Update kalo ingat.
NOTE : CERITA INI BIKIN NGAKAK SALTO-SALTO
Sekuel Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
"Roseline, ku perintahkan kau untuk menjadi pacarku!" ucap Navier Alister.
Roseline yang baru saja menjadi sekertaris Tuan Muda Navier hanya terheran. Orang aneh dan idiot seperti Navier menyuruh untuk menjadi pacarnya.
"Tuan muda Navier yang tampan tapi somplak mengajakku berpacaran?" gumam Roseline.
Roseline mundur perlahan ketika Tuan Muda Navier mendekatinya, perlahan lahan semakin dekat, semakin dekat. "Ku tunggu jawabanmu malam ini," ucap Navier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Hukuman
Navier berjalan memasuki mobilnya. Seline memandangnya dari jauh. Rasa kesal terus menghantuinya, Navier memang sedari dulu memang menyebalkan dan bahkan tidak berubah semenjak mereka bertemu.
“Apakah tidak keterlaluan memperlakukan Seline seperti itu?” tanya Ali yang mulai melajukan mobil.
“Dia mempermainkan perasaanku setelah mengambil ciuman pertamaku. Sudahlah, aku juga tidak ingin membahasnya.”
Navier melihat pemandangan dari kaca mobil, ia menerawang jauh sambil melamun. Dia teringat tangisan Darsen saat dikantor tadi tetapi dia tidak ada pilihan untuk menjebloskan Daleon ke penjara. Navier lalu tidak sengaja melihat toko mainan, dia langsung menyuruh Ali untuk mampir sebentar ke toko tersebut.
“Mau apa?” tanya Ali.
“Aku ingin membelikan mainan untuk keponakanku.”
Ali menyunggingkan senyuman.” Kau sudah menganggapnya keponakanmu?”
“Aku sedari dulu memang menganggapnya keponakanku.”
Setelah berhenti ditoko mainan, Navier langsun turun dan masuk kedalam. Dia memilih beberapa mainan untuk Darsen. Sambil memilih mainan, dia bernostalgia saat dirinya masih kecil. Papanya selalu mengajaknya ke toko mainan saat akhir pekan, sungguh masa kecil yang bahagia. Navier mengambil 10 macam mainan dari mulai mobil remot, robot, lego dan lain –lain. Setelah selesai Navier segera membayarnya.
“Ali, tolong bawakan ke mobil!” ucap Navier.
Ali dengan malas keluar dari mobil dan membantu meletakkan semua mainan ke dalam mobil. Setelah itu mereka menuju ke restoran tempat mereka akan bertemu dengan Seina dan Darsen. Sesampainya direstoran, Darsen dan Seina sudah sampai disana. Seina mengira jika Navier berubah pikiran dan akan mengeluarkan Daleon dari penjara.
“Ini mainan untuk Darsen,” ucap Navier.
“Terima kasih,” jawab Darsen pelan.
“Kakak masih berharap jika kau mencabut tuntutan Daleon. Dia tetap kakak kandungmu.”
Navier menghela nafas, ia menggelengkan kepala. Kejahatan tetap kejahatan tidak ada toleransi. “Oh ya, papa ingin bertemu Darsen. Dia rindu dengan cucunya.”
“Aku malu bertemu dengan papa,” jawab Seina.
“Jangan egois! Datanglah ke rumah sakit supaya dia cepat pulih,” ucap Navier.
Navier berdiri dia akan segera menuju ke rumah sakit untuk menjemput papanya pulang ke rumah. Seina meminta ikut dan dia akan berusaha meminta maaf kepada papanya. Akhirnya mereka bersama menuju ke sana. Sejak Sean berada dirumah sakit dia belum bertemu papanya.
**
“Kak Dale?” ucap Navier yang terkejut saat berada diruangan yang merawat ada Daleon disana. “Papa mengeluarkan Kak Dale?” tanya Navier dengan tubuh bergetar.
Sean yang sudah siap untuk pulang menganggukkan kepala, Sean memandang cucunya dia langsung
tersenyum senang. Darsen menghampirinya. Sudah seminggu mereka tidak berjumpa. Navier melirik Daleon yang duduk didepan sang papa, rasa sakit hati menyerang hatinya bisa-bisanya sang papa selalu mengeluarkan Daleon keluar dari penjara padahal Daleon adalah seorang penjahat.
“Sein, kemari! Papa memutuskan untuk segera menikahkan kalian. Maafkan papa yang tidak mengerti situasi ini. Papa merestui hubungan kalian walau sedikit terpaksa mengingat Darsen tidak bisa terus menderita seperti ini,” jelas Sean.
Seina dan Daleon memeluk papanya, mereka sangat berterima kasih kepada sang papa yang sudah merestui hubungan mereka. Navier memandang mereka dengan kesal, nafasnya mulai sesak dan dia kesulitan
untuk bernafas. Navier keluar dari ruangan itu dan disaat bersamaan sang mama berada didepan pintu.
“Navi, kau kenapa?” tanya Mauren.
Navier menggelengkan kepala, dengan langkah tergopoh dia berjalan menjauhi mamanya. Mauren
mencoba mengikutinya tetapi Navier langsung membentaknya. “Jangan ikuti aku! Kalian sungguh jahat kepadaku,” teriak Navier.
“Ada apa, Navi?” tanya Mauren khawatir.
Navier langsung berlari menuju kamar mandi dan Mauren tidak dapat masuk karena itu
kamar mandi laki-laki. Nafas Navier
semakin sesak, dia langsung mencari obat penenangnya. Setelah ketemu dia
memakannya.
Segampang itu papa memaafkan Kak Dale? Papa tidak pernah mengerti perasaanku yang terluka. Sudah dua kali aku hampir mati karena Kak Dale tetapi papa seolah tutup mata.
Setelah beberapa menit nafasnya kembali normal lagi, ia segera keluar dari kamar mandi. Mauren begitu panik dan memeluk putra terkecilnya.
“Kau kenapa, Navi? Ayo kita periksa saja!”
“Tidak perlu, mah. Aku sehat. Ayo kembali ke ruangan papa! Pasti mereka menunggu
kita.”
Navier melepaskan pelukan mamanya dan menggandeng sang mama untuk keruangan sang papa. Wajah tenang Navier selalu mengandung tanda tanya besar. Setelah masuk, Sean langsung duduk dikursi rodanya Daleon mendorong sang papa. Kini mereka kembali ke apartemen.
**
Setelah sampai diapartemen, Sean tersenyum. Keluarganya berkumpul kembali, dia tidak ingin ada pertikaian diantara mereka. Sean menggenggam tangan Seina dan Daleon, Sean tidak menduga jika mereka berjodoh. Dunia memang begitu sempit.
“Pernikahan kalian akan papa adakan besok pagi, lebih cepat lebih baik.”
“Terima kasih, pah,” jawab Seina berurai air mata.
“Oh ya, setelah itu papa ingin kalian menjalankan bisnis papa yang sempat terbengkalai. Papa membangun pusat apartemen dan perbelanjaan. Papa yakin jika kalian bisa melakukannya terutama kau, Dale.”
Navier terkejut, bahka dia tidak mendapatkan apapun. Dia sebatas seorang presdir tetapi hanya sebuah jabatan. Hasil bekerjanya dari pagi sampai malam harus dia bagi untuk semua anggota keluarga.
“Navi, kau tidak kembali ke kantor? Perusahaan tidak akan berjalan dengan sendirinya jika kau masih disini,” ucap Sean.
“Baik.”
Dengan langkah lemas, Navier kembali ke kantor. Dia hanya robot untuk keluarga Adinata yang begitu serakah. Apalagi sekarang perusahaan sedang terombang-ambing karena penanam saham sudah mencabut sebagian saham mereka dan memilih bergabung dengan Lewis Company, sebuah perusahaan terbaru dalam masa pengembangan besar-besaran Navier hanya harus berpikir bagaimana cara mempertahankan beberapa investor
yang masih tersisa.
Setelah sampai di kantor, dia bertemu dengan Seline yang sedang dipermalukan oleh kedua adik tirinya. Mereka terkejut karena Seline rupanya hanya seorang petugas kebersihan.
“Kau mengaku sebagai sekertaris padahal hanya bekerja sebagai petugas kebersihan? Hahaha... bagaimana jika papa tahu yang sebenarnya?” ucap Via.
“Pasti dia jantungan, hahaha,” sahut Gita.
“Jaga ucapan kalian!”
Via mendekati Seline lalu menendang ember dan tumpah di kaki Seline. Seline langsung mendorong Via dan terjadi perkelahian.
“Ada apa ini?” tanya Navier.
Mereka menghentikan perkelahian mereka. Navier menatap tajam Seline. “Kau membuat masalah dengan para tamuku. Sudah sana kembali bekerja lagi!” bentak Navier.
Seline meremas jemarinya, padahal dia tidak bersalah sedangkan Via dan Gita menertawainya.
“Nona Via dan Nona Gita silahkan ke ruangan saya. Asisten saya akan menerangkan semuanya,” ucap Navier lalu berjalan kearah lift dan diikuti oleh kedua perempuan itu.
Seline hanya terdiam, sebuah penindasan yang nyata dari Navier Alister rupanya tidak main-main. Dia hanya bisa bersabar selama bekerja disini, dia akhirnya kembali bekerja mengepel lantai.
Diruangan Ali.
“Kalian kami tolak untuk menanam saham disini apalagi atas nama pacar kalian yang belum sah
menjadi suami. Kami tidak ingin membuang waktu untuk meladeni kalian,” ucap Ali.
“Apa? Kau tidak tahu jika pacar kami orang kaya, kami calon menantu dari Putra Group,” ucap Gita.
“Kaliantidak layak, perusahaan kami sangat besar dan kami benar-benar mencari investor
yang bukan untuk bermain-main saja.” Ali berdiri lalu menyuruh mereka keluar. Gita dan Via merasa terhina karena ditolak mentah-mentah oleh pihak Young Group.
Setelah mereka keluar, Navier langsung menghampiri Ali. Ali menjelaskan jika dia sudah menolak tawaran kedua gadis angkuh itu. Navier menarik kursi lalu duduk didepan Ali.
“Kau melakukan ini untuk melindungi Seline ‘kan? Kau tidak terima jika Seline
diperlakukan seperti itu oleh mereka?” tanya Ali.
Navier tersenyum tipis. “Hanya aku yang boleh menindas Seline karena Seline adalah gadisku.” Navier berdiri. “Cepat panggil Seline untuk menuju ke ruanganku!” ucap Navier.
Navier kembali ke ruangannya, dia duduk disofa sambil menikmati segelas susu hangat.
Setelah ini akan menjadi permainan yang menarik, ia tidak sabar melihatekspresi Seline yang kesal karenanya.
Tok... tok..tok...
Seline membuka pintu, ia langsung menghampiri Navier. Navier memandang baju basah yang dikenakan Seline. Dia tersenyum tipis.
“Kenapa berdiri saja? Cepat lap semua barang-barang disini!”
“Baik, tuan.”
Seline mengelap semua barang-barang yang berada diruangan Navier. Navier masih duduk disofa dengan kaki yang diatas meja. Dia memandang Seline yang tengah membersihkan ruangannya.
“Lap yang bersih! Aku tidak mau ada debu sedikitpun diruanganku!” ucap Navier.
Seline menganggukkan kepala, dia membersihkan sebersih mungkin sampai berkali-kali.
“Itulah sebabnya jangan bermain-main dengan perasaanku! Oh ya, pacarmu orang mana?”
“Kenapa anda ingin tahu tentang pacar saya?”
Navier berdiri lalu menyunggingkan senyuman, dia menghampiri Seline dan menarik dagu gadis itu. Mereka bertatapan cukup lama, Seline memang terpukau dengan ketampanan Navier.
“Aku bisa menghancurkan pacarmu semudah membalikkan telapak tangan, jangan sampai identitas pacarmu terbongkar olehku,” ucap Navier membuat Seline merinding.
navier panggil darsen = darman
navi dan darsen sama2 lucu...