Kekerasan yang dialami mawar dimasa kecil
membuat nya terperangkap dimasa lalu nya.
sehingga menjadikan diri nya seperti setangkai mawar yang tak bisa disentuh
penghinaan yang diterima Putra telah mengikis semua harga dirinya. Bahkan perceraian nya pun menyandarkan nya pada kenyataan pahit.
bisakah sebentuk ketulusan membalikan hidup mereka?
hanya cinta sejati yang bisa menyembuhkan luka. bersediakah mereka berjuang bersama untuk melepaskan diri dari kelam nya masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kevin N Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar 16
Terdengar suara tepukan tangan dari orang-orang sekitar mereka yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran tersebut. Beberapa orang memandang kagum pada putra dan sebagian memandang jijik pada susan. Sementara susan sendiri ternganga, sama sekali tidak menduga reaksi putra akan begitu gigih melindungi mawar.
Mawar pun terkesima dengan ucapan putra yang begitu lantang.
"Aku sangat lelah, bisa kah kita pulang saja, sayang?" bisik mawar lirih.
"Tentu saja, apapun untukmu sayang. Ayo!" ajak putra dengan menarik tangan mawar lembut.
°°°°
Putra mengemudikan mobil tanpa tujuan, karena pikirannya terbagi antara kepadatan jalanan dan wajah muram mawar. Sejak keluar dari pesta itu tidak ada pembicaraan antara mereka. Putra yang mulai lelah dengan sikap diam mawar akhirnya menghentikan mobil di depan sebuah cafe.
"Kita minum dulu disini, aku haus dan lelah." ujar Putra.
Bukan lelah fisik, namun lelah psikis. Dia tidak habis pikir untuk apa mawar memikirkan ucapan susan yang tidak benar. Dan sepertinya mawar tidak mengerti ucapan yang sudah dia katakan tadi di sana.
Mawar terpaksa turun dari mobil mengikuti putra. Mereka mengambil tempat duduk di sudut cafe. Seorang pelayan datang. Dan karena mawar hanya diam saja, putra berinisiatif memesan.
"Tolong kopi hitam untukku dan semangkuk es krim coklat untuk gadis di depan ku ini." ujar putra pada pelayan itu.
Dengan menarik nafas putra berkata.
"Kau marah padaku karena aku memeluk mu? Ku kira kita sudah sepakat." kata putra sambil menggenggam tangan mawar.
Mawar tertunduk lama dan akhirnya menjawab.
"Aku tidak marah padamu." jawabnya.
"Lalu? Pada susan?" tanya Putra lagi.
"Untuk apa aku marah padanya, yang dia ucapkan benar." dengan mata berkaca-kaca mawar menjawab sambil memalingkan wajahnya.
Gadis bodoh! Apa kau tidak pernah memperhatikan ucapanku? Apa otakmu terbuat dari karet. Hingga kau tidak mengerti apa yang aku ucapkan tadi dan semua yang aku lakukan untukmu.
Dengan frustasi putra menyisir rambutnya kebelakang.
"Mawar kau boleh marah untuk semua perkataan susan terhadapmu." kata putra.
"Tidak ada yang salah dari ucapan mantan istrimu itu. Dia tau apa yang terjadi dengan pernikahan kita. Aku memang membayarmu agar kau mau menikahi ku, dan aku juga pernah gila itu benar. Aku memang bodoh karena mengira tidak ada yang akan tau. Padahal orang lain pasti bisa menduganya. Tidak mungkin pria tampan dan terpelajar seperti dirimu mau dengan wanita gila bertahun-tahun." ujar mawar putus asa, sungguh dia merasa rendah diri.
Putra diam tidak mampu berkata-kata, entah dia harus apa untuk membuat gadis didepannya ini mengerti, bahwa dia benar-benar mencintainya.
"Apa aku harus menciumnya?" pikir putra frustasi.
°°°°°
Putra mengepalkan tangannya dibawah meja, tidak tahu lagi harus melakukan apa. Mungkin dia harus mencium mawar dan megatakan betapa dia tulus mencintai gadis itu, agar mawar tau yang sesungguhnya. Tapi bukankah itu tindakan ceroboh? Lagi pula kalau putra melakukan itu sekarang dengan suasana hati mawar yang mendung, pasti mawar tidak akan percaya. Mawar akan mengira putra hanya kasian saja.
"Aku lebih mengenalmu, tidak penting apa yang orang katakan, yang kau nikahi hanya aku bukan? Jadi kau hanya perlu mendengarkan pendapat ku tentangmu." ujar putra.
Pelayan datang membawa minuman pesanan mereka dan selembar bon dan langsung dibayar putra.
"Kau selalu menghiburku, tidak terbayang jika harus melalui semua ini tanpamu." jawab mawar sambil tersenyum menatap putra.
"Aku ada di sini untukmu. Kau bisa mengandalkanku dalam keadaan apa pun," kata putra lega setelah melihat senyuman mawar.
Putra menghirup kopinya, aromanya sungguh membuatnya lebih rilex. Sambil meminum kopinya putra berfikir harus melakukan sesuatu untuk membuat mawar kembali lebih ceria lg. Terlintas ide di kepalanya.
"Tunggu sebentar di sini, aku akan segera kembali." ujarnya sambil berlari meninggalkan mawar yang terkejut.
"Mau kemana dia? Dia tidak berfikir untuk meninggalkanku di sini kan?" batin mawar cemas.
Putra berlari ke toko boneka dekat cafe.
"Aku mau boneka beruang coklat itu, dan bisa kah kau antarkan pada gadis cantik di cafe sana? Kau tidak akan susah mencarinya, karena dia gadis tercantik di sana." tolong!" tunjuk putra pada boneka beruang ukuran lumayan besar.
"Tidak masalah, pak. Selama ada uang tipnya." jawab pria karyawan toko itu.
Putra mengangguk.
"Boleh pinjamkan aku polpenmu?"
Putra menuliskan beberapa kalimat di kertas dan memberikan pada pria itu, untuk diberikan kepada mawar dan beberapa lembar uang pada pria itu.
"Tolong antarkan pada gadis bergaun merah di sana." ujar putra lagi sambil membayangkan expresi mawar nanti.
"Siap pak!" jawab pria itu cepat dengan setengah berlari menuju cafe tersebut.
Selesai dengan urusan hadiah, putra melangkah kan kakinya menuju toko kue.
Sementara di cafe, mawar mengerutkan kening ketika seorang pria memberikan dia boneka lumayan besar untuknya. Pria itu bahkan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya memberi boneka itu dan berlalu pergi.
Sejenak mawar tersenyum melihat boneka beruang, sungguh mengemaskan menurutnya. Selembar kertas terselip di kalung kecil si boneka. Penasaran, mawar menariknya, lalu membaca nya.
Jangan takut, jangan sedih
Ada aku di sini
Peluk lah aku, kau bebas melakukan apapun terhadapku. Tersenyumlah!
Dari pria tertampan di perkebunan,
Putra
°°°°
Mawar tidak dapat menahan senyumnya, sungguh ini hal termanis yang pernah dia dapatkan. Dengan sebelah tangan menyembunyikan kue di balik punggungnya, putra melangkah mendekati mawar yang sedang senyum-senyum sendiri dengan memeluk bonekanya.
"Kuharap nona cantik ini menyukai hadiah kecil dari pengemarnya." ujar putra.
Mawar menatap wajah putra, senyuman tidak luntur dari bibirnya.
"Terimakasih putra, aku suka sekali boneka ini, aku tidak pernah punya bahkan satu pun." jawab mawar.
Hatinya lega dan senang mendengar mawar menyukai pemberiannya. Gadis itu sangat pandai menghargai dan berterimakasih untuk hal-hal kecil.
"Tapi aku sedang tidak berulang tahun, jadi untuk apa kau memberikan aku hadiah?" tanya mawar.
"Tidak perlu menunggu momen tertentu untuk memberikan sesuatu pada orang terkasih." jawab putra lembut.
"Terkasih? Apa maksudmu? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
Putra berlutut dihadapan mawar dan mengenggam sebelah tangan mawar.
"Mawar mau kah kau menjadi pacar sekaligus kekasihku?" tanya putra dengan jantung yang berdebar begitu keras hingga terasa seolah-olah ada yang memukul dadanya.
"Kumohon jangan tolak aku, biarkan aku menunjukkan padamu betapa aku menyayangimu." batin putra.
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
Maafkan baru bisa up sekarang temen-temen Lagi banyak kesibukan. oyah jika kalian berkenan memberikan gift nya minimal setangkai mawar pun tak apa hehe
°Terimakasih
semoga kalian bisa saling memberi kebahagia dan kenyamanan..