NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Brak.

Pintu besi ruang tangga darurat didobrak kasar hingga terlepas dari engselnya oleh belasan pria bersenjata lengkap.

"Itu dia buronannya! Tembak kepalanya!" teriak salah satu komandan pasukan menunjuk ke arah Bayu.

Bayu berlari sprint sekencang kencangnya ke arah ujung lantai yang menganga dan melompatkan tubuhnya jauh ke udara.

Ratusan peluru tajam melesat membabi buta hanya berjarak beberapa sentimeter dari tumit sepatunya.

Wusss.

Bayu merasakan seluruh tubuhnya melayang bebas membelah udara malam yang dingin.

Sensasi gravitasi menarik tubuhnya ke bawah dengan kecepatan yang sangat mengerikan hingga perutnya terasa mual.

Bayu melebarkan matanya menembus angin mencari kotak besi gondola pembersih kaca di tengah kegelapan malam.

"Itu dia!" batin Bayu saat matanya menangkap bayangan kotak besi yang menempel erat di dinding gedung Kobra Tower.

Ia segera merentangkan kedua tangannya bersiap menahan benturan pendaratan yang pasti akan sangat menyakitkan.

Buum.

Tubuh Bayu menghantam atap gondola besi itu dengan sangat keras hingga penyangga utamanya berderit tajam.

"Arghhh!" teriak Bayu merasakan rasa sakit yang luar biasa menjalar mematahkan punggungnya.

Kriet kriet.

Tali kawat baja penahan gondola itu bergoyang hebat seolah akan putus berantakan kapan saja karena beban kejut tersebut.

"Aku berhasil mendarat! Turunkan benda ini sekarang juga Clara!" teriak Bayu menahan rintihan sakitnya.

"Pegang pinggiran besinya erat erat cowok udik, aku sedang mengambil alih sistem kontrolnya dari jarak jauh," jawab Clara berkonsentrasi penuh.

Terdengar suara mesin derek yang berbunyi kasar dan berputar lambat dari atap atas gedung.

Gondola besi tua itu mulai bergerak turun menyusuri dinding kaca luar dengan kecepatan konstan.

Bayu berbaring telentang di dalam keranjang besi yang sempit itu sambil berusaha mengatur napasnya yang kacau balau.

Ia menatap langit malam kelam yang mulai diselimuti kepulan asap hitam dari lantai empat puluh lima yang terbakar.

"Gila, aku benar benar masih hidup setelah melakukan semua kekacauan ini," gumam Bayu tersenyum kecut menertawakan nasibnya.

"Kamu memang sangat luar biasa Bayu, sistem vitalku menunjukkan detak jantungmu perlahan mulai kembali stabil," ucap Anya dengan nada yang sangat lega hingga hampir menangis.

"Jangan memujinya terlalu cepat Nona Kacamata, kita masih harus kabur dari kejaran mobil polisi di bawah sini," potong Clara menyadarkan mereka berdua pada realita.

Gondola itu terus turun mendecit pelan melewati puluhan lantai perkantoran yang gelap gulita.

Sekitar tiga menit berlalu dengan sangat lambat, keranjang besi itu akhirnya menyentuh lantai dasar dengan mulus di area gang belakang.

Ting.

Sebuah mobil van hitam yang sudah penyok bagian bumper depannya langsung melaju cepat dan berhenti tepat di depan gondola tersebut.

Srek.

Pintu samping mobil digeser terbuka dengan paksa menampilkan sosok Clara yang memegang pistol dan Anya yang menatap cemas.

"Ayo cepat naik ke sini! Polisi akan memblokade total jalanan ini dalam hitungan dua menit," perintah Clara mengayunkan tangannya tidak sabar.

Bayu merangkak keluar dari gondola dengan susah payah sambil terus memegangi perutnya yang memar.

Anya langsung turun dan membantu memapah tubuh pemuda itu masuk merangkak ke dalam mobil van.

"Tahan sedikit rasa sakitnya ya Bayu, aku punya kotak P3K lengkap di bawah kursi belakang ini," ucap Anya dengan suara lembut menenangkan.

Brak.

Clara menutup pintu samping mobil dengan kencang dan langsung menginjak pedal gas mobilnya dalam dalam.

Mobil van hitam itu melesat cepat membelah gang sempit yang gelap tepat sebelum mobil patroli polisi pertama tiba menyalakan sirine di lokasi kejadian.

Di kursi belakang yang berguncang guncang, Anya mulai membersihkan luka luka di wajah dan lengan Bayu menggunakan cairan antiseptik dingin.

Bayu mendesis pelan menahan pedih saat kapas basah itu menyentuh luka robek terbuka di pelipis kirinya.

"Pelan pelan sedikit Anya, perih sekali rasanya sampai ke ubun ubun," keluh Bayu memejamkan matanya kuat kuat.

"Ini tidak seberapa dibandingkan dengan aksi pahlawan bunuh dirimu melompat dari lantai empat puluh lima tadi," omel Anya bertingkah galak walau tangannya bergerak sangat berhati hati.

Clara melirik ke arah kaca spion tengah sambil memutar setir menyetir dengan kecepatan sangat tinggi menghindari trotoar.

"Jadi, informasi penting apa yang kamu dapatkan dari bos besar sebelum dia mati terbakar di sana?" tanya Clara menagih hasil dari misi berbahaya mereka.

Bayu menyandarkan kepalanya di jok mobil dan menatap langit langit van yang terlihat kotor oleh noda bekas makanan.

"Sang Penghapus Jejak kabur membawa dokumen itu ke landasan helikopter rahasia di bukit perbatasan," jawab Bayu membagikan informasinya secara terbuka.

"Dan ternyata sindikat Kobra Mandiri ini cuma pion bawahan dari orang kuat di ibu kota yang sedang sibuk mengumpulkan relik dimensi."

Clara mendecakkan lidahnya keras keras mendengar fakta baru yang sangat mengejutkan tersebut.

"Pantas saja komplotan cecunguk ini berani bermain main dengan dokumen rahasia negara, ternyata ada bekingan kuat tak terlihat di belakangnya," analisis Clara mengangguk paham.

"Ini berarti musuh kita sekarang bukan cuma satu sindikat lokal bodoh, tapi mungkin organisasi gelap bertaraf nasional."

Anya selesai menempelkan plester perban di lengan kanan Bayu lalu membetulkan letak kacamatanya yang melorot.

"Kita pikirkan saja masalah konspirasi organisasi ibu kota itu nanti kalau kita masih hidup," potong Anya mengalihkan kembali fokus mereka.

"Yang paling penting sekarang adalah mencegat Sang Penghapus Jejak di helipad perbatasan itu sebelum dia berhasil melarikan diri selamanya membawa relikmu."

Bayu mengangguk sangat setuju dan kembali melirik ke arah layar sistemnya yang berkedip di udara.

[Mode pendinginan tersisa 18 menit.]

"Kita butuh tempat aman sebentar untuk menunggu kekuatanku kembali pulih seratus persen sebelum bertarung lagi," ucap Bayu menatap Clara meminta arah tujuan.

Gadis berambut merah itu menyeringai dan memutar setir mobil masuk ke jalan bebas hambatan yang sepi kendaraan.

"Aku tahu sebuah garasi tua milik montir kenalanku yang ditinggalkan di pinggiran kota, kita bisa sembunyi menyusun rencana di sana sebentar," usul Clara dengan percaya diri.

Mobil van hitam itu pun terus melaju kencang membelah kegelapan malam kelam membawa tiga remaja yang baru saja selamat dari pelukan maut.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!