NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 — Dia Nggak Mau Aku Lagi

Begitu pintu rumah di Griya Asri terbuka, bau pengap menyambut mereka.

Tidak ada aroma sup hangat. Tidak ada sandal rumah yang disusun rapi. Lampu teras bahkan mati karena bohlamnya belum diganti sejak Arya pergi.

Bu Marni berdiri di ambang pintu sambil mengerutkan hidung. "Rumahmu kenapa berantakan begini?"

Karina menopang tubuh pada dinding. Pergelangan kaki kanannya semakin bengkak. "Belum sempat beres-beres."

"Arya ke mana?"

"Duduk dulu, Bu."

Pengemudi menurunkan koper di teras. Karina membayar tambahan biaya kebersihan karena bagasi basah, lalu menyeret barang masuk satu per satu. Pak Suryanto langsung duduk di sofa dengan napas berat.

"Ambilkan Bapak air hangat," katanya.

Karina menatap dapur. Dahulu, Arya sudah menyiapkan termos setiap kali orang tuanya datang. Kini wastafel berisi gelas kotor, dan galon hampir kosong.

Ia berjalan terpincang, merebus air, lalu mencari obat ayahnya di antara tas yang basah. Bu Marni terus bertanya dari ruang tamu, tetapi kepalanya terlalu penuh untuk menjawab.

Setelah air dan obat tersedia, Karina mengompres pergelangan kakinya dengan es yang dibungkus kain.

Ia membuka aplikasi pesan-antar dan memesan bubur untuk ayahnya. Biaya pengiriman naik karena hujan. Ketika hendak membayar, ia secara refleks mencari dompet digital Arya yang dulu tersimpan sebagai pilihan keluarga.

Akun itu sudah tidak ada.

Karina terpaksa memakai saldonya sendiri.

"Makan malam apa?" tanya Bu Marni.

"Aku pesan bubur dan nasi."

"Kenapa tidak masak? Bapakmu tidak boleh makan sembarangan."

"Kakiku sakit, Bu."

"Telepon Arya. Dia tahu makanan yang cocok untuk Bapak."

Karina menatap dapur lagi. Di pintu kulkas masih ada kertas kecil tulisan Arya tentang jam minum obat dan makanan yang harus dihindari Pak Suryanto. Selama ini ia menganggap daftar itu bentuk sok tahu. Kini ia membacanya dari jauh seperti petunjuk keselamatan.

Ia bangkit perlahan, mengambil kertas tersebut, lalu mengubah pesanan sesuai catatan. Setiap baris tulisan tangan itu menunjukkan perhatian yang dahulu tidak pernah ia hargai.

"Arya yang bikin?" Pak Suryanto bertanya.

Karina mengangguk.

"Dia masih ingat penyakit maag Bapak sebelum tahu soal kanker," ujar ayahnya. "Makanya Bapak heran dia tidak datang."

Karina menempelkan kembali catatan itu dengan tangan gemetar. Rumah tersebut penuh bekas perhatian Arya, tetapi pemilik perhatian itu sudah tidak tinggal di sana.

Bu Marni duduk di hadapannya sambil memegang hasil pemeriksaan kehamilan. "Sekarang jelaskan. Kenapa Arya tidak ada? Kenapa dia memblokirmu?"

Karina menatap lantai.

"Kami sudah cerai."

Ruangan seketika sunyi.

Pak Suryanto menurunkan gelas. "Apa?"

"Perceraiannya sudah diputus. Akta cerainya sudah keluar."

Bu Marni berdiri begitu cepat hingga kursi bergeser. "Kamu bilang hanya sedang bertengkar!"

"Aku takut Bapak dan Ibu marah."

"Tentu kami marah!" Bu Marni menunjuk perutnya. "Kamu bercerai saat hamil? Arya tahu?"

"Sekarang dia tahu."

"Lalu dia tetap meninggalkanmu?"

Karina meremas kain kompres. "Dia nggak mau aku lagi."

Pak Suryanto memukul sandaran sofa. Wajahnya meringis karena gerakan itu menarik perut. "Panggil dia kemari. Bapak akan bicara sebagai orang tua."

"Dia tidak akan datang."

"Kenapa? Apa kesalahanmu?"

Karina memejamkan mata. Bagian tersulit belum ia ucapkan.

"Perceraian itu memang aku yang minta."

Bu Marni menatapnya lama, seakan putrinya baru berbicara dalam bahasa asing.

"Kamu gila?"

"Waktu itu Arya baru kena PHK. Dia nggak punya uang, masih banyak utang pernikahan, dan aku capek hidup susah."

"Lalu kenapa sekarang kamu ingin dia pulang?"

Karina menarik napas gemetar. "Karena setelah cerai, dia menikah dengan Anindya."

Nama itu membuat Bu Marni semakin bingung. "Sahabatmu yang kaya itu?"

"Iya."

"Secepat itu?"

"Ada perjanjian."

Karina akhirnya menceritakan semuanya: wasiat yang mensyaratkan Anindya menikah, tawaran dua miliar rupiah, rencana meminjam Arya selama dua bulan, dan keyakinannya bahwa setelah mendapat uang ia bisa mengambil Arya kembali.

Semakin panjang ceritanya, semakin gelap wajah Pak Suryanto.

"Kamu menjual suamimu sendiri?"

"Bukan menjual! Cuma perjanjian sementara."

"Pernikahan bukan motor yang bisa dipinjamkan lalu dikembalikan!"

Karina terisak. "Aku pikir Arya pasti menungguku. Selama ini dia selalu nurut."

"Berapa uang yang kamu terima?" tanya Bu Marni.

Karina terdiam sesaat. "Satu miliar."

Kemarahan ibunya mereda sedikit, digantikan perhitungan. "Masih ada?"

"Ada, tapi sudah berkurang."

"Gunakan dua ratus juta untuk operasi Bapakmu."

"Itu uangku untuk mulai hidup baru."

Pak Suryanto menatapnya tajam. "Ayahmu sakit kanker dan kamu masih bicara hidup baru?"

Karina menunduk. Ia baru sadar betapa mirip nada ayahnya dengan nada yang pernah ia pakai kepada Arya saat meminta uang.

Bu Marni kembali melihat lembar pemeriksaan. "Kamu hamil hampir dua bulan. Berarti ini terjadi sebelum perceraian. Anak Arya, kan?"

Jantung Karina berdebar keras.

Ia teringat malam-malam ketika hubungannya dengan Arya sudah dingin. Ia teringat dua pria lain yang ditemuinya diam-diam, tanggal yang saling berdekatan, dan ketidakmungkinan menghitung secara pasti.

"Kemungkinan besar," jawabnya.

Pak Suryanto mengerutkan dahi. "Kemungkinan besar itu apa?"

"Maksudku, tentu anak Arya."

Karina menjawab terlalu cepat. Bu Marni memandangnya curiga, tetapi tidak menggali lebih jauh.

"Kalau anak itu darah dagingnya, dia tidak bisa lari," kata Bu Marni. "Kita telepon dia."

"Dia minta tes DNA setelah anak lahir."

Kedua orang tuanya kembali terdiam.

Pak Suryanto bertanya pelan, "Kenapa dia meminta tes?"

"Karena Anindya meracuni pikirannya."

Kebohongan itu keluar begitu mudah. Karina memeluk lutut, menghindari tatapan mereka.

"Perempuan itu mengambil suamimu, lalu menuduh cucu kami bukan anak Arya?" suara Bu Marni meninggi. "Tidak tahu malu!"

Karina tidak membetulkan kesimpulan tersebut.

Pak Suryanto bersandar dengan wajah pucat. "Besok rumah sakit meminta kepastian jadwal operasi. Kita tidak bisa menunggu sampai bayi lahir."

"Arya harus membayar," kata Bu Marni. "Selama bertahun-tahun kita menganggap dia anak sendiri. Sekarang saat Bapak sakit, dia malah hidup mewah dengan perempuan lain."

"Dia bukan orang kaya," ujar Karina. "Semua itu punya Anindya."

"Kalau istrinya kaya, lebih mudah lagi. Dua ratus juta tidak ada artinya bagi mereka."

Karina menatap saldo rekening di layar ponsel. Kalimat ibunya memberi jalan keluar yang ingin ia percaya. Jika Arya membayar operasi, datang merawat ayahnya, lalu melihat kehamilannya setiap hari, mungkin kebiasaan lama akan kembali.

Mungkin rasa tanggung jawab akan berubah menjadi cinta lagi.

"Kita jangan hanya minta uang," katanya perlahan. "Kita minta dia pulang."

Pak Suryanto mengangguk. "Bapak akan bicara langsung."

"Kalau dia tetap menolak?"

Bu Marni mengangkat hasil pemeriksaan kehamilan seperti memegang surat kemenangan.

"Dia boleh menolak kamu," katanya. "Tapi dia tidak mungkin menolak anaknya sendiri."

Karina memandang kertas itu. Di sudutnya terdapat bekas air hujan yang membuat tinta sedikit kabur.

Hanya dirinya yang tahu bahwa kepastian yang dipegang ibunya tidak pernah ada.

Namun, rasa takut kehilangan Arya lebih besar daripada rasa takut kebohongannya terbongkar.

Bu Marni mengambil ponsel Karina dan mencari nomor lama menantunya.

"Besok tidak perlu," katanya. "Ibu telepon dia sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!