Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
Langit Jakarta sore itu terlihat mendung dari balik jendela apartemen mewah yang kini menjadi tempat tinggal Nadia dan suaminya.
Nadia berdiri di depan jendela sambil memegang secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Tatapannya kosong mengarah pada deretan gedung tinggi yang berdiri kokoh di kejauhan.
Hari ini genap 5 tahun pernikahannya dengan Adrian Mahendra.
5 tahun yang seharusnya menjadi hari bahagia.
Namun entah mengapa, hatinya justru terasa sesak.
Ia tersenyum kecil, pahit.
Pikirannya tanpa sadar kembali pada masa-masa ketika semua ini bermula.
Lima tahun lalu.
Saat itu Nadia hanyalah mahasiswi sederhana di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Gadis dari keluarga biasa yang berhasil menginjakkan kaki di kampus impiannya berkat beasiswa penuh.
Setiap pagi ia harus berangkat lebih awal daripada mahasiswa lain. Selain kuliah, ia juga bekerja paruh waktu untuk membantu kebutuhan hidupnya di Jakarta.
Hidupnya jauh dari kata mudah. Namun Nadia tidak pernah mengeluh.
Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib keluarganya.
Hari itu, saat sedang duduk sendirian di perpustakaan kampus, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang sama sekali berbeda darinya.
Adrian Mahendra.
Mahasiswa paling terkenal di fakultas mereka.
Putra tunggal keluarga Mahendra, salah satu keluarga pebisnis paling berpengaruh di Indonesia.
Dan menjadi idaman hampir seluruh mahasiswi di kampus.
Saat itu Adrian tanpa sengaja mengambil buku yang sama dengan yang hendak Nadia ambil.
Dan sejak hari itu, hidup Nadia perlahan berubah.
Awalnya Nadia mengira Adrian hanya tertarik sesaat.
Bagaimanapun juga, dunia mereka terlalu berbeda.
Adrian tumbuh dengan kemewahan.
Sementara Nadia tumbuh dalam kesederhanaan.
Namun Adrian tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Ia justru selalu hadir di saat Nadia membutuhkan dukungan.
Menemaninya belajar hingga larut malam.
Mengantar makanan saat Nadia terlalu sibuk mengerjakan tugas.
Bahkan rela menunggu berjam-jam di perpustakaan hanya untuk pulang bersama.
Perhatian kecil yang perlahan membuat Nadia jatuh cinta.
Dan ternyata perasaan itu berbalas.
Mereka resmi menjalin hubungan di tahun kedua kuliah.
Saat itu Nadia merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.
Ia tidak tahu bahwa cinta mereka akan menghadapi ujian yang jauh lebih besar.
Keluarga Mahendra tidak pernah menyukai Nadia.
Sejak awal.
Terutama ibunda Adrian.
Wanita itu selalu memandang Nadia dengan tatapan meremehkan.
Seolah keberadaan Nadia adalah noda yang mengotori kesempurnaan putranya.
"Kamu gadis yang baik. Tapi kamu tidak sepadan dengan Adrian."
Kalimat itu masih Nadia ingat hingga hari ini.
Terucap dengan dingin dan tanpa belas kasihan.
Hari itu Nadia pulang sambil menangis di dalam bus kota.
Namun bukan Nadia namanya jika mudah menyerah.
Sejak saat itu ia berjanji pada dirinya sendiri.
Jika mereka menganggap dirinya tidak pantas...
Maka ia akan membuat dirinya pantas.
Nadia belajar lebih keras dibanding siapa pun.
Siang malam ia habiskan untuk mengejar prestasi.
Ia lulus dengan predikat terbaik. Melanjutkan pendidikan profesi. Menjalani berbagai pelatihan hukum. Hingga akhirnya berhasil menjadi seorang pengacara muda yang diperhitungkan.
Setiap langkah yang ia ambil hanya memiliki satu tujuan.
Membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan yang hanya mengandalkan cinta Adrian. Ia memiliki kemampuan. Memiliki harga diri.
Dan mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.
Termasuk keluarga Mahendra.
Perjuangan panjang mereka akhirnya membuahkan hasil.
Meski dengan berat hati, keluarga Adrian memberikan restu.
Pernikahan megah yang dihadiri para pengusaha, pejabat, dan tokoh penting akhirnya terlaksana satu tahun lalu.
Saat mengucapkan janji suci di hadapan altar, Nadia benar-benar percaya bahwa seluruh perjuangan mereka telah berakhir.
Bahwa setelah bertahun-tahun mempertahankan cinta, kini kebahagiaan akhirnya menjadi milik mereka.
Namun hidup sering kali tidak berjalan sesuai harapan.
Karena terkadang...
Perjuangan terbesar justru dimulai setelah pernikahan terjadi.
Dan Nadia belum mengetahui bahwa dalam waktu dekat, kepercayaannya kepada pria yang ia cintai selama bertahun-tahun akan diuji dengan cara yang paling menyakitkan.
Pagi itu Nadia terbangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai menerangi kamar yang luas dan mewah. Namun kemewahan itu sama sekali tidak mampu mengusir perasaan kosong yang sejak tadi mengendap di dadanya. Di sampingnya, Adrian sudah tidak ada. Sisi ranjang tempat pria itu tidur bahkan sudah dingin, menandakan ia telah pergi cukup lama.
Nadia duduk perlahan sambil memijat pelipisnya. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Bayangan notifikasi yang muncul di ponsel Adrian terus berputar di kepalanya. Ia ingin mengabaikannya. Ingin percaya bahwa semua itu hanya kesalahpahaman. Namun semakin ia berusaha melupakan, semakin besar rasa tidak nyaman yang menggerogoti hatinya.
Ia berjalan menuju ruang makan dan mendapati meja yang kosong. Tidak ada sarapan bersama seperti dulu. Tidak ada secarik pesan yang ditinggalkan Adrian. Hanya kesunyian yang terasa semakin asing di rumah yang mereka tempati bersama.
Nadia menghela napas panjang sebelum mengambil tas kerjanya. Hari ini ia harus menghadiri persidangan penting. Sebagai pengacara muda yang namanya mulai diperhitungkan, ia tidak boleh membiarkan masalah pribadi memengaruhi pekerjaannya. Meski begitu, langkah kakinya terasa lebih berat dari biasanya.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya terus melayang ke masa lalu. Ia masih ingat bagaimana Adrian dulu selalu menyempatkan diri mengantarnya ke kampus. Bahkan saat hujan deras atau jadwal kuliahnya padat, pria itu tetap datang hanya untuk memastikan Nadia tidak pulang sendirian. Adrian yang dulu selalu membuatnya merasa dicintai kini terasa seperti sosok yang perlahan menjauh.
Sesampainya di kantor, Nadia berusaha fokus pada pekerjaannya. Berkas-berkas perkara menumpuk di atas meja. Telepon terus berdering. Rekan-rekan kerja hilir mudik membicarakan jadwal sidang. Namun di tengah kesibukan itu, ada bagian dari dirinya yang terus memikirkan Adrian.
Siang hari, tanpa sengaja Nadia membuka media sosial saat sedang beristirahat. Jemarinya berhenti ketika melihat unggahan salah satu kenalan Adrian. Sebuah foto makan siang di restoran mewah bersama beberapa orang. Awalnya tidak ada yang aneh.
Sampai Nadia memperbesar foto tersebut.
Di latar belakang, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Adrian.
Pria itu sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita muda berambut panjang. Keduanya tampak tersenyum. Begitu nyaman. Begitu akrab.
Jantung Nadia langsung berdegup kencang.
Mungkin itu hanya rekan kerja.
Mungkin hanya klien.
Mungkin hanya kebetulan.
Namun untuk pertama kalinya dalam satu tahun pernikahan mereka, Nadia mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini selalu ia yakini.
Apakah Adrian masih mencintainya seperti dulu?
Ataukah selama ini hanya Nadia yang terus berjuang mempertahankan cinta yang perlahan telah ditinggalkan oleh pemiliknya?
Kecurigaan itu mulai tumbuh perlahan di hati Nadia.
Awalnya hanya sebuah perasaan kecil yang ia abaikan berkali-kali. Namun semakin hari, perasaan itu justru semakin jelas. Seperti benang kusut yang perlahan terurai, memperlihatkan sesuatu yang selama ini berusaha ia tutupi dengan kepercayaan.
Adrian semakin sering pulang larut malam.
Alasannya selalu sama.
Atau urusan bisnis yang mendadak.
Jika dulu Nadia tidak pernah meragukan satu kata pun yang keluar dari mulut suaminya, kini setiap alasan itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.
Pria yang dulu selalu menceritakan setiap hal kecil dalam hidupnya kini menjadi sosok yang tertutup. Ketika Nadia bertanya, jawabannya singkat. Ketika Nadia mencoba mengobrol, Adrian terlihat tidak fokus. Bahkan saat mereka makan malam bersama, perhatian Adrian lebih banyak tertuju pada ponselnya daripada istrinya sendiri.
Malam itu Nadia kembali terbangun karena merasa sisi ranjang di sampingnya kosong.
Matanya langsung terbuka.
Jam digital menunjukkan pukul satu dini hari.
Adrian tidak ada.
Perlahan Nadia bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.
Langkahnya terhenti saat melihat cahaya redup dari balkon apartemen.
Di sana Adrian berdiri membelakanginya.
Sebuah senyum tipis terlihat di wajah pria itu sambil menatap layar ponselnya.
Senyum yang sudah sangat lama tidak Nadia lihat.
Senyum yang dulu hanya Adrian berikan untuknya.
Entah mengapa pemandangan sederhana itu justru membuat hati Nadia terasa nyeri.
Karena sudah berbulan-bulan Adrian tidak pernah tersenyum seperti itu saat bersamanya.
Nadia memilih kembali ke kamar tanpa mengatakan apa pun.
Untuk pertama kalinya, ia takut mengetahui kebenaran.
Takut jika semua kecurigaannya ternyata benar.
Beberapa hari kemudian, Nadia menghadiri sidang yang berlangsung hingga sore.
Saat keluar dari gedung pengadilan, hujan turun cukup deras.
Ia berdiri di depan lobi sambil menunggu mobil pesanannya tiba.
Namun pandangannya tiba-tiba terpaku pada sebuah mobil hitam yang berhenti di seberang jalan.
Bukankah Adrian mengatakan sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis?
Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.
Dari kejauhan, ia melihat pintu mobil terbuka.
Seorang wanita muda keluar sambil tersenyum.
Wanita itu kemudian membungkuk sedikit ke jendela pengemudi seolah sedang berbicara dengan seseorang di dalam.
Meski hujan menghalangi pandangannya, ia tetap bisa melihat sosok pria yang duduk di balik kemudi.
Pria yang seharusnya sedang berada di luar kota.
Pria yang beberapa jam lalu masih mengirim pesan bahwa dirinya sibuk menghadiri rapat penting.
Napas Nadia tercekat.Tangannya perlahan gemetar. Sementara mobil itu melaju pergi meninggalkannya di bawah hujan.
Untuk beberapa saat Nadia hanya berdiri diam.
Membiarkan air hujan membasahi ujung sepatunya.
Membiarkan kenyataan yang baru saja dilihatnya meruntuhkan sedikit demi sedikit kepercayaan yang selama ini ia pertahankan.
Dan untuk pertama kalinya...
Nadia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Jika Adrian bisa berbohong tentang keberadaannya...
Apalagi yang selama ini disembunyikan oleh suaminya?
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah