WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGETAHUI TENTANG ALLUNA.
Alluna sudah sampai dirumahnya dan dia memutuskan masuk ke kamar karna mamanya ikut dengan Alexander ke perusahaan menyisakan dirinya dan para Maid
Alluna mengambil laptopnya dan mengamati berkas laporan dari anak buahnya yang ia tugaskan bekerja di perusahaan
Saat sibuk mengutak-atik laptopnya dia tidak sengaja melihat File yang dia simpan tanpa ada yang mengetahuinya, File yang berisikan Cctv di rumahnya dulu dimana pembantaian itu terjadi
"Apa gue siap untuk melihatnya"
dengan mencari pembunuh orang tua gue dan membalasnya lebih kejam dari apa yang orang tua gue alamin" ujar Luna lagi,Alluna memang menyampaikannya dengan wajah yang datar tapi lisa bisa lihat rasa sakit, amarah,rapuh, kesepian terlihat jelas di mata Alluna
"Kenapa lo ceritain semua ke gue Lun" tanya Lisa
"Karna gue percaya lo,dan itu mungkin cukup untuk buat lo menjauh dari gue" ujar Alluna membuat Lisa menatapnya tajam,, Alluna memang sudah mempercayai Lisa karna dia sudah mengetahui semuanya tentang Lisa oleh karna itu dia berani berkata jujur tentang dirinya walau belum semua
gue pastikan tapi gak bisa lihat itu, gue takut" ujar Alluna kembali memandang keluar
"Kita lihat sama-sama yah,jangan sakit sendirian lun gue temen lo kan jadi bagi sakit lo dengan gue" ujar Lisa dan Alluna bisa melihat ketulusan disana
"Malam ini" ucap Alluna, berdekatan dengan luna membuat Lisa memahami perkataan temen kulkasnya itu
"Mau ketemu dimana?" Tanya Lisa
"Ke alamat ini sendirian pukul 10 malam,kalo lo ingin bantu gue" ucap Alluna
"Gue akan datang" ujar Lisa tersenyum
Setelah itu Alluna pergi
ujar Alluna pada dirinya sendiri
"Luna takut yah,bun" ucap lirih Alluna
Alluna menutup laptopnya kembali,dia belum siap untuk melihatnya,selama bertahun-tahun Alluna meyakinkan dirinya untuk melihat itu tapi selalu gagal
Alluna memutuskan untuk keluar rumah motor sportnya dia berhentikan di salah satu caffe sederhana namun terlihat klasik
Alluna memesan kopi Americano tanpa gula yang banyak tidak disukai orang lain karena rasanya yang pahit tapi tidak dengan Alluna kopi itu sama seperti hidupnya gelap dan juga pahit
Alluna lama berada di caffe itu menikmati kopinya sambil melihat keluar jendela yang langsung menyajikan taman indah yang terdapat danau yang bersih banyak keluarga kecil yang bermain disana
Sampai satu suara berhasil mengalihkan pandangannya Lisa teman Alluna yang baru sebulan iya kenali, Alluna melirik jam di dinding caffe dan belum menunjukkan waktu pulang sekolah terus kenapa Lisa ada disini
"Siang kak"sapa Lisa ke pegawai yang melayani Alluna tadi
"Loh ini belum jam kerja kamu Lisa" jawab pegawai cantik itu
"Iya kak sekolah pulang cepett jadi aku langsung kesini aja biar bisa bantuin kakak" ujar Lisa yang melihat ada beberapa pelanggan
"Loh Luna" ujar Lisa yang melihat Luna sedang menatapnya tanpa ekspresi
"Kak aku ke temen aku dulu yah" ujar Lisa ke pegawai itu yang di balas anggukan
"Luna kok lo disini bukannya sakit yah?" Tanya Lisa yang langsung duduk di depan Alluna
"Bosan dirumah,lo ngapain disini" tanya Luna yang mengingat perkataan Sarah untuk mencoba mengobrol lebih sering dengan orang lain
"Ohh itu guru lagi rapat dan semua siswa dipulangkan lebih cepat ,dan gue disini kerja" ujar Lisa lagi tersenyum
"Bukanya lo kerja di supermarket?" Tanya luna lagi
"Gue kerja di supermarket sampai kamis doang,jumat sampai minggu gue kerja partime di caffe ini" ujar Lisa yang masih tersenyum seakan tidak ada masalah di hidupnya
Alluna tidak menjawab perkataan Lisa lagi dia memilih kembali melihat ke arah taman,Lisa melihat apa yang Luna lihat banyaknya keluarga kecil yang bermain di taman itu
"Lun lo ada masalah?" Tanya Lisa yang membuat Alluna menatapnya,Lisa yang tidak enak kembali membuka suaranya
"Gak usah diceritain kalau gak mau, mungkin lo belum bisa terbuka sama gue" ucap Lisa lagi tersenyum manis ke Alluna
Alluna kembali memandang taman itu
"Kenapa lo selalu bisa untuk tersenyum padahal lo tidak baik-baik aja" tanya Alluna yang masih memandang keluar jendela
"Ha?" Lisa terkejut dengan pertanyaan Luna namun selanjutnya dia menjawab
"Gue cuma gak mau ibu sedih lihat gue sedih, cuma dia yang gue punya dan dia satu-satunya orang yang menyayangi gue,,,gue juga gak mau dipandang menyedihkan oleh orang lain" jawab Lisa ikut memandang keluar
"Lo tau lis,hidup gue gak seberuntung mereka dan gak sebaik yang lo fikir" ucap Alluna lagi
"Gue punya segalanya,tapi tidak dengan kebahagiaan" perkataan Alluna mampu membuat Lisa menatapnya
"Lunn" ucap Lisa lirih
"Orang tua gue dibunuh tepat di depan mata gue saat gue berumur 7 tahun,mulai saat itu hidup gue kacau lis,gue bukan lagi gadis kecil yang ceria dan manja,gue hidup sebagai manusia yang tidak memikirkan perasaan,gue tidak segan menyakiti siapapun,ada monster di diri gue lis,dan lo mau tau tujuan hidup gue apa sekarang" ujar Alluna menatap Lisa
"Gue ingin hilangin rasa sakit gue,
"Kenapa gue harus jauhin lo ha?" Bentak Lisa membuat dirinya menjadi pusat perhatian tapi dia tidak memperdulikannya bahkan Alluna juga terkejut dengan lisa yang berani membentaknya disaat tidak ada yang berani dengannya
"Akan berbahaya kalo lo terus dekat dengan gue"ucap Lun
"Gue gak peduli,lo bisa nerima gue trus kenapa gue gak bisa nerima lo,lo teman pertama gue lun,lo satu-satunya orang yang mandang gue sebagai manusia bukan sebagai sampah" jawabLisa lirih
"Lo belum tau gue seperti apa lis gua bisa lukain lo" ucap Luna lagi
"Kalo gitu tunjukkan ke gue,biar
meninggalkan caffe tujuannya saat ini adalah tempat yang paling menyakitkan untuknya
Alluna berdiri di depan Mension mewah tepatnya Mension Albertson Thomson tempat pembantaian itu terjadi,tidak ada yang berubah dari Mension itu bahkan dari tata letak barang-barang dirumah itu masih berada di tempatnya termasuk tanda batas polisi atau Police Line yang membatasi tempat pembunuhan ayah dan bundanya terjadi
Alluna memasuki Mension itu hatinya kembali sakit dadanya sesak air matanya tidak terbendung dia selalu lemah setiap masuk ke mension ini dia berada di ruang keluarga tempat terakhir dirinya bercanda tawa dengan kedua orang tuanya dan juga adiknya
"Ayah bunda Luna kangennn" ucap
Alluna yang sudah memukul mukul dadanya yang terasa sesak
Alluna terbangun dari tidurnya, dia sempat tertidur di Soffa karna kelelahan menangis
Sebentar lagi jam menunjukan pukul 10 malam Alluna masih berada di Mension itu menunggu seseorang
Sebelumnya Alluna sudah menelfon anak buahnya untuk membawakan laptopnya kesini
Suara ketukan pintu terdengar di telinganya dan Alluna yakin itu Lisa, alluna membukakan pintu untuk Lisa
Lisa mengikuti langkah Luna dan terkejut melihat garis polisi seperti bekas pembunuhan,,Alluna melihat keterkejutan Lisa
"Tempat nyokap bokap dibunuh"ucap Alluna seolah paham pemikiran Lisa
Alluna dan Lisa menuju soffa diruang keluarga tempat Luna tertidur tadi tidak lama ada seorang laki-laki dengan baju hitam-hitam seperi bodyguard mendatangi mereka
"Maaf nona muda,ini laptop anda" ucap anak buah Alluna itu
"Tunggulah diluar" jawab Alluna
"Baik nona muda"
Alluna membuka laptopnya sampai dia menemukan File yang ia cari,lama terdiam Lisa menyadarkan Alluna
"Lo belum siap?"tanya Lisa
"Gue cuma takut" jawab Alluna
"Kita lihat sama-sama kalo lo gak kuat tutup mata lo dan gue akan matikan laptopnya" jawab Lisa
"Kalo gue gak kuat,lihatlah dengan teliti apakah ada petunjuk atau tidak di rekaman itu" ujar Luna lagi di balas anggukan
Alluna membuka file itu dan vidio mulai berjalan pertama alluna masih sanggup melihatnya sampai pada bagian sang pembunuh mulai mendekati bundanya dia menyerah hatinya hancur bayangan itu muncul lagi,lisa mengambil alih laptop itu membiarkan Alluna menangis untuk mengeluarkan sakitnya
Lisa memperhatikan vidio itu hatinya juga hancur melihat temannya yang selalu terlihat kuat diluar,tapi sekarang hanya kerapuhan yang ia lihat,isakan yang keluar dari mulut Alluna seperti menyayat hati setiap orang yang mendengarnya
Lisa mengulang vidio itu sampai beberapa kali baru dia mematikannya, kemudian memeluk Alluna yang masih terisak kecil
"Gue bangga sama lo lun,lo bisa lewatin semuanya sendirian,sekarang saat lo jatuh lo harus berpegang dipundak gue dan berjalan bersama karna gue akan selalu ada untuk lo" ucap lisa menepuk pelan punggung luna untuk menenangkannya
Beberapa menit setelah Alluna tenang tidak ada percakapan diantara mereka sampai Lisa membuka suaranya
"Tato naga lun" ucap lisa membuat Alluna memandangnya
"Ada sebagian orang yang mempunyai tato naga di lehernya sekitar 6 sampai 7 orang" ucap Lisa memperlihatkan hpnya dia tadi sempat memfoto beberapa orang yang dia lihat mempunyai tato naga
"Sorry gue foto,gue ga tega kalo lo harus lihat rekaman itu" ucap Lisa yang meminta maaf karna dia memfoto rekaman itu
"Gue sudah menemukan beberapa orang yang ikut dalam pembantaian itu,tapi semuanya tidak memiliki tato itu" ucap Alluna lagi
"Apa mungkin yang mempunyai tato itu adalah dalangnya yang memang ingin menghabisi Kedua orang tua lo, dan yang lainnya hanya orang yang dia bayar untuk membantu agar tidak kalah jumlah dengan bodyguard lo" tebak Lisa
"Masuk akal" ucap Alluna yang menyetujui perkataan lisa
"Thanks lis lo udah bantu gue sorry lo harus lihat kejadian ini" ucap Alluna
"Lo bukan temen gue lun tapi lo sahabat gue,gua akan selau bantuin lo" ujar Lisa tulus
Setelah mereka membahas apa yang mereka lihat, Alluna memerintahkan anak buahnya tadi untuk mengantar Lisa pulang,lisa sudah menolak tapi bukan Alluna kalo tidak keras kepala bukan.