NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TETESAN DARAH PERJANJIAN

# PELET LAKNAT 2

## Bab 14: Tetesan Darah Perjanjian

Mbah Usman memajukan badannya sedikit ke atas altar. Pendar cahaya obor menimpa separuh wajah keriputnya, membuat tatapan mata sang dukun tua tampak kian berbinar penuh kelicikan. Lantas, ia meraih sebuah mangkuk kuningan kusam dari balik badan, lalu menuangkan air dari kendi tanah liat yang terletak di tengah altar. Permukaan air itu bergetar pelan, memantulkan siluet nyala obor yang berkedip-kedip di kegelapan ruangan.

"Syaratnya sangat mudah, Nak! Sebagai syarat pertama, kamu harus menumpahkan darahmu ke dalam mangkuk yang sudah Simbah isi air suci ini," seru Mbah Usman seraya menyodorkan mangkuk kuningan tersebut bersama sebilah pisau kecil yang berkilat tajam.

Melihat pisau kecil yang disodorkan tepat di hadapannya, Jaka menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kaku dan kering. Batinnya kembali meronta-ronta hebat; kali ini rasa takut yang teramat sangat benar-benar mencengkeram dadanya hingga napasnya memburu.

"Ingat, Nak! Kamu sudah terlanjur melangkah ke dalam dunia ini dan tak ada jalan untuk kembali. Jika sampai kamu membatalkannya sekarang... nyawamu yang akan jadi taruhannya!" tegur Mbah Usman seraya menatap lurus menembus manik mata Jaka, memberikan ancaman dingin yang mematikan.

Mendengar teguran itu, Jaka menyadari dengan getir bahwa jalan untuk kembali kini telah tertutup rapat. Nasi sudah menjadi bubur.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan napas yang memburu, ia meraih pisau kecil itu. Sejenak ia memejamkan mata, memantapkan hatinya yang kalut, lalu tanpa ragu menyayat ujung jari telunjuk sebelah kirinya.

Cles!

Sensasi perih tajam seketika menjalar, membuat Jaka mendesis pelan menahan sakit. Tetes demi tetes darah segar berwarna merah pekat pun mengalir, jatuh menetes ke dalam cairan di mangkuk kuningan tersebut, berpendar samar diterpa nyala obor. Dengan wajah memucat dan bibir yang sedikit meringis menahan sakit dari luka barunya, Jaka menyodorkan kembali mangkuk itu ke hadapan sang dukun tua.

"Bagus! Dengan ini kamu telah memenuhi syarat yang pertama," ujar Mbah Usman seraya menyunggingkan senyum puas.

"Adapun syarat yang kedua, kamu harus menaruh foto perempuan ini di bawah pohon bambu kuning di belakang rumah Simbah," lanjutnya seraya membungkus foto Dea dengan selembar kain kafan putih yang telah ia siapkan sebelumnya.

"Dan setelah itu selesai, tubuhmu harus dibersihkan dengan mandi air kembang tepat saat jam dua belas malam. Itu sebagai syarat yang ketiga sekaligus penutup ritual malam ini," tegas Mbah Usman dengan nada yang dingin dan tak terbantahkan.

Jaka lagi-lagi hanya bisa mengangguk pasrah. Lidahnya terasa kelu, tak mampu membantah ataupun menyela ucapan sang dukun tua walau hanya sepatah kata.

Sementara itu di luar gubuk, Kiki yang tengah duduk melamun di atas bale-bale kayu mulai dihujam rasa penyesalan yang mendalam. Ia mengusap wajahnya kasar seraya menghembuskan napas berat. Niat awalnya yang hanya ingin memanfaatkan rasa frustrasi Jaka demi mendapatkan uang saku tambahan, kini malah melenceng jauh—menjerumuskan sahabatnya sendiri ke dalam jurang kegelapan yang sangat berbahaya.

Ternyata ini bukan pertama kalinya Kiki memanfaatkan orang yang tengah terpuruk. Untuk setiap korbannya, ia menetapkan tarif hingga dua juta rupiah atau bahkan lebih sebagai jaminan. Kejamnya lagi, Kiki hanya memberi upah lima ratus ribu rupiah kepada Mbah Usman untuk sekali pertemuan. Dengan begitu, Kiki bisa mengantongi keuntungan bersih hingga satu juta lima ratus ribu rupiah hanya dari hasil mengantar orang ke tempat sang dukun.

"Apa ini karma buat aku, ya? Selama ini aku suka memanfaatkan orang lain demi kebutuhanku sendiri. Bahkan sahabat sejatiku sekarang tega mengusirku..." gerutu Kiki di sela-sela lamunannya.

Ia merebahkan tubuhnya di atas bale-bale, menatap langit malam yang kian gelap pekat. Keheningan mencekam menyelimuti sekitar—bahkan derik jangkrik dan suara hewan malam yang biasanya bersahut-sahutan kini mendadak lenyap tanpa sisa, seolah seluruh hutan menahan napas bersamanya.

Sementara itu, Jaka tengah melaksanakan syarat yang kedua di area belakang gubuk. Di bawah rindangnya pohon bambu kuning yang bergesekan pelan, Jaka duduk bersila beralaskan selembar daun pisang. Di hadapannya tergelar foto Dea yang terbungkus kain kafan beserta beberapa mangkuk sesajen, aroma bunga tujuh rupa yang layu bercampur dengan tanah lembap di bawahnya.

Dengan pandangan lurus menembus kegelapan dan napas yang tertahan, Jaka mulai merapalkan mantra-mantra kelam yang telah diajarkan oleh Mbah Usman, suaranya bergetar pelan seperti gumaman yang tak sepenuhnya ia pahami maknanya sendiri.

Setelah mantra usai dibacakan, Jaka lantas menyembunyikan foto terbungkus kain kafan itu di sela-sela rumpun bambu—tempat yang ia anggap paling aman dan tak akan pernah diketahui oleh siapa pun.

Tanpa Jaka sadari, dari arah kegelapan di sebelah kanannya, sosok tinggi besar dengan mata merah menyala perlahan-lahan merayap dan mendekatinya. Hawa dingin yang menusuk tulang seketika menguar hebat, membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Jaka berdiri tegak.

Ternyata, mantra kelam yang baru saja ia lantunkan bukanlah mantra biasa. Itu adalah mantra pemanggil jin dan makhluk tak kasat mata. Tanpa disadari, Jaka telah menyerahkan dirinya dan meminta bantuan langsung kepada sosok penguasa penunggu pohon bambu kuning tersebut.

Setelah memastikan semuanya rapi dan tertata, tanpa ba-bi-bu Jaka segera membalikkan badan. Ia bergegas melangkah kembali menuju rumah Simbah Usman untuk menjalani syarat pamungkas: ritual pensucian diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!