NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Konvoi yang Mengguncang Kertajaya

Arya berdiri dengan pelacak dan perekam hitam di telapak tangan. Tatapannya berubah dingin.

"Jangan nyalakan," kata Bara. "Kalau alatnya punya penghapus jarak jauh, data bisa hilang."

Arya membungkusnya kembali. "Masukkan ke kantong bukti. Kevin yang buka dalam ruang terlindung."

Bara mengambil kantong antistatis dari tas motornya. Gerakannya dilihat petugas, sehingga Arya segera menjelaskan bahwa benda ditemukan pada kendaraannya dan mungkin berkaitan dengan pelanggaran privasi. Petugas mencatat temuan, memotret posisi awal, lalu mengizinkan perangkat dibawa setelah nomor barang bukti sukarela ditulis dalam berita acara.

Suara mesin lain masuk dari ujung jalan.

Sebuah sedan putih berhenti mendadak. Bu Meilani Halim keluar sebelum sopir sempat membuka pintu. Dua pengawal keluarga mengikuti.

"Reno!"

Ia melihat Range Rover rusak, lalu Kijang yang nyaris menjadi rongsokan. Wajahnya menegang.

"Siapa yang melakukan ini?"

Reno menunjuk Arya. "Dia menabrak mobil gue tiga kali, Ma. Di depan semua orang."

"Setelah Mas Reno menabrak kendaraan Pak Arya lebih dulu," sela petugas. "Mohon jangan mengganggu pemeriksaan."

Bu Meilani mengabaikannya. Ia berjalan ke hadapan Arya, mengukur pakaian sederhana dan mobil tua itu.

"Jadi kamu Arya."

"Benar."

"Berapa kerugianmu? Saya bayar malam ini. Setelah itu kamu ganti seluruh kerusakan mobil anak saya dan meminta maaf di depan kamera."

Anindya maju. "Prosesnya sedang ditangani petugas. Tidak ada penyelesaian sepihak."

Bu Meilani menatapnya. "Bu Anindya, urusan ini tidak perlu merusak kerja sama bisnis. Serahkan laki-laki ini kepada kami. Anda masih bisa menyelamatkan PE."

"Dia suami saya. Bukan barang untuk diserahkan."

Reno tertawa sinis. "Suami kontrak. Semua orang sudah dengar."

Beberapa ponsel kembali terangkat.

Bu Meilani merendahkan suara. "Dengar, Arya. Di Surabaya, orang yang melawan Halim tidak mendapat layar, sponsor, atau ruang untuk bergerak. Nama Adiwangsa yang kamu pinjam dari pernikahan tidak akan..."

"Dia tidak meminjam nama itu."

Suara pria dari belakang memotong kalimatnya.

Lampu kendaraan memenuhi jalan Kertajaya. Satu demi satu mobil hitam berbelok menuju Restoran Cendana: tiga Alphard, dua Range Rover pengawal, dan sebuah sedan panjang di tengah. Mereka berhenti rapi tanpa menutup jalur utama.

Pintu terbuka hampir bersamaan.

Belasan petugas pengamanan turun, menyebar, lalu memberi ruang pada sedan tengah. Kepala pengawal melihat Arya dan menundukkan tubuh.

"Den Arya!"

Sapaan itu diikuti seluruh anggota tim.

"Den Arya!"

Suara mereka menembus riuh jalan. Dedi menurunkan ponselnya. Rina membuka mulut tanpa suara. Teman-teman lama yang satu jam lalu menawari Arya pekerjaan sebagai sopir kini berdiri seperti orang yang salah masuk ruangan.

Bella memegang pintu mobil agar tidak kehilangan keseimbangan.

Wisnu turun dari sedan. Ia masih mengenakan pakaian rapat, diikuti kepala legal Grup Adiwangsa. Bara telah mengirim laporan singkat saat benturan pertama terjadi, lengkap dengan lokasi dan foto. Wisnu tiba bukan karena kebetulan.

"Pak Wisnu," sapa Anindya di depan umum.

Perubahan dari panggilan keluarga `Om` menjadi `Pak` terdengar kecil, tetapi menegaskan bahwa yang berdiri di sana bukan sekadar mertua. Ia datang sebagai pemimpin salah satu cabang Grup Adiwangsa.

Bu Meilani membeku. "Pak Wisnu. Saya tidak tahu Bapak terlibat."

Wisnu tidak menjawabnya dulu. Ia memeriksa Arya dari kepala sampai kaki.

"Terluka?"

"Tidak."

"Anindya?"

"Saya juga tidak, Pak."

Wisnu melihat Kijang. "Mobil itu akhirnya mati juga."

"Anakmu membantu prosesnya," jawab Arya sambil menunjuk Reno.

Reno pucat. "Anak... Bapak?"

Wisnu berbalik kepadanya. "Arya Bimasakti Adiwangsa adalah putra saya. Ada pertanyaan lain?"

Tak seorang pun menjawab.

Bella menatap Arya, seolah mencoba menyatukan tujuh tahun hidup sederhana dengan konvoi di hadapannya. Nama lengkap yang dulu tidak pernah ia tanyakan kini menjadi dinding yang membuat seluruh keluarga Halim berhenti.

Dedi berbisik, "Jadi dia benar-benar..."

Bara menoleh. "Bukan tukang ojek."

Dedi menunduk.

Rina memandang Bella dengan wajah menuntut jawaban. "Kamu tidak pernah bilang mantan suamimu putra Adiwangsa."

"Aku juga tidak tahu," bisik Bella.

"Tujuh tahun menikah dan kamu tidak tahu nama lengkap keluarganya?"

Pertanyaan itu menampar lebih keras daripada ejekan mana pun. Bella teringat semua kali Arya hendak bercerita tentang masa lalu dan ia memotong karena menganggapnya alasan mencari simpati. Ia mengenal jadwal Reno di luar negeri lebih baik daripada luka lelaki yang tidur di sampingnya selama bertahun-tahun.

Dedi mendekati Arya dengan gugup. "Ya, soal tadi..."

"Tidak perlu," kata Arya. "Tawaran pekerjaanmu tidak salah. Yang salah hanya caramu merasa lebih tinggi karena pekerjaan orang lain."

Dedi kehilangan kata. Arya tidak mempermalukannya dengan konvoi. Ia hanya mengembalikan nasihat itu tepat ke tempat asalnya.

Bu Meilani mengumpulkan kembali ketenangannya. "Pak Wisnu, ini hanya perselisihan anak muda. Kami bisa mengganti Kijang itu."

"Saya tidak datang untuk harga mobil."

"Lalu?"

"Anda menggunakan jaringan bioskop untuk menekan perusahaan menantu saya. Putra Anda mengancam staf PE di depan kamera, lalu malam ini merusak kendaraan orang di jalan umum." Wisnu berbicara pelan. "Di kota ini, nama Halim memang punya bobot. Tapi nama Adiwangsa masih memiliki sedikit ruang untuk didengar."

Sindiran halus itu membuat wajah Bu Meilani menegang. Semua orang mengerti: `sedikit ruang` milik Adiwangsa cukup besar untuk menutup banyak pintu bagi Halim.

"Kami tidak bermaksud melawan keluarga Bapak," katanya.

"Niat dinilai dari tindakan, bukan kalimat setelah konvoi datang."

Wisnu memberi isyarat kepada kepala legal untuk bertukar kontak dengan petugas dan memastikan semua proses berjalan tanpa tekanan. Ia tidak meminta kasus dihentikan. Ia justru meminta bukti dipertahankan.

Arya memperhatikan setiap geraknya. Kehadiran Wisnu memberi rasa aman yang tidak ingin ia akui, sekaligus mengganggu. Ayahnya baru saja mengambil panggung dan memperluas identitas Arya kepada semua orang yang merekam.

"Siapa yang memberi tahu kamu?" tanya Arya pelan.

"Orangmu sendiri."

Arya melirik Bara. Lelaki besar itu mengangkat bahu. "Situasi menyangkut nama keluarga. Saya kirim laporan ke jalur pengamanan Puri."

"Lain kali beri tahu saya dulu."

"Kalau diberi waktu, Den pasti melarang."

Wisnu hampir tersenyum. "Setidaknya ada satu orang di timmu yang punya akal sehat."

Petugas menyelesaikan pemeriksaan awal. Dua mobil derek dipanggil. Arya meminta Kijang dibawa ke bengkel tertutup milik keluarga agar sisa perangkat lain dapat diperiksa, tetapi seluruh proses kecelakaan tetap tercatat resmi.

Bu Meilani menarik Reno ke mobil. Sebelum masuk, Wisnu memanggilnya.

"Bu Meilani."

Ia menoleh.

"Besok orang saya akan berkunjung ke rumah Anda. Kita selesaikan semua utang bisnis yang putra Anda mulai."

Wajah Reno kehilangan sisa warnanya.

Wisnu masuk ke sedan dan konvoi bergerak pergi secepat saat datang. Yang tertinggal hanya lampu patroli, dua kendaraan rusak, dan puluhan orang yang kini punya cerita baru tentang lelaki yang tadi mereka tertawakan.

Arya memasukkan kantong berisi pelacak ke saku dalam. Ia menatap lampu belakang mobil Wisnu yang menjauh.

Ayahnya datang untuk melindungi.

Atau untuk memastikan alat di dalam Kijang tidak jatuh ke tangan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!