Gwen adalah seorang dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit di tengah kota New York. Di suatu siang yang sibuk, dia mendapatkan seorang pasien. Seorang pria tua yang mendapatkan serangan jantung. Gwen berhasil menyelamatkan nyawanya, sehingga pria itu sangat berterima kasih. Ia menghadiahi Gwen tiket pesawat dan sebuah vila di Bali.
Saat sampai di vila, betapa terkejutnya Gwen ketika menyadari bahwa dia tidak akan tinggal sendiri. Karena pria tua itu ternyata belum memberitahu cucunya kalau vila itu akan diberikan kepada Gwen.
Zachary, nama si cucu. Pria yang tampan, dan arogan. Sedang asyik mencumbu seorang wanita di dekat kolam renang.
KARYA:
1. Hutang Kepada Mr. Devil (end)
2. Aku Bukan Malaikat (end)
3. My Arrogant Prince (ongoing)
4. Kesempatan Kedua (otewe)
Salam kenal dari author penggemar Happy ending story 😊✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman
Syukur Alhamdulillah operasi penyumbatan jantung omnya Yahya berhasil. Gwen bisa pulang ke rumah dengan wajah gembira. Yahya dan tantenya terlihat lega meskipun wajah lelah sangat jelas terlihat pada mereka. Gwen juga merasa sangat lelah, jadi Naufal yang menggantikannya menyetir mobil dalam perjalanan pulang.
“Naufal, kamu pengen jadi dokter?” tanya Gwen memecah keheningan di dalam mobil.
“Kakak dengar tadi?”
“Iya.”
“Ga usah bilang-bilang Papa dan Mama, ya. Biar kita aja yang tahu.”
“Kenapa?”
“Aku udah dapat beasiswa ke Manhattan, Kak. Tiga bulan lagi aku berangkat.”
Gwen terkejut dengan informasi itu. “Mama sudah tahu?”
“Belum. Aku bingung juga gimana ngomongnya.”
“Kalau menurutku, sih. Mama lebih suka kamu kuliah di sini daripada ke luar negeri.”
“Tapi ini kesempatan langka, Kak. Aku bisa sekolah bisnis di luar negeri. Naufal yakin kalau itu langkah yang tepat buat mendapatkan ilmu bisnis yang lebih baik. Sangat berguna buat perusahaan Papa nantinya.”
Gwen belum bisa memberikan solusi lebih baik. Jadi dia diam saja selama sisa perjalanan pulang. Namun, dia yakin pasti ada cara agar Naufal bisa mengejar cita-citanya dan perusahaan Daddy akan baik-baik saja. Sebuah pemikiran nekat terlintas di kepalanya.
Apakah Gwen harus menggantikan Nafeera menikah dengan cucunya Ahmad?
Namun, jika begitu rasa-rasanya Gwen seperti menjual harga dirinya ke laki-laki meskipun itu adalah pernikahan, sebuah hubungan halal. Jane selalu berkata jika ada yang membingungkan di antara dua pilihan, maka lakukanlah shalat istikharah. Maka Gwen tidak bicara apapun sebelum mendapatkan jawaban.
*****
Suatu sore Farah menjemput Gwen di rumah sakit. Mereka berencana untuk belanja pakaian. Farah mengenalkan Gwen ke temannya yang mempunyai butik. Namanya Nadia. Semua baju yang dipajang di butik adalah desain dari Nadia.
Gwen sempat berkecil hati, pakaian dari desainer harganya pasti mahal sedangkan dia harus berhemat karena baru beberapa bulan bekerja. Namun, setelah melihat label harga pakaian yang dipajang, Gwen berniat memborong. Ternyata harganya rata-rata sama dengan yang ditawarkan di toko online.
Nadia menjelaskan bahwa memang dia menyasar pembeli menengah ke bawah. Namun, kalau Gwen mau, Nadia bisa membuatkan gaun untuk pesta maupun acara resmi. Kalau mau bersaing di pasar lokal memang harus pandai-pandai memanfaatkan peluang. Dia ternyata mempunyai satu butik lagi di perumahan elit. Tentu saja dengan menargetkan pembeli yang lebih tajir.
Gwen tidak mempunyai pengetahuan tentang bisnis jadi dia spontan memuji Nadia sangat cerdas. Sedang Nadia yang gembira mendapatkan pujian memberikan potongan harga pada Gwen sebagai rasa terima kasih.
Farah mengajak Gwen makan malam dulu sebelum pulang. Ia sempat menawarkan Gwen ke restoran ala family resto di Amerika, mungkin saja Gwen sudah rindu masakan asalnya. Namun Gwen menolak. Ia sudah cocok dengan masakan Indonesia jadi lebih memilih warung masakan Nusantara.
Saat menunggu makanan pesanan mereka datang, Farah mendapatkan telepon dari Samantha. “Apa? Lalu gimana, dong?” tanyanya dengan wajah gusar. “Iya, deh. Aku sekamar sama berapa orang pun boleh, asal kru atau model cewek, ya.” Lalu ia menutup panggilan itu.
“Ada apa?” tanya Gwen.
“Event yang di Bali ada masalah. Hotel yang kami pesan sebelumnya batalin pesanan. Salah kami juga, sih ga langsung pesan ke manajernya. Ini gara-gara anak baru. Dia pesan lewat travel gitu. Jadinya empat model ga dapat kamar. Aku sebenarnya udah dapat, tapi kasihan kalau model-model itu ga dapet jadinya aku sama Sammy ngalah. Kami mau pesan kamar di hotel lain.”
“Bali, ya ... aku punya satu vila di Bali.”
Farah terkejut lalu bertanya dengan antusias. “Oh ya. Daerah mana?”
“Aku ga tahu,” jawab Gwen sambil nyengir.
Farah melongo dibuatnya. “Kok ga tahu?”
“Itu hadiah dari pasienku. Kan kamu tahu sendiri aku phobia pesawat, jadi ga pernah ke Bali dan belum pernah kepikiran untuk nengok gimana vilanya.”
“Duh sayang banget. Eh coba lihat alamatnya. Kalau dekat dengan lokasi event aku pinjam vilanya buat nginap.”
“Ok.” Gwen kemudian mengeluarkan ponsel lalu menelepon Ahmad dan menanyakan alamat vilanya di Bali. Ahmad merasa sangat senang mendengar Gwen sudah berniat pergi ke vila. Namun, ketika ditanyakan ternyata gadis itu tidak ikut ke vila, hanya temannya dan beberapa model yang akan menginap.
“Kenapa kamu tidak ikut juga?” tanya Ahmad. Gwen sudah lupa sejak kapan persisnya Ahmad mengganti panggilan “Anda” kepada Gwen menjadi “kamu”. Seakan-akan mereka orangyang dekat.
“Maaf Pak Ahmad, saya baru bekerja, jadi tidak bisa ambil cuti. Lagipula rumah sakit selalu sibuk.”
“Kamu pergi aja ke Bali. Haris biar aku yang urus,” ujar Ahmad. Gwen sempat heran dengan perkataan Ahmad. Seakan-akan dia dengan direktur rumah sakit tempat Gwen bekerja adalah teman main gundu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Bonus
bang Diesel lope lope bang