Spin Off dari novel Pernikahan Paksa Sang Pewaris. Visual berada di part 14.
Angel dihantui oleh rasa penasaran saat menerima surat dan paket dari seseorang yang misterius. Namun dia tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang orang tersebut. Dan akhirnya mau tidak mau Angel mengabaikannya saja.
Hingga suatu malam dia ditolong oleh seorang pria yang dia yakini adalah sosok misterius itu. Benarkah itu adalah pria yang selama ini Angel sebut sebagai peneror dirinya?
Temukan semua jawaban atas pertanyaan dalam benak kalian di sini.
Diusahakan update setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 20 - Janji Temu
Dalam hidup mungkin kau harus dipertemukan dengan berbagai macam orang terlebih dahulu sebelum dipertemukan dengan seseorang yang merupakan belahan jiwamu.
🌷Happy Reading🌷
Angel memutar pena yang berada di tangannya. Sesekali benda itu dia ketukkan ke atas meja tanda dia tengah memikirkan sesuatu. Lalu tak lama setelahnya Angel mengetik sesuatu di laptopnya. Techno Arc. Nama perusahaan itu Angel ketik di laptop dengan logo apel digigit. Kedua matanya memandang layar laptop dengan serius setelah apa yang dia cari akhirnya keluar.
Sepuluh menit Angel habiskan untuk membaca profil perusahaan dan informasi-informasi terkait Techno Arc. Angel meraih gagang telepon lalu menekan tombol yang ada di sana. "Nancy, tolong ke ruanganku sekarang," ujar Angel pada sang asisten merangkap sekretarisnya.
Selang dua menit, Nancy mengetik pintu ruangan Angel. "Ya, masuklah."
Menunduk hormat, Nancy berjalan mendekati meja kerja Angel. "Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Nancy sopan.
"Apa aku punya waktu luang siang ini?" tanya Angel tanpa basa-basi.
Nancy dengan cekatan mengeluarkan ponsel dari saku rok hitam selutut yang dia kenakan. Dia langsung memeriksa jadwal Angel yang juga dia simpan di benda pipih tersebut.
"Ibu tidak punya jadwal apa-apa sampai akhir minggu ini. Presdir meminta semua rapat internal perusahaan untuk beliau handle seorang diri saja."
Angel tertawa miris. Dia tahu ayahnya tidak suka kalau melihat dia aktif di perusahaan apa lagi dengan ide yang menurut pria itu tidak sesuai dengan pemikirannya. Tapi dia tidak menyangka kalau ayah kandungnya akan bergerak secepat itu untuk tidak melibatkan dirinya dalam perusahaan. Ini namanya mengusir secara halus.
"Baguslah kalau begitu. Aku ada perlu nanti siang. Kau juga, ikutlah denganku." Angel kembali memasang wajah datarnya untuk menyembunyikan kekecewaan pada pimpinan perusahaan yang adalah ayahnya sendiri. Toh tidak ada gunanya dia komplain pada Nancy. Wanita itu hanya melakukan sesuai prosedur kerjanya.
"Kita akan pergi ke mana Bu?"
"Kau mau duduk dan mendengar cerita panjang membosankan?" tawar Angel. "Kalau mau, duduklah. Tapi kita bicara layaknya teman bukan atasan dan bawahan."
Nancy berpikir sejenak. Dia sempat ragu, namun kemudian dia menarik kursi yang berada di seberang meja kerja Angel lalu duduk di sana.
"Kuanggap kau menerima tawaranku untuk bicara layaknya teman, jadi jangan formal padaku sekarang. Aku malas cerita kalau kau masih memanggil bu. Aku kadang merasa tua kalau dipanggil bu oleh orang yang lebih muda atau seumur, apa lagi kalau orangnya memang aku kenal," keluh Angel dengan wajah ditekuk.
Kalau sudah seperti ini, Nancy mulai sadar akan keadaan. Wanita muda itu menarik sudut bibirnya ke atas. "Memangnya apa yang ingin kau ceritakan, Njel?" tanya Nancy. Dari nada bicaranya terdengar lebih santai dan tidak memiliki jarak pemisah di antara mereka. Berbeda dengan saat pertama dia datang ke ruangan Angel tadi.
Wajah cemberut Angel langsung berubah cerah. "Nah begitu dong. Aku mau cerita kalau ada pria aneh yang menawarkan kerja sama perusahaan. Setelah aku searching di go*gle, ternyata itu adalah salah satu perusahaan IT internasional yang baru membuka cabang baru di kota ini. Di kancah mancanegara, perusahaan itu sedang berkembang pesat walau masih tergolong perusahaan baru. Tapi untuk cabang yang berada di kota ini, kurasa tidak sebesar cabang-cabang lain di luar negeri."
Nancy mendengarkan dengan seksama. Wanita itu sangat mengerti etika berbicara jadi sekali pun dia tidak menyela apa yang dijelaskan oleh Angel. Setelah Angel berhenti sejenak dari penjelasan panjang lebarnya, barulah akhirnya Nancy gantian bicara.
"Memangnya apa nama perusahaan itu?" Kini Nancy sudah benar-benar masuk ke dalam informal mode. Dia seakan lupa kalau sekarang ini lawan bicaranya adalah cucu dari pendiri XB Corp dan anak dari presdir utama yang aktif. Yang dia pandang sekarang hanyalah Angel, teman pertama yang dia miliki saat baru bergabung ke perusahaan satu setengah tahun yang lalu. Teman yang tidak dia ketahui ternyata memiliki posisi penting di perusahaan. Dan teman yang meminta dia menjadi asisten sekaligus sekretaris.
"Techno Arc."
Nancy mengingat-ingat nama perusahaan yang baru saja disebutkan oleh Angel. Ya, dia pernah mendengar dari salah satu temannya yang juga bekerja di perusahaan bidang IT kalau perusahaan itu adalah perusahaan asing yang memiliki based di Amerika Serikat. Namun sekarang sedang berkembang dengan begitu pesat sampai ke berbagai penjuru dunia.
"Aku tahu perusahaan itu. Pernah dengar dari salah satu teman saat cerita-cerita tentang perusahaan saingan."
Angel berdecak. Lalu senyum mengejek dia sunggingkan. "Susah ya kalau punya teman yang bekerja di bidang yang sama. Topik pembicaraan pasti seputar itu-itu saja. Apa kalian tidak bosan? Di kantor bekerja, di luar kantor saat kumpul dengan teman pun ngobrolnya ya tentang itu lagi itu lagi. Kalau aku mungkin sudah mumet."
Nancy tertawa kecil membuat lesung pipi yang manis muncul di permukaan wajahnya. "Hitung-hitung menambah wawasan dan bertukar ilmu tentang dunia IT Njel. By the way, kalau dari apa yang kutahu, perusahaan itu bukanlah perusahaan sembarangan. Asalnya saja dari Amerika Serikat, pasti nanti bisa jadi perusahaan raksasa. Mungkin omsetnya akan menyerupai go*gle beberapa tahun ke depan kalau cabang di berbagai negara terus berkembang pesat."
"Ya, yang aku baca di mesin pencarian juga seperti itu."
"Lalu?" tanya Nancy dengan alis terangkat sebelah. Menuntut penjelasan akan apa maksud tujuan Angel membuka pembicaraan tentang Techno Arc secara halus.
"Lalu... Ada pria yang katanya bekerja di Techno Arc menawarkan untuk kerja sama. Aku memikirkan tentang software yang akan aku kembangkan. Kurasa perusahaan itu cukup mumpuni di bidang sumber daya dan juga secara finansial. Tapi dari apa yang kubaca, cabang di kota ini masih baru dan berkembang tak terlalu cepat karena orang-orang lebih banyak percaya pada perusahaan IT dalam negeri."
"Pria yang tadi kau sebut aneh?"
Angel mengangguk dengan ragu-ragu. "Kupikir akan luar biasa hasilnya kalau XB Corp bisa bekerja sama dengan perusahaan sekelas Techno Corp. Aku percaya software yang dikembangkan akan berhasil dengan sokongan sumber daya manusia dan finansial dari mereka dan nama perusahaan XB Corp yang menjual karena sudah cukup di percaya setelah puluhan tahun."
Nancy mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di atas meja Angel. Dia mangut-mangut sambil memikirkan penjelasan Angel. "Aku sependapat dengan pemikiranmu."
"Kalau begitu aku harus pasrah menghubungi pria aneh itu demi sebuah keberhasilan software," desah Angel lemas lalu menyandarkan punggung di sandaran kursi kerjanya.
"Memangnya seaneh apa sih?" tanya Nancy jadi penasaran.
"Aku akan menelpon pria itu lalu mengaktifkan loud speaker agar kau bisa mendengar secara langsung betapa sok kenal sok dekatnya orang itu."
Nancy mengangguk antusias. Tiba-tiba jiwa penasaran dalam dirinya bergejolak ingin dipuaskan.
Angel menarik ponselnya yang berada di atas meja. Mengotak-atik log panggilan masuk karena dia sama sekali tidak menyimpan nomor pria itu.
"Halo. Ini aku." Suara Angel adalah perpaduan antara dingin dan datar. Tidak ada ramah-ramahnya sama sekali. Hal yang membuat Nancy hanya geleng-geleng kepala saja jadinya.
"Hi beautiful Angel. How are you? Akhirnya kau menelpon juga. Waktu terasa begitu lama berlalu saat aku belum juga mendapat kabar darimu. Kurasa sudah seabad berlalu."
Angel memutar matanya dengan malas. Ditatapnya Nancy yang tersenyum geli mendengar pembicaraan mereka. Nancy tampak tengah menahan tawa. Tapi melihat tatapan tajam Angel, wanita itu membuang muka lalu mengembalikan setelan wajah normalnya.
"Kau bisa bertemu hari ini?"
"Wahh. Kau ini sama sekali tidak suka berbasa-basi ya sepertinya?"
Memang! Ingin rasanya Angel menjawab seperti itu saja agar Kevin tidak lagi melantur ke sana ke mari.
"Bisa atau tidak?"
"Hmm... Tunggu sebentar biar aku cek jadwal dulu." Tanpa memutus sambungan telpon, Kevin terdengar mengotak-atik laptop atau komputer di seberang telpon karena Angel dapat menangkap suara keyboard yang diketik.
"Hem." Angel berdehem singkat sebagai balasan.
"Aku bisa. Kebetulan jadwalku kosong. Bagaimana kalau sekalian makan siang saja?"
"Ok. Jam satu siang di Eldivo Resto?"
"Baiklah, Angel. Dimana pun yang kau mau."
"Sampai bertemu nanti."
Klik. Angel memutuskan panggilan setelah mengucapkan salam penutup. Sungguh... Berkomunikasi dengan Kevin berlama-lama bisa memicu darah tinggi.
"Pria itu terdengar unik," kata Nancy begitu Angel meletakkan kembali ponselnya.
"Bukan unik. Tapi aneh."
--- TBC ---
udah tah kek?
salken from me..