Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WAJAH YANG BUKAN MILIKKU
Suara perempuan itu masih terdengar melalui pengeras suara mansion.
“Selamat malam, Isabella. Sudah waktunya kau bertemu dengan dirimu yang sebenarnya.”
Aku berdiri membeku di tengah ruang kerja.
Lampu masih padam. Hanya cahaya dari layar laptop yang menerangi wajah Dominic. Ia memegang pistol dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menarikku mendekat.
“Jangan bergerak jauh dariku,” bisiknya.
“Siapa perempuan itu?”
“Aku belum tahu. Tapi siapa pun dia, sepertinya sudah lama merencanakan ini.”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lantai bawah.
Marco berbicara melalui alat komunikasinya.
“Tuan, seseorang berada di ruang utama!”
Dominic langsung mengaktifkan senter ponselnya.
“Amankan semua pintu. Jangan biarkan siapa pun keluar.”
“Baik, Tuan.”
Aku mencengkeram lengan Dominic.
“Bagaimana jika itu Richard?”
“Kalau memang dia, aku akan meminta penjelasan.”
“Dan jika perempuan itu adalah Victoria?”
Dominic menatapku.
“Kalau begitu, kita harus mencari tahu siapa sebenarnya yang sedang menggunakan wajahmu.”
Kami turun menuju ruang utama.
Dari kejauhan, terlihat seorang perempuan berdiri di dekat tangga. Ia mengenakan gaun hitam dengan rambut panjang terurai.
Aku berhenti melangkah.
Wajahnya...
Wajah itu sama persis denganku.
Namun, ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Tatapannya dingin, seolah-olah tidak memiliki perasaan.
Perempuan itu tersenyum.
“Akhirnya kita bertemu lagi, Isabella.”
Aku menelan ludah.
“Siapa kau?”
Ia tertawa kecil.
“Kau benar-benar tidak mengenaliku?”
“Aku tidak pernah melihatmu.”
Perempuan itu mendekat.
“Dua puluh lima tahun lalu, kita berada di ruangan yang sama. Kau menangis di pelukan Elena, sedangkan aku dibawa pergi oleh seseorang yang bahkan tidak mengetahui siapa diriku.”
Aku menatapnya bingung.
“Jadi, kau Victoria?”
Senyumnya menghilang.
“Victoria adalah nama yang diberikan kepadaku. Tapi nama asliku adalah Isabelle Imanuel.”
Dominic langsung mengangkat pistolnya.
“Berhenti di sana.”
Perempuan itu menatap Dominic.
“Masih suka memberikan perintah, rupanya.”
“Jawab pertanyaanku. Siapa kau sebenarnya?”
Ia mengeluarkan sebuah kartu identitas dari tasnya dan meletakkannya di meja.
“Namaku Isabelle. Aku adalah saudara kembar Isabella.”
Aku melangkah maju.
“Kalau kau memang saudara kembarku, mengapa ada pesan yang mengatakan bahwa kau sudah meninggal dua puluh tahun lalu?”
Isabelle tersenyum tipis.
“Karena seseorang memang menginginkan semua orang percaya bahwa aku sudah mati.”
Richard muncul dari lorong belakang.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan terakhir kali aku melihatnya. Ia berjalan perlahan dengan bantuan tongkat.
“Isabelle...”
Perempuan itu langsung menoleh.
“Akhirnya kau datang juga, Richard.”
Aku mendekati pria yang selama ini kuanggap sebagai ayahku.
“Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?”
Richard menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Isabella, ada banyak hal yang belum Ayah ceritakan.”
“Apakah perempuan itu benar-benar saudara kembarku?”
Richard mengangguk pelan.
“Ya.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Lalu mengapa Ayah mengatakan bahwa aku anak tunggal?”
Richard menundukkan kepala.
“Karena saat kalian dilahirkan, seseorang berusaha membunuh kedua bayi itu. Ayah hanya berhasil menyelamatkanmu.”
Isabelle tertawa sinis.
“Jangan dengarkan dia. Dia bukan penyelamat. Dia adalah orang yang memisahkan kita.”
Richard menatapnya sedih.
“Aku melakukan semuanya untuk melindungi kalian.”
“Melindungi?” Isabelle mendekat. “Kau mengirimku ke tempat asing, mengganti identitasku, dan membiarkanku tumbuh tanpa mengetahui siapa keluargaku!”
Aku menatap Richard.
“Ayah, apakah itu benar?”
Ia tidak menjawab.
Dan diamnya sudah cukup untuk membuatku mengerti bahwa ada sesuatu yang jauh lebih buruk di balik semua ini.
Dominic akhirnya menurunkan pistolnya sedikit.
“Kita perlu membicarakan buku hitam.”
Isabelle tersenyum.
“Jadi, kau masih menginginkan buku itu?”
“Aku ingin tahu siapa yang membunuh ibuku.”
Isabelle mengangguk.
“Kalau begitu, kau harus membaca halaman terakhir.”
Aku langsung teringat pesan ibuku.
Jangan biarkan Dominic membaca halaman terakhir.
“Tidak!” seruku.
Semua orang menoleh kepadaku.
Dominic mengerutkan kening.
“Isabella?”
“Ibu sudah memperingatkanku. Kau tidak boleh membaca halaman terakhir.”
Isabelle tertawa.
“Menarik sekali. Elena masih mencoba mengendalikan kehidupan kalian, bahkan setelah menghilang.”
“Apa maksudmu?”
Isabelle mengeluarkan sebuah amplop kecil.
“Karena halaman terakhir bukan hanya berisi nama pembunuh Clara. Di sana juga terdapat identitas anak yang sebenarnya menjadi pewaris keluarga Imanuel.”
Ia menyerahkan amplop itu kepadaku.
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen kelahiran.
Aku membaca nama yang tercantum di sana.
ISABELLE IMANUEL.
Sementara di bawahnya tertulis:
ISABELLA LAURENT — IDENTITAS PENGGANTI.
Aku menggeleng.
“Tidak. Ini pasti salah.”
Isabelle tersenyum pahit.
“Selama ini kau hidup menggunakan identitasku, Isabella. Sedangkan aku tumbuh menggunakan nama yang diberikan orang lain.”
Aku menatap Richard.
“Apakah itu benar?”
Richard mengusap wajahnya.
“Ketika kalian lahir, Adrian menginginkan seorang pewaris laki-laki. Namun, setelah mengetahui bahwa Elena melahirkan dua anak perempuan, dia memutuskan untuk menyembunyikan salah satunya.”
“Kenapa?”
“Karena salah satu bayi memiliki tanda lahir yang sama dengan pewaris pertama keluarga Imanuel. Tanda itu menjadi bukti bahwa dia adalah pewaris sah.”
Aku spontan menyentuh bagian belakang bahuku.
Ada tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit di sana.
Richard melihat gerakanku.
Kemudian wajahnya berubah pucat.
“Isabella...”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Ia berbisik.
“Selama ini Ayah mengira tanda lahir itu ada pada Isabelle.”
Ruangan mendadak sunyi.
Isabelle mendekatiku.
Ia menarik sedikit bagian belakang gaunnya.
Di bahunya terdapat tanda lahir yang sama persis.
Bulan sabit kecil.
Aku mundur beberapa langkah.
“Bagaimana mungkin?”
Isabelle tersenyum dingin.
“Karena kita memang dilahirkan sebagai saudara kembar. Tanda itu bukan satu-satunya bukti.”
Ia mengeluarkan sebuah kalung dari lehernya.
Kalung berbentuk setengah lingkaran dengan ukiran huruf I.
Aku terkejut ketika menyadari bahwa aku memiliki kalung yang sama.
Aku mengambilnya dari balik bajuku.
Dua kalung itu tampak seperti pasangan yang sengaja dibuat untuk disatukan.
Isabelle mempertemukan kedua bagian tersebut.
Klik.
Keduanya menyatu menjadi sebuah lingkaran sempurna.
Di bagian dalamnya terdapat tulisan kecil.
DUA DARAH, SATU WARISAN.
Dominic memperhatikan kalung itu.
“Jadi, siapa yang sebenarnya menjadi pewaris?”
Isabelle mengangkat wajah.
“Kami berdua.”
Richard menggeleng.
“Tidak. Ada satu dokumen lagi yang belum kalian lihat.”
Ia membuka tas kecil yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah.
“Ini surat wasiat asli Adrian.”
Dominic mengambilnya.
Namun, sebelum sempat membuka amplop tersebut, terdengar suara tembakan dari luar mansion.
Marco berteriak melalui alat komunikasi.
“Tuan! Ada penyusup!”
Dominic segera menarikku ke belakang tubuhnya.
Isabelle berlari menuju pintu samping.
“Jangan biarkan dia pergi!” teriak Richard.
Namun, semuanya terlambat.
Seseorang muncul dari balik lorong dan mengarahkan pistol kepada kami.
Aku menjerit.
Dominic langsung mendorongku ke lantai.
Satu tembakan terdengar.
Richard terjatuh.
“Ayah!”
Aku merangkak mendekatinya.
Darah mulai membasahi kemejanya.
Dominic membalas tembakan ke arah penyusup, sementara Marco dan penjaga lainnya mengejar orang tersebut.
Aku menggenggam tangan Richard.
“Bertahanlah, Ayah. Tolong jangan tinggalkan aku.”
Richard berusaha membuka matanya.
“Isabella... dengarkan Ayah.”
Aku mengangguk sambil menangis.
“Jangan... percaya... kepada Adrian.”
“Apa?”
Richard mencengkeram tanganku dengan sisa tenaganya.
“Dia bukan ayah kandungmu.”
Aku membeku.
“Tidak mungkin. Ibu mengatakan—”
“Adrian hanya menggunakan nama Imanuel untuk menutupi kebenaran.”
Napas Richard semakin melemah.
“Orang yang sebenarnya menjadi ayahmu... adalah orang yang selama ini paling kau percayai.”
Aku menatapnya kebingungan.
“Siapa, Ayah?”
Richard mencoba mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Dominic.
Namun, sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, tangannya terkulai.
“Ayah!”
Aku menangis sambil mengguncang tubuhnya.
Dominic berlutut di sampingku.
Ia memeriksa denyut nadi Richard, lalu memejamkan mata.
“Isabella...”
Aku menggeleng keras.
“Jangan katakan apa pun. Tolong...”
Dominic menarikku ke dalam pelukannya.
Untuk beberapa saat, aku hanya bisa menangis di dadanya.
Namun, kesedihan itu berubah menjadi ketakutan ketika aku menyadari sesuatu.
Richard tadi menunjuk Dominic.
Apakah itu berarti...
Beberapa menit kemudian, Marco kembali membawa sebuah benda yang ditemukan di dekat tubuh penyusup.
Sebuah ponsel.
Dominic mengambilnya dan membuka pesan terakhir yang diterima perangkat tersebut.
Pengirimnya adalah nomor Adrian Imanuel.
Isi pesannya hanya satu kalimat.
“Bunuh Richard sebelum dia memberitahukan kepada Isabella bahwa ayah kandungnya adalah Dominic.”
Aku merasa seluruh tubuhku kehilangan tenaga.
Ponsel itu terlepas dari tangan Dominic.
Aku perlahan mengangkat wajah.
Dominic sedang menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Isabella, dengarkan aku. Ada sesuatu yang harus kujelaskan.”
Aku mundur satu langkah.
“Jangan mendekat.”
“Isabella...”
“Selama ini kau tahu?”
Dominic tidak menjawab.
Air mataku kembali jatuh.
“Apakah mungkin... kau adalah ayah kandungku?”
Dominic memejamkan mata.
Dan sebelum ia sempat memberikan jawaban, sebuah suara terdengar dari pengeras suara mansion.
Suara Adrian.
“Selamat, Dominic. Akhirnya rahasia terbesar keluarga kita terbuka.”
Kemudian ia tertawa.
“Tapi ada satu hal yang belum kalian ketahui.”
Aku menatap pengeras suara dengan napas tertahan.
Adrian melanjutkan.
“Dominic bukan ayah Isabella. Dia adalah anak dari perempuan yang membunuh ibu kandung Isabella.”
Sambungan terputus.
Aku menatap Dominic.
Sementara di tanganku, kalung berbentuk lingkaran itu tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan sebuah tulisan tersembunyi.
PROYEK IMANUEL — DUA BAYI, SATU KEMATIAN.
Malam itu aku akhirnya mengerti.
Rahasia keluarga kami bukan sekadar tentang warisan, kebohongan, atau pembunuhan.
Ada sebuah rahasia kelahiran yang bahkan belum sepenuhnya terungkap.
Dan seseorang sedang memastikan bahwa tidak ada satu pun dari kami yang hidup cukup lama untuk mengetahuinya.
BERSAMBUNG...
jangan lupa mampir kakk..🤭