Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Penyusutan volume Kolam Darah Spiritual Purba kini terjadi dengan kecepatan yang jauh lebih gila dari sebelumnya.
Pilar darah yang dihisap oleh kedua telapak tangan Lin Ye kini menjadi dua kali lipat lebih besar, membuat kolam itu mengering dengan sangat drastis.
Tiga jam telah berlalu sejak Lin Ye pertama kali memulai proses penyerapan yang sangat mematikan dan berbahaya ini.
Permukaan kolam darah itu kini telah sepenuhnya mencapai dasar bebatuan, menyisakan lumpur merah kental dan ribuan abu tulang yang berserakan.
Seluruh esensi kehidupan, energi Yin murni, dan kebencian yang terakumulasi selama ratusan tahun di tempat itu telah disedot habis tanpa menyisakan setetes pun.
Tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari dinding gua kawah tersebut saat Formasi Kunci Darah Ilahi di luar kehilangan sumber energi utamanya.
Lin Ye membuka kedua matanya secara tiba-tiba, dan seberkas cahaya hitam legam melesat keluar dari sepasang matanya hingga menembus atap gua batu tersebut.
Sebuah ledakan aura yang sangat dahsyat meletus dari tubuhnya, menghempaskan Formasi Penahan Jiwa yang ia buat hingga hancur berkeping-keping.
Angin badai energi Yin menyapu seluruh rongga bawah tanah itu, membuat pilar-pilar batu raksasa bergetar hebat dan hampir runtuh.
Pakaian compang-camping yang tersisa di tubuh bagian bawahnya hancur menjadi debu, namun kabut hitam segera muncul dan merajut sebuah jubah pertempuran baru yang sangat elegan untuknya.
Jubah baru itu berwarna hitam legam dengan sulaman benang merah darah bermotif naga tulang yang melingkari lengan dan bagian bawahnya.
"Sistem mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya kepada Inang."
"Proses terobosan menuju Alam Pembentukan Inti telah berhasil dilakukan dengan tingkat kesempurnaan seratus persen."
"Inang telah berhasil memadatkan Inti Yin Sempurna, sebuah entitas kultivasi langka yang tidak pernah muncul di dunia ini selama puluhan ribu tahun."
Lin Ye berdiri secara perlahan dari atas batu tempatnya bersila, merasakan setiap pergerakan kecil di udara melalui kulitnya yang kini sangat sensitif terhadap energi spiritual.
Ia mengepalkan tangan kanannya, dan udara di dalam kawah itu langsung mengeluarkan suara ledakan sonik akibat remasan tekanan fisiknya murni.
Kekuatannya saat ini tidak bisa dibandingkan dengan saat ia masih berada di Alam Pengumpulan Qi, perbedaannya seperti jarak antara langit tertinggi dan dasar jurang terdalam.
Bahkan jika puluhan tetua di puncak Alam Pembentukan Inti menyerangnya secara bersamaan saat ini, Lin Ye yakin bisa membantai mereka semua hanya dengan satu tangan kosong.
"Sistem, keluarkan hadiah penyelesaian ekstra dari misi ini," perintah Lin Ye dengan senyuman puas yang menghiasi wajah pucatnya yang sangat tampan.
"Memproses hadiah ekstra: Pemanggilan Jenderal Bayangan Kedua."
"Menganalisis sisa-sisa energi kebencian dan lumpur darah di dasar kolam yang telah mengering."
"Sistem akan memadatkan ribuan jiwa jenius yang mati menjadi satu entitas mutlak untuk melayani Inang."
Seketika itu juga, lumpur darah yang berserakan di dasar kawah mulai bergolak dan bergerak secara liar bagaikan memiliki nyawanya sendiri.
Lumpur beracun itu merayap naik dan berkumpul di tengah-tengah kawah, membentuk sebuah kepompong raksasa berwarna merah kehitaman yang berdenyut pelan.
Abu tulang dari ribuan jenius sekte yang tenggelam di dasar kolam langsung berterbangan dan menempel pada kepompong raksasa tersebut, memperkuat lapisan luarnya.
Aura yang dipancarkan oleh kepompong itu sangat fluktuatif dan mengerikan, penuh dengan keputusasaan ribuan nyawa yang dikhianati oleh sektenya sendiri.
Beberapa detik kemudian, suara robekan yang sangat kasar terdengar dari permukaan kepompong lumpur darah tersebut.
Sebuah tangan yang tertutup oleh zirah logam berduri berwarna merah karat menembus kepompong itu dari dalam dengan gerakan yang sangat ganas.
Tangan itu kemudian merobek seluruh lapisan kepompong hingga hancur lebur, memperlihatkan sosok mengerikan yang terlahir dari rahim kematian.
Sosok itu memiliki tinggi sekitar dua setengah meter, mengenakan zirah berat berwarna merah karat yang dipenuhi oleh ukiran wajah-wajah manusia yang sedang menjerit kesakitan.
Tubuhnya tidak terbuat dari daging, melainkan kumpulan urat dan pembuluh darah kental yang saling melilit dan berdenyut secara nyata di balik celah zirahnya.
Wajahnya tersembunyi di balik sebuah helm besi yang tidak memiliki lubang mata, hanya ada sebuah celah gelap di bagian mulut yang terus mengeluarkan uap darah beracun.
Di tangan kanannya, sosok itu menggenggam sebuah pedang raksasa tanpa bilah yang runcing, melainkan berbentuk gergaji mesin kuno yang terus berputar dan memercikkan darah.
Ini adalah Jenderal Darah Kutukan, manifestasi fisik dari ribuan talenta muda yang dikorbankan demi keserakahan para tetua aliran lurus.
Aura kultivasi yang dipancarkan oleh jenderal baru ini langsung menekan udara kawah, berada tepat di pertengahan Alam Pembentukan Inti.
Jenderal Darah Kutukan itu melangkah maju dengan gerakan yang kaku namun mengancam, lalu berlutut dengan satu kaki hingga lutut zirahnya menghantam lantai kawah hingga retak.
"Ribuan penderitaan telah kau satukan, ribuan dendam telah kau berikan wadah," suara jenderal itu terdengar seperti ribuan orang yang berbicara secara bersamaan di dalam tenggorokannya.
"Kami, Darah Kutukan, bersumpah untuk merobek setiap tenggorokan penipu aliran lurus demi namamu, wahai Kaisar Kegelapan."
Lin Ye menganggukkan kepalanya dengan sangat puas melihat ketundukan mutlak dari senjata pembunuh massal barunya ini.
"Bangkitlah, dan bersiaplah untuk mencicipi daging dari mereka yang telah membuang kalian ke dalam kawah neraka ini," titah Lin Ye dengan santai.
Jenderal Darah Kutukan itu berdiri dan langsung mengubah wujud fisiknya menjadi aliran darah kental yang melesat menyusup masuk ke dalam bayangan di bawah kaki Lin Ye.
Kini, bayangan Lin Ye tidak hanya berwarna hitam kelam, tetapi memiliki garis-garis merah berdarah yang berdenyut pelan di pinggirannya, menyimpan dua monster mengerikan di dalamnya.
Lin Ye mengangkat kepalanya dan menatap ke arah langit-langit gua batu yang tebal, pandangannya seolah menembus bebatuan itu menuju ke permukaan gunung.
Ia bisa merasakan bahwa di atas sana, Formasi Kunci Darah Ilahi yang hancur pasti telah memicu guncangan yang tidak bisa lagi disembunyikan.
Dan benar saja, pada saat yang sama di pelataran dalam Puncak Awan Emas, Pemimpin Sekte Jian Wuji sedang berdiri dengan wajah yang pucat pasi di aula pertemuan utama.
Tetua Agung Chu Zhen baru saja kembali dari pelataran luar dengan membawa mayat cucunya yang telah berubah menjadi mumi kering, membuat seluruh penatua sekte gemetar ketakutan.
Sebelum mereka sempat membahas tentang serangan iblis di pelataran luar, sebuah gempa bumi lokal yang sangat kuat tiba-tiba mengguncang seluruh bangunan di Puncak Awan Emas.
Getaran itu bukan berasal dari letusan gunung berapi sungguhan, melainkan berasal dari hilangnya energi penyeimbang di wilayah pegunungan belakang.
"Apa yang terjadi?! Mengapa fondasi energi spiritual gunung utama kita tiba-tiba berfluktuasi dengan sangat liar?!" teriak salah satu tetua penjaga formasi dengan panik.
Jian Wuji menutup matanya sejenak untuk memindai jaringan energi sekte, dan seketika kedua matanya membelalak lebar penuh dengan kengerian absolut.
"Energi... energi dari Kolam Darah Spiritual Purba di kawah rahasia... telah hilang sepenuhnya!" seru Jian Wuji dengan suara yang kehilangan seluruh wibawanya.
"Formasi Kunci Darah Ilahi telah dihancurkan dari luar, dan seluruh energi kolam itu telah diserap hingga mengering tanpa sisa!"
Mendengar laporan dari Pemimpin Sekte tersebut, tubuh Tetua Agung Chu Zhen langsung terhuyung ke belakang dan hampir jatuh jika tidak berpegangan pada tiang giok di sampingnya.
Kolam darah itu adalah sumber umur panjang dan kekuatan rahasianya, sebuah fondasi yang telah ia bangun selama ratusan tahun untuk memastikan keluarga Chu berkuasa selamanya.
Kehilangan cucu penerusnya sudah cukup membuatnya gila, tetapi kehilangan kolam darah itu berarti ia telah kehilangan seluruh fondasi kehidupan dan masa depannya sendiri.
"Siapa... siapa iblis laknat yang berani mencuri hasil kerja kerasku selama ratusan tahun?!" raung Chu Zhen dengan amarah yang kini membuat matanya mengeluarkan darah.
"Aku akan turun ke kawah itu sekarang juga dan menelan iblis itu hidup-hidup meskipun aku harus menghancurkan seluruh gunung ini!"
Tanpa mempedulikan teriakan peringatan dari Jian Wuji yang mencoba menahannya, Chu Zhen langsung melesat menghancurkan atap aula pertemuan dan terbang menuju pegunungan belakang.
Aura puncak Alam Inti Emas miliknya membakar udara di sekitarnya, meninggalkan jejak api keemasan di langit malam pelataran dalam.
Sementara itu, di kedalaman kawah yang gelap, Lin Ye telah memasukkan kembali seluruh barang berharganya ke dalam cincin penyimpanan dan menepuk debu dari jubah barunya.
Ia berjalan dengan sangat santai menaiki jalan setapak yang menanjak menuju pintu keluar kawah tersebut, seolah sedang berjalan-jalan di taman miliknya sendiri.
Ia tahu persis bahwa pria tua yang membunuhnya di masa lalu sedang meluncur turun dengan kecepatan penuh untuk menemuinya.
"Pertunjukan utama dari pembalasan dendam ini akhirnya mencapai babak puncaknya," gumam Lin Ye sambil tersenyum menyambut kedatangan sang Tetua Agung.