❌Dilarang promo, bukan areanya ❌
Follow ig author 👉 Yellow_bitz
Mungkin diluar sana tidak tau apa rasanya memang benar "mencintai" atau sekedar "nafsu"......
Ini dialami oleh gadis manis, Silvia Salmanira, ia yang awalnya bahagia dengan pernikahan tantenya, Mira.
Tetapi yang dibahagiakan menjadi bencana, om nya sendiri, Queretta Thomas, melakukan hal bejat yang mungkin akan membekas seumur hidup pada kehidupan Salma.
Akankah ada titik terang dari kelamnya hidup Salma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow_bitz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21: Menghiburmu
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Pov author
Salma duduk di bangku yang ada diwarung, ia duduk disebelah bapak bapak yang sedang mengobrol sambil memakan gorengan.
Salma memesan semangkuk mie dan memakannya, ia merasa mual, karena ada osengan telur di mie tersebut.
"Salma ya? " Tanya salah satu bapak yang ada disebelahnya, Salma menganggukan kepalanya.
"Kenapa magrib begini belum pulang ke rumah? Nanti dicari sama mama kamu lagi"
"Ngga pak, saya sudah izin"
"Oalah, anak perawan ngga boleh keluyuran magrib begini, pamali"
Salma meringis dalam hati ketika bapak itu menyebutnya anak perawan, kalau saja bapak itu tau Salma tidak lagi perawan dan sedang mengandung, mungkin bapak itu akan jantungan.
"Udah pulang aja nak, nanti dicari sama mamamu lagi, repot" Ucap pemilik warung tersebut, Salma membayar makanannya dan segera pergi.
"Salma!"
Salma mengenal suara itu, itu adalah tantenya.
"Ya ampun Salma... Kamu kemana magrib begini? "
Salma menggelengkan kepalanya, ia hanya merangkul lengan Mira dan meminta maaf.
"Udah, lainkali jangan keluar magrib begini, anak perawan ngga boleh keluar magrib, pamali! "
Salma menganggukan kepalanya, ia memeluk tante nya sambil menuju arah pulang ke rumah.
Sebulan kemudian, hari dimana nilai hasil ulangan terpampang jelas di mading kampus, Salma terkejut bukan main melihat nilainya.
.
Pov Salma
Nilai ku paling bawah, aku tidak sanggup melihat nilaiku, aku tidak percaya.
"Sal, nilaimu kenapa sampai anjlok begini? Kan kamu biasanya sangat berprestasi dengan nilai ini.... "
Aku tidak tahan sehingga aku mengeluarkan air mataku, aku takut jika orang tuaku tau nilaiku.
"Kamu kenapa Salma? Kamu ngga biasanya seperti ini... Bapak bahkan kagum sama semua pencapaian kamu selama kamu mengikuti jurusan ini, kenapa sampai anjlok begini? "
Aku menggelengkan kepalaku, aku hanya bisa menangis saat pak Doni bertanya denganku.
"Mau bapak hubungi orang tuamu kalau selama ini kamu banyak bengong pada bimbingan bapak? "
"Jangan pak.... Jangan beritahu mama dan papa.... "
"Terus bagaimana? Kamu kemarin sudah dikasih tau, jangan banyak melamun, kalau begini kamu ngga bisa lulus semester ini dan nilai IP mu ngga sesuai yang diinginkan"
Aku tidak tau ingin berkata apa apa, pikiranku kacau sekarang.
"Sudah, sekarang kamu pulang dan bawa surat ini, bapak mau bertemu dengan orang tuamu besok"
Aku hanya mengangguk pasrah, beginilah aku sekarang, tak berdaya.
Aku keluar dari ruangan pak Doni, hidupku sekarang tidak berarti, hasrat hidupku telah hilang, rasanya ingin pergi jauh jauh.
Aku sudah tidak niat ingin kuliah lagi, karena aku sudah menjadi seorang ibu, aku kini hanya fokus dengan anak didalam perutku, entah apa yang akan terjadi kemudian.
"Akankah kamu lahir tanpa ayah nak? "
.
Pov author
Bel berbunyi, Salma dengan perasaan tidak semangat membereskan barang barangnya, ia hanya murung dan tidak lagi memiliki hasrat hidup.
"Bee"
Salma mendengar Brian memanggilnya, ia menjauh dari Brian dan langsung saja pergi.
"Bee, kamu kenapa? "
Tangan Salma ditahan oleh Brian, membuat Salma menghempaskan tangannya dari genggaman Brian.
"Kamu kenapa? Nilaimu? "
Salma menganggukan kepalanya, ia menangis dan berjongkok.
"Bee"
Brian berjongkok dan memeluk Salma, ia tau bahwa nilai Salma tiba-tiba anjlok.
"Sudah, kamu kuat bee, ayo kita jalan jalan sebentar sebelum kamu pulang"
Salma menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin berjalan jalan disaat dirinya sedang banyak beban pikiran.
"Ayo bee, jalan jalan sebentar membuat kita jadi sedikit lega... "
Brian membujuk Salma dan membuat Salma hanya pasrah.
"Iya, sebentar saja.... "
Brian menggandeng tangan Salma dan merangkul bahunya, ia ingin menghibur Salma agar rasa takut Salma tidak berlebihan.
Dijalan, Brian mengendarai motornya dan mengajak Salma mengobrol, tetapi Salma hanya diam dan kepalanya saja yang merespon.
"Bee, kita cari makan yuk"
Salma hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku mau pulang... "
Brian melihat ekspresi Salma yang murung, membuatnya ikut sedih.
"Kamu pastinya laper, ayo kita cari makan"
Brian menambah kecepatannya, ia berencana mengajak Salma ke arah pantai dan makan seafood disana.
Sesampainya di pantai, Salma turun dan melihat ke arah pantai, indah dan cerah sekali, rasanya ia ingin menginjak pasir pantai itu.
"Nanti kita kesana ya bee"
Salma menoreh pandangannya ke arah Brian, ia menganggukan kepalanya.
"Makan dulu ya, biar ngga kecapekan"
Mereka berjalan ke stan seafood, Salma duduk dan memesan udang asam manis.
"Pantainya bagus"
Brian tersenyum dan menatap Salma, setelah itu datang pesanan seafood mereka.
Salma memakan seafood itu sambil menatap derai ombak yang membentur bebatuan, membuatnya makan dengan tenang.
"Bee, kamu kenapa kemarin? "
Salma terhenti, karena Brian masih bertanya hal kemarin.
"Tidak.... Aku tidak..... "
"Ngga mungkin ngga ada masalah. Jujur saja bee, aku janji jaga rahasia kok...... "
Salma hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin memberitahu semua yang ia rasakan saat ini, termasuk ia sedang hamil.
"Masalah keluarga kok, kamu ngga usah tau..."
Brian menganggukan kepalanya, ia juga tidak boleh tau urusan keluarga Salma, tetapi ia hanya bisa menghibur Salma.
"Ayo kita ke pantai, aku ingin menginjak pasir itu" Salma berjalan ke arah pantai, ia ingin sekali menenangkan dirinya dengan menginjak pasir pantai.
"Auhhh panas"
"Pakai saja sendalmu bee, cuaca terik dan pasir ini pastinya panas"
Salma menggelengkan kepalanya, ia tetap saja ngotot untuk melepaskan sendalnya dan berjalan ke arah pasir pantai.
"Ini menyenangkan! "
Brian tersenyum melihat Salma, ia akhirnya berhasil menghibur Salma.
"Ayo bee, kesini... "
Salma dengan tertawa lepas memanggil Brian, Brian hanya menggelengkan kepalanya dan ikut melepas sepatu nya.
Pikiran Salma seketika tenang, ia memercikkan air pantai tersebut dan tersenyum, tetapi dengan hati hati dan tidak memastikan dirinya sampai terjatuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣
masak sudah diperkosa,si ceweknya anteng² aja gak mau ngelaporin si prianya,
MALAES X NGELANJUTIN BACA NOVEL INI,
gak realita banget