NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Batas

Deru mesin jip hitam bermesin empat gardan itu meraung konstan, membelah jalanan aspal yang perlahan berubah menjadi tanah berbatu. Di dalam kabin, ketegangan sisa perdebatan dengan Leonardo masih membekas di wajah Hera. Namun, bagi seorang Hera Grahansa, mundur bukanlah sebuah pilihan.

Di kursi kemudi, Baskara fokus menatap jalanan yang mulai menanjak dan menyempit. Di sampingnya, Yudha sesekali memeriksa peta digital pada tablet miliknya. Sementara di baris tengah, Hera duduk diapit oleh dua asisten setianya: Kevin dan Amara.

"Prof, Anda benar-benar nekat," cetus Kevin memecah keheningan. Pria berusia 26 tahun itu membetulkan letak kacamata berbingkai hitamnya yang melorot akibat guncangan mobil. Tangannya tetap stabil memegang tablet yang menampilkan grafik pembacaan satelit.

"Secara logis, peluang kita menembus koordinat Dream Flower tanpa survei lapangan terlebih dahulu hanya sekitar tiga puluh persen. Belum lagi anomali magnetik di Alas Purba yang bisa merusak alat sensor kita."

"Tiga puluh persen itu sudah lebih dari cukup daripada nol persen kalau kita cuma diam di laboratorium kota, Kevin," sahut Hera tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.

Pohon-pohon tinggi mulai rapat mengepung sisi kiri dan kanan jalan.

"Ih, Kevin! Jangan bikin ciut suasana dong!" Amara menepuk bahu Kevin dengan gemas. Gadis berambut kuncir kuda itu langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Hera. "Prof Hera tenang saja! Logistik aman terkendali. Tenda antiair, pasokan makanan instan buat seminggu, sampai baju hangat ekstra sudah aku tata rapi di bagasi belakang. Pokoknya petualangan kita kali ini bakal sukses besar!"

Hera tersenyum tipis melihat energi Amara yang tidak pernah habis. "Terima kasih, Amara. Pastikan obat-obatan darurat untuk Mama juga tidak ada yang tertinggal."

"Beres, Prof! Cairan infus dan generator mini untuk kulkas sampel juga aman," jawab Amara riang, lalu menempelkan wajahnya ke kaca mobil. "Wah, lihat deh! Pohonnya besar-besar banget. Rasanya kayak kita mau masuk ke dunia fiksi fantasi."

Jip berguncang keras saat melewati lubang besar. Kevin menghela napas, menstabilkan posisi duduknya. "Ini bukan fiksi fantasi, Amara. Ini area konservasi terisolasi yang tidak tersentuh peradaban selama ratusan tahun. Kita harus tetap memakai pendekatan ilmiah."

"Kamu itu terlalu kaku, Kevin. Hidup itu butuh sedikit imajinasi," ledek Amara sambil menjulurkan lidahnya.

"Sudah, jangan bertengkar," lerai Hera lembut namun penuh wibawa. Kedua asistennya langsung terdiam. Hera memajukan tubuhnya, mengetuk pundak Baskara di depan.

"Baskara, berapa lama lagi kita sampai di desa pinggiran?"

Baskara melirik cermin tengah. "Sekitar lima belas menit lagi, Prof. Kita akan berhenti di Desa Wana Asri. Itu pemukiman terakhir sebelum vegetasi Alas Purba benar-benar menutup jalur kendaraan. Saya sarankan kita beristirahat sejenak di sana sebelum mendirikan kamp."

"Baik. Kita ikuti prosedur keamananmu," jawab Hera.

Matahari mulai condong ke barat, melemparkan bayang-bayang panjang dari tajuk-tajuk pohon raksasa yang tampak seperti raksasa hijau yang berjaga. Udara di dalam mobil mulai terasa mendingin, membawa aroma tanah basah dan lumut yang khas.

"Prof," panggil Yudha dari kursi depan, membalikkan badannya.

"Saya baru saja mendapat pembaruan dari radio komunikasi. Sinyal seluler kita akan hilang total lima kilometer dari desa. Setelah itu, kita hanya bisa mengandalkan radio HT jarak pendek."

"Catat koordinat terakhir di mana sinyal masih aktif, Yudha," perintah Kevin ketus sebelum Hera sempat menjawab.

"Kita butuh titik aman itu kalau-kalau harus mengirim data darurat ke server kampus."

"Siap, Pak Kacamata," sahut Yudha bergurau, yang dibalas Kevin dengan tatapan tajam dari balik lensa kacamatanya.

Amara tertawa cekikikan melihat interaksi mereka, membuat suasana kabin yang awalnya tegang menjadi sedikit lebih rileks. Namun, Hera tetap tidak bisa sepenuhnya tenang. Pikirannya melayang pada wajah pucat ibunya dan ancaman ayahnya yang ingin menutup laboratoriumnya jika dia gagal dalam tiga hari.

Aku harus berhasil, batinnya sembari mengeratkan genggaman pada tas ransel kecil berisi kamera saku dan jurnal catatannya.

Jip hitam itu akhirnya melambat ketika memasuki sebuah jalan setapak yang membelah perkampungan kecil.

Rumah-rumah di desa ini mayoritas terbuat dari kayu panggung dengan arsitektur kuno. Suasana sangat sepi. Hanya ada beberapa penduduk tua yang duduk di teras rumah mereka, menatap kedatangan mobil asing itu dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara curiga dan cemas.

Baskara memarkirkan jip di sebuah area lapang di dekat balai desa yang tampak tua. Begitu mesin mobil mati, keheningan hutan yang pekat langsung menyergap mereka, hanya diselingi suara tonggeret yang saling bersahutan.

"Kita sampai," ujar Baskara sambil membuka sabuk pengamannya. "Tetap berkumpul. Saya dan Yudha akan turun duluan untuk menemui kepala desa setempat."

Hera membuka pintu mobil dan melangkah turun. Sepatu botnya menginjak tanah merah yang gembur. Udara segar yang menusuk dada langsung terhirup, membersihkan paru-parunya dari polusi kota. Di depannya, berdiri megah dinding hijau raksasa—gerbang masuk menuju Alas Purba yang melegenda.

"Wow! udaranya dingin banget!" Amara turun sambil mendekap kedua lengannya, matanya berbinar menatap sekeliling. "Tapi tempat ini estetik banget buat foto-foto ya?"

Kevin turun membawa koper peralatan sensornya dengan hati-hati. "Amara, kita di sini untuk bekerja, bukan liburan media sosial. Tolong bantu aku menurunkan anemometer dan termometer digital."

"Iya, iya, dasar tidak mau rugi," gerutu Amara, namun tetap bergerak gesit membantu Kevin membuka bagasi belakang.

Hera berjalan beberapa langkah ke depan, mendekati batas vegetasi hutan. Pohon-pohon di sini memiliki diameter yang luar biasa besar, dengan akar-akar yang menjalar di atas permukaan tanah seperti ular raksasa. Dia bisa merasakan aura mistis sekaligus menantang yang dipancarkan oleh hutan ini.

Sifat keras kepalanya justru semakin bergejolak. Laboratorium alam terbesar sedang membentang di hadapannya.

"Prof Hera," panggil Baskara yang berjalan kembali ke arahnya bersama seorang pria tua berpakaian adat sederhana dengan ikat kepala kain wulung. Wajah pria tua itu dipenuhi kerutan, namun matanya menatap tajam ke arah Hera. "Ini Pak Danu, tetua adat di Desa Wana Asri."

Hera mengangguk hormat.

"Selamat sore, Pak Danu. Saya Hera. Kami tim peneliti yang sudah mengajukan izin untuk melakukan riset vegetasi di pinggiran hutan ini."

Pak Danu tidak langsung menjawab. Dia memandangi pakaian modern Hera, lalu beralih menatap Kevin dan Amara yang sedang sibuk dengan alat-alat elektronik mereka. Pria tua itu menghela napas panjang, suaranya terdengar berat dan serak saat berbicara.

"Izin dari kota memang sudah saya terima, Cah Ayu," kata Pak Danu dengan nada memperingatkan. "Tapi alam punya hukumnya sendiri yang tidak tertulis di atas kertas buatan manusia. Alas Purba bukan tempat bermain bagi orang-orang kota."

Hera tersenyum sopan namun tegas. "Kami tahu risikonya, Pak. Kami adalah ilmuwan. Kami datang dengan niat baik untuk meneliti tanaman obat, bukan untuk merusak alam."

Pak Danu menatap mata Hera dalam-dalam, mendapati kekeraskepalaan yang mutlak di sana. Dia menggelengkan kepala perlahan. "Niat baik saja tidak cukup jika kamu menantang batas yang sudah dijaga oleh leluhur kami selama ratusan tahun."

Hera baru saja akan membalas kalimat itu ketika dari kejauhan, Amara tiba-tiba berteriak kecil karena terkejut melihat seekor burung paruh besar terbang rendah di atas kepala mereka. Ketegangan kembali tercipta di bawah bayang-bayang pohon purba yang mulai menelan sisa cahaya sore.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!