DALAM TAHAP REVISI
AUTHOR GAK JAMIN CERITANYA BAKAL SERU
KALAU PENASARAN SILAHKAN DIBACA
Arkan dan Arta si pria cupu dan gadis cacat di persatukan dalam ikatan pernikahan untuk menyelamatkan nama keluarga kedua belah pihak lebih tepatnya menyelamatkan nama keluarga Arkan dan mantan tunangannya yang merupakan sepupu Arta.
Arta dahulu gadis yang ceria dan cantik hingga sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya mengubah segala hal dalam hidupnya.
Ia harus hidup terpisah dari sang kakak yang memiliki kepribadian ganda akibat kejadian di masa lalu, ia tinggal bersama keluarga Mahendra adik dari sang Ibu yang telah berpulang.
Bukannya disayangi, Arta justru mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental di rumah itu, tak sampai disitu ia harus mengganti posisi sepupunya uuntuk menikah dengan Arkan karena pria cupu itu telah jatuh miskin.
Namun, ada rahasia dibalik semua kejadian yang mereka alami bahkan identitas keduanya adalah rahasia terbesar yang mereka simpan selama ini.
Sang kakak menaruh curiga pada keluarga Mahendra menyebabkannya mencari tahu penyebab kecelakaan keluarga mereka.
Kejadian demi kejadian saling bertautan, merangkai puzzle menjadi satu gambar yang utuh.
Kisah cinta mereka telah diulai, misteri dibalik kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya akan diungkapkan oleh alter ego sang kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan dan Kart
Setelah melalui beberapa kejadian tak terduga, akhirnya hari pernikahan Arkan dan Arta pun tiba.
Keluarga Whitegar terkejut mengenai sosok Arta yang ternyata adalah wanita misterius di balik berkembangnya Star Company.
Kedua anak kembar yang diselamatkan oleh Arkan dan Arta juga diterima dengan baik oleh keluarga Whitegar, bahkan Papa George dan Mama Lily sudah menganggap si kembar ajaib itu sebagai cucu kandung mereka, bagian dari keluarga besar Whitegar.
Setelah menikah, Arta dan Arkan akan resmi menjadi orang tua angkat si kembar. Mereka berdua telah membulatkan hatinya untuk mengadopsi keduanya. Tentu melalui beberapa proses yang sudah diurus oleh keluarga Whitegar agar di kemudian hari tidak ada yang semena-mena dengan kedua anak itu.
Pernikahan keduanya pun dilaksanakan dengan sangat sederhana sesuai permintaan kedua mempelai. Arkan yang traumanya bisa muncul kapan saja dan Arta yang tak ingin identitasnya terbongkar memilih hanya mengadakan resepsi kecil saja agar tak terlalu mencolok.
Setelah semua urusan selesai, barulah mereka melakukan resepsi yang lebih mewah.
Hari itu seluruh tamu undangan telah tiba. Arta menantikan kehadiran sang kakak namun apa boleh buat, kakaknya mungkin tak bisa hadir itulah yang dipikirkan Arta. Hatinya sedih mengingat si kembar juga tak bisa hadir karena sedang dalam perawatan untuk luka-luka di tubuh mereka. Si kembar membutuhkan perawatan intensif untuk fisik dan psikis mereka, trauma akibat penculikan serta kejadian mengerikan yang menimpa mereka membuat tubuh mereka melemah. Arkan dan Arta takut jika mereka membawa si kembar, maka denganmudah musuh-mush mereka membahyakan nyawa anak-anak mereka.
"Huft pernikahan yang menyedihkan," lirihnya, Arkan melihat ekpresi Arta yang begitu sendi, digenggamnya dengan lebut tangan kecil itu sambil tersenyum manis ke arahnya.
"Maaf pesta kita sesederhana ini, nanti aku janji nanti jika saatnya sudah tiba kita akan merayakannya dengan seluruh orang terdekat kita," ucap Arkan sambil menatap Arta dengan lembut. Arta mengangukkan kepalanya, kini ia merasa lebih tenang setelah dihibur oleh Arkan yang mengunjungi di ruangan mempelai perempuan.
Acara pemberkatan pernikahan segera di mulai. Arkan telah berdiri di depan Altar menunggu mempelai wanitanya. Arkan mengenakan stelan jas yang membuatnya tampak gagah namun juga masih dengan kesan cupu karena kacamata dan behel yang bertengger diwajahnya.
Arta digiring oleh pengacara keluarga Kartier yang adalah paman Arta sebagai wali Arta.
"Kemari nak!" ucap pria paruh baya yang biasa dipanggil Pak Bram itu.
"Terimakasih Om" ucap Arta tersenyum manis.
Kini Arta berjalan memasuki Altar sambil menggandeng Pak Bram. Dia tampak cantik dengan gaun putih yang pas ditubuhnya dengan turtleneck tanpa lengan dipadukan dengan make up tipis yang masih menampakkan cacat di wajahnya.
"Cih, pernikahan paling miskin sedunia," ejek Tania menatap Arta jijik.
"Ssst pelankan suaramu," bisik Mama Fanya.
Saat Arta berjalan menuju Altar tiba-tiba seseorang berteriak.
"Tunggu!" teriak seorang pria tampan dengan stelan jas rapih berlari menghampiri Arta dan Pak Bram, semua orang menoleh ke arah pria berambut blode itu, siapa pria ini itulah pikiran mereka.
"Kakak!" ucap Arta terkejut.
"Paman Bram bisakah aku yang mendampingi gadis kecilku ini?" pinta Pria yang adalah Roki itu.
"Tentu Roki, dampingilah dia," seru Pak Bram menyerahkan tangan Arta pada Roki.
"Terimakasih Om, Ayo gadis kecilku!" sahut Roki menerima tangan Arta.
"hiks hiks kupikir ini akan menjadi pernikahan paling menyedihkan karena kakak tak ada disni. Terimakasih Kak Roki!" tangis Arta menatap pria disampingnya itu.
"Hush jangan menangis dek, kakak akan selalu mendampingi gadis kecil kakak ini" ucap Roki seraya menghapus air mata Arta.
"Terimakasih kak" ucap Arta tersenyum.
Mereka pun berjalan menghampiri mempelai laki-laki yang sudah menunggu di depan Altar.
Roki menyerahkan tangan sang adik kepada calon suaminya.
"Bro! please jaga adek gue, jangan sampai dia menangis karena kurang perhatian dari suaminya, jangan sampai dia sedih, jangan sampai dia kecewa, gue titip gadis kecil gue ke Lo sahabat gue" ucap Roki.
"Gue Janji kak bakal bahagiain Arta, doakan rumah tangga kita diberkati sama Tuhan" balas Arkan dengan yakin.
Arta meneteskan air matanya mendengar penuturan kedua pria itu. Sungguh waktu cepat berlalu kini dia akan menikah dan menyandang status istri.
Janji suci pun diikrarkan, pemberkatan pernikahan telah usai. Kini tiba saatnya pelaksanaan resepsi pernikahan.
Namun saat mengganti pakaian, keduanya dikejutkan dengan pakaian bak pangeran dan putri yang harus mereka kenakan. Padahal sebelumnya pakaian yang mereka pilih untuk resepsi terbilang sederhana.
Arkan tampil dengan stelan jas navy blue memperlihatkan kegagahan seorang Arkan serta riasan yang lebih mempertegas wajah tampan dibalik kacamata itu.
Arta mengenakan dress nan indah berwarna senada dengan Arkan, rambutnya disanggul tinggi menampakkan leher jenjang dan mulus miilik gadis itu. Wajahnya di poles make up hingga bekas lukanya tersamarkan dengan foundation.
Arta tampak sangat cantik dengan gaun dan riasan itu. Arkan yang melihat istrinya itu tertegun dengan kecantikan Arta yang tak pernah ditunjukkan ke orang lain. Begitu pun Arta ia tertegun dengan ketampanan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Cantik" ucapnya menatap Arta yang dibalas senyuman kikuk oleh Arta.
Mereka kemudian dibawa menuju tempat resepsi di sebuah hotel dengan taman terbuka.
"Loh kok kita kesini kak?" tanya Arta bingung melihat tempat resepsi yang seharusnya di dalam salah satu ruangan hotel. Tapi mereka malah dibawa ke sebuah taman yang telah dihiasi dengan indah.
"Kakak juga nggak tahu Ar" balas Arkan sama bingungnya.
Saat mereka sampai para tamu yang jumlahnya lebih banyak menyambut kedatangan mereka dengan meriah. Terlihat orang-orang kepercayaan Arta dan Arkan turut hadir disana sebagai tamu namun tetap menyembunyikan identitas mereka. hanya orang-orang khusus yang diberi akses masuk ke dalam acara penting itu untuk menjaga keamanan identitas serta kenyamanan kedua mempelai.
Roki maju ke panggung, namun ada yang berbeda dengan pria itu. Matanya berwarna biru dan style lebih keren dari biasanya.
"Mari kita sambut raja dan ratu sehari kita!" ucap Roki dengan suara lebih berat dari biasanya.
Arta yang mendengar suara itu langsung mengamati Roki dengan seksama. Dia membelalakkan matanya tak percaya, ada rasa haru dan bahagia melihat pria itu.
"Kak Kart!" teriak Arta bahagia.
"Maksud kamu?" tanya Arkan bingung.
"Dia Alter ego-nya (kepribadian ganda) kak Roki, dia Kart" jawab Arta berbinar-binar karena sudah lama ia tak bertemu dengan Alter ego Roki.
Arkan memang pernah mendengar cerita Roki tentang alter ego-nya tapi tak pernah bertemu dengannya.
Kart turun dari panggung lalu berjalan sambil merentangkan kedua tangannya dan dibalas pelukan oleh Arta.
"Kak, Arta rindu" lirih Arta dalam pelukan Kart.
"Hei gadis kecilku rupanya rindu. Hahahah salahkan Roki yang tak mau tidur itu" seru Kart memeluk erat Arta sambil mendaratkan beberapa kecupan di pucuk kepala gadis cantik itu.
"Hei kau Arkan kemarilah!" perintahnya dengan menatap tajam ke arah Arkan.
"i iya kak" ucap Arkan canggung dengan tatapan tak biasa dari pria itu.
Kart mengambil tangan Arta dan Arkan lalu menyatukannya. Dia menatap tajam ke arah Arkan, yang di tatap tidak takut namun masih dengan mode hormat dan sopan walau sebenarnya risih dengan tatapan itu.
"Kenalin gue Kart! Gue jauh-jauh datang kesini buat ngadain surprise untuk gadisku ini. Sampai gue maksa biar Roki istirahat dulu sedangkan gue mengambil alih tubuhnya" jelas Kart dengan suara khas nya.
"Arta Chan Kartier, gadis paling cantik, baik dan lembut yang pernah ku kenal. Sekarang Lo udah bukan anak-anak lagi, jadilah istri yang menurut pada suami, jadilah wanita yang cerdas saat bekerja dan jadilah ibu yang kuat buat anak-anak kalian kelak" ucap Kart memandang Arta.
"Arkan Lukas Whitegar, Sahabat Roki pemilik tubuh ini, Lo udah jadi kepala keluarga sekarang! Jangan sampai Arta merasa kesepian karena Lo lebih milih pekerjaan dan dunia Lo bahagiakan dia" ucap Kart menatap Arkan dengan intens.
"Dan satu lagi, please kalau Lo bosan atau gak mau punya hubungan dengan Arta gue mohon sebagai seorang Kart yang tidak pernah memohon dalam hidup ini, jangan sampai Lo pukul atau sakitin dia. Kembalikan gadis kami baik-baik dan gue bakal bahagiain dia" tambah Kart dengan nada memohon yang memang tak pernah dilakukan sebelumnya.
"Gue Janji di hadapan Tuhan akan menjaga dan melindungi Arta, gue gak akan buat dia kecewa dan gue harap cinta segera tumbuh dalam pernikahan ini" ucap Arkan membalas pernyataan Kart dengan yakin.
Arta meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya. Dia merasa benar-benar bahagia memiliki orang-orang yang mengasihinya serta seorang suami yang berani berjanji untuk membahagiakannya.