(Buku ini sedang direvisi penulis untuk pengalaman membaca lebih baik)
*****
Shena yang baru ditinggal menikah oleh pacarnya pergi ke Afrika Selatan untuk bersafari menghibur diri. Dalam perjalanan, Shena satu pesawat dengan seorang dokter bedah tampan yang akan melamar pacarnya yang juga seorang dokter dan bekerja di Afrika.
Malangnya, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan dan mendarat darurat di hutan belantara sesaat sebelum mereka tiba di Johannesburg.
Firza, sang dokter bedah berhasil membawa Shena keluar dari pesawat.
Dan di tengah kekacauan dan kesulitan mereka untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan, ternyata ada sosok makhluk yang mengintai mereka.
Akankah para penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup?
Mampukah Shena bertahan dari makhluk hutan dan pesona Firza yang telah memiliki pacar?
Originally Story by juskelapa
Insta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Api Unggun Besar
Salah seorang Ketua Tim Pencari sedang duduk menyalakan kompor kecil portable yang berbahan bakar gas untuk memanaskan satu teko air yang baru diambilnya dari sungai di dekat tempat mereka bermalam. Seorang bawahannya mendekati sambil menggosok-gosokkan tangan di depan kompor yang apinya berkedip-kedip tertiup angin.
(Percakapan dalam bahasa asing)
Anggota Tim : "Sir, kau tidak tidur?"
Ketua Tim : "Sepertinya aku tidak tidur malam ini, biar aku berjaga."
Anggota Tim : "Apa kau juga pernah mendengar tentang makhluk yang tinggal di hutan ini Sir?"
Ketua Tim : "Kurasa semua orang pernah mendengarnya. Tapi baru-baru ini belum ada seorang pun manusia yang tinggal di dekat sini pernah melihatnya. Dulu pernah ada yang melihat, mungkin dari dialah rumor itu beredar."
Anggota Tim : "Tapi Nenekku mengatakan kalau makhluk itu benar-benar ada. Di jaman pemerintahan Kepala Daerah yang dulu semua orang dilarang mendekati hutan. Kepala Daerah yang dulu memerintah di sini tampaknya benar-benar tahu akan sesuatu. Tapi sekarang dia sudah sangat tua sekali. Mungkin juga sudah pikun."
Ketua Tim : "Tidak ada yang pernah tahu, tidak ada yang pernah melihat. Tapi banyak orang masuk ke hutan ini tak pernah kembali. Dan kau juga merasa kalau sepanjang kita menyisir daerah ini kita tidak menemukan hewan buas?"
Anggota Tim : "Saya kurang memperhatikan itu Sir, saya hanya tidak bisa tidur karena menyadari jika terlalu dekat dengan sungai. Nenekku mengatakan jika makhluk-makhluk itu pasti tinggal tidak jauh dari tepian sungai."
Ketua Tim : "Besok sebelum matahari terbit, kita harus segera bergerak. Besok sudah hari kelima. Aku tak bisa membayangkan jika ada penumpang pesawat selamat yang terluka dan belum mendapat pertolongan hingga besok."
Kemudian si ketua tim menyeduh dua cangkir teh dan memberikan secangkir kepada anggota timnya yang sepertinya sudah mengetahui akan keberadaan makhluk-makhluk itu. Dia tidak mungkin mengatakan jika dirinya tidak tidur karena akan mengamati dan menajamkan telinganya akan sesuatu yang bisa saja mengancam mereka dalam kegelapan malam.
...--oOo--...
Firza menahan ujung tombak sekuat tenaganya agar tidak masuk lebih dalam. Makhluk besar masih brutal menghujamkan tombak ke dadanya.
Dalam upayanya menahan ujung tombak itu, Firza mendengar Shena meneriakkan namanya dengan putus asa.
Kemudian telinganya mendengar suara pintu kayu terbuka, dan dia bisa memastikan kalau Shena sudah aman berada di luar bangunan yang sedang terbakar. Dengan sisa-sisa tenaganya Firza mendorong tombak agar menjauh dari dadanya, tombak itu terus terangkat ke atas menuju pemiliknya.
Saat ujung tombak sudah terangkat dari dadanya, Firza mengangkat kaki kanan dan menendang makhluk besar penyerangnya. Tapi tendangannya yang sudah kurang bertenaga hanya membuat makhluk itu mundur selangkah.
Tak jauh dari tempatnya terbaring, makhluk perempuan tampak merintih-rintih dengan kondisi yang mengenaskan. Perutnya robek menganga karena meleleh tertimpa panci yang berisi air mendidih. Sebagian ususnya keluar hingga hampir menyentuh lantai.
Sama seperti Firza, makhluk besar itu kini sendirian dengan sisa-sisa tenaga yang sedang berusaha menghabisinya. Geraman dan lolongan disertai suara melengking dari makhluk itu menggambarkan dirinya juga sangat putus asa.
Firza melihat makhluk buas yang bertubuh sangat besar itu mengeluarkan sedikit air mata dari mata putihnya yang seperti tertutup kabut. Makhluk besar itu sedang menangisi teman-temannya.
Dengan gerakan membabi-buta makhluk itu kembali mengangkat tombak dan kembali menghujam ke arah wajah Firza. Ia mengelak dengan bergerak ke kanan. Saat itulah ia menyadari kalau mereka telah tiba di sudut dapur bagian kiri.
Api mulai masuk ke bagian dalam rumah, suara berderak kayu-kayu yang terbakar mulai terdengar. Hawa semakin panas dan ruangan mulai dipenuhi asap.
Keringat membasahi seluruh tubuh Firza. Darah mengucur deras dari luka di dadanya. Sambil menekan luka dengan tangan kirinya yang masih berbalut syal Shena, Firza terus bergeser sampai mencapai sudut dapur. Kaki kanannya meraba-raba untuk mencapai tiang rumah yang sejak tadi diincarnya.
Rumah kayu itu menggunakan batang pohon besar dan ramping di tiap sudutnya sebagai tiang penyangga. Antara tiang dan batang pohon kayu yang berperan sebagai dinding, diikat menggunakan akar-akar pohon yang dijalin. Firza mendengar tiang penyangga itu sudah berkali-kali berderak karena api yang menjalarinya. Jalinan akar pengikat sudah mulai terbakar.
...--oOo--...
Shena melihat dengan mata kepalanya makhluk besar itu menghujamkan tombaknya ke dada Firza. Ia melihat Firza meringis kesakitan sambil menahan tombak di dadanya. Shena merasa dadanya seperti ikut tertusuk.
Hilmi dan Adly terus menyeretnya keluar menjauhi rumah yang terbakar. Shena terus menangis sambil mengatakan, "Firza masih di dalam, jangan tinggalin dia. Aku ga mau pergi kalo dia ga ikut. Dia harus keluar sekarang. Firza harus keluar sekarang."
Shena meraung-raung tidak berdaya karena tangan Hilmi terus menahannya untuk tidak berdiri dan berlari masuk kembali ke rumah kayu yang terbakar.
"Firza will come out soon, we must trust him. Adly already got rid of the woman. (Firza akan keluar segera, kita harus mempercayainya. Adly baru saja menyingkirkan makhluk perempuan itu)" Hilmi berbicara sambil terus menatap rumah kayu.
Tangan kanannya memegang erat lengan kiri Shena dan tangan kirinya memegang pahanya yang terluka. Adly duduk tak jauh dari mereka sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dahan panjang yang sedari tadi dipegangnya berada tak jauh dari tempatnya duduk mengatur nafas.
"Where is Chris? he burned down this house and then just left? (Mana Chris? Dia membakar rumah itu kemudian pergi begitu saja?)" Adly berbicara masih sambil mengatur nafasnya.
"At least he is still alive. (Setidaknya dia masih hidup)" Hilmi menjawab tanpa menoleh kepada Adly.
Tak berapa lama dari kejauhan mereka kembali mendengar lagu we wish you a merry christmas yang dinyanyikan oleh suara tak asing. Nyanyian itu semakin lama semakin mendekat, Chris sedang menuju ke arah mereka.
Ketika tiba di hadapan mereka, pemuda jangkung berwajah tirus itu masih menggenggam kayu dengan api menyala yang diambilnya dari tungku rumah kayu. Luka di perutnya sepertinya tidak dalam, karena bercak darah di kaos yang dikenakannnya mulai menggelap dan mengering.
Saat melihat sahabat-sahabatnya yang tidak berkedip menatapnya, Chris menghentikan nyanyiannya.
Dengan wajah panik dan histeris dia berkata,
"Guys, what are you doing here? Firza was alone in the burning house! (Guys, apa yang kalian lakukan di sini? Firza sendirian di dalam rumah yang terbakar itu!)"
Hilmi sudah menarik nafas ingin menjawab pertanyaan sahabatnya yang sudah setengah gila. Tapi belum sempat kata-kata keluar dari mulutnya, Chris sudah berlari menuju rumah kayu dan melewati pintu yang sekarang daunnya telah jatuh karena lepas dari bingkainya.
...--oOo--...
Kaki kanan Firza kini bertumpu pada tiang rumah yang bagian atasnya sudah dijalari api. Setelah berhasil menendang makhluk besar itu hingga mundur selangkah, Firza punya kesempatan menarik nafas meski kemudian luka di dadanya terasa nyeri dan perih hebat.
Kini makhluk besar itu berhasil menyamakan kedudukan. Firza memanah dada kanan makhluk itu, dan si makhluk berhasil menikamkan tombaknya pada dada kanan Firza.
Setelah terhuyung-huyung ke belakang sebentar karena tendangan Firza, makhluk itu kembali maju ke arah pria itu dengan mengangkat tombaknya lebih tinggi.
Sesaat sebelum tombak itu mengarah ke wajahnya, Firza mengelak ke samping kanan dan menendang tiang sudut rumah yang mulai hilang kekuatannya.
Ikatan penghubung tiang yang terbuat dari akar sudah habis terbakar, panas kobaran api telah menerpa wajah Firza yang berbaring menghadap atap rumah.
Kaki tiang yang terdorong ke arah luar membuat batang pohon besar ambruk dan tumbang ke bagian dalam rumah menimpa si makhluk besar.
Firza yang tidak memiliki banyak waktu untuk menghindar akhirnya malah tertimpa makhluk besar yang tak sadarkan diri dengan tiang kayu terbakar berada di atas punggungnya.
"Aaarghhh...." Erangan keras pertama yang keluar dari mulut pria itu sejak ia tiba di hutan.
Firza yang tak terbiasa berbicara keras, selalu tenang dan tak gampang panik sekarang merasakan hidupnya benar-benar berada di ujung tanduk. Api sudah semakin melalap hampir seluruh dapur.
Makhluk perempuan sudah tergeletak tak berkutik dengan perut menganga meneteskan cairan isi perutnya.
Firza masih bisa merasakan nafas makhluk besar yang menindihnya, makhluk itu masih hidup. Dengan tangan kirinya yang masih menekan luka, tangannya terhimpit di antara tubuhnya sendiri dan makhluk itu.
Sekuat tenaga dia berusaha menggeser tangannya, namun usahanya sia-sia. Dia sudah kehabisan tenaga.
Nafasnya mulai pendek-pendek sesak karena asap yang sudah memenuhi ruangan. Matanya sudah sangat perih tak sanggup terbuka lebih lama. Firza mengerjapkan matanya berkali-kali berusaha untuk tetap terjaga.
Di antara cahaya kuning kobaran api dan asap putih yang tebal Firza melihat seorang pemuda jangkung dengan wajah tirus mencoba menendang tiang kayu yang terbakar berkali-kali dari atas punggung makhluk besar.
Firza melihat pemuda itu susah payah menyeret si makhluk besar untuk menyingkirkan dari atas tubuhnya. Suara kayu yang berderak kemudian disusul jatuhnya sebuah kayu terbakar mengenai pemuda itu. Chris.
Chris jatuh tersungkur karena kayu yang cukup besar jatuh mengenainya. Firza mencoba bangkit untuk melihat keadaan Chris, tapi pemuda itu kemudian bangkit dengan cepat dan tersenyum kepada Firza.
"Bro... I came to help you. (Bro, aku datang menolongmu)" teriak Chris di tengah kegaduhan.
Bahkan Firza tak sempat menatap pemuda itu saat dengan tangkasnya dia mengangkat lengan kanan Firza ke atas bahunya. Firza menyipitkan matanya di dalam asap yang semakin menebal dan sebisa mungkin menahan nafas dalam usaha mereka mencari pintu keluar yang sudah tak terlihat.
Dadanya semakin perih dan kepalanya terasa pusing berputar-putar. Dalam langkahnya yang terseok-seok, Firza mencoba mengingat apa yang dilakukan Chris beberapa saat terakhir.
Pria itu masih mengingat jelas Chris yang demam, diculik dua orang makhluk, berteriak-teriak seperti kesurupan dan kemudian bernyanyi lagu kebangsaannya. Dan sekarang pemuda itu menerobos rumah yang terbakar untuk menolongnya.
...--oOo--...
Sekarang Hilmi sudah melepaskan pegangan tangannya pada lengan Shena. Dari jarak lebih kurang 20 meter mereka bertiga menatap rumah kayu yang satu persatu kayunya mulai berjatuhan.
Halaman rumah yang sekelilingnya cukup luas menjadikan api yang sedang melahap rumah kayu tak sampai menjilat pepohonan sekitarnya. Shena bersandar pada sebuah pohon menatap kosong pada kobaran api dengan airmata yang mengering di pipinya. Rambutnya acak-acakan, dan jaket yang dipakaikan Firza kepadanya robek pada sisi lengan kanan. Hilmi duduk di sebelah Shena bersama Adly.
Hilmi menutup luka di kakinya terus menerus, entah itu karena sakit atau karena dia tidak berani menatap lukanya sendiri.
Adly menatap rumah kayu dengan pandangan sedih dan frustasi. Rambutnya yang lurus kaku dan kehilangan daya pomadenya tegak berdiri mencuat ke mana-mana.
Mereka semua kehilangan orang terdekat mereka sekaligus. Shena kehilangan Firza, 'tunangannya' yang pesonanya tak tertolak. Sedangkan Hilmi dan Adly kehilangan sahabat senegaranya yang beberapa saat lalu baru mereka ketahui memiliki bug di kepalanya dan mengalami error.
Shena melipat kakinya dan memeluk lutut. Ia tak sanggup menyaksikan rumah yang sekarang bagai tempat kremasi bagi Firza. Ia terus membenamkan wajah di lipatan tangan dan mulai menangis lagi. Suara tangisnya keras terdengar di antara suara derak kayu.
Bunyi kayu yang berjatuhan satu persatu membuat Shena semakin membenamkan kepalanya, tangisnya semakin keras dan bahunya berguncang.
Shena merasa dirinya tak menjejak bumi, badannya terasa mengambang dan kepalanya terasa ringan. Dia merasa terombang-ambing dalam usahanya mempertahankan kesadaran.
Braakkkk!!
Bunyi kayu jatuh yang paling keras membuat Shena semakin menutup matanya serapat mungkin.
"Firzaaaa......" teriak Shena menutup telinganya, wajahnya masih tertunduk ke lutut.
Shena merasa benar-benar kehilangan seorang tunangan sungguhan.
"Firzaaa....." teriak Shena yang semakin melemah.
"Harusnya aku ikut... Harusnya aku ikut aja..." ratap Shena berbicara kepada dirinya sendiri, masih dengan memejamkan mata dan menutup telinganya.
Kemudian Shena merasakan dua tepukan ringan di pundaknya, ia mengangkat wajah untuk menoleh. Dilihatnya sepasang mata sayu dan lelah sedang menatapnya.
"Mau ikut kemana? Aku masih di sini," bisik Firza yang baru tiba dengan dipapah oleh Chris dan langsung duduk di sebelah wanita itu. Wajahnya penuh keringat, pelipisnya mengeluarkan darah yang menetes hingga ke pipinya. Tangan kirinya menekan luka bekas hujaman tombak di dada kanan, nafasnya mulai pendek-pendek.
Sedangkan Hilmi dan Adly hanya berdiri terpukau melihat kedatangan sahabat mereka yang tak disangka-sangka. Seperti Shena, mereka berdua kehabisan kata-kata sambutan yang bahagia untuk diucapkan.
Setelah beberapa detik Shena menatap Firza dengan pandangan tak percaya, kemudian ia menghambur ke pelukan laki-laki itu dan menghujaninya kembali dengan airmata.
Shena kembali menangis meraung-raung sama kerasnya seperti melihat rumah kayu terbakar.
"Aku kira kamu udah pergi... Aku kira kamu udah pergi."
Shena memeluk Firza seerat yang dia bisa, dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya. Kemudian Shena melepas pelukannya. Memegang pipi pria itu dengan kedua tangannya dan kembali memeluknya. Shena menciumi pipi pria itu berkali-kali, memeluknya lagi dan kemudian mencium pundak Firza yang masih dalam pelukannya.
Sesaat Shena lupa kalau di luar hutan berbahaya tempat mereka sekarang, ada seorang wanita lain sedang menunggu Firza kembali dengan cemas.
Antara tersenyum dan meringis kesakitan dalam dekapan hangat dan ciuman Shena yang bertubi-tubi ke pipinya, Firza berkata kepada wanita itu, "Tolong bukain syal kamu yang di lengan kiri aku. Luka di dadaku ini cukup dalam, jadi harus di tekan terus. Aku udah cukup banyak kehilangan darah. Pakai syal itu dan bantu aku untuk nekan lukanya. Aku capek."
Dengan wajah sembab amburadul dan noda butir hitam sisa maskara di bawah matanya, Shena membuka syal yang dililitkannya di lengan kiri Firza.
Shena melipat syal itu hingga padat dan meletakkannya di atas luka Firza. Tangan kiri pria itu sekarang terkulai lemah di atas perutnya. Shena menekan luka itu sesuai dengan instruksi Firza.
Adly bertanya apa ada yang bisa dibantunya kepada Firza, tetapi pria itu hanya menggeleng lemah.
Chris mendekati Firza dan merogoh saku celana chino abu-abu pria itu, kemudian Chris mengeluarkan ponsel Firza dan mengusap layarnya.
"Bro... Your phone battery remaining 5%, I left my username on social media photo account in the Notes Application. Awak mesti selamat dan melayan Saya makan. I saved your life, (Bro... Baterai ponselmu tersisa 5%, username akun foto media sosial-ku kutinggalkan di aplikasi notes. Awak mesti selamat dan melayan saya makan. Aku menyelamatkan hidupmu)" pinta Chris pada Firza.
Chris mengatakan kalau dia telah meninggalkan nama akun sosial medianya, Firza harus selamat dan mentraktirnya makan karena dia telah menyelamatkan nyawa pria itu. Chris kembali memasukkan ponsel Firza ke dalam saku pria itu.
Di antara nafasnya yang berat dan wajahnya yang pucat, Firza tersenyum kepada Chris. Hilmi dan Adly yang saking takjubnya melihat Chris tampak seperti akan mencium sahabatnya itu.
Chris yang menyadari kedua sahabatnya terus-terusan memandanginya menoleh ke arah mereka dan berkata,
"Save your questions for later, one of you, or I think Adly is the right person. Come with me to pick up Chen and his wife. Let them know that it's safe now. The sun will rise soon. (Simpan pertanyaanmu untuk nanti, salah satu dari kalian, atau menurutku Adly orang yang tepat. Ikutlah denganku untuk menjemput Chen dan istrinya. Beri tahu mereka bahwa sekarang sudah aman. Matahari akan segera terbit)"
"And you can go alone if it's safe (Dan kau bisa pergi sendiri kalau kau bilang sudah aman)" Adly mendengus mendengar kata-kata Chris yang mengajaknya menjemput pasangan suami istri, Chen dan Mei.
Di balik sikapnya yang tadi sangat heroik, Adly menyadari bahwa Chris sudah kembali normal. Buktinya Chris sudah kembali menjadi seorang yang penakut dengan mengajak Adly menemaninya untuk menjemput pasangan suami-istri.
Firza semakin lemah dan tak sanggup lagi untuk duduk bersandar di pohon. Shena menjulurkan kakinya dan meletakkan kepala pria itu di pangkuan, tangan kanannya masih menekan luka di dada kanan Firza dengan menggunakan Syal.
Shena menghapus keringat dan darah kering di wajah Firza dengan telapak tangan kirinya. Mata pria itu tertutup tapi masih dalam kondisi sadar. Dan Shena menyadari kalau tubuh Firza sangat dingin dan wajahnya pucat bagaikan kapas
"Aku sedang memasuki tahapan syok hemoragik. Tekanan darahku udah menurun, tubuhku dingin, denyut nadiku semakin cepat dan mungkin sebentar lagi aku bakal hilang kesadaran. Bantu aku tetap sadar Shen...." Suara Firza terdengar sangat lemah namun jelas.
"Aku harus gimana? Bilang aku harus gimana?" Shena menaikkan rambut Firza yang turun ke dahinya sambil menangis. Meski tanpa suara, airmata wanita itu menetes mengenai wajah Firza.
"Kamu jangan nangis...jelek tau. Mending kamu nyanyi." Firza mendongak ke atas untuk menatap Shena yang sekarang juga mendongak untuk menghindari tatapan mata sayu yang selalu berhasil membius dirinya.
"Aku ga nangis. Ya udah aku nyanyi" Shena cepat-cepat menghapus airmatanya dengan tangan kirinya.
Shena juga heran kenapa airmatanya sekarang jadi begitu murahan ingin selalu tampil.
Ku berandai
Kau disini
Mengobati rindu ruai
Dalam sunyi
Kusendiri meratapi
Perasaan yang tak jua didengar
Tak kan apa
Bila rasa ini tumbuh sendirinya
Tak berdaya
Diri bila diantara
Walau itu hanya bayang-bayangmu
Senyumanmu yang indah bagaikan candu
Ingin trus kulihat walau dari jauh
Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhayal akan bisa bersamamu
(Halu - Feby Putri)
Suara Shena yang pas-pasan kembali mengalun menyanyikan lagu yang sama di antara suara api yang kini sudah hampir melalap habis rumah kayu. Kayu-kayu berjatuhan dan menumpuk hingga membentuk seperti api unggun besar.
Ketiga makhluk buas sedang dikremasi di dalamnya. Sekarang tidak akan ada lagi pemangsa manusia di hutan itu selain hewan.
Adly dan Chris pergi untuk melihat keadaan pasangan suami istri Chen dan Mei. Sebagai rekan satu negara dan satu suku, terlihat kepedulian yang sangat kentara di mata Chris. Meski kondisinya juga tidak benar-benar fit, pemuda itu bersikeras mereka harus mengabarkan Chen saat itu juga.
Adly yang masih bingung dengan sikap Chris hanya mengikuti sahabatnya tanpa banyak tanya. Mungkin pemuda itu merasa berdebat dengan Chris lebih melelahkan dibanding harus berjalan kaki ke cekungan tempat pasangan suami istri itu berada.
Sementara Hilmi masih terduduk bersandar di antara pohon-pohon rendah sambil memejamkan matanya. Langit mulai merah pertanda sebentar lagi matahari akan muncul. Dan api terlihat semakin redup seperti hendak ingin mengalah pada cahaya matahari yang akan keluar menyinari hutan itu.
...--oOo--...
(Percakapan dalam bahasa asing)
Ketua Tim : "Cepatlah kalian membereskan perlengkapan kita semua. Kita harus kembali berpencar untuk menyusuri daerah ini. Dua tim yang tersisa akan ke sisi lain, kita tetap menyusuri daerah tepian sungai."
Setelah melakukan briefing singkat dengan kedua ketua tim lainnya tentang pemetaan daerah yang akan mereka susuri hari itu, tim yang diketuai olehnya akan tetap menyusuri daerah tepian sungai. Kedua tim lainnya menyusuri daerah yang tak jauh dari mereka.
Anggota tim : "Semua sudah selesai Sir. Apa kita berangkat sekarang? Matahari belum sepenuhnya terbit."
Ketua Tim : "Kita akan berangkat sekarang, aku mendengar seseorang menyanyikan lagu natal kemarin malam. Suaranya sangat jauh, tapi itu jelas suara manusia. Dan makhluk buas itu tidak akan mungkin bernyanyi. Apalagi lagu natal. Ayo kita berangkat. Aku sudah menghubungi Alfred di pos penjaga untuk segera mengirimkan helikopter dalam situasi darurat"
Anggota Tim : "Baik Sir. Ketiga orang lainnya sudah kuberi perintah sesuai yang Anda katakan. Masing-masing menyusuri daerah dengan menjaga jarak radius lima meter setiap orang."
Ketua Tim : "Oke. Mari kita mulai"
Dalam cahaya remang-remang semua tim pencari kembali menyebar di wilayah itu untuk kembali menyisir. Ketua Tim yang berjaga semalaman terkantuk-kantuk dengan secangkir teh ternyata mendengar nyanyian Chris. Karena itu tanpa harus menunggu langit terang benderang mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan pencarian.
...--oOo--...
Suara Shena lama kelamaan menghilang seiring dengan wanita itu yang tercengang menatap rumah kayu yang telah rata dengan tanah menjadi abu.
"Fir...rumah itu udah jadi abu, apinya udah padam. Cuma tinggal asap. Kamu ga liat? Fir...." Shena berbicara kepada Firza yang masih terbaring di pangkuannya.
Firza diam tak bereaksi, tubuhnya semakin mendingin. Shena mengusap pipi pria itu perlahan.
"Fir...kamu denger aku? Firza... jangan ke mana-mana. Firzaaa...." Shena mulai menangis.
Hilmi bangkit melihat keadaan Firza, pemuda itu berjongkok di sebelah Firza yang sudah hilang kesadaran.
"Bro... wake up. You have to see this sunny day. (Bro, bangun. Kau harus melihat hari yang cerah ini)" Hilmi mengguncang tubuh Firza, tapi pria itu tidak bergerak sama sekali. Tangis Shena semakin menjadi-jadi.
"Hilmi.. what should I do? (Hilmi... Apa yang harus aku lakukan?" Shena meraung dalam tangisnya. Tangannya terus memegang luka Firza dan wanita itu menempelkan pipinya ke wajah Firza yang dingin.
Dalam usaha Hilmi yang terus mengguncang Firza dan suara Shena yang terus memanggil Firza dalam tangisnya mereka mendengar beberapa langkah kaki mendekat ke arah mereka.
Suara walkie-talkie berdesing seiring dengan percakapan bahasa asing yang terdengar.
Bagai sebuah film yang sedang diputar dengan cepat, tiba-tiba Shena dikerumuni oleh beberapa orang.
Pertanyaan-pertanyaan seperti :
"Mam, What is your name?"
"What is the name of this unconscious man?"
"Your origin country?"
"Are you from the same country?
"You know where you are?"
Bu, siapa namamu?
Siapa nama orang yang tidak sadar ini?
Negara asalmu?
Apakah Anda berasal dari negara yang sama?
Anda tahu sedang di mana?
Terdengar begitu saja dan Shena menjawab seperti robot yang sudah diprogram. Datar dan singkat. Mata Shena masih tertuju kepada Firza, mencari-cari sosok pria itu dalam kerumunan orang.
Seorang petugas menyenter matanya, memeriksa tekanan darahnya. Firza sudah lebih dulu diambil dari pangkuannya. Pria itu dibawa sejauh beberapa langkah dari posisinya, beberapa orang tampak berkumpul di dekat Firza.
Kemudian terdengar kembali suara orang berbicara yang berasal dari walkie-talkie.
Suara dari walkie-talkie mengatakan,
"A chopper has headed to the point you sent. Will arrive in a few minutes. (Helikopter telah menuju ke titik yang Anda kirim. Akan tiba dalam beberapa menit)"
Seorang petugas menanyakan kepada Hilmi tentang kemungkinan ada orang lain yang bersamanya, secara ringkas Hilmi menjelaskan tentang Adly dan Chris yang sedang menyusul pasangan suami istri.
Petugas tersebut mengatakan jika sudah ada tim lain yang menyusuri daerah itu dan akan menemukan keberadaan teman-teman mereka secepatnya.
Petugas kemudian berbicara pada walkie-talkie mengabarkan kepada seseorang di seberang perihal keberadaan penumpang selamat lainnya di tepi sungai.
...--oOo--...
Di pos jaga, Alfred menerima kabar dari salah satu ketua tim jika beberapa penumpang selamat korban pesawat telah ditemukan. Setelah menuliskan beberapa nama di secarik kertas, Alfred mengingat janjinya pada seorang wanita. Kemudian pria gemuk itu mencari sebuah kartu nama pada kantong kemejanya yang sekarang tergantung di balik pintu. Alfred kemudian menekan nomor telepon yang tertera pada kartu itu.
...--oOo--...
Pepohonan bergerak tertiup angin dan suara helikopter yang terbang di udara mulai mendekat hingga berada tepat di atas mereka.
Kemudian sebuah tandu diturunkan, tubuh Firza yang tidak sadarkan diri diikat erat dengan cepat dan tangkas oleh para petugas kesehatan yang tiba di hutan. Shena melihat tubuh Firza terangkat ke atas tiba di mulut helikopter dan disambut seorang petugas yang sudah bersiap menerimanya.
"Mam, you can come with us. You will go up with me (Bu, Anda bisa ikut dengan kami. Anda akan pergi dengan saya)" Seorang petugas berkata padanya jika dia bisa ikut naik helikopter yang sama dengan Firza.
Dengan ketangkasan luar biasa, mereka telah memasang sabuk pada pinggang Shena dan salah satu petugas merapatkan tubuhnya ke arah Shena.
Secara perlahan tubuh Shena terangkat ke atas menuju heli yang masih mengambang di udara menunggu mereka.
Setibanya di dalam heli, Shena melihat Firza telah diberi bantuan oksigen dari tabung portable. Seorang petugas berusaha menyadarkannya dengan terus mengajaknya berbicara.
"Sir, what is your full name. I need your full name. (Tuan, siapa nama lengkapmu. Aku perlu tahu nama lengkapmu)" Mata Firza masih menutup, nafasnya sangat cepat. Shena merangkak mendekatinya dan berbisik di telinga pria itu.
"Nama lengkap kamu siapa Fir? Aku bahkan ga bisa ngejawab mereka. Nama lengkap kamu siapa?" Shena kembali menangis sembari menempelkan bibirnya di telinga Firza.
Hidungnya mencium cambang pria itu, dan airmata Shena kembali membasahi wajah Firza.
Shena mencium wajah pria itu berkali-kali, ia merasa waktunya semakin sedikit.
"Firza Alamsyah. Nama lengkapku Firza Alamsyah." Suara Firza menjawab dari balik masker oksigen yang dikenakannya.
Shena tersenyum tipis menatap pria yang kembali menutup matanya. Dan Shena masih menunduk memeluk pria itu ketika helikopter mulai mendarat.
Rasanya begitu cepat saat keadaan kembali ramai dengan orang-orang yang berdatangan. Shena hanya diam terpaku ketika sebuah tandu yang dibawa seorang wanita Asia dan dua orang pria asing menuju ke arah mereka.
"I'm Risa. I am a doctor from State University Hospital. I will take over this patient now. (Saya Risa. Saya Dokter dari Rumah Sakit Universitas Negeri. Saya akan menangani pasien ini sekarang)"
Dokter wanita itu berbicara dengan salah satu petugas yang masih berada di dalam helikopter.
Petugas menjawab dengan acungan jempol tanda setuju. Kemudian mereka memindahkan Firza ke sebuah tandu dan pergi menuju sebuah helikopter yang mesinnya masih menyala.
Padang rumput luas bercampur dengan suara helikopter yang memekakkan telinga berdenging di kepala Shena.
Firza sudah dibawa oleh orang yang mencintainya, seorang wanita yang berasal dari dunia yang sama dengannya.
Firza pasti akan selamat dan baik-baik saja. Firza sudah berada di tangan yang tepat, dan Shena harusnya lega akan hal itu. Perlahan tandu yang membawa Firza mulai menjauh dari pandangannya. Shena merasa tubuhnya kehilangan tenaga dan kekuatan. Matanya panas dan dadanya terasa sesak.
"Aku bahkan belum sempat ngucapin makasih ke kamu Fir... Aku belum sempat ngucapin selamat tinggal." Shena menangis tertahan melihat pria itu sudah menghilang masuk ke dalam helikopter dan detik berikutnya heli itu terbang meninggalkan padang rumput.
...--oOo--...
Firza merasakan nafas Shena yang menangis di telinganya, wanita ini benar-benar cengeng pikirnya. Terlihat keras dan santai tapi begitu mudah mengeluarkan airmata.
Matanya terasa berat untuk dibuka, untuk berbicara ia harus mengumpulkan segenap tenaganya. Hampir tak sanggup mengeluarkan suara, tapi dirinya lebih merasa tak sanggup jika mengetahui wanita di sebelahnya ini sangat khawatir dan menangis terus menerus.
Akhirnya dia berhasil menyebutkan nama lengkapnya. Wanita itu tersenyum dan ia bisa menutup matanya lagi dengan lega.
Saat berikutnya, Firza merasakan tubuhnya digeser dan sebuah suara lain yang dikenalinya berbicara.
Risa. Itu adalah suara Risa, kekasihnya yang telah tiba untuk menjemput dan merawat lukanya. Dengan tubuh yang terasa sangat lemah dan tak berdaya, dia tak bisa lagi mengeluarkan sepatah kata pun meski hanya kata "Hai".
Risa telah membawanya menjauh dari helikopter yang membawa tubuhnya pertama kali. Sesaat sebelum memasuki heli kedua, Firza membuka matanya untuk melihat Shena mungkin untuk yang terakhir kali.
Shena sedang berdiri memandangi tandu yang membawa tubuhnya. Wanita itu diam terpaku dengan seorang petugas di sebelahnya yang sepertinya sedang berbicara pada wanita itu.
Jaket yang dipakaikannya pada Shena tampak sangat kotor. Dari kejauhan ia bisa melihat Shena kembali menangis. Ya. Wanita itu pasti menangis lagi karena dia pergi tanpa mengajak dirinya. Ada perasaan sakit yang berbeda di dadanya sekarang.
Dalam hatinya berkata, "Shen...petugas itu sedang bicara. Jawab pertanyaannya. Bilang kalo kamu masih demam, tangan kamu tadi terasa panas. Semoga kamu selalu sehat ya Shen..."
Kemudian pandangannya kepada Shena terhalang oleh pintu heli yang mulai menutup.
...***...
...To Be Continued...
...Dibantu klik likenya ya sayang......
baca ini sudah ke 3 kalinya 😍😍