Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Lautan Qi Kehampaan
Pelat identitas giok ungu di tangan Lin Tian memancarkan cahaya redup, membentuk benang energi tipis yang menuntunnya mendaki Puncak Utama Awan Ungu. Jalan setapak berbatu giok meliuk-liuk menembus lautan awan, diapit oleh pohon-pohon pinus roh yang daunnya memancarkan kilau perak di bawah sinar matahari.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, Lin Tian tiba di tingkat ketiga gunung tersebut. Di hadapannya, dinding tebing curam dihiasi oleh puluhan pintu batu raksasa yang tertanam langsung ke dalam gunung. Di atas salah satu pintu batu yang tertutup lumut bercahaya, terpahat angka '99'.
Lin Tian menempelkan pelat ungunya ke celah berbentuk segi empat di tengah pintu.
Gemuruh...
Pintu batu raksasa itu bergeser terbuka perlahan, melepaskan hembusan angin yang membawa energi spiritual (Qi) yang sangat pekat, jauh lebih murni daripada kabut di Hutan Bambu Hitam.
Lin Tian melangkah masuk, dan pintu batu otomatis menutup di belakangnya, mengisolasi gua itu dari dunia luar. Ruangan di dalamnya cukup sederhana—hanya ada tempat tidur batu giok dingin, meja kecil, dan sebuah kolam mata air spiritual yang terus menggelembung di sudut ruangan. Namun, bagi seorang kultivator, ini adalah fasilitas mewah yang bisa memicu pertumpahan darah di dunia luar.
Lin Tian duduk bersila di atas tempat tidur batu giok. Ia mengeluarkan kantong kain yang diberikan Tetua Sun, lalu menuangkan isinya ke atas meja. Sebuah seragam putih dengan sulaman awan ungu (seragam Murid Inti), sebilah pedang besi hitam dengan sarung kayu sederhana, dan sepuluh buah batu kristal berukuran sebesar ibu jari yang memancarkan pendaran cahaya biru.
Batu Roh Tingkat Rendah. Mata uang utama sekaligus sumber daya paling murni di dunia kultivasi.
"Sepuluh Batu Roh ini... ditambah dengan kepadatan Qi di gua ini, seharusnya cukup untuk menembus tahap Pondasi Bumi," gumam Lin Tian.
Ia memejamkan mata dan mengarahkan kesadarannya ke dalam. Di ruang batinnya, Mutiara Kehampaan berputar lambat, menanti untuk diberi makan.
"Senior," panggil Lin Tian pada sisa kesadaran kuno di dalam mutiara. "Aku siap membangun pondasiku."
"Membangun pondasi bagi kultivator biasa adalah mengubah gas Qi menjadi cairan, lalu memadatkannya menjadi sebuah landasan di Dantian," suara agung itu bergema. "Namun, pengguna Teknik Kehampaan Sembilan Langit tidak membangun daratan. Kau akan membangun lautan tanpa batas. Lautan yang mampu menelan galaksi. Mulailah!"
Mata Lin Tian terbuka, memancarkan kilatan ungu yang ganas. Ia meraup kesepuluh Batu Roh Tingkat Rendah itu ke dalam telapak tangannya.
Tubuh Penelan Kehampaan: Aktif!
Wung!
Sebuah daya hisap yang mengerikan meledak dari dalam Dantian Lin Tian. Jika kultivator biasa butuh waktu satu hari untuk menyerap energi dari satu Batu Roh secara perlahan agar meridian mereka tidak rusak, Lin Tian melakukan hal yang sebaliknya.
Ia menghancurkan kesepuluh Batu Roh itu sekaligus!
Krak!
Energi biru murni meledak hebat dari serpihan batu tersebut, namun sebelum energi itu sempat menyebar, pusaran hitam di telapak tangan Lin Tian menelannya bulat-bulat. Qi yang sangat besar membanjiri meridiannya seperti sungai yang mengamuk, menabrak dinding-dinding pembuluh darah spiritualnya.
Tubuh Lin Tian bergetar hebat. Keringat dingin bercucuran di dahinya, seketika menguap menjadi uap panas. Rasa sakit akibat meridian yang dipaksa melebar ribuan kali lipat menyiksa sarafnya, namun ia bahkan tidak mengeluarkan suara rintihan sedikit pun. Dibandingkan rasa sakit saat meridiannya dihancurkan di Jurang Hukuman, ini hanyalah gigitan semut.
"Lebih banyak! Masih kurang!" raung Lin Tian dalam hati.
Energi dari sepuluh Batu Roh ternyata tidak cukup untuk memuaskan Dantiannya yang seperti lubang hitam. Lin Tian segera mengubah fokus pusarannya. Ia tidak lagi hanya menyerap dari batu, melainkan menarik Qi langsung dari udara di dalam gua, dan bahkan menyedot energi dari kolam mata air spiritual di sudut ruangan.
Bloop... Bloop... Wussh!
Air di kolam spiritual itu menguap dengan kecepatan kasat mata, berubah menjadi kabut Qi yang tebal, lalu tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit Lin Tian.
Di saat yang bersamaan, sebuah fenomena aneh terjadi di luar Gua Nomor 99.
Di tingkat ketiga Puncak Utama, awan Qi yang biasanya tenang tiba-tiba bergejolak. Sebuah pusaran angin kecil mulai terbentuk tepat di atas tebing Gua Nomor 99. Pusaran itu perlahan membesar, menyedot energi spiritual dari udara sekitar, bahkan mulai menarik tipis-tipis energi dari gua-gua kultivasi di sekitarnya.
Di dalam Gua Nomor 98, seorang pemuda yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya dengan kesal. "Apa yang terjadi? Mengapa aliran Qi di guaku tiba-tiba menipis dan mengalir ke arah luar?!"
Di Gua Nomor 100, seorang gadis berseragam ungu juga mengerutkan kening. "Seseorang sedang melakukan terobosan besar? Tapi gelombang serapannya terlalu rakus!"
Tidak ada yang tahu bahwa sang pelaku utama sedang duduk dengan mata terpejam, tubuhnya diselimuti kepompong cahaya hitam-keunguan.
Di dalam Dantian Lin Tian, pusaran Qi berbentuk gas yang selama ini ia kumpulkan dari Inti Binatang Iblis mulai memadat. Di bawah tekanan yang luar biasa, gas itu mencair. Setetes cairan Qi berwarna hitam pekat dengan bintik-bintik cahaya ungu (seperti langit malam yang dipenuhi bintang) menetes ke dasar Dantiannya.
Tetes.
Satu tetes itu terasa seberat gunung. Segera disusul oleh tetesan kedua, ketiga, hingga akhirnya berubah menjadi hujan deras yang membanjiri Dantiannya. Cairan Qi itu berkumpul, meluas, dan membentuk sebuah lautan energi yang memancarkan aura purba dan mematikan.
BOOM!
Sebuah ledakan nirsuara terjadi di dalam tubuh Lin Tian. Gelombang kejut memancar dari tubuhnya, menghempaskan meja dan menghancurkan sisa-sisa debu Batu Roh menjadi ketiadaan.
Lin Tian perlahan membuka matanya. Kedua matanya kini sepenuhnya berwarna ungu tua selama beberapa detik sebelum kembali menjadi hitam pekat.
Ia mengepalkan tangannya. Kekuatan yang mengalir di setiap serat ototnya melesat berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya ia hanya mengandalkan kekuatan fisik murni untuk mengalahkan Lu Ming, kini kekuatan fisiknya telah berpadu sempurna dengan Qi di lautan Dantiannya.
"Tahap Pondasi Bumi awal," Lin Tian tersenyum tipis. "Lautan Qi-ku sepuluh kali lebih besar dan lebih padat daripada kultivator tingkat yang sama."
Suara entitas kuno di dalam mutiara kembali terdengar, membawa nada kepuasan.
"Tidak buruk. Mengingat kau berada di benua pinggiran dengan Qi yang tipis, membentuk Lautan Bintang Kehampaan dalam waktu sebulan adalah pencapaian yang lumayan. Sekarang setelah kau mencapai Pondasi Bumi, kau sudah bisa memproyeksikan Qi ke senjatamu."
Sebuah aliran memori baru mengalir ke dalam benak Lin Tian.
"Seni Pedang Penelan Langit. Teknik ini tidak memiliki bentuk atau jurus yang indah. Esensinya hanya satu: membelah segala bentuk energi, dan menelan nyawa yang terpotong olehnya. Ambil pedangmu."
Lin Tian menoleh ke arah pedang besi hitam standar sekte yang tadi ia letakkan di lantai. Ia mengulurkan tangannya, dan tanpa menyentuhnya, Qi ungu-hitam melilit gagang pedang tersebut, menariknya terbang tepat ke genggaman Lin Tian.
Sensasi dingin dari gagang pedang menjalar di telapak tangannya. Lin Tian memejamkan mata, mencerna ingatan tentang Seni Pedang Penelan Langit. Teknik ini hanya memiliki tiga tebasan dasar, namun setiap tebasan mengandung hukum kosmis yang mampu merobek pertahanan apa pun.
Tebasan Pertama: Pembelah Bayangan.
Tebasan Kedua: Pemutus Sungai Bintang.
Tebasan Ketiga: Kehampaan Mutlak.
Lin Tian menyimpan kembali pedangnya ke dalam sarungnya. Ia tahu ia tidak bisa berlatih ilmu pedang di dalam ruangan sempit ini; energi dari Seni Pedang Penelan Langit bisa menghancurkan gua ini dari dalam.
"Aku butuh tempat untuk menguji pedang ini, dan aku juga harus mulai mencari cara untuk mendapatkan sumber daya yang lebih besar. Sepuluh Batu Roh sebulan sama sekali tidak cukup untuk memberi makan Lautan Bintang Kehampaan ini," batin Lin Tian.
Ia berdiri, membersihkan pakaiannya, dan mengambil seragam putih berkerah ungu milik Murid Inti. Setelah mengganti kemeja hitamnya yang compang-camping, Lin Tian menyematkan pelat giok ungu di pinggangnya dan mengikatkan pedang besi di punggungnya. Pemuda yang sebulan lalu dibuang ke dasar jurang itu kini memancarkan pesona seorang pendekar pedang yang dingin dan tak tersentuh.
Lin Tian berjalan ke arah pintu batu dan menempelkan pelatnya.
Gemuruh...
Pintu batu terbuka, membiarkan cahaya matahari sore menembus masuk ke dalam gua. Lin Tian melangkah keluar, menghirup udara segar pegunungan.
Namun, langkahnya terhenti.
Di pelataran sempit di depan guanya, lima orang pemuda berseragam Murid Inti telah berdiri menunggunya dengan tangan terlipat dan wajah tidak bersahabat. Salah satu dari mereka—pemuda bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipinya—melangkah maju. Aura di tubuhnya menunjukkan tingkat Pondasi Bumi tahap akhir.
"Jadi kau yang bernama Lin Tian?" tanya pemuda berekspresi garang itu dengan nada menantang, matanya melirik sinis ke arah seragam baru Lin Tian. "Bocah dari jalur belakang yang baru saja mengacaukan aliran Qi di gua-gua kami. Aku, Zhao Lei, penghuni Gua Nomor 95, datang untuk mengajarimu aturan tak tertulis di Puncak Utama ini."