NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sia-Siakan

Istri Yang Kau Sia-Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Nikahmuda
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Danau

“Aldo, kamu lagi ngapain?”

Aldo menoleh sekilas ke arah ibunya, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

“Lagi buat susu, Bu,” jawabnya sambil mengaduk susu hamil di dalam gelas.

Helena mengerutkan kening, lalu melangkah mendekati putranya.

“Susu? Sejak kapan kamu buat susu?” tanyanya heran.

“Sekarang, Bu. Ini untuk Risa,” balas Aldo santai sambil terus mengaduk susu tersebut.

Helena langsung berdecak pelan.

“Kenapa bukan istri kamu yang buat sendiri, Do? Kamu baru saja pulang kerja, pasti capek. Sementara Risa hanya di tempat tidur, keluar cuma buat makan,” ucap Helena dengan nada kesal.

Aldo menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap ibunya.

“Bu, Risa sedang hamil anakku. Dia nggak boleh kecapean,” ucap Aldo.

Helena berdecih. "Halah, baru juga berapa bulan dia sudah mengeluh. Ibu waktu hamil kamu dan Nata, ibu nggak pernah tuh sampai segininya."

"Bu, setiap orang beda-beda."

"Beda bagaimana? Ibu lihat dia sehat-sehat saja. Dari tadi yang ibu lihat cuma main ponsel dan menyuruh orang."

Aldo menghela napas pelan. "Bu, jangan bicara seperti itu."

"Kenapa? Ibu salah?" Helena menatap putranya kesal. "Kamu itu baru pulang kerja, harusnya istirahat. Ini malah disuruh buat susu."

Aldo kembali mengaduk susu di gelasnya.

"Nggak apa-apa, Bu. Cuma bikin susu."

Helena menggeleng tidak habis pikir.

“Waktu kamu sama Alesha, kamu nggak pernah begini.”

“Alesha tidak pernah hamil, Bu,” balas Aldo pelan. Lalu ia menatap ibunya kembali. “Bu, Risa sedang mengandung cucu Ibu, lho.”

“Iya, Ibu tahu. Tapi nggak sampai segitunya juga, Do. Dan kamu harus tahu, tadi Risa membentak Ibu hanya karena Ibu menyuruh dia masak sendiri,” keluh Helena dengan nada kesal. “Istrimu itu sangat berbeda dari saat pertama kali Ibu bertemu dengannya. Sekarang dia menganggap Ibu seperti pembantu, dan kamu juga.”

Aldo terdiam.

Ia tidak bisa memungkiri ucapan ibunya.

Risa yang dulu dikenalnya memang berbeda. Saat masih berpacaran, wanita itu selalu bersikap lembut, perhatian, dan penuh pengertian. Namun sekarang, sifat-sifat itu seolah berbalik arah.

Aldo menghela napas pelan, lalu meletakkan tangannya di pundak ibunya.

“Bu, sabar ya sebentar,” ucapnya menenangkan. “Risa bilang dia akan bicara pada mertuaku supaya jabatanku dinaikkan. Kalau itu terjadi, aku bisa bayar pembantu.”

“Hah? Risa bilang seperti itu?” tanya Helena, sedikit terkejut.

Aldo mengangguk.

“Iya, Bu. Jadi untuk sementara Ibu sabar dulu, ya. Kalau jabatanku sudah naik, aku akan cari pembantu supaya Ibu dan Risa nggak perlu kerja apa-apa lagi,” jawab Aldo.

Helena tampak sedikit terkejut mendengarnya.

"Jadi dia benar-benar bilang begitu?"

Aldo mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Iya, Bu. Makanya aku senang sekali."

Wajah Helena sedikit melunak, meski masih ada keraguan di matanya.

"Kalau memang begitu, syukurlah."

"Makanya Bu, sabar sedikit lagi ya."

Helena menghela napas panjang.

"Ibu bukan tidak sabar, Do. Ibu hanya tidak suka cara dia memperlakukan orang."

"Aku mengerti, Bu."

"Tapi kalau dia benar-benar bisa membantu kariermu, Ibu ikut senang."

Aldo tersenyum lebar.

"Terima kasih, Bu."

“Sekarang Ibu minta uangmu,” ucap Helena.

“Nggak!”

Suara Risa yang tiba-tiba terdengar membuat Aldo dan Helena langsung menoleh.

Risa berdiri di ambang pintu kamar sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Uang Mas Aldo hanya untukku,” ucap Risa dengan tegas.

Helena langsung menatap tajam menantunya.

“Risa, kamu nggak ada hak melarang Ibu.”

“Apa Ibu bilang? Nggak ada hak?” Risa berdecak pelan. “Apa Ibu lupa? Aku istri Mas Aldo. Semua yang Mas Aldo punya milik aku, paham?”

“Risa, jaga bicaramu pada Ibu,” ucap Aldo dengan nada tegas.

Saat itu juga, Aldo mulai menyadari bahwa ucapan ibunya memang benar. Risa benar-benar berubah.

Risa menatap tajam suaminya tanpa sedikit pun terlihat takut.

“Kenapa, hah?” balasnya. “Ibu memang salah, Mas. Kalau Ibu terus meminta uang, lalu kamu mau kasih aku apa, hah?”

Suasana seketika menjadi tegang.

Aldo memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

"Risa, Ibu tidak pernah meminta banyak."

"Sedikit atau banyak tetap saja meminta," balas Risa tanpa rasa bersalah.

Helena terkekeh sinis.

"Astaga, baru kali ini Ibu bertemu menantu seperti kamu."

"Dan baru kali ini aku bertemu mertua yang terus bergantung pada anaknya," balas Risa cepat.

Wajah Helena langsung memerah karena marah.

"Risa!"

"Kenapa? Aku salah?" Risa melipat kedua tangan di dada. "Mas Aldo sudah menikah dengan aku. Seharusnya yang jadi prioritas itu aku dan calon anak kami."

Aldo menatap istrinya tidak percaya.

"Tapi Ibu tetap ibuku."

"Aku tidak bilang putus hubungan dengan Ibu. Tapi jangan semua uang diberikan begitu saja."

Helena menatap tajam menantunya.

“Dasar wanita bermuka dua. Waktu kamu masih pacaran dengan Aldo, kamu nggak seperti ini.”

Risa menatap mertuanya dengan malas.

“Sudahlah, Bu. Jangan drama.”

Lalu ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa menunggu persetujuan, Risa mengambil ponsel Aldo dari saku celananya dan mulai mengetik sesuatu.

“Apa yang kamu lakukan, Risa?” tanya Aldo.

“Aku mau transfer uang ke m-banking aku,” jawab Risa santai. “Skincare-ku sudah habis.”

Setelah transaksi selesai, Risa mengembalikan ponsel Aldo begitu saja. Kemudian ia mengambil gelas susu di meja.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Risa berbalik dan pergi meninggalkan mereka.

“Lihat, kan, Do? Kelakuan istrimu itu,” ucap Helena dengan kesal.

Aldo hanya terdiam.

Ia memijat pelipisnya perlahan, merasa kepalanya mulai berdenyut. Namun pada akhirnya, ia tetap melangkah menyusul istrinya.

Melihat hal itu, Helena semakin kesal.

“Dulu, Alesha nggak pernah seperti itu,” gumamnya tanpa sadar.

Pikiran Helena tiba-tiba melayang pada mantan menantunya.

Tatapannya beralih ke arah dapur.

Dulu, saat Alesha masih menjadi istri Aldo, semua pekerjaan rumah selalu selesai tepat waktu. Makanan sudah tersedia di meja, rumah bersih, dan segala kebutuhan keluarga sudah disiapkan tanpa perlu diminta.

Sekarang, justru Helena yang harus turun tangan mengurus semuanya sendiri.

"Bagaimana kabar wanita mandul itu sekarang? Apa dia masih berjuang sendirian di luar sana?"

——

“Alesha, pulang bareng yuk,” ajak Lea pada Alesha yang baru saja keluar dari ruangannya.

Baru saja Alesha ingin menjawab, suara dingin Leon lebih dulu terdengar.

“Alesha ikut denganku.”

Alesha dan Lea kompak menoleh.

Leon melangkah menghampiri mereka. Wajahnya tetap setenang biasanya.

“Apaan sih, Kak? Alesha pulang sama aku. Kakak sama Kak Kevin saja,” ucap Lea sambil merangkul lengan Alesha dengan posesif.

Leon menatap datar adiknya.

“Alesha ikut dengan kakak.”

Nada suaranya tegas. Tak ada kesempatan bagi siapa pun untuk membantahnya.

Setelah mengatakannya, Leon langsung menarik tangan Alesha.

Alesha terkejut saat Leon menarik tangannya begitu saja.

"E-eh, Tuan Leon..."

Langkahnya ikut terseret beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti.

Lea langsung melotot.

"Kak! Apaan sih?"

Leon tidak menjawab. Wajahnya tetap datar seolah apa yang dilakukannya adalah hal biasa.

Alesha menatap tangan mereka yang masih terhubung. Ia ingin melepaskan diri, tetapi tidak enak. Bagaimanapun juga, Leon adalah atasannya.

"Tuan Leon, tidak perlu repot-repot. Saya bisa pulang sendiri," ucap Alesha hati-hati.

"Tidak."

Alesha tak lagi tahu harus berkata apa.

"Saya sudah biasa naik angkutan umum," coba Alesha lagi.

Leon menatap Alesha, tetapi kali ini bukan dengan tatapan dinginnya yang biasa.

“Kamu ikut denganku,” ucapnya lembut.

Deg.

Alesha terpaku. Baru kali ini ia mendengar Leon berbicara selembut itu.

“Ayo.”

Leon mengajak Alesha pergi tanpa melepaskan genggaman tangannya.

Alesha menoleh ke arah Lea, merasa tidak enak.

Sementara itu, Lea hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.

“Semoga Alesha cepat mengingat tentang Kak Leon. Sudah saatnya mereka bahagia,” harapnya dalam hati.

Di dalam lift, Leon masih menggenggam tangan Alesha yang terasa dingin.

Entah kenapa, tadi ia refleks menggenggam tangan Alesha. Namun, anehnya, ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya.

“Tuan, boleh lepas tangan saya?” ucap Alesha dengan gugup.

Leon menoleh.

Butiran keringat mulai muncul di pelipis Alesha. Ia tampak begitu canggung.

Leon pun melepaskan genggamannya perlahan.

“Maaf, saya hanya refleks,” ucapnya.

Pintu lift terbuka perlahan.

Leon melangkah keluar lebih dulu, sementara Alesha mengikuti di belakangnya dengan perasaan tidak nyaman.

Baru beberapa langkah, suasana lobi yang semula riuh mendadak berubah hening.

Beberapa karyawan spontan menghentikan langkahnya.

Sebagian lagi saling pandang, seolah tak percaya dengan pemandangan di depan mata.

"Itu... Tuan Leon?"

"Berdua sama Alesha?"

"Serius?"

Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.

Alesha yang menyadarinya langsung menundukkan kepala.

Selama bekerja di perusahaan ini, ia tahu betul seperti apa Leon di mata para karyawan.

Pria itu terkenal dingin.

Tidak pernah dekat dengan wanita mana pun.

Bahkan sekretaris wanita sekalipun hanya berinteraksi seperlunya.

Satu-satunya perempuan yang sering terlihat bersamanya hanyalah Lea dan sang nyonya besar.

Namun sekarang...

Leon berjalan berdampingan dengannya.

Ia tetap melangkah tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarnya.

"Apa sih yang dia lakukan sampai bisa sedekat itu?"

"Siapa tahu ada sesuatu yang nggak kita tahu."

Alesha menggigit bibir bawahnya.

Ucapan itu terdengar jelas di telinganya.

Dadanya terasa sesak.

Ia menundukkan kepala semakin dalam.

Namun berbeda dengan dirinya, Leon tetap berjalan tenang.

Wajahnya datar.

Pandangan Leon tetap lurus, tak sedikit pun terusik oleh bisik-bisik di sekitar.

Seolah suara-suara itu tidak layak mendapat perhatiannya.

Tak lama kemudian, langkah Leon mendadak berhenti.

Alesha yang tidak fokus hampir menabrak punggungnya.

"Tu-Tuan?"

Leon menoleh sedikit.

"Kepalamu kenapa terus menunduk?"

Alesha terdiam.

"Tidak apa-apa, Tuan."

Leon menatapnya beberapa detik.

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia kembali berjalan.

Tanpa disadari, Leon memperlambat langkahnya agar Alesha tidak tertinggal.

Dari sudut lobi, sepasang mata memperhatikan semuanya dengan kesal.

Seorang karyawan wanita berdiri sambil menggenggam map di tangannya erat-erat.

Rahangnya mengeras.

Selama ini ia sudah berkali-kali mencoba mendekati Leon.

Mencari alasan untuk berbicara.

Mengantar berkas sendiri.

Bahkan sengaja mengubah jadwal kerjanya agar lebih sering bertemu pria itu.

Namun hasilnya selalu sama.

Leon tidak pernah menanggapinya.

Jangankan mengobrol, menatapnya lebih dari beberapa detik saja tidak pernah.

Tapi sekarang...

Pria yang selama ini sulit didekati itu justru berjalan bersama Alesha.

Bahkan keluar dari lift hanya berdua.

"Kenapa harus dia?" gumamnya pelan dengan tatapan iri.

Matanya terus mengikuti punggung Alesha yang semakin menjauh.

Rasa iri perlahan menguasai hatinya.

Di depan gedung perusahaan, sebuah mobil hitam sudah terparkir rapi menunggu.

Leon berjalan lebih dulu menuju mobilnya.

Alesha mengikuti dari belakang dengan langkah canggung.

Begitu sampai, Leon langsung membuka pintu penumpang.

Alesha membeku.

"T-Tuan..."

Leon menatapnya datar.

"Masuk."

Alesha berkedip beberapa kali.

Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang membukakan pintu mobil untuknya.

Bahkan saat masih menjadi istri Aldo.

Dengan gugup, Alesha akhirnya masuk ke dalam mobil.

Leon menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan memutari mobil menuju kursi kemudi.

Tak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan area perusahaan.

Di dalam mobil hanya ada keheningan.

Suara pendingin udara dan mesin mobil menjadi satu-satunya suara yang terdengar.

Alesha memilih menatap keluar jendela.

Sesekali Leon meliriknya. Tatapan dinginnya kini jauh lebih hangat.

Hanya duduk di samping Alesha saja sudah mampu menenangkan hatinya.

Gadis kecilnya.

Setelah sekian lama...

Akhirnya kembali berada di dekatnya.

Namun Alesha tidak menyadari apa pun.

Ia masih sibuk memperhatikan jalanan di luar.

Beberapa menit berlalu.

Kening Alesha mulai berkerut.

Ia menoleh ke luar lagi.

Semakin lama, jalan yang mereka lewati semakin asing.

"Tuan..."

"Hm?"

"Ini bukan jalan menuju kontrakan saya."

Leon tetap fokus menyetir.

"Saya tahu."

Deg.

Jantung Alesha langsung berdegup lebih cepat.

Alesha langsung duduk lebih tegak.

Pikirannya mulai ke mana-mana.

Melihat ekspresinya yang berubah panik, Leon melirik sekilas.

"Saya tidak akan menculik kamu."

Alesha langsung tersedak ludahnya sendiri.

"S-saya tidak berpikir seperti itu."

"Tapi wajahmu mengatakan sebaliknya."

Alesha langsung menunduk malu.

Leon hampir tersenyum tipis, tetapi ia menahannya.

Tak lama kemudian, mobil memasuki sebuah area yang tenang.

Di depan mereka terbentang sebuah danau yang luas.

Permukaan airnya berkilau terkena cahaya matahari sore.

Mobil berhenti perlahan.

Alesha menatap ke luar dengan bingung.

"Tuan... kita ke sini untuk apa?"

Leon mematikan mesin mobil.

"Nanti juga tahu."

Lalu seperti sebelumnya, Leon turun lebih dulu dan membukakan pintu untuknya.

Alesha kembali terdiam.

Pria ini benar-benar aneh hari ini.

Dengan perasaan bingung, ia turun dari mobil.

Angin sore langsung menyambut mereka.

Udara di sekitar danau terasa sejuk.

Leon berjalan pelan menyusuri tepian danau.

Beberapa langkah kemudian, ia menoleh.

"Ayo."

Alesha menggenggam tasnya erat.

Meski bingung, ia tetap mengikuti pria itu.

Mereka berjalan berdampingan di tepi danau.

Sesekali angin menerbangkan rambut Alesha.

Sementara Leon diam-diam memperhatikannya.

Setiap kali Leon penat dengan pekerjaan dan memikirkan gadis kecilnya, ia selalu datang ke danau ini seorang diri.

Tempat ini menjadi saksi kerinduannya selama bertahun-tahun.

Saksi bagaimana ia terus mencari, berharap, dan menunggu gadis kecil yang tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.

Namun sekarang, gadis yang selama ini ia cari akhirnya berada di sampingnya.

Berjalan bersamanya di tepi danau yang sama.

Alesha memang belum mengingat masa lalu mereka. Namun bagi Leon, bisa berjalan di samping wanita itu saja sudah cukup.

“Apa kamu tidak mengingat sesuatu tentang danau ini?” ucap Leon, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka.

Alesha menoleh dan menatap wajah Leon sejenak.

Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah danau.

Namun saat matanya tertuju pada permukaan air yang tenang itu, tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut.

Samar-samar, suara tangis seorang anak kecil bergema di kepalanya.

Alesha langsung memegang kepalanya.

Penglihatannya mulai buram.

“Alesha, kamu kenapa?” tanya Leon yang langsung menyadari perubahan pada wajah wanita itu.

“Kepala saya pusing, Tuan,” jawab Alesha pelan.

Tubuhnya limbung.

Untung saja Leon bergerak cepat menangkap tubuh Alesha sebelum terjatuh ke tanah.

“Alesha!”

1
merry
Leon tu singa loh 😆😆tau kn singa klo dh dh ngamuk kyk gmn 🤭🤭🤭
merry
Rosa tu Leon
Ma Em
Alhamdulillah Alesha sdh mengingat Leon teman masa kecilnya .
Syahdu: Gak akan bosen deh, Novel ada chat lucunya😆 di I Love you Brutally. Cewek yang naksir kakak kelas secara terang-terangan! Terima kasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
Ma Em
Alesha pernah kecelakaan dan lupa ingatan makanya Alesha tdk ingat punya teman masa kecil nya .
merry
syukuri dpt mantu kurg ajr,, dijadiin babu drmh sndrii
Anonim
BACOT MMQ🖕🖕
Ma Em
Leon sdh menemukan gadis teman masa kecilnya semoga benar Alesha reman masa kecil Leon dan berjodoh Alesha dgn Leon , Aldo sdh menikah dgn wanita pilihan nya apakah benar anak yg dikandung Risa adalah anaknya Aldo .
Hatnah Batulicin
peran Alesha org nya terlalu lemah dan letoy 😝😝😝
Anonim: Asli.... kekurangan vitamin
total 2 replies
Hatnah Batulicin
terlalu bnyk KTA "hah"disetiap dialog nya
Anonim: awokawok emang lawak awokawok blok
total 1 replies
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjut Thor bikin cerita yg bikin tensi naik🤣🤣🤣🤣🤣
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
yookkk gelud yookkk Mak, sini biar saya smackdown

😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
dome🌬️🌀🌀🌀
haduuhhhhh... Jagan lembek laahhh kau wahai wanita. sudah dihina diremehkan ga dihargai sekarang disakiti secara verbal dan fisik apalagi yg kau harapkan dari si biyawak suamimu. gila digampar masih bisa ngarep dibela. digampar yaa neng digampar.. udah kayak ga ada harga diri lagi lu. ngapain masih ngarep laki percaya sama kamu
dome🌬️🌀🌀🌀
eehhhhhh.... Mak lampir, itu bukan tanggung jawab mantumu yaa buat nafkahi kluarga kalian. setres kan kalian. coba brobat dl sapa tau gila.
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
dome🌬️🌀🌀🌀
kenapaaa,, kok berasa dunia mu yg runtuh Alesha dipecat. ga ada sumber pendapatan yaa yg bisa kau ambil dari Alesha lagi. makin lah kluarga suaminya semakin merendahkan Alesha... cereeeee ajaaaaaa laahhh Gedeg udah akuuuhhh😄😄😄😄
dome🌬️🌀🌀🌀
ihhhhh.... jengkelnya. kalau sudah tau tak dihargai dirumah yg kau anggap kluarga lebih baik pisaaahhhhhj... tinggalkan kluarga yg ga bisa menghargai mu itu Alesha. sudah dinafkahi seadanya banyak dituntut ini itu ga dihargai. parahnya udah kayak babu luar negri aja.
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjuuutttt lah.. gaskeuunnnn🤗💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
haduhhhh,,,, baru awal bab dan baru paragraf pertama baca sudah membuat aku punya darah tinggi dadakan😤😤😤

Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁
Ma Em
Semoga Alesha sukses setelah berpisah dgn Aldo , Aldo pasti menyesal karena sdh menyia nyiakan istri sebaik dan sesabar seperti Alesha , semoga Alesha jadi orang yg sukses dan semakin bersinar .
Nona Jmn: Aamin😊
total 1 replies
Ma Em
Alesha kenapa kamu mau memenuhi kebutuhan Aldo dan ibunya sedangkan kerja kerasmu tdk pernah dihargai , lawan mereka Alesha jgn cuma nangis lbh baik tinggalkan suamimu yg tdk pernah menganggap mu istri tapi kamu cuma dianggap pembantu gratisan .
Nona Jmn: Pantau terus Alesha ya, kak🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!