Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATAS YANG MEMUDAR #2
Lift terbuka.
Namun, Maxime tidak langsung melangkah keluar. Ia justru menatap Elma dengan ekspresi yang sulit diartikan. Untuk pertama kalinya, pria tersebut tampak benar-benar mempertimbangkan perkataan istrinya. Kemudian, ia menjawab dengan tenang.
"Aku tidak pernah melarangmu menjadi mandiri."
"Lalu?"
"Aku hanya tidak menyukai kenyataan bahwa kamu selalu menganggap kehadiranku sebagai sesuatu yang tidak diperlukan."
Elma terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Maxime kembali berjalan, meninggalkannya yang masih berusaha mencerna jawaban tersebut.
"Dan satu hal lagi," sambungnya tanpa menoleh.
"Apa?"
"Aku memberikan mobil itu karena kamu membutuhkannya. Bukan supaya kamu punya alasan untuk menjauh dariku."
Langkah Elma mendadak melambat. Ia memandangi punggung tinggi suaminya yang kini berjalan menuju mobil. Ada sesuatu dalam ucapan Maxime yang membuatnya kehilangan kemampuan untuk membalas. Bukan karena ia tidak memiliki jawaban. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Elma merasa pria itu sedang mengungkapkan sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikannya.
Perjalanan menuju gedung pengadilan berlangsung dalam keheningan. Maxime duduk di belakang kemudi dengan satu tangan memegang setir. Sesekali ia melirik jam tangannya, kemudian kembali memusatkan perhatian pada jalanan. Sementara itu, Elma duduk di kursi penumpang sambil memeriksa berkas persidangan. Ia berusaha mengabaikan keberadaan pria di sampingnya, meskipun pikirannya terus kembali pada percakapan mereka di lift.
Bukan supaya kamu punya alasan untuk menjauh dariku.
Apa maksudnya?
Apakah Maxime benar-benar tidak ingin ia menjauh?
Atau pria itu hanya tidak suka kehilangan kendali atas sesuatu yang sudah menjadi miliknya?
Elma menggigit bagian dalam pipinya.
Ia tidak ingin terlalu jauh menafsirkan perkataan suaminya. Bagaimanapun, pernikahan mereka bermula dari perjodohan keluarga. Tidak ada kisah cinta yang mendahului akad mereka, tidak ada pengakuan perasaan yang membuat keduanya memutuskan untuk hidup bersama.
Mereka menikah karena keputusan yang telah dibuat oleh keluarga masing-masing. Dan Elma sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak berharap terlalu banyak. Ia boleh menghormati Maxime. Ia boleh menikmati perhatian yang diberikan pria itu.Namun, ia tidak boleh melupakan kenyataan bahwa sampai saat ini, Maxime belum pernah mengatakan bahwa dirinya mencintainya.
"Kenapa diam saja?" Suara Maxime membuyarkan lamunan Elma.
"Tidak kenapa-kenapa."
"Kamu sedang memikirkan sesuatu."
"Memangnya kamu bisa membaca pikiran?"
"Tidak perlu membaca pikiranmu. Wajahmu terlalu mudah ditebak."
Elma mendengus. "Kalau begitu, berhentilah melihat wajahku."
Maxime meliriknya sekilas. "Sayangnya, wajahmu ada di dalam mobilku."
"Mobilku juga."
"Mobil yang kubelikan untukmu."
"Yang kemudian kamu gunakan sebagai alasan untuk mengaturku."
Maxime mengembuskan napas pendek. "Aku mulai menyesali keputusanku membelikanmu mobil."
Elma langsung menoleh. "Kalau begitu, aku kembalikan saja!"
"Sudah kuberikan kepadamu. Aku tidak punya kebiasaan mengambil kembali sesuatu yang sudah menjadi milikku."
Elma mengangkat alis.
"Barusan kamu bilang mobil itu milikku."
"Aku sedang membicarakan mobilnya."
"Memangnya aku bertanya tentang apa?"
Maxime tidak menjawab. Namun, kali ini Elma yakin melihat pria itu tersenyum tipis. Senyum yang segera menghilang sebelum sempat ia pastikan. Elma kembali menatap ke luar jendela, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang tanpa sadar muncul di wajahnya. Percakapan sederhana itu seharusnya tidak berarti apa-apa.
Namun, entah mengapa, berada di dekat Maxime akhir-akhir ini terasa sedikit berbeda.
Lebih nyaman. Lebih hangat. Dan justru karena itulah Elma mulai merasa takut. Ia mengenal dirinya sendiri. Perasaan tidak selalu datang dengan suara keras. Terkadang, perasaan tumbuh diam-diam melalui kebiasaan kecil yang terus berulang, sampai akhirnya seseorang tidak lagi mampu membayangkan hari-harinya tanpa kehadiran orang lain. Elma tidak ingin sampai pada tahap itu. Terutama jika hanya dirinya yang akan jatuh terlalu dalam.
Mobil berhenti tepat di depan gedung pengadilan. Elma segera melepaskan sabuk pengamannya dan meraih tas yang terletak di pangkuan.
"Terima kasih sudah mengantarku."
Maxime tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada wajah Elma yang tampak terburu-buru. "Jam berapa persidanganmu selesai?"
"Belum tahu. Mungkin sekitar pukul tiga atau empat sore."
"Kirim pesan kalau sudah selesai."
Elma menoleh. "Untuk apa?"
"Untuk memastikan kamu tidak lupa janji kita."
"Oh, soal rumah itu?"
Maxime mengangguk. "Jangan terlambat."
Elma tersenyum. "Baik, Tuan Sinclair."
Ia membuka pintu, tetapi sebelum sempat turun, suara Maxime kembali terdengar.
"Elma."
Wanita itu menoleh. "Hmm?"
"Makan siang."
Elma mengerjapkan mata. "Apa?"
"Jangan melewatkan makan siang hanya karena sibuk bekerja."
Elma terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil. "Iya, Max."
"Dan jangan hanya minum kopi."
Senyum Elma perlahan melebar. "Baik, Max."
"Jangan pulang terlalu larut."
"Iya."
"Kalau ada masalah—"
"Maxime!"
Pria itu menghentikan ucapannya.
Elma tertawa kecil. "Aku pergi bekerja, bukan pergi berperang. Aku akan baik-baik saja."
Maxime menatapnya beberapa saat. "Aku tahu."
"Kalau begitu, berhentilah mengkhawatirkanku."
"Aku tidak mengkhawatirkanmu." Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Elma nyaris tertawa.
"Tentu saja. Kamu hanya ingin memastikan aku makan, tidak terlambat pulang, dan tidak lupa mengirim pesan. Sama sekali bukan karena khawatir."
Maxime menatapnya datar. "Turun dari mobilku, Elma."
Elma terkekeh. "Baiklah. Sampai nanti sore."
Ia menutup pintu mobil, lalu berjalan menuju gedung pengadilan. Namun, sebelum memasuki pintu utama, Elma sempat menoleh. Mobil Maxime masih berada di tempatnya. Pria itu belum pergi. Bahkan ketika Elma mengangkat tangan untuk melambaikan salam, Maxime hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum akhirnya menjalankan mobilnya. Elma berdiri selama beberapa detik, menatap kendaraan itu hingga menghilang dari pandangan. Senyum kecil masih tertinggal di wajahnya. Lalu ia menggelengkan kepala, seolah berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
"Jangan bodoh, Elma."
Ia menarik napas panjang.
"Perhatian bukan berarti cinta." Setelah mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri, Elma berbalik dan melangkah masuk ke gedung pengadilan.
Sayangnya, ia tidak tahu bahwa di balik kemudi mobil yang baru saja meninggalkan tempat itu, Maxime juga sedang memikirkan hal yang sama sekali berbeda. Pria itu melirik kursi penumpang yang kini kosong. Ada aroma parfum Elma yang masih tertinggal di sana. Maxime menghela napas, lalu mengetukkan jemarinya pada setir.
Ia sendiri tidak memahami perubahan yang terjadi pada dirinya. Dulu, ia tidak pernah peduli apakah seseorang menemaninya sarapan atau tidak. Ia terbiasa makan sendiri, bekerja sendiri, dan menyelesaikan segala sesuatu tanpa membutuhkan kehadiran siapa pun. Namun, sejak Elma menjadi istrinya, hal-hal kecil yang sebelumnya tidak berarti perlahan berubah menjadi sesuatu yang selalu ia nantikan.
Sarapan bersama. Mendengar suara Elma di pagi hari. Melihat wanita itu duduk di ruang keluarga sambil membaca berkas pekerjaannya. Bahkan pertengkaran kecil mereka kini menjadi bagian dari rutinitas yang diam-diam ia nikmati. Dan ketika Elma mengatakan bahwa pekerjaannya lebih penting pagi ini, Maxime mendapati dirinya merasa kesal. Bukan karena Elma harus pergi.
Melainkan karena ia ingin menjadi seseorang yang kehadirannya dianggap penting oleh wanita itu.
Maxime mengetuk setir sekali lagi.
"Benar-benar merepotkan." Ia mengucapkannya dengan nada kesal, meskipun tidak ada seorang pun di dalam mobil yang bisa mendengarnya.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari sekretarisnya masuk, mengingatkannya pada rapat yang akan dimulai tiga puluh menit lagi.
Maxime membaca pesan itu sekilas sebelum meletakkan ponselnya kembali. Kemudian, tanpa sadar, ia membuka percakapan dengan Elma.
Jemarinya bergerak di atas layar, mengetik sebuah pesan singkat.
"Jangan lupa makan siang."
Ia menatap kalimat itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengirimkannya.
Tidak sampai satu menit, dua tanda centang muncul. Namun, tidak ada balasan.
Maxime mengernyit. Ia tahu Elma sudah memasuki gedung pengadilan. Wanita itu pasti sedang mempersiapkan persidangannya.
Seharusnya ia kembali bekerja dan melupakan hal sepele seperti ini. Akan tetapi, entah mengapa, ia tetap membuka layar ponselnya beberapa kali. Menunggu balasan yang sebenarnya tidak begitu penting. Setidaknya, itulah yang berusaha ia yakini.
☆