Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Putar Haluan
Matahari pagi semakin merangkak naik, memancarkan cahaya kekuningan yang mulai menghangatkan tanah berdebu di persimpangan jalan setapak.
Lin Wanru berdiri dan terpaku sejenak, menatap ke arah cabang jalan yang membentang luas tanpa arah yang jelas. Di dalam dadanya, jarum jam seolah berdetak lebih kencang, menghitung mundur detik-detik kedatangan Paman Lin Dehai ke gubuk mereka.
Sebagai seorang ahli strategi bisnis modern, Wanru tahu betul kapan ia harus mengakui keterbatasan informasinya. Memaksakan diri berjalan buta tanpa peta geografis di era dinasti kuno adalah bentuk kecerobohan yang sia-sia.
"Tidak ada waktu untuk menebak-nebak arah," gumam Wanru. Ia segera memutar langkah kakinya, mengambil arah kembali menuju gubuk ibunya. "Ibu sudah belasan tahun hidup di desa ini. Beliau pasti tahu di mana letak pasar tempat jual beli barang."
Namun, keputusan untuk kembali ke arah gubuk berarti ia harus menghadapi satu rintangan menyebalkan yang sama sekali tidak ada di dalam rencana bisnisnya.
Jalan utama Desa Hutan Batu yang dipenuhi oleh warga-warga usil, dengki, dan suka bergosip. Terutama setelah insiden kemarin sore di mana Nyonya Liu terjatuh di lorong akibat lidah tajamnya, kawasan pemukiman warga kini ibarat daerah zona merah yang penuh mata pengintai.
Begitu Wanru memasuki area perkampungan desa, ia langsung merendahkan postur tubuhnya sedikit. Ia menarik tali kantong kain usang yang berisi jamur tiram dan akar herbal agar tidak terlalu mencolok, lalu mengangkat kerah bajunya untuk menutupi sebagian lebam di pipinya.
Gedebuk...
"pelan-pelan... anggap saja aku sedang melakukan misi penyamaran militer," batin Wanru menyemangati dirinya sendiri sambil mengintip dari balik rumpun bambu pagar warga.
Di kejauhan, tampak dua orang ibu rumah tangga tetangga sedang asyik bergosip di dekat sumur umum, sambil sesekali tertawa sinis dan menunjuk ke arah jalan tempat gubuk Lin berada.
"Eh, lihat anak perempuan keluarga Lin itu! Kemarin babak belur dihajar preman suruhan Nyonya Liu, tapi pagi-pagi sekali sudah kelihatan berkeliaran lagi membawa kantong. Jangan-jangan dia pergi ke hutan lagi mencari mati?" bisik wanita pertama dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.
"Hih, anak itu memang keras kepala dan tidak tahu malu! Sudah miskin, suka cari masalah. Tunggu saja nanti siang, pasti Paman Dehai datang menyeretnya!" sahut wanita kedua mencibir.
Mendengar bisikan-bisikan tajam itu, Wanru mendengus pelan. "Mulut mereka benar-benar mirip kawanan bebek pasar," gerutunya dalam hati.
Untuk menghindari masalah yang hanya akan membuang waktu berharga, Wanru terpaksa memperagakan serangkaian gerakan "akrobatik desa" yang sangat menggelikan untuk ukuran seorang CEO korporasi elit.
Ketika melihat sekelompok warga melintas dari arah depan, Wanru dengan cepat melompat kecil dan menyembunyikan tubuhnya di balik tumpukan jerami kering di pinggir jalan. Kakinya terpeleset sedikit, hingga membuat jerami-jerami itu menempel di rambutnya yang dikuncir berantakan.
"Aduh, sial... jerami ini gatal sekali," batinnya menahan bersin.
Begitu warga tersebut berlalu sambil mengibas-ngibaskan tangan karena bau debu, Wanru langsung bangkit, sambil mengibaskan jerami di kepalanya dengan gerakan kilat, lalu kembali mempercepat langkahnya berlari kecil bagaikan ninja amatiran yang sedang menghindari kejaran musuh.
Aksi kucing-kucingan itu berlanjut selama beberapa menit hingga akhirnya ia berhasil melompati selokan kecil di samping kandang ayam milik Paman Gou, dan, fiuuh! Ia sukses mendarat di halaman depan gubuk reyot mereka tanpa satupun warga desa yang menyadari kehadirannya.
"Hampir saja."
Wanru mendorong pintu kayu gubuk yang setengah terbuka. "Ibu? Bao-er?" panggilnya setengah berbisik.
Namun tidak ada jawaban. Ruangan itu tampak kosong. Di atas ranjang jerami, selimut tampak tersusun rapi, menandakan ibu dan adiknya sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu.
Wanru mengernyitkan keningnya. Ia lalu melangkah keluar kembali ke halaman depan, lalu melihat ke arah jalan setapak menuju sumur umum desa.
"Mungkin mereka sedang pergi mengambil air," pikirnya.
Tidak punya pilihan selain menunggu, Wanru mondar-mandir di depan pintu gubuk sambil menggigit kuku jemarinya. Setiap detik yang berlalu terasa sangat berharga. Matahari terus bergeser ke timur laut, memancarkan panas yang mulai membakar kulit.
"Ayolah, Ibu... cepatlah pulang. Waktu kita tinggal sedikit sebelum Paman Dehai datang membawa masalah," batinnya cemas.
Hampir sepuluh menit ia menunggu dalam debaran jantung yang tidak sabar, akhirnya siluet dua sosok tubuh yang dikenalinya muncul di tikungan jalan setapak.
Nyonya Lin tampak berjalan tertatih-tatih sambil memikul sebuah kendi air tanah liat kecil di pundaknya yang kurus, sementara Lin Bao berjalan di sampingnya sambil membawa gayung batok kelapa kecil.
Melihat ibu dan adiknya selamat, kegelisahan Wanru seketika menguap. Ia pun langsung berlari menyambut mereka.
"Ibu! Bao-er!" seru Wanru, bergegas mengambil alih kendi air dari pundak Nyonya Lin dengan hati-hati agar tidak tumpah.
Nyonya Lin terperanjat kaget melihat kemunculan putri sulungnya yang mendadak, terlebih saat melihat kantong kain penuh hasil hutan di tangan Wanru dan sisa lebam di wajah gadis itu.
"Wan-er?! Dari mana saja kau pagi-pagi begini, Nak? Wajahmu... dan bawaan apa ini?!" tanya Nyonya Lin panik, sambil memeriksa kondisi putrinya dengan tangan gemetar.
"Ibu, tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang!" potong Wanru, sorot matanya menyala penuh semangat. "Dengar, aku baru saja dari hutan. Aku berhasil mengumpulkan jamur segar dan tanaman herbal ini sebelum matahari naik. Kita harus segera menjualnya ke pasar sekarang juga!"
Nyonya Lin terbelalak. "Ke pasar? Tapi... tapi bagaimana dengan utang Pamanmu? Sebentar lagi beliau pasti datang!"
"Justru karena Paman akan datang makanya kita harus pergi!" sahut Wanru. "Kalau kita diam di sini menunggu kedatangannya tanpa uang, aku akan diseret secara paksa. Tapi kalau kita membawa uang tunai dari hasil penjualan ini, kita bisa melunasi utang itu atau setidaknya menutup mulutnya! Ibu, cepat katakan... Ibu tahu kan tempat yang biasa jadi pusat jual beli di zaman ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Nyonya Lin terdiam sejenak, mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat-ingat memori masa lalu yang sudah sangat lama terkubur.
"Pasar... Pasar Kota Kecamatan Sungai Besi?" gumam Nyonya Lin ragu-ragu. "Dulu... sewaktu ayahmu masih ada dan hidup kita belum separah ini, kami pernah sekali atau dua kali pergi ke sana untuk menjual hasil panen ladang. Letaknya berada di seberang bukit selatan, melewati lembah pedagang... tapi itu sudah bertahun-tahun lalu, Ibu tidak tahu apakah tempat itu masih ada atau sudah berubah."
"Tidak masalah! Yang penting tempat itu ada dan masih beroperasi!" tukas Wanru penuh lega. "Ibu, ayo kita berangkat sekarang! Jangan tunda sedetik pun!"
Sebelum Nyonya Lin sempat melangkah masuk untuk mengambil kain penutup kepala, Wanru tiba-tiba menarik lengan ibunya, dan menghentikan gerakan wanita paruh baya tersebut.
"Tunggu, Ibu," kata Wanru dengan suara serius, dan melirik sekilas ke arah jalan utama desa di luar pagar.
"Ada apa lagi, Wan-er?"
Bersambung...