Aku tidak menduga, Suami yang aku cintai selama ini ternyata bermain gila di belakang ku,
Rumah tangga ku yang kubangun dengan kokoh, harus hancur karena datangnya orang ke tiga dalam rumah tangga ku,
Dia berhasil merebut suami ku,
dan sampai dengan tega nya dia juga membuat ku harus berpisah,
penceraian yang tidak pernah aku fikirkan, tapi sekarang aku harus menerimanya.
Dan sayangnya..
Di saat aku ikhlas berdamai dengan keadaan, mencoba melepas semuanya, memulai hidup yang baru,
Cobaan datang kembali saat aku mengetahui aku hamil anak dari suamiku.
Haruskah aku menggugurkannya..???
Atau harus menerima semua ini dan melupakannya lagi..???
TIDAKKKK...!!!!
Aku bukan tuhan yang mempunyai sabar yang tinggi..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RuQi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Angga meminum minuman seorang diri, setelah mengantarkan Melisa kekamar, Angga langsung menemui pengacaranya yang langsung datang saat Angga menelfon tadi,
"Hati gue kenapa sakit," tanya Angga pada diri sendiri dikesunyian ruangan itu, setelah mendapatkan berkas yang Angga minta untuk bercerai dengan cerry, Angga tidak langsung menemui cerry, dia masih bingung dengan hatinya yang tiba tiba terasa sakit saat harus melepas cerry, istri pertamanya
"Tidak, gue hanya butuh Melisa dan calon anak gue, ini yang aku tunggu tunggu selama ini," kata Angga lagi,
Angga langsung meneguk minuman beralkohol yang sangat tinggi itu dengan sekali tegukan, dengan sedikit mabuk Angga pergi dari bar mini itu menuju kearah kamar cerry, dengan membawa berkas pengajuan penceraian yang Angga buat,
"Angga.." kaget cerry saat melihat Angga dengan sempoyongan masuk ke kamarnya,
"Cerry,.." panggil Angga dengan sedikit mabuk,
cerry yang melihat Angga mabuk langsung menjauh dari Angga, cerry sedikit takut dan tidak tahan mencium bau alkohol dari mulut Angga,
"Kenapa kamu kesini, pergilah Angga jangan kemari," ucap cerry yang menjauh
"Kenapa menjauh, dulu kamu selalu tidak bisa jauh dariku cerry," tanya Angga, Angga sedikit bergairah melihat cerry yang hanya mengenakan mini top dan celana pendek yang tidak menutupi pahanya,
"Itu dulu Angga, sekarang beda, jadi silakan pergi.." usir Cerry, tapi Angga sudah terlalu mabuk untuk mendengar ucapan Ferry, Angga lalu menaruh kertas yang dia bawa tadi dimeja rias cerry,
"Tanda tangani," perintah Angga langsung,
cerry mendekat sedikit kearah Angga untuk mengambil surat perjanjian itu, cerry membaca dengan kertas itu dengan teliti, dan semenit setelahnya cerry membuang kertas itu dengan marah...
"APA APAAN INI ANGGA," teriak cerry, dia marah kepada Angga karena masih tidak tau malu mengambil semua peninggalan orang tuanya,
"Seperti yang kamu lihat dan baca, aku akan menceraikan mu tapi dengan syarat semua yang kamu miliki akan menjadi milik ku dan Melisa," ucap Angga dengan senyum jahatnya
"Apa kamu tidak ada sedikit pun malu Angga, kamu masih berani meminta aku untuk menandatangani ini, jangan mimpi.." kata cerry penuh dengan penekanan
"Setuju tidak setuju kamu harus menandatangani." Angga mencengkram tangan cerry dengan kuat, cerry langsung kesakitan saat Angga dengan sengaja mengeratkan cengkeramannya,
"Angga kau sudah gila.." teriak cerry, cerry sekuat tenaga melepaskan cengkraman Angga
Angga langsung melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat cerry langsung terjatuh kekasur
"Sakittt..????" tanya Angga, "Ini belum seberapa bila kamu tidak segera menandatangani surat ini," kata Angga lagi dengan marah, sekarang Angga menjambak rambut cerry, dengan pengaruh dari alkohol Angga tidak segan segan bila malam ini dia juga harus membunuh cerry,
"Sampai mati aku tidak akan menandatanganinya, ingat itu Angga," marah cerry, satu tangannya dia pakai untuk memukul Angga dan satunya lagi dia gunakan untuk menahan rambutnya yang Angga tarik kebelakang
"Bahkan bila aku menginginkan mu malam ini," Angga membisikan kata itu ditelinga cerry dengan mengelus tengkuk leher cerry
Cherry menolak sentuhan Angga langsung ditengkuknya, dia memundurkan badannya kebelakang, air matanya sudah jatuh kepipinya entah dari kapan, tapi Angga dengan sigapnya langsung menarik cerry kembali,
"STOPPP..." teriak cerry saat Angga mulai ingin mendekatkan badannya,
"Aku tidak akan berhenti cerry, apa kamu lupa kamu masih istriku.." jelas Angga
"AKU BUKAN ISTRIMU LAGI SETELAH KAMU MENGHIANATIKU ANGGA," Teriak cerry sekali lagi, Angga seakan tidak mendengar teriakan cerry, dia lalu semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh cerry,
Angga benar benar gila malam ini, pengaruh alkohol membuat Angga lupa bahwa tujuan awalnya adalah mengancam cerry dengan nama cerry yang sudah jelek dan di cap teledor didalam bekerja, sampai sampai dia harus diblock dari semua perusahaan, Angga hanya ingin membawa masalah ini Kedewan perusahaan yang menanam saham tinggi, dengan bukti itu Angga bisa mengambil perusahaan cerry Tampa harus bersusah payah,
Angga langsung menatap cerry dengan intens, Angga benar benar merindukan cerry malam ini, sedangkan cerry dia masih menangis di bawah kekungan Angga, sekarang cerry sudah hancur dunianya, dia ingin menyalahkan takdir karena membuat cerry menjadi wanita terendah selama hidupnya ini,
"Berhenti Angga, aku akan menandatanganinya, tapi kumohon, jangan lakukan ini.." cerry memohon belas kasihan malam itu kepada Angga, dia berharap Angga masih punya hati nurani seperti dulu,
"Sudah terlambat," jawab Angga langsung mencium bibir cerry dengan paksa, cerry meronta dan mencoba kabur, tapi Angga sudah mengunci tangannya diatas dan menindih kakinya,
"Akhhh.. siettt.." teriak Angga tiba tiba, ternyata Cherry menggit bibir Angga hingga berdarah..
PLAKKKK.. Angga menampar cerry dengan keras,
"Jangan sok jual mahal, dan tidak perlu berpura pura suci, semua yang didiri kamu sudah pernah aku lihat dan aku cicipi, jadi percuma kamu sok jual mahal disini.." ucap Angga marah, dan langsung merobek mini top cerry dengan kasar, bahkan sampai terkoyak tak terbentuk lagi
cerry menangis karena takut, tapi Angga tidak peduli dengan tangisan cerry, dia masih menikmati kegiatannya, mencari kepuasan sendiri didalam tubuh Cerry, hingga beronde ronde hanya Angga yang menikmati, tidak ada kepuasan untuk Cherry, tangisan Cerry menjadi melodi untuk Angga, hingga menjelang pagi, Angga baru memberhentikan kegiatannya, cerry rasanya ingin mati malam itu, dia merasa sudah sangat kotor, bahkan lebih kotor dari seorang pela***..