"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Sahabat Pergi
Sore harinya, langit Jakarta berhiaskan semburat oranye hangat. Sebuah mobil sedan hitam berkelas berhenti mulus di halaman luas kediaman keluarga Lazuardi.
Damian melangkah keluar, diikuti Zahira di sampingnya. Pria paruh baya itu menarik napas panjang, menatap megahnya rumah yang selama beberapa waktu terakhir menjadi tempat perlindungan bagi putri sulungnya. Ada rasa malu, namun juga keharusan moral yang mendesak dadanya.
Di ruang tamu yang asri, Pak Lazuardi dan Bunda Heni menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
Gisel yang duduk di sofa tampak melipat tangan di dada dengan bibir yang terus dimajukan, memancarkan raut wajah tidak rela.
"Terima kasih banyak, Lazuardi... Heni..." suara Damian terdengar berat saat duduk berhadapan dengan sahabat kecilnya itu. Matanya menatap Lazuardi penuh kesungguhan.
"Terima kasih sudah menjaga Zahira dengan sangat baik di sini."
Pak Lazuardi tersenyum tipis, menepuk bahu sahabat lama yang kini terlihat jauh lebih melunak itu. "Dia anak yang baik, Damian. Kami tidak merasa direpotkan sama sekali."
Damian menunduk sejenak, menghela napas penyesalan yang teramat dalam. "Teguranmu kemarin benar-benar membukakan mata saya. Selama ini saya terlalu buta... Saya sama sekali tidak tahu penderitaan Zahira. Saya tidak tahu kalau anak sulung saya ini selalu rela mengalah dan memilih diam tiap kali Karlina dan Bianka bersikap tidak baik dengannya."
Damian menoleh menatap Zahira yang duduk menunduk di sampingnya. "Saya ayah yang bodoh. Tapi kali ini, saya berjanji akan melindungi dan bersikap adil padanya."
Bunda Heni mengangguk tersenyum haru, sementara Pak Lazuardi memegang cangkir tehnya. "Bagus kalau kamu sudah sadar. Pegang janjimu itu, Damian. Zahira ini sudah kami anggap seperti anak sendiri, dan kita pun berteman buka setahun atau dua tahun lamanya. Maaf kan saya kalau sikap saya terlalu ikut campur."
Di sudut lain ruang tamu, Gisel memegang erat kedua tangan Zahira. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ra... beneran harus pulang sekarang ya?" bisik Gisel lemas. "Pasti nanti rumah ini sepi banget. Gak ada temen cerita lagi kalau malam..."
Zahira tersenyum lembut, mengusap punggung tangan Gisel dengan penuh kasih sayang.
"Jangan sedih dong, Sel. Aku emang pulang ke rumah Papi, tapi kan rumah kita gak jauh-jauh banget. Akuk bakalan tetap sering main ke sini, kok."
"Beneran ya?" tanya Gisel memastikan, raut wajahnya mulai sedikit mencerah.
"Iya, lagian kita kan bisa tetep janjian sama Bunda Heni buat ngopi atau makan kue bareng di Kafe 55 kayak biasanya," tambah Zahira manis, yang disambut anggukan setuju dari Bunda Heni.
"Bunda, om Zahira minta maaf ya kalau selama Zahira tinggal disini Zahira sudah sangat merepotkan om dan bunda juga Gisel. Terima kasih untuk tumpangan Paviliun nya... Dan Zira juga izin pamit dari kafe. Insyaa Allah pas libur kerja nanti Ziarah akan mampir untuk pamit ke semua teman-teman di kafe."
Proses pamitan itu berlangsung penuh kehangatan dan rasa haru. Saat Zahira menyalami Pak Lazuardi dan memeluk Bunda Heni, suasana penuh kekeluargaan terasa begitu kental.
Senyum dan doa dari keluarga Lazuardi mengiringi langkah Zahira yang kembali siap menghadapi lembaran baru di rumah tempat ia dibesarkan.
.
.
Beberapa saat kemudian, mobil Damian berlalu meninggalkan halaman. Zahira sempat menatap ke luar jendela, memberikan lambaian tangan terakhir pada Gisel dan Bunda Heni yang masih berdiri di teras.
Tak lama setelah mobil itu menghilang di balik gerbang utama, suara derum mesin halus terdengar.
Sebuah mobil sport hitam melaju masuk dan terparkir mulus di dalam garasi. Rezvan keluar dengan jas yang sudah dilipat di lengan kemejanya, menyisakan aura lelah setelah seharian memimpin rapat penting.
Saat berjalan menuju teras, dahi Rezvan berkerut melihat adiknya berdiri menatap jalanan luar dengan bibir yang masih tertekuk cemberut.
"Ada apa sih? Dan tadi mobil siapa yang baru keluar? Siapa pria paruh baya yang pergi sama Zahira?" tanya Rezvan beruntun, matanya melirik ke arah paviliun yang lampunya kini belum menyala.
Gisel menoleh, mendengkus pelan sembari memajukan bibirnya lebih panjang. "Itu mobil Pak Damian, papinya Zahira, kak. Zira udah dijemput buat pulang dan tinggal di rumahnya lagi."
Gisel menghela napas berat. "Ah, kelesuan tingkat tinggi... Gue bakalan kesepian banget mulai besok. Gak ada Zahira yang bisa diajak gosip atau nemenin malam-malam, nonton Drakor bareng, keluarin unek-unek bareng dan belajar masak sama dia lagi deh"
Rezvan melipat kedua tangannya di dada. Sudut bibirnya terangkat membentuk sunggingan senyum jahil yang menggoda.
"Kesepian?" goda Rezvan dengan nada meremehkan. "Halah, dengerin tuh, Bunda. Katanya kesepian, padahal maksud aslinya mah kagak ada lagi tumbal yang bisa dimintain tolong buat ngebantu ngerjain skripsi, kan? Mengaku saja kau, Sel!"
Mata Gisel seketika melotot sempurna. "Ih! Kak Rezvan apaan sih! Nuduh-nuduh aja!" serunya tak terima. "Gue tuh beneran sedih Zahira pulang! lagian skripsi gue tuh dikit lagi selesai ya, gak usah bawa-bawa skripsi!"
"Dikit lagi selesai apa dikit lagi ganti judul?" tembak Rezvan makin gencar sambil tertawa kecil, menikmati wajah adiknya yang makin memerah menahan kekesalan.
"Bunda!! Lihat tuh kak Rezvan! Baru pulang bukannya ngasih salam malah nyari ribut!" aduh Gisel manja pada ibunya.
Bunda Heni yang sejak tadi memperhatikan interaksi kedua anaknya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan.
"Sudah, sudah... Baru aja rumah sepi ditinggal Zahira, kalian berdua udah bikin rusuh lagi," lerai Bunda Heni sambil menepuk bahu Rezvan pelan.
"Rezvan, jangan digodain terus adiknya. Sana masuk, bersih-bersih terus makan malam."
"Siap, Bunda," sahut Rezvan santai, masih sempat menjulurkan lidahnya sedikit ke arah Gisel sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Gisel menghentakkan kakinya kesal, namun di dalam hati, rumah terasa sedikit bernapas kembali.
Gisel yang baru masuk kamar pun mendapati ponselnya yang berdering. Dilihatnya nama om Elvan.
Elvan: "Assalamu'alaikum. Hai keponakan om yang centil. Om liat kayanya Rezvan sudah pulang ya?" Tanya Elvan dengan nada penasaran.
Gisel: "Wa'alaikum salam... Nelepon.. Nelpon bukan nanyain kabar Gisel. Malah namanya kak Rezvan." Jawab Gisel kesal dengan bibir yang dimonyongkan lima sentimeter.
Elvan: "Ihhh... Lagi kenapa keponakan om yang cantik ini. Abis di putusin pacarnya ya?"
Gisel: "Bukan sekedar di putusin sih ini... ini akibat ditinggalin sahabat Gisel, om."
Elvan: "Sahabat apa sahabat... Kalau ditinggalin sahabat model bentuk mukanya sih gak harus kaya gini juga kali. Kan kamu punya Zahira yang sekarang tinggal sama kamu. Masa dia lupain sih."
Gisel: "Itu dia yang pergi dari sini, om... Zahira udah gak tinggal disini lagi. Tadi papinya jemput dia bawa Zira dan balik lagi ke rumahnya."
Gisel cemberut dan meletakan ponselnya di atas bantal.
Tak lama kemudian datang Rezvan yang membuat obrolan Elvan dan Gisel berganti topik. Keponakan dan om yang sudah lama tidak pernah berbincang-bincang itu lahirnya melanjutkan obrolannya di kamar Rezvan.