Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Part 21
Diam-diam Alfan tersenyum tanpa sepengetahuan Tina yang tengah duduk di sampingnya, kini mereka berada di dalam mobil menuju ke tempat acara, namun selama di perjalanan Alfan terus saja mencuri pandang ke arah Tina yang tampak menawan dua kali lipat dari biasanya.
Alfan juga bahagia karena mamanya sudah membuatnya bisa mengabadikan kebersamaannya dengan Tina. Entah nanti mereka akan bersama atau tidak, setidaknya Alfan memiliki kenang-kenangan bersama cinta pertamanya itu.
Ya, kalau boleh jujur, Alfan berharap Tina bisa menyukainya, namun sepertinya itu cukup sulit mengingat hubungan pekerjaan di antara mereka. Rasanya hampir mustahil Tina dengannya bisa bersama dalam ikatan pernikahan, sedangkan asistennya itu terlalu profesional dalam bekerja.
Tina bahkan mau berpura-pura menjadi calon istrinya demi bisa mendapatkan uang darinya, semua yang wanita itu lakukan untuknya semata-mata untuk urusan pekerjaan, tidak ada perasaan yang menghubungkan cinta di hatinya.
"Kita sudah sampai ya, Pak?" tanya Tina setelah mendapati mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah gedung mewah.
"Iya. Kita sudah sampai. Oh iya, nanti di sana saya akan mengatakan bila kamu itu calon istri saya. Jadi tolong jangan terkejut apalagi marah-marah lagi ke saya!" Alfan berujar serius ke arah Tina yang tampak keheranan.
"Kenapa, Pak? Bukannya kita di sini cuma sebagai tamu di depan rekan kerja Anda ya?"
"Orang tua mereka itu rekan kerja orang tua saya, sedangkan saya sudah bilang ke Mama saya kalau kamu ikut, mana mungkin saya mengakui kamu sebagai asisten pribadi saya? Pulang-pulang saya bisa dicincang." Alfan menjawab dengan nada yang sama yang disenyumi oleh Tina.
"Ternyata Bapak ini punya takut juga ya?" Tina terkekeh kecil, melipatgandakan kecantikannya.
"Kamu pikir selama ini saya berani sama Mama saya? Bentak sedikit saja, saya bisa kehilangan nyawa saya." Alfan menjawab malas yang justru semakin membuat Tina terkekeh.
"Iya-iya, saya paham. Tapi kenapa Bapak tidak bilang sebelumnya kalau saya akan diaku sebagai calon istri Anda? Apa karena itu Bapak membelikan saya semua ini?" Tina melihat ke arah baju, tas, sepatu, yang dikenakannya.
"Iya, maaf." Alfan menjawab pasrah.
"Kenapa Bapak jadi minta maaf?"
"Ya karena saya sudah membohongi kamu, saya kan bilang kalau ini termasuk perjalanan bisnis."
"Sudah biasa Bapak buat saya kesal, saya sudah hampir kebal, apalagi saya sudah dandan seperti ini, mana mungkin saya mencak-mencak dan bilang kalau Bapak sudah menzalimi saya?" Tina menjawab seadanya yang kali ini membuat Alfan tersenyum kecil.
"Iya, kamu harus banyak-banyak sabar kalau sama saya. Karena saya tidak akan membiarkan kamu kabur dari saya, apalagi sampai membenci saya." Alfan menyunggingkan senyumnya, yang kali ini ditatap bingung oleh Tina.
"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Tina terdengar penasaran, namun Alfan justru terdiam, matanya menyiratkan ketulusan, apa bisa ia bersikap lembut ke Tina, menyadarkannya akan cinta yang sudah tumbuh lama di hatinya.
"Nanti kamu juga akan tahu. Sudah, ayo keluar!" Alfan menjawab singkat lalu keluar dari mobil, meninggalkan Tina yang tampak keheranan dengan jawabannya.
***
Alfan menekuk lengannya untuk Tina gandeng saat keduanya sampai di tempat acara, Tina yang memahami hal itu hanya menghela nafas lalu menggandeng lengan Alfan dengan rasa terpaksa.
Sebenarnya Tina sendiri masih merasa penasaran, kenapa bosnya bisa berbicara hal itu, tentang ia yang tidak boleh pergi ataupun membencinya. Tina hanya merasa bila ucapan bosnya itu mengandung unsur makna yang harus ia ketahui, namun sepertinya bosnya itu tidak akan membiarkannya mengetahui kebenarannya.
Sudahlah, Tina akan berusaha untuk melupakannya, ia juga tidak mau hidup dalam jerat rasa penasaran, itu akan mengganggu hidup dan pekerjaannya. Sekarang yang ia lakukan berdiri di samping Alfan, menemani bosnya yang tampak tenang seperti biasanya. Berbeda dengan Tina yang merasa gugup, padahal ia sudah biasa menemani bosnya ke suatu acara sebagai asistennya, namun baru kali ini diakui sebagai calon istrinya.
Mendebarkan, tentu saja rasa itu menyeruak masuk ke dalam hatinya, meskipun Tina merasa tak memiliki perasaan apa-apa pada bosnya, tetap saja posisinya itu terlalu mustahil untuk dibawa tenang.
"Kita akan memberi selamat ke Tuan rumahnya, kamu hanya perlu tersenyum ramah, tidak perlu banyak bicara!" Alfan menatap ke arah Tina yang mengangguk setuju.
"Iya, Pak."
Kini keduanya berjalan beriringan, hampir semua orang yang menatap mereka, terpesona dengan penampilan mereka yang menawan. Alfan yang tampan dan Tina yang cantik, cukup memikat mata para undangan.
Tina yang menyadari tatapan mereka hanya tersenyum, berusaha menundukkan pandangannya. Sedangkan Alfan tampak tenang, seolah diperhatikan banyak orang adalah hal yang biasa ia alami di hidupnya.
"Om Harris," panggil Alfan ke arah pria yang menjadi rekan bisnis orang tuanya.
"Alfan, hei. Kapan kamu sampai di Surabaya?" Pria itu merangkul Alfan dengan hangatnya, seolah mereka sudah biasa dekat sejak lama.
"Kemarin, Om."
"Bagaimana kabar orang tuamu? Mereka baik?" Pria itu melepas pelukannya sembari tersenyum ke arah Alfan yang turut tersenyum.
"Baik kok, Om. Maaf ya mereka tidak bisa datang."
"Tidak apa-apa. Kamu sudah cukup mewakili mereka." Alfan hanya tersenyum mendengarnya, sedangkan Tina masih terdiam di sampingnya.
"Perkenalkan Om, dia Tina, calon istri saya." Alfan menatap ke arah Tina yang tersenyum dan mengangguk.