NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Eunoia di Ujung Pesisir

Mobil SUV bernuansa hitam berkilau itu melaju membelah rute pesisir yang kian temaram. Sinar jingga matahari sore perlahan meredup, menyisakan corak keemasan di ufuk barat yang beradu dengan bentangan laut luas. Di dalam kabin mobil, hembusan AC dingin berpadu lembut dengan aroma cendana yang hangat, menciptakan atmosfer hening yang sarat akan desir emosi yang menahan napas.

Mahika menyandarkan punggungnya di kursi penumpang. Matanya menatap hamparan laut di balik jendela, namun benaknya sibuk mengurai badai perasaan yang bergemuruh di dadanya. Di sampingnya, jemari tegap Mahija mencengkeram kemudi dengan stabil. Ritme napas sang perwira yang teratur menjadi satu-satunya melodi yang menemani perjalanan mereka kembali menuju rumah pantai.

Begitu deru mesin kendaraan melambat dan akhirnya berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Mahika, keheningan di antara mereka terasa kian mengikat. Deburan ombak pasang terdengar menyapa dari jarak puluhan meter, mengiringi senja yang resmi berganti malam.

Mahika memegang sabuk pengamannya, bersiap melepasnya. "Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Mahija."

"Tunggu sebentar, Mahika," tahan Mahija halus.

Mahija mematikan mesin mobil.

Suasana kabin mendadak berubah menjadi teramat intim dan intens. Pria berseragam PDU lengkap itu memutar separuh tubuhnya, menatap Mahika dengan kedalaman rasa yang terpancar dari manik matanya. Tidak ada lagi sisa nada gurauan atau trik licik seperti di pangkalan tadi hanya ada ketulusan seorang pria yang sedang bertaruh seluruh perasaannya.

"Ada yang ingin saya bicarakan. Ini hal yang sangat serius," kata Mahija. Suara baritonnya merendah, bergetar dengan kesungguhan yang membuat Mahika menghentikan gerakannya seketika.

Mahika menatap wajah tegas itu, jantungnya kembali berdegup tak karuan. "Bicara apa?"

Mahija menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata gadis di hadapannya. "Saya ingin mengajukan niat saya sekali lagi, Mahika. Saya ingin mengkhitbah kamu. Resmi. Menjadikan kamu pendamping hidup saya, secara agama dan negara."

Deg!

Dada Mahika serasa dihantam gelombang pasang. Meski ia tahu Mahija menaruh rasa padanya, mendengar pernyataan yang diucap secara terbuka dan penuh ketegasan ini tetap saja melumpuhkan logikanya.

"Mahija..." bisik Mahika dengan tenggorokan yang mendadak kering. "Kan sudah pernah saya bilang... saya belum siap. Saya masih—"

"Saya tidak meminta kamu langsung mengiyakan malam ini," potong Mahija lembut, menyela sebelum pertahanan kaku Mahika kembali terbangun. "Saya hanya ingin menegaskan niat saya. Saya tidak sedang bermain-main dengan kamu. Tapi katakan pada saya... apa syaratnya, Mahika?"

Mahika mengerjap bingung. "Syarat? Syarat apa maksud kamu?"

"Syarat untuk membuka pintu hati kamu sepenuhnya untuk saya," tutur Mahija mantap. "Sebutkan apa saja. Apa syarat yang harus saya penuhi agar kamu percaya bahwa saya layak mendampingi kamu? Apa yang harus saya lakukan supaya ketakutan masa lalu kamu bisa perlahan sirna?"

Mahika tertegun. Sepanjang hidupnya, orang-orang di sekitarnya selalu menetapkan syarat padanya harus menuntut ini, harus membayar itu, atau harus memenuhi ekspektasi keluarga. Namun di sini, seorang perwira tegap justru bertekuk lutut dan menanyakan syarat apa yang perlu ia penuhi demi kebahagiaannya.

"Saya... saya tidak punya syarat materi atau pangkat, Mahija," cicit Mahika lirih. "Saya cuma butuh waktu. Saya mau berdiri di atas kaki saya sendiri dulu. Saya mau kuliah, saya mau menata trauma saya tanpa merepotkan siapa pun."

Mahija menyunggingkan senyuman paling hangat yang pernah Mahika lihat. "Kalau itu syaratnya, saya terima dengan penuh rasa hormat. Saya akan dukung kamu kuliah, saya akan berdiri di belakang kamu sampai kamu merasa cukup kuat. Tapi izinkan saya mendampingi proses itu dari dekat."

Pria itu jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada penuh antisipasi, "Maka dari itu... maukah kamu pergi kencan berdua dengan saya akhir pekan ini? Tanpa seragam ini, tanpa hiruk-pikuk pangkalan. Cuma saya dan kamu."

Wajah Mahika memerah merona seketika. Kata 'kencan' yang meluncur bebas dari bibir seorang perwira kaku seperti Mahija terasa begitu manis sekaligus mengejutkan.

"K-kencan?"

"Iya, kencan," jawab Mahija mantap, sudut bibirnya terangkat penuh kehangatan. "Kita makan malam di kota, jalan-jalan santai, dan saling mengenal lebih jauh. Bagaimana?"

Mahika menunduk, meremas jemarinya di atas pangkuan. Rasa salah tingkah yang luar biasa kembali melingkupinya. Namun di balik rasa malu itu, ada secercah rasa bahagia yang tak bisa ia pungkiri. "Akan saya pikirkan nanti..."

"Jawaban yang cukup bagus untuk malam ini," bisik Mahija terkekeh pelan.

Secara perlahan, perhatian Mahija beralih pada jemari Mahika yang saling bertaut erat di atas pangkuan. Sorot mata sang perwira berubah semakin teduh dan sarat akan asmara.

"Mahika," panggil Mahija lirih. "Boleh saya minta izin?"

Mahika mendongak pelan. "Izin apa?"

"Boleh saya menyentuh tangan kamu?" tanya Mahija penuh kesantunan, memberi jeda agar Mahika tidak merasa terintimidasi. "Hanya sebentar."

Napas Mahika tertahan. Ada ketulusan yang begitu murni dalam permohonan izin tersebut. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Mahika perlahan membuka pertautan jemarinya, memberikan persetujuan implisit yang membuat mata Mahija berbinar.

Dengan penuh kehati-hatian, Mahija mengulurkan tangan kanannya. Kapalan di jemari sang perwira akibat latihan militer terasa amat kokoh saat kulit mereka bersentuhan. Pria itu meraih punggung tangan Mahika yang halus, lalu mengelusnya dengan sangat lembut menggunakan ibu jarinya.

Gerakan elusan itu begitu perlahan, menyalurkan kehangatan yang langsung menjalar ke seluruh pembuluh darah Mahika. Sensasi sentuhan itu membuat bulu kuduk Mahika meremang haru. Tidak ada paksaan, tidak ada gairah yang terburu-buru—hanya ada bentuk perlindungan murni yang seolah menyampaikan pesan: kamu aman bersama saya. Mahika terpejam sejenak, menikmati sentuhan lembut yang menghanyutkan itu. Rasa cemas di dadanya meleleh sepenuhnya.

"Tangan kamu dingin sekali," bisik Mahija lembut, masih terus mengelus punggung tangan Mahika dengan penuh kelembutan.

"Tapi selalu berhasil menghangatkan pikiran saya setiap kali saya mengingatnya."

"Mahija... jangan bikin saya makin pusing," keluh Mahika pelan, walau ia tidak sedikit pun menarik tangannya kembali.

Mahija tersenyum manis, lalu melepaskan genggaman tangannya secara perlahan dengan penuh hormat. "Baiklah, saya tidak akan menyiksa perasaan kamu lebih lama lagi malam ini."

Pria itu kemudian berbalik ke arah kursi belakang mobil. Dengan gerakan mantap, ia mengambil sebuah benda raksasa yang sejak tadi tersembunyi rapi di dalam wadah khusus di jok belakang.

Saat Mahija kembali berputar menghadapnya, mata Mahika membelalak sempurna.

Sebuah buket bunga yang sangat besar didominasi oleh mawar putih yang mekar sempurna dipadu dengan aksen bunga baby's breath serta pita berwarna navy kini terpampang di hadapannya. Ukuran buket itu begitu besar hingga hampir menutupi separuh tubuh tegap Mahija! Di samping buket tersebut, terdapat sebuah kotak hadiah berbalut kertas kado biru tua yang sangat elegan.

"Ini... apa lagi ini, Mahija?!" seru Mahika terperanjat, matanya berbinar tak percaya menatap keindahan buket di depannya.

Mahija menyerahkan buket bunga raksasa itu bersama kotak kadonya ke pangkuan Mahika dengan senyuman penuh kebanggaan.

"Ini hadiah untuk kamu," ujar Mahija dengan nada suara yang hangat dan penuh asmara. "Bunga mawar putih ini melambangkan ketulusan niat saya. Dan kertas pita navy-nya... kamu sudah tahu sendiri alasannya."

Mahika memeluk buket bunga yang harum itu, matanya berkaca-kaca menatap tumpukan kelopak segar yang begitu indah. Aroma mawar yang merekah memenuhi seluruh kabin mobil.

"Ini terlalu besar, Mahija... Kamu buang-buang uang."

"Untuk wanita yang berhasil mencuri seluruh perhatian saya, tidak ada kata buang-buang uang, Mahika," pangkas Mahija cepat, menatap wajah merona Mahika di balik lambaian kelopak mawar. "Di dalam kotak kado itu ada sesuatu yang bisa kamu pakai kalau nanti kita pergi kencan. Dan satu lagi... ada buku catatan khusus untuk persiapan kamu daftar kuliah nanti."

Dada Mahika rasanya mau meledak oleh keharuan yang tak menentu. Pria ini tidak hanya memberinya romansa berbentuk bunga, tetapi juga memperhatikan impian dan masa depannya secara mendalam. Ia benar-benar memikirkan segala detail kecil dalam hidup Mahika. Air mata kebahagiaan lolos lagi meniti pipi Mahika. Kali ini, ia tidak berusaha menyembunyikannya.

"Kamu benar-benar pria paling keras kepala yang pernah saya temui, Mahija..." bisik Mahika dengan suara serak menahan haru, tersenyum begitu indah dari balik buket bunganya.

Mahija menatap senyuman itu dengan binar mata penuh kemenangan dan cinta yang mendalam.

"Dan perwira keras kepala ini tidak akan pernah berhenti sampai kamu resmi menjadi teman hidupnya."

Malam itu, di bawah naungan langit pesisir yang dipenuhi bintang, benteng persembunyian Mahika telah sepenuhnya berganti menjadi taman asmara yang hangat. Dengan buket bunga raksasa di pelukannya dan kehangatan sentuhan Mahija yang masih berbekas di punggung tangannya, Mahika akhirnya sadar—ia tidak lagi berlari dari dunia, melainkan sedang melangkah menuju pelukan takdir yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!