mengangkat ibu jarinya.
“Ya sudah duduk lagi gih, lo hati-hati.”
“Iya.” Gita langsung naik lagi ke atas.
Permainan Gilang semakin memburuk, untug Raka terus menyelamatkannya. Permainan sudah hampir selesai poin mereka berjarak sedikit. Gita memejamkan matanya sesaat,
dia kemudian menyiapkan suaranya agar terdengar lantang saat teriak.
“Kak Gilang! Lo pasti bisa memasukkan bolanya. Semangat!” teriak Gita saat Gilang
berkesempatan untuk memasukkan bola terakhir sebelum peluit di bunyikan.
Gilang menoleh, dia tak menyangka kalau Gita bakalan menyebut namanya. Dia tersenyum lebar namun di sembunyikan dari yang lain. Dia mendribel bola lalu memasukkan ke ring.
Priiiiiiiiitttttt!
Peluit pajang di bunyikan, permainan berakhir dan Gilang berhasil mencetak angka sehingga mereka menang. Semua bersorak, satu team saling berpelukan. Gita
langsung berlari turun dan memeluk Raka.
“Raka, lo keren banget.” Ucap Gita masih sambil memeluknya,
“Dari dulu gue emang keren kan.” Katanya dengan pede.
“Lo bakalan terus ikut team ini main kan?” tanya Gita was-was taku Raka nggak mau.
Dia nggak mau kalau nanti jadi pusat perhatian kalau dia main basket. Dia nggak
mau ribet di gandrungi banyak cewek.
“Nggak, lo tahu kan gue nggak mau ribet sama urusan perempuan.” Katanya masih pede saja.
“Dasar lo sok kepedean emangnya siapa yang mau sama lo. Ka, gue belum puas
teriak-teriak gini.” Ujar Gita.
“Lo kan bisa suport yang lain, misalnya Gilang atau kalau nggak suruh aja Devan
masuk team basket.”
“Nggak mau, maunya lo.” Rengek Gita.
“Gilang juga mainnya bagus loh,”
“Gue tahu, dia emang bagus segala hal. Dan lo nggak akan bisa menandinginya.” Ejek
Gita. Gilang tersenyum di puji Gita, dia jadi tahu kalau ternyata dirinya mengakui keberadaannya meskipun selalu saja ketus padanya.
“Nah tuh tahu, kenapa lo masih suruh gue main coba.”
“Cie marah, kesel...” Goda Gita.
“Ngapain juga gue marah, nggak guna mau sebaik apapun Gilang kalau dia belum menjadi pacar lo gue akan selalu terbaik di hati lo. Gue yang akan menjadi pelindung lo.” Raka mengacak-acak rambut Gita.
“Ih.. kenapa sampai ke pacar-pacar segala sih.” Gita manyun nggak suka banget
akhir-akhir ini Raka selalu menjodohkannya dengan Gilang.
“Iya karena menurut gue daripada lo ngejar Devan yang nggak pasti mendingan Gilang yang jelas-jelas suka sama lo. Pasti dia akan melindungi lo.” Ujar Raka. Gilang
menjadi bengong dengan pernyataan Raka. Dia masih belum memahami perkataan
Raka, kenapa tiba-tiba dia seakan mendukung dirinya menjadi pacar Gita. Bahkanbseakan yakin kalau dirinya bakalan jadian sama Gita.
“Lo kayaknya nggak suka banget sama Devan sampai ngomong begitu.” Gita menjadi bete.
“Bukan nggak suka, gue hanya nggak mau lo sakit hati.” Kata Raka.
“Gue bakalan baik-baik saja, lo juga tahu kan kalau Devan itu baik, dia perhatian
lagi sama gue.” Gita terus memuji Devan.
“Lo kan belum tahu sekarang sifat Devan kayak gimana, kalau Gilang kan udah lumayan ketahuan dia cinta banget sama lo.”
“Raka, Gilang itu punya kepribadian dua tahu nggak. Kadang dia baik banget, nanti
tiba-tiba jutek banget. Gue takut kalau dia itu pysco lo mau kesayangan lo ini
menjadi korbannya.” Celoteh Gita nggak jelas.
“Ngomong apaan sih lo ta, ngga jelas banget.” Raka menggeleng kepala lalu merangkul Gita berjalan keluar untuk pulang.