Aarav Baskara Darma, seorang jaksa yang harus menyewa jasa bodyguard untuk melindunginya dari teror yang terus saja menghampirinya, setiap dia berhasil menyelesaikan satu kasus. Dia tidak menyangka jika bodyguard cantik itu selalu bisa menarik perhatiannya, hingga hatinya merasa nyaman dengannya dan perlahan-lahan mulai menyukainya, walaupun gadis itu sangat dingin dan bahkan kejam padanya, dia juga sangat mata duitan. Dan jelas selalu saja membuat Aarav dengan mudahnya naik darah.
Bagaimana perjalanan kisah manis mereka?
Yuk! ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
.
21
.
"Tuan Aarav... Apa ini rumahnya? Kenapa ini sangat sepi? Lampunya bahkan tidak menyala." tanya Erza saat dia sudah memarkirkan mobil Aarav di depan sebuah rumah yang telihat begitu sepi.
"Kita periksa saja dulu. Aku merasa ada yang tidak beres sekarang ini." jawab Aarav.
Erza menganggukkan kepalanya, dia bersiap dengan pedangnya yang dia gendong di punggungnya, dia melihat ke sekelilingnya yang memang terasa sangat penuh dengan tanda-tanda yang mencurigakan.
Erza mendekati Aarav, dia berbisik di telinganya.
"Tuan Aarav... Aku akan melihat dari belakang rumah ini. Tuan Aarav hanya perlu mengetuknya seperti biasanya. Aku merasa ada yang tidak beres." bisiknya.
Aarav menganggukan kepalanya, dia segera berjalan dengan santai dan tenang untuk mengetuk pintu kayu rumah kecil ya g ada di depannya saat ini, sementara Erza sudah berjalan dengan cepat bahkan tanpa suara ke belakang rumah itu.
Tok tok tok tok tok
Aarav mulai mengetuk pintu itu, tapi sepertinya tidak ada respon dari seseorang yang tinggal di dalamnya.
"Coba lagi saja." ucapnya lagi seraya mulai mengetuk pintunya
tok tok tok tok
tetap saja, pintunya tidak juga terbuka, dan bahkan tidak ada seorang pun yang membukakannya.
"Sepertinya benar ada yang tidak beres. Aku harus tetap di sini. Erza sedang memeriksanya." gumam Aarav.
Dia memilih untuk duduk di kursi yang ada di sana.
Sementara itu, Erza kini sudah berada di belakang rumah itu. Dia menaiki jendela kamar dengan cepat, untuk melihat keadaan di dalam rumah dari ventilasi udara yang dia yakini jika itu akan bisa membuatnya melihat semuanya.
Erza mulai memperhatikan ruangan gelap yang bisa dia lihat saat ini. Walupun begitu gelap, tapi dia bisa melihat dengan jelas, jika ada beberapa orang yang ada di sana. Dia juga bisa melihat dengan jelas, jika ada seseorang yang sedang diikat dan terduduk di depan beberapa orang yang sedang berdiri mengawasinya dan mengancamnya.
"Para bedebah itu! Aku benar-benar ingin menghajar mereka semua!" sungut Erza.
Dia segera turun ke bawah, setelah melihat semua itu. Dia merenggangkan otot-otot tubuhnya, sebelum akhirnya dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ayo kita mulai olahraga pagi! Aku mungkin akan sangat lelah, karena harus melayani kurang lebih tiga atau empat orang pria di dalam sana. Aku harap tuan Aarav akan memberikan banyak bonus kali ini." ucapnya sebelum akhirnya dia menendang pintu kayu yang sudah lusuh itu hingga pintu itu terbuka dan bahkan lepas dari gawangan-nya.
"Siapa di sana!" teriak salah satu dari mereka yang kini melihat Erza hanya dari bayang-bayang nya saja, karena memang di sana sangat gelap.
"Aku adalah malaikat maut bagi kalian." jawab Erza, dia segera berjalan dengan cepat mendekati mereka semua.
klak!
Erza menyentuh saklar lampu, hingga ruangan itu terlihat begitu terang.
terlihat jelas, jika ada empat orang pria yang sedang menodongkan pisau mereka pada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk dengan tangan yang terikat dan mulutnya yang di tutupi dengan lakban hitam tebal.
"Ternyata hanya seorang gadis kecil." ucap salah satu dari mereka, seraya memberikan tatapan meremehkan Erza.
"Benar... Aku seorang gadis kecil. Tapi aku bukanlah gadis yang lemah." jawab Erza dengan senyuman manisnya.
"Lebih baik kamu kembali saja ke pelukan ibumu nak... Dia pasti khawatir. Apa kamu sudah memakai popok mu?"
"hahahaha" gelegar tawa dari mereka semuanya menertawakan Erza yang masih berdiri dengan tenang sambil menatap wajah pria yang sedang sangat meremehkannya.
"Aku benci dengan orang-orang seperti kalian ini! Aku tidak tahan lagi! Dasar sampah!" ucap Erza seraya menarik pedangnya dengan cepat.
Dengan gerakan yang begitu cepat juga, Erza sudah berhasil menjatuhkan semua pisau dari tangan ke empat pria itu.
"Ugh!"
Teriak mereka semua, saat mereka merasakan sayatan pedang Erza di tangan mereka.
Erza juga segera mengambil pisau yang tadi ada di tangan mereka.
"Masih mau bercanda denganku? Atau kalian lupa memakai popok kalian?" tanya Erza dengan senyuman menyeringainya.
Bleshh! bleshh! bleshh blesh!
Erza melemparkan pisau milik mereka kembali ke mereka dan itu menancap tepat di paha mereka semua.
"Agh!" teriakan mereka terdengar keras.
wanita paruh baya itu juga terlihat terkejut saat melihat apa yang sudah Erza lakukan tadi.
Erza yakin jika Aarav juga pasti sudah mendengarnya.
Dia kembali berlari mendekati salah satu pria yang paling dekat posisinya dengannya.
Dia mengarahkan pedangnya pada leher pria itu.
"Mungkin kamu orang yang tidak memakai popok mu saat itu. Jadi aku bisa membunuhmu terlebih dahulu. Setelah itu baru kalian semuanya...." ucap Erza seraya melihat pada ketiga pria yang lainnya.
"Ampuni aku... Aku hanya di suruh oleh seseorang untuk melakukan ini semua. Kami di bayar oleh seorang untuk membuat wanita ini tutup mulut." ucap pria yang koni harus mencicipi rasa dari pedang milik Erza.
"Jadi kalian di bayar mahal bukan?" ta ya Erza.
"Benar. Kami hanya menjalankan perintah saja." jawab pria itu.
sementara pria yang lainnya tidak berani mendekati Erza.
Melihat pedang yang begitu panjang dan berkilau, membuat mereka tidak berani sama sekali untuk mendekatinya.
"Aku tidak akan membunuh kalian. Tapi kalian harus mengatakan apapun yang kalian ketahui. Kalian juga harus menjadi saksi dari kasus yang berhubungan dengan wanita itu sebagai saksi utamanya. kalian harus membantu Boss ku. Bagaimana?" Erza menekan pedangnya ke leher pria itu agar segera mengiyakan apa yang dia katakan.
"Ba-ba-baiklah. Aku mau." jawab pria itu.
"Kalian juga!" Erza menatap tajam pada ketiga pria yang lainnya.
"Kami juga akan memberikan kesaksian." jawab mereka.
"Baguslah. Tapi ngomong-ngomong. Kalian di bayar berapa untuk misi ini?" tanya Erza dengan ekspresi wajahnya yang jelas terlihat jika dia ingin meminta itu dari mereka.
"Kami di berikan lima puluh juta untuk misi ini." jawab pria yang masih harus berhadapan dengan pedang Erza
"Bagaimana jika aku meminta separuhnya? Kalian juga tidak berhasil menjalankan misi ini. Kalian juga akan di hukum. Jadi orang yang memerintah kalian juga tidak akan bisa berbuat apa-apa. iya kan?" ucap Erza dengan penuh harap.
"Erza!" teriakan Aarav terdengar begitu keras.
"Tuan Aaraaavvv yang sangat tampan... Kenapa anda di sini? bukankah aku sudah menyuruh mu untuk menunggu di depan saja?" Aarav menatap jengah pada Erza yang selalu saja berbuat semaunya sendiri.
"Ayolah tuan Aaraaavvv yang super tampan... Sangat di sayangkan jika mereka tidak memakai uang mereka bukan? mereka pasti akan masuk penjara kan?" Erza melihat Aarav dengan begitu penuh harap.
"Tidak! Jika kamu yang mengambil uang itu, maka kamu yang akan masuk ke dalam penjara!" jawab Aarav.
"Sungguh? Kalau begitu, kamu bisa mengeluarkan ku dari sana bukan?" Erza tersenyum lebar pada Aarav yang menatapnya semakin jengah.
"Aku sudah menghubungi polisi. Mereka akan segera datang. sembunyikan pedang mu." jawab Aarav seraya membuka ikatan di tangan wanita paruh baya yang masih terduduk di lantai. dia juga melepaskan lakban hitam dari mulutnya.
"Sekarang anda sudah aman. polisi akan berjaga di sini sampai sidang kasus ini selesai." ucap Aarav pada wanita itu.
"Terimakasih banyak." ucap wanita itu.
"Sama-sama. sekarang istirahatlah. polisi akan segera datang." jawab Aarav yang segera di angguki oleh wanita itu.
Sementara Erza hanya bisa menuruti apa saja yang Aarav katakan. Dia sudah kembali memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya. Dia kini mengikuti langkah kaki Aarav yang membawa kembali ke mobilnya.
"Masih ingin uang mereka?!" tanya Aarav dengan wajah sebalnya
"Tidak. Aku ingin uang mu saja tuan Aaraaavvv ku yang tampan... Jadi berikan aku tambahan untuk hari ini. Bukankah aku melakukan semuanya dengan sangat baik?" Jawab Erza seraya tersenyum begitu manis pada Aarav.
Aarav mengusap lembut puncak kepala Erza.
Merasakan itu wajah Erza memerah seketika.
"Erza..."
"iya..." jawab Erza dengan ekspresi wajah malu-malunya.
"Kapan kamu terakhir keramas?! Bau sekali!" sungut Aarav seraya mengusapkan tangannya ke baju Erza berkali-kali.
Erza mendesis mendengar itu, dia juga menatap sebal pada Aarav yang masih saja mengusapkan tangannya ke bajunya.
"Dasar! Aku sudah sebulan tidak keramas! Puas!" sungutnya.
.