Dakota yang dijodohkan oleh kakek misteriusnya dengan seorang pria yang belum dikenalnya. Pria tersebut merupakan Presdir di Perusahaannya saat ini bekerja.
Dalam hidup ini, Dakota hanya ingin mengetahui siapa ayah kandungnya melalui foto lama ibunya. Foto tersebut sudah buram, namun dalam foto tersebut bertuliskan nama ibunya Endangsi Kaif And Mr.Ela.
Ada banyak rahasia yang akan terbongkar saat dia menikah dengan Presdirnya.
Dakota dan Presdirnya tidak dilandasi oleh rasa cinta. Namun mertuanya berkata jangan tunda punya anak.
"Bagaimana ini, punya anak. Siapa yang akan melahirkan anak? Dia tidak mencintaiku bagaimana bisa ada anak diantara kami" batin Dakota.
Akankah Dakota diakui sebagai Wanita Presdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnama Sitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22. Minta Maaf
Dakota kembali kekamar dan dia membaca pesan yang sudah dikirim oleh Manajer Naon. {Manajer Naon.09.35 wib. Nyonya Muda, Presdir bertanya apakah ada benda yang Nyonya sukai. Kalau ada tolong balas pesan saya ini Nyonya secepatnya}
“Ternyata Naon menanyakan benda apa yang kusukai, kenapa aku tidak membaca pesan ini tadi. Tapi kalau dia memang ingin minta maaf, bisa diucapkan secara langsung. Kenapa dia harus gengsi pada istrinya sendiri” gumam Dakota.
Dakota yang melamun memegangi handphonenya tidak mengetahui bahwa suaminya Fano sudah masuk kekamar mereka.
“Kamu belum tidur” ucap Fano memecahkan lamunan Dakota yang sedang duduk dikasur.
“Aku belum ngantuk” ucap Dakota. Namun Fano langsung mengganti pakaiannya. Terpaksa Dakota membalikan badanya terbaring kembali dikasur.
Dakota menunggu suaminya untuk memulai pembicaraan. Lama Dakota menunggu Fano untuk memulai pembicaraan namun Fano sudah melangkah mematikan lampu kamar mereka dan berbaring di Sofa.
“Kenapa dia diam saja, apa dia tidak berniat untuk meminta maaf. Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus menyelesaikan permasalahan kami” batin Dakota.
Dakota bangun dari kasur dia melihat suaminya sudah mulai memejamkan matanya. Dakota mencoba memakaikan selimut pada suaminya.
“Sepertinya dia sudah sangat lelah. Besok saja kami bicarakan kembali kesalahpahaman ini” batin Dakota.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Fano menyadari keberadaan istrinya.
“Kau, belum tidur” ucap Dakota terkejut.
“Harusnya aku yang tanya, kenapa kau kesini, aku jadinya tidak bisa tidur” ucap Fano masih berbaring di Sofa.
“Kenapa tadi kamu marah pada Naon” ucap Dakota duduk disudut Sofa tempat Fano berbaring.
“Dia tidak melaksankan perintah dengan baik” ucap Fano.
“Memangnya apa perintah yang membuat kamu sampai harus memarahinya, apa perintah mu itu sangat penting”.
“Kau kenapa sangat peduli padanya” ucap Fano, dia sudah duduk di Sofa.
“Aku tadi melihat kamu sangat marah padanya karena bunga itu. Bunga itu akulah yang membuangnya. Jadi dia tidak perlu kamu marahi lagi” ucap Dakota.
Fano hanya terdiam tidak merespon apapun. Karena dia sudah tahu bahwa istrinyalah yang membuang bunga itu. Dia hanya meluapkan emosinya pada Naon.
“Apa kamu tidak bertanya kenapa aku membuang bunga itu. Aku bukannya tidak menyukai bunga mawar, aku hanya tidak menyukai bunga mawar berwarna merah. Apa kamu tidak ingat, aku juga membersihkan kamar pengantin kita karena bunga mawar berwarna merah itu bertebaran dikasur. Aku sungguh minta maaf, karena aku tidak bisa menyukai bunga mawar warnah merah. Bunga itu memiliki sejarah kelam dalam hidupku” ucap Dakota matanya mulai berkaca kaca.
“Greb” Fano memeluk tubuh istrinya dengan erat. Fano hanya memeluk tubuh istrinya, dia merasa bahwa dia tidak mengetahui bahwa istrinya itu sangat tidak menyukai bunga mawar berwarna merah.
“Aku tidak tahu kalau bunga mawar berwarna merah tidak dia sukai, seharusnya dikirim berwarna putih saja. Hah, aku sudah sangat marah padanya saat dia membereskan kamar pengantin kami, lagi lagi aku salah paham padanya. Sungguh aku tidak mengenal istriku ini” batin Fano.
“Aku minta maaf aku juga mengabaikan pesan dari Naon itu kesalahanku. Aku tau kamu ingin minta maaf, harusnya kamu bisa mengucapkannya, kenapa kamu meluapkan emosimu pada Naon?” ucap Dakota lagi menatap wajah suaminya yang sudah melepaskan pelukan.
Fano mulai menatap mata istrinya yang sudah dia rindukan.
“Sayang, aku tidak tahu bagaimana caranya minta maaf, karena selama ini aku belum pernah minta maaf pada siapapun. Aku sudah salah paham padamu” ucap Fano memegang tangan istrinya.
“Aku ... aku minta maaf aku sudah membuat kamu menangis kemarin. Apa aku dimaafkan” ucap Fano menatap tulus wajah istrinya diremang-remang kamar mereka.
“Tentu saja” Dakota langsung memeluk tubuh kekar suaminya itu. “Aku memaafkanmu, jangan marah lagi, kamu tidak lelah keriputmu nanti tambah loh” canda Dakota ditelinga Fano.
“Kamu masih bisa bercanda” ucap Fano memeluk erat tubuh istrinya.
“Hehe ... kamu harus sering-sering minta maaf padaku” ucap Dakota menatap wajah suaminya.
“Berarti aku harus sering membuat kesalahan dong” canda Fano.
Mendengar candaan suaminya, Dakota langsung mencubit hidung suaminya. Namun Fano sudah menangkap tangan istrinya itu.
“Emh ....” Fano mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya hanya sebentar sebagai kecupan. Dakota terkejut melihat suaminya yang sudah tidak brutal lagi.
“Emh ....” bibir mereka bertemu lagi, Dakota mecium suaminya untuk pertama kali.
“Kenapa istriku ini berinisiatif, apa dia sudah menyukaiku” batin Fano.
Ciuman mereka terus berlanjut. Dakota melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya itu, membuat Fano merasakan sensasi hangat dari tubuh istrinya. Fano ******* bibir istrinya, sesekali dia memasukkan lidahnya kedalam mulut istrinya, namun Dakota tidak membalas.
“Hah” mereka berdua mendesah karena ciuman yang panjang dan saling menatap.
“Sepertinya kamu harus belajar ciuman” bisik Fano.
“Memangnya aku harus belajar, kamukan bisa mengajariku” balas Dakota.
Mendengar perkataan istrinya, Fano mulai meluma* bibir istrinya itu. Dia meluma* bibir istrinya semakin dalam, lidahnya dia masukkan kedalam mulut istrinya sehingga air liurnya sudah menyatu dengan air liur istrinya.
Kali ini istrinya tidak menolak atau membrontak, karena tidak membrontak Fano mulai nakal. Tangan Fano sudah menuju gunung kembar Dakota dan mulai meremas gunung kembar istrinya itu. Membuat Dakota menggeliat kesakitan. Bibir Fano sudah menjelajah keleher lembut Dakota bahkan menggigit lehernya.
“Ah ....” desah Dakota.
“Sayang, apa sakit?” tanya Fano.
“Iya sakit” ucap Dakota jujur.
“Baiklah, aku akan lebih lembut” ucap Fano. Fano menciumi leher istrinya hingga menuju gunung kembar Dakota. Lidah Fano sudah menjilati atasan gunung kembar istrinya. Dakota hanya mendesah tidak ada perlawanan. Fano mulai meremas gunung kembar itu semakin intens bahkan kancing baju Dakota sudah terbuka.
“Apa aku akan dilahap malam ini, tunggu dulu aku lupa”batin Dakota.
Fano melaksankan aksinya karena istrinya itu sepertinya juga menurut dan mau melayaninya.
“Sayang” ucap Dakota dia langsung memeluk tubuh kekar Fano. Aksi Fano berhenti.
“Kenapa sayang?” tanya Fano merasa aksinya sangat tanggung.
“Apa kamu ingin melakukan itu malam ini” ucap Dakota masih memeluk tubuh suaminya.
“Jika kamu mengijinkan” ucap Fano menatap istrinya.
“Tapi sayang, aku minta maaf, hari ini hari keduaku berhalangan (mensturasi)” ucap Dakota.
“Apa?” ucap Fano terkejut.
“Sial, kenapa dia harus berhalangan malam ini, juniorku ini sudah mulai bangkit. Aku harus meredamnya, sebelum dia menyadarinya” batin Fano.
“Apa kamu kecewa” ucap Dakota melepas pelukannya.
“Tidak sayang, tidak apa-apa, pasti berhalangan itu sakit, kita masih bisa melakukannya setelah kamu selesai berhalangan” ucap Fano mencium kening istrinya.
“Kamu tidak kecewakan” tanya Dakota memastikan.
“Tidaklah, tapi sepertinya kamu harus tau, mulai besok aku akan berangkat ke Papua untuk mengurus cabang perusahaan tambang disana”ucap Fano memasang kancing baju istrinya kembali.
“Sabar, sabar. Ah ... bagaimana aku bisa sabar, sebulan lagi itu waktu yang panjang” batin Fano.
“Apa? sampai kapan kamu disana?” tanya Dakota memandang wajah suaminya.
“Kemungkinan sebulan sayang, aku bukan hanya ke Papua, aku masih harus kekota lainnya” ucap Fano.
“Apa karena permasalahan perusahaan?” tanya Dakota melihat wajah suaminya yang sudah terlihat lelah.
“Ya, kamu tidak perlu khawatir” ucap Fano merasa gugup karena istrinya ini seperti bukan biasanya.
“Kamu sudah bekerja sampai larut, tidur hanya sebentar, dini hari sudah harus berangkat lagi” ucap Dakota menunduk.
“Maaf ya sayang, aku akan selesaikan pekerjaanku, aku akan sediakan waktu untuk kita berdua” ucap Fano memastikan istrinya.
“Besok pukul berapa keberangkatanmu?” tanya Dakota.
“Ah, pukul 05.00 wib, sayang kita harus tidur, ini sudah larut” ucap Fano mulai merapikan selimut di Sofa yang sudah salah arah karena aksi mereka tadi.
"Sial, seandainya saja besok libur, aku ingin bermesraan dengan istriku” batin Fano.
“Sayang” ucap Dakota memegang tangan suaminya.
“Kenapa sayang, kita harus istrirahat” ucap Fano pada Dakota, jam juga sudah menunjukkan pukul 01.20 wib.
"Kamu tidur dikasur saja, temani aku” ucap Dakota menarik tangan suaminya.
"Kamu, tidak akan menendangku nantikan?” tanya Fano bercanda.
“Hmm ... tidak” ucap Dakota yang sudah berbaring di Kasur.
“Baiklah, mimpi indah sayang” ucap Fano mencium kening istrinya. Fano berbaring memeluk tubuh istrinya. Dakota hanya pasrah dengan tingkah suaminya yang sudah terlelap, Dakota ikut terlelap matanya sudah tidak bisa melawan kantuk.
BERSAMBUNG........
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir.😊
Mohon like dan komentarnya ya, untuk membangkitkan semangat penulis.
Semoga bisa menghibur.🙏🌹