Cintaku terbelenggu keadaan.
Setiap orang memiliki cinta.. entah manis pahit, susah senang, cinta tetaplah cinta tak akan pernah berubah sampai kapanpun.
Ryana adalah anak tomboy, cuek, tegas, tapi dia bisa jadi teman yang sejati.
Persaudaraan, persahabatan, percintaan dan penghianatan, mewarnai kisah hidupnya.
Garis nasib yang membelengguhnya membuat dia kuat menghadapi tantangan...
Kisah cinta menjadi bumbuh dalam perjalanan mencari kebahagiaan sejati.
Tapi mungkinlah itu dia dapatkan?
Permainan rasa dalam hati akan membuat segalanya indah dan pahit manis hidup membawa kesuksesan.
Kata pepatah, akankah itu mampir dalam hidupnya?
cinta.. cinta.. dan cinta...
Kisah manis Ryana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belenggu Cinta
" Raga, apa kabar?".
" Oh hai Can, aku baik. Kamu sendiri gimana, baik juga kan?"
" Iya, aku baik Ga. Emh, ada waktu gak Ga nanti siang? ada yang mau aku bicarakan".
" Nanti siang ya, aku lupa tadi belum lihat scedule. Ada hal penting kah?"
" Iya penting, tapi ini menurutku sih tidak tau buat kamu."
" Kalau gitu lihat nanti saja, gimana-gimananya nanti aku kabari lagi ya Can".
" Iya, bener ya Ga aku tunggu lo".
" Pasti."
Aku melangkah pergi setelahnya, jujur saja kecewa itu masih ada. Aku tau selama menjalin hubungan dengan nya aku masih menyimpan rasa untuk orang lain, orang yang hadir di masa laluku. Tapi sebisa mungkin aku mencoba untuk jatuh cinta pada Cantika, aku sangat berharap dia bisa membuat ku melupakan masa lalu itu.
Tapi semua kenyataan tak seindah mimpi dan harapanku, dia pergi juga bersama laki-laki lain yang lebih mapan dan lebih segalanya dariku.
°°°°°
" Yan, gimana hasil kunjungan kemarin?" Raga mendekat dan duduk di pojok meja kerjaku.
" Aman kok Ga, itu sebenarnya kesalahan tim audit akhir. Harusnya kwitansi laporan masuk laporan per tiga bulan tapi keliru mala masuk laporan mingguan." Jelasku
" Eh busyet kan, kita capek-capek juga. Dikerjain nih kita sampai lembur."
" Hahah, anggap saja latihan saat kita hadapi masalah begitu lagi kita sudah siap." Ucapku sambil mencari-cari tas kecil tempat aku meletakkan oleh-oleh untuk teman-temanku.
" Dih, jangan lagi ada yang begituan terulang lah. Lue mah enak, bisa kunjungan kerja sekaligus liburan nah kita-kita disini masih rempong". Sewotnya
" Emang ada masalah apa saat aku gak ada kemarin Ga?, bukan masalah serius kan?."
" Huuf gak ada yang terjadi, semua aman terkendali."
" Lalu, kenapa kamu sensi begini?, ada masalah? mau berbagi dengan ku Ga?."
Raga hanya menatapku tanpa bersuara, aku lihat dia seperti menyimpan suatu masalah tapi entah apa aku tidak bisa menebaknya
" Pagi semua, wow Yan. Sudah masuk kerja, emang gak capek ya ?."
" Dih capek apaan dia Ci, yang ada tiga hari kemarin dia santai aja tuh kerjanya. Jalan-jalan pasti dia, melupakan kita yang disini berjuang menghadapi kertas dan laporan." Raga menjawab dramatis
" Lebay kau ." Ku pukul tumit Raga dengan map yang memang sedang aku pegang
" Enak dong ya, bisa bekerja sekaligus jalan-jalan." Suci menaggapi serius ucapan Raga
" Percaya kali kamu sama omongan Raga Ci."
" Oleh-oleh buat ku ada kagak Yan?."
" Itu dia Ga, dari tadi aku cari tas kecil tempat oleh-oleh buat kalian, tapi kok kagak ada ya sekarang."
"Aish, bilang aja lue emang kagak beli Yan. Langsung aja bilang lupa kami rela kok, gak usah pakai drama."
" Eh busyet mulut Ga, beneran aku bawa kok tadi tapi lupa taruh dimana dah."
" Lue naik apa tadi pagi emang?"
" Naik, astaga iya" Aku memukul jidat ku pelan
" Ketinggalan di mobil AL." Cengirku
" Dasar nenek sihir Lue." Raga pura-pura mau memukulku , diiringi gelak tawa Suci.
" Sorry, beneran lupa aku." Ku tangkupkan kedua tangan didada sebagai permintaan maaf ku buat mereka
" Aih, serius amat Lue Yan. Gue becanda kali, gak ada oleh-oleh pun tidak apa-apa asal lue dah balik kerja. Kesepian aku kemarin tau gak."
" Lebay banget sih." Aku kembali memukul tumit Raga
" Kangen tau kalau tim kita ada yang gak masuk sepi banget ini ruangan ya Ci?".
" Iya, cuma ada suara keyboard aja."
" Benarkah?, ulu-ulu sini jangan merajuk jelek tau." Aku merentangkan tangan memeluk Suci
" Nah, aku jadi bagian terlupakan kan."
Aku merentangkan sebelah tangan ku diikuti Suci, memberi ruang buat Raga bergabung. Bagai Teletubbies kami berpelukan.
" Hem, saya mengganggu kah?"
Kami melepas pelukan saat terdengar suara dibelakang kami.
" Sepertinya ada sesuatu yang menyenangkan hingga kalian berpelukan seperti ini."
" Maaf Pak, kami sedang bahagia saja karna Yana sudah kembali bekerja, terus terang tiga hari kemarin ruangan ini sepi." Raga menjawab, sementara tubuhku kaku. Aku takut akan ada kesalahfahaman lagi, bagaimanapun Raga laki-laki.
" Benarkah?."
" Iy, Iya Pak benar apa yang dikatakan Raga, kami lagi bahagia saja." Suci pun bersuara
" Benar juga, aku saja yang baru berpisah beberapa menit sudah sangat merindukannya."
Eh, apaan ini. Huf AL kau membuat aku takut dan was-was, tapi mala membuat lelucon.
" Boleh aku membawanya sebentar?, hanya sebentar."
Aku menatap AL bingung.
" Ini aku rasa oleh-oleh buat kalian, tertinggal di mobil." AL menyerahkan tas kecil itu pada Raga
" Ayo". AL mengandeng tanganku keluar ruangan.
" Ada apa AL, sepertinya penting."
" Iya penting banget mala."
AL membawaku masuk keruangannya, membawa ku duduk di sofa pojok.
" Tunggu bentar Yank."
AL menuju ke meja kerjanya, mengambil sesuatu di laci dan membawanya kembali ke arahku.
" Bacalah."
" Ini? benarkah AL?." Aku bertanya dengan tak percaya.
Sebuah tes DNA, entah lah aku bingung bagaimana harus menyikapi ini semua.
" Aku baru saja menerima laporan nya, kaget jelas tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi Yank."
" Kita kasih tau atau gimana ini? aku bingung juga AL."
" Tapi apa mungkin semua lepas dari pengawasan."
" Maksudnya gimana AL?, aku kurang faham sekarang."
" Seperti aku mengawasimu selama ini Yank, makanya aku bingung kenapa bisa kecolongan begini."
" Untuk sementara kita rahasiakan dulu ini sayank, aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu." Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan AL.
°°°°°
" Hallo Can, aku ada waktu sambil makan siang nanti. Gimana kamu bisa tidak? karna setelah itu aku ada acara lain di luar."
" Ok Ga, kamu kirim alamatnya saja nanti aku datang."
" Usahakan jangan terlambat, karna waktu ku gak banyak. Ada rapat nanti setelah makan jam makan siang."
" Iya Ga, tenang aja aku akan datang lebih awal kok."
" Ya sudah sampai ketemu nant." Raga menutup telfone nya tanpa salam, sesuatu yang sangat jarang dia lakukan
" Ada apa Ga?, mau cerita?."
" Nanti setelah makan siang, aku ceritain semuanya. Untuk saat ini aku hanya bisa bilang nanti siang aku tidak bisa makan bareng kalian."
" Ada acara?"
" Hem, Cantika ngajak makan siang bareng. Oh tidak dia ngajak bertemu dan bicara tepatnya, dan aku sanggupi nanti jam makan siang. Lebih cepat lebih baik bukan? biar semua cepat kelar." Emosi, ya aku melihat emosi itu dimata Raga.
Dua kejutan sepanjang pagi hingga siang ini membuat otakku berfikir keras, tapi tetap saja tak pernah ada jawaban yang aku dapat kan.
Semoga semua segera berakhir, batinku hanya bisa melirih menghadapi kenyataan sepanjang waktu yang penuh dengan rasa sakit.
°°°°
TBC guy's..
Mohon dukungan
°like , komen, rate dan favorit nya
°Terimakasih & love you all
apa mungkin masih org yg sama 😂😂